
Ballroom itu sudah seperti lautan manusia, begitu ramai dan juga penuh dengan hiruk pikuk dan wajah gembira para tamu undangan.
Begitupun dengan para karyawan dan juga teman-teman Hawa. Hanya dirinya lah yang menunjukkan wajah biasa saja, bahkan cenderung ketakutan, jangan sampai ada yang mengenali dia di tempat itu.
Walau memang belum lama bekerja dengan mami Cinta, pada hari pertamanya saja dia memang jatuh ke pelukan Adam. Namun, dia ingat seharusnya yang menyewa dirinya malam itu bukanlah Adam tapi seorang pria gendut yang menjalin kerja sama dengan Adam. Pria itu pulalah yang memberikan dirinya untuk melayani Adam malam itu sebagai tanda terima kasihnya atas kerjasama yang mereka jalin.
Jadi wajar jika Hawa merasa takut pria gendut yang pertama kali ingin menyewanya itu ada di sini, tidak mungkin klien Adam tidak diundang oleh keluarganya saat acara sepenting ini.
"Gembira sedikit dong, kok wajahmu murung begitu? Eh, ngomong- ngomong, lapar juga, yuk kita cari makan," ajak Susi dengan penuh semangat. Tari yang terus mengikuti mereka juga mengangguk setuju atas saran dari Susi, dia sengaja belum mengisi lambungnya dari rumah agar nanti saat tiba di acara ini dia bisa makan sepuasnya dengan makanan yang enak dan tentu saja jarang dia makan.
Hawa mengangguk dia pun bergegas mengikuti langkah Susi yang dua kali lebih cepat dari langkahnya. Ia sengaja merapatkan tubuhnya ke Susi menunduk saat berjalan agar tidak ada orang yang melihat wajahnya.
Setelah mengambil makanan yang dirasa sudah cukup, ketiganya berjalan ke arah meja yang sudah lebih dulu ditempati oleh Jos dan juga Rangga, mereka berdua memang sengaja mencari tempat untuk mereka berlima.
Hawa memberanikan diri melihat sekeliling, mengangkat wajahnya untuk mencari sosok yang malam ini menjadi bintang dalam acara ini. Jantungnya mulai berdebar kalam melihat pria itu ada dia di sana, di atas pelaminan dengan tunangannya yang bernama Sarah.
Hatinya mencelos, diremas kesedihan, terlihat dari sorot matanya. Tanpa ada yang melihat Hawa meremas sisi gaunnya, melampiaskan rasa sakit yang luar biasa dia rasakan.
"Wa, kamu kenapa bengong? Lagi lihatin siapa sih?" tanya Tari meneruskan tatapan Hawa. "Cantik kan? Aku suka melihat wajahnya, mereka berdua memang pasangan yang serasi. Semoga bahagia deh buat keduanya. Jadi iri," ucap Tari melanjutkan ucapannya.
Hati Hawa semakin hancur kala teman-temannya menilai keserasian kedua pasangan itu. Hawa semakin rendah diri, dia memang tidak mungkin dibandingkan dengan Sarah.
Tidak perlu berlama-lama, hidangan yang ada di atas meja sudah ludes semua, hanya Hawa yang masih menyisakan makanan di piringnya, dia tidak enak badan, tidak ada selera makan.
__ADS_1
"Kenapa gak dihabiskan makanannya?" Jos menatap cemas pada Hawa. Kemarin Tiger memintanya untuk memperhatikan Hawa dan juga agar memperingatkan Rangga untuk tidak mendekati Hawa karena Adam yang tidak suka.
Saat itu Adam memang melihat Hawa dan Rangga pulang bersama, segera dia meminta Tiger untuk memperingatkan Rangga melalui Jos.
Adam tidak suka jika ada pria yang ingin menebar pesona kepada Hawa, tempatnya dengan sorot mata mengerikan.
Dia sendiri tidak tahu mengapa dia begitu cepat terpancing emosi. Setiap hal yang berhubungan dengan Hawa pikirannya kalut, dia benci kalau ada orang yang berusaha mencari perhatian kepada Hawa, dia ingin hanya dirinya sajalah yang ada dalam pandangan gadis itu.
Satu hal yang tidak dia sadari, perilakunya itu menunjukkan bahwa dia sudah menaruh hati terhadap gadis itu. Kalaupun itu bukan cinta, setidaknya dia takut kehilangan Hawa, awal mula tumbuhnya rasa Cinta.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir," jawab Hawa tersenyum.
"Eh, udah pada nyalamin tuh para undangan, kita juga yuk. Kasih selamat kepada Pak Adam dan tunangannya," ajak Rangga bangkit berdiri yang kemudian diikuti oleh mereka semua.
Dia tidak ingin mengganggu hubungan Sarah dan juga Adam, yang saat ini sangat berbahagia.
Akhirnya kelimanya mengikuti rombongan para tamu yang mulai menaiki pentas untuk menyalami dan memberi selamat kepada pasangan yang saat ini tengah berbahagia. Semakin dekat menuju pentas, semakin kencang juga jantung Hawa berdebar.
Dari tempatnya, Adam sudah memperhatikan kedatangan mereka. Dia mengumpat dalam hati kala melihat Rangga yang terus menempel pada Hawa. Entah apa yang dikatakan pria itu hingga membuat Hawa mengangguk sembari tersenyum. Dia tidak sudi melihat Hawa tersenyum untuk pria lain, semua yang ada dalam diri gadis itu adalah miliknya!
Dalam hatinya, Hawa juga tidak henti-hentinya memuji kecantikan Hawa malam ini. Dia begitu bangga karena gadis yang dia nilai paling cantik di tempat itu malam ini adalah miliknya.
"Selamat ya, Bos. Semoga bahagia selalu," ucap Jos mulai menyalami Adam dan juga Sarah.
__ADS_1
"Terima kasih," jawab Adam dengan suara tenornya sembari mengganggu. Begitupun dengan Tari dan Susi, ikut memberi selamat kepada keduanya, lalu tiba giliran Rangga dengan antusias menyelamati Adam dan juga Sarah.
"Selamat ya, Bos, semoga bahagia selalu dan saya juga bersama Hawa segera menyusul Bos," ucapnya tersenyum.
Hawa yang mendengar namanya disebut akhirnya mengangkat wajahnya. Ingin rasanya dia memukul Rangga, tapi dia urung melakukannya, Hawa tidak ingin menjadi tontonan dan bahan tertawaan banyak orang.
Sementara Adam berusaha keras menahan amarah dan niatnya untuk tidak mencekik Rangga.
Berani-beraninya dia mengatakan hal itu! Hampir saja dia cari ponselnya meminta kepada Tiger agar segera memecat Rangga!
"Oh, jadi kalian juga pasangan kekasih? Selamat ya, aku doakan kalian juga segera menyusul," jawab Sarah mewakili Adam yang hanya diam.
Lagi-lagi Hawa terhempas pada kenyataan bahwa dirinya bukanlah tandingan Sarah. Suara gadis itu begitu lembut, siapapun pria yang mendengar suaranya pasti akan segera jatuh hati.
Adam yang terdiam, hanya bisa menatap wajah gadis itu, menunggu Hawa mengklarifikasi kepada dirinya juga Sarah, bahwa apa yang dikatakan Rangga itu tidak benar, walaupun dia tahu bahwa Hawa tidak mungkin menyukai pria itu, tapi sama saja dia tidak suka kalau sampai Rangga ngaku-ngaku dan mendekati Hawa.
Kini tiba giliran Hawa untuk memberi selamat kepada mereka yang semakin membakar hatinya.
"Selamat ya, Pak, Mbak ucap," Hawa menyalami tangan Adam dengan perasaan hancur berkeping-keping.
Adam juga kecewa, dia pikir Hawa akan meluruskan pernyataan Rangga tapi dia justru memilih menjadi orang bodoh memberi selamat kepada keduanya.
Seharusnya Adam tidak boleh menyalahkan Hawa, memangnya dia diberi pilihan apa lagi selain melakukan perannya sebagai karyawan yang diundang? Dia bukan siapa-siapa, hanya simpanan yang memang tidak punya hak untuk mengakui kepemilikannya terhadap Adam.
__ADS_1