Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA : Bertemu Kembali


__ADS_3

Mendengar langkah kaki yang mendekat ke arah ruang makan membuat jantung Hawa tidak hentinya berdetak lebih kencang. Langkah kaki itu seolah mengiringi dan menjadi musik pengiring detak jantungnya.


"Selamat malam semuanya, maaf kami terlambat. Kalian harus maklum bahwa tuan muda yang satu ini begitu banyak maunya," ucap Sarah sembari tersenyum kepada semua orang yang ada di ruangan itu. Namun, ketika menangkap sosok Daniel dan juga Hawa ada di sana membuat senyum Sarah yang tadi berkembang kini hilang.


Dia sama sekali tidak tahu kalau malam ini akan kedatangan kamu. Pelayan hanya mengatakan bahwa ibu mertuanya meminta mereka turun untuk makan malam.


"Baiklah, kita sudah bisa mulai acara makan malam ini," ucap Ibu Dewi yang sudah memimpin keluarga dengan duduk di bangku utama. "Mana suamimu?" lanjutnya.


"Dia baru saja selesai mandi, nanti juga turun, Bu," jawabnya singkat, lalu sibuk memainkan serbetnya di bawah meja.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu." Kali ini suara itu dinanti Hawa, yang mampu membawa roh Hawa lepas dari tubuhnya. Tanpa menoleh pun dia tahu siapa pemilik suara itu, tidak ada yang berubah, tetap mampu menggetarkan hatinya. Hawa memejamkan matanya sesaat mencoba menguatkan hati dan juga tubuhnya untuk menghadapi pria itu.


"Duduk'lah Adam, kami semua sudah lapar!" seru Gara yang sama sekali tidak menyukai adiknya itu.


Sarah mengambil tempat duduk di hadapan Hawa karena memang itulah bangku yang kosong saat itu. Adam yang tidak punya pilihan lain, duduk di sampingnya istrinya, tempat di hadapan Daniel yang otomatis pandangannya langsung tertuju pada Hawa.


Adam duduk menegakkan tubuhnya dan melayangkan pandangan ke arah adiknya, Daniel. Wajah Adam berubah pucat kala mendapati gadis yang ada di sebelah adiknya adalah wanita yang selama ini dia cari, wanita yang begitu dia cintai sekaligus sangat Dia benci.


Wanita itu ada di rumahnya, sedang apa dia di sini? Mengapa setelah sekian tahun mencarinya justru dia datang sendiri ke hadapan Adam?

__ADS_1


"Kau tidak ingin menyapa adik iparmu, Adam?" ucap Reka yang mulai ingin mencari kegaduhan.


Sebenarnya bukan Hawa yang menjadi sasaran Reka, tapi Daniel karena Wanita itu tahu keduanya tidak pernah akur bahkan saling membenci. Kalau Adam masih bisa mentolerir rasa tidak sukanya kepada Gara, berbeda halnya dengan Daniel, dia membenci adik bungsunya itu!


Tapi Adam tidak mau memakan umpan yang diberikan Reka, dia tidak ingin terprovokasi. Dia menutup mulutnya, pikirannya sedang berkutat dengan segala macam problematika yang terjadi dalam hidupnya. Kejutan yang tidak masuk akal, tapi nyatanya terjadi.


Adam berulang kali memastikan wanita yang ada di hadapannya itu adalah Hawa. Walau bagaimanapun sekarang penampilan gadis itu, tetap saja itu adalah Hawa gadisnya yang berhasil membuatnya tidak menjadi pria gila karena kepergiannya.


"Nanti saja kita mau ngobrol l, lebih baik kita mulai makan malam ini," potong Ibu Dewi yang mengetahui maksud dan tujuan Reka.


Kesabaran Wanita itu sudah habis terhadap menantu sulungnya itu. Ingin rasanya dia meminta putranya untuk menceraikan Reka. Toh, selama pernikahan itu, Reka tidak ada sumbangsihnya terhadap keluarga Mahesa, bahkan wanita itu pun gagal memberikan keturunan untuk keluarga itu, lantas apalagi yang harus dipertahankan?


Hawa tidak bisa menelan makanannya, jelas terlihat tatapan Adam yang menusuk jantung hatinya. Kalau saja melalu pandangan bisa membunuh mungkin saat ini Hawa sudah mati karena tatapan tajam pria itu.


Adam berperang dengan hati dan pikirannya, kalau mengikuti kata hatinya ingin sekali menarik Hawa keluar dari ruangan itu, mengguncang tubuh wanita itu sembari bertanya ke mana saja dia pergi selama ini, betapa dia kehilangan Hawa sehingga membuatnya menjadi gila. Mengapa dia muncul saat ini dan apa hubungannya dengan Daniel! Lantas anak yang berada di sampingnya itu, apakah anak mereka?


Berbagai pertanyaan itu muncul membuat emosi Adam tidak stabil. Dia menggenggam erat sendok dan Garut di tangannya, membayangkan bahwa itu adalah leher Hawa yang ingin dicekik karena sudah berani meninggalkannya.


Lima tahun dia jalani seperti mayat hidup, tidak punya gairah dan juga harapan terkurung bersama Sarah dalam pernikahan yang mengerikan dan kini tanpa dosa, gadis itu muncul di hadapannya bersama Daniel.

__ADS_1


Makan malam usai, Ibu Dewi meminta seluruh anggota keluarga Mahesa untuk berkumpul di ruang keluarga. Wanita itu juga sudah menyiapkan champion untuk menyambut kedatangan Daniel dan juga Hawa.


Dalam berita kepulangannya, Daniel tidak menyebutkan bahwa dirinya akan membawa istri dan juga anaknya, wajar kalau Dewi terkejut ketika putranya membawa mantu dan juga cucunya, tapi tidak jadi soal, siapapun yang dia nikahi selama anak itu mau pulang, maka dia akan menerima istrinya.


"Semuanya, seperti yang sudah kalian ketahui, Daniel sudah pulang dan dia datang bersama istri dan juga anaknya. Kita sebagai keluarga menyambut gembira kedatangan mereka. Hawa, ibu akan perkenalkan satu persatu anggota keluarga Mahesa. Dia adalah Gara, anak sulung rumah ini dan itu istrinya, Reka, lalu ini adalah Adam, anak kedua ibu dan juga Sarah, istrinya," ujar Bu Dewi, memperkenalkan anggota keluarga Mahesa.


Dengan kaku Hawa mengangguk, dia tidak berani melayangkan pandangan ke setiap orang untuk tersenyum sebagai ucapan hormatnya karena dia tahu ada tatapan mematikan yang sedang memantaunya.


Sarah yang juga tadi ceria kini tiba-tiba diam, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Dia tampaknya juga tidak ingat pada Hawa, saat dulu bertemu, Hawa memakai masker hingga tidak memperlihatkan wajahnya dengan jelas.


Bahkan dia pun tidak sudi menyambut kedatangan Hawa di rumah itu.


"Daniel kamu tahu sendiri peraturan di rumah ini'kan? Setiap anak yang sudah menikah wajib tinggal di sini, tapi Ibu tidak akan memaksa. Ibu tidak ingin kehilangan kamu lagi dengan segala peraturan yang dibuat. Jadi, kalian boleh memilih untuk tinggal di sini atau tidak," tukas Bu Dewi. Dia tidak ingin lagi berdebat, sudah lelah mencari anak bungsunya itu sekian tahun, tiada kabar dan tiba-tiba saja muncul dengan membawa kejutan yang luar biasa.


"Bukankah peraturan dan kebiasaan dalam keluarga Mahesa harus selalu dipatuhi, maka kami dengan senang hati mengikutinya, ibu. Kami akan tinggal di rumah ini, benarkan, Sayang?" ucap Daniel menyampirkan tangannya di bahu Hawa menunjukkan kemesraan di hadapan keluarganya.


Tentu saja hal itu membuat Adam panas. Dia terbakar sampai ke ubun-ubun, dia ingin sekali mematahkan tangan Daniel yang sudah berani menyentuh Hawa.


Tapi kembali pria itu sadar, Daniel berhak menyentuh bahunya, bahkan kini Daniel dan Hawa sudah memiliki anak yang membuat hati Adam teriris, dipandanginya anak itu buah hasil cinta Hawa dan Daniel.

__ADS_1


Adam tidak mengerti mengapa semesta begitu kejam terhadap dirinya. Walaupun dia harus berpisah dengan Hawa, maka biarlah mereka berpisah tanpa harus bertemu kembali. Kalaupun dia tidak bisa memiliki gadis itu, maka seharusnya jangan Daniel yang notabene adalah adiknya yang memiliki Hawa.


__ADS_2