
Pukul 07.00 pagi Tiger sudah muncul di depan pintu apartemen seperti perintah Adam. Pria tinggi itu diutus untuk menjemputnya dan membawa Hawa ke kantor.
Hawa memang sudah siap, dia tinggal menunggu Tiger, di dalam tasnya dia sudah membawa bekal untuk makan siangnya nanti. Tidak bisa tidur memikirkan perjanjian itu membuat Hawa bangun lebih cepat dan menghabiskan waktunya di dapur.
"Terima kasih sudah menjemputku,Tiger," ucap Hawa mencoba untuk tersenyum, kantong matanya menandakan kalau gadis itu tidak tidur semalaman.
"Selama saya mengenal Anda, baru hari ini saya melihat wajah Anda yang paling begitu buruk," ucap Tiger berlalu, berjalan lebih dulu.
Hawa tidak menanggapi ucapan Tiger karena dia sendiri pun melihat di cermin bagaimana bentuk rupanya. Dia tidak bisa seperti ini, dia harus mengoles dengan bedak. Ketika dia berdandan saja Adam ingin dia menjauh dari pria itu, apalagi dengan wajah seperti ini. Dia tidak ingin membuat Adam lebih jijik kepadanya.
"Tiger, apakah orang-orang di kantor nanti akan ada bersikap baik padaku?' tanya Hawa yang duduk di bangku belakang.
Tapi pertanyaan itu sia-sia, karena Tiger tidak mau menjawab. Hawa pun hanya bisa menghela napas, menikmati perjalanannya dengan memandang keluar jendela. Pikirannya kalut, dia akan mengikuti apapun yang tertulis dalam surat perjanjian itu.
"Satu tahun itu apakah sebentar atau terasa lama?" gumam Hawa menulis namanya di kaca mobil yang berembun.
Ternyata jarak ke kantor Adam tidaklah jauh, hanya 20 menit mereka sudah sampai, lagi pula jalan yang tidak macet yang membuat mereka bisa tiba dengan cepat.
Hawa mengikuti langkah Tiger yang membawanya menuju pantry. Di sana dia bertemu dengan pria yang dulu pernah bersama Tiger membawakan bahan makanan untuknya.
"Mbak Hawa kita ketemu lagi," sapa pria itu. Kalau melihat perawakannya mungkin pria itu seumuran dengan Hawa.
"Jos, terangkan apa tugas Mbak Hawa, sekarang kau yang harus mengajarinya," ucap Tiger kepada pria yang dipanggil Jos tadi, lalu Tiger pun pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Duduk dulu, Mbak," ucap pria itu. Ruangan itu masih sepi. Mungkin Tiger memang sengaja menjemputnya lebih pagi agar tidak ada orang yang melihatnya bersama dengan Tiger. Seperti kata Adam, mereka harus pintar menutupi hubungan mereka.
Jadinya kalau karyawan melihat Hawa bersama Tiger yang notabene adalah orang kepercayaan Adam, Tiger bisa dibilang orang nomor 2 di perusahaan itu, pasti akan digosipkan dengan Adam, OB mana yang bisa diantar oleh asisten CEO, kalau pun tidak, Hawa akan dicibir sebagai simpanan atau kekasih Tiger.
Hawa menarik salah satu kursi dan duduk. Jos sudah membuatkannya secangkir teh meletakkannya di atas meja. "Diminum dulu, Mbak," ucapnya sopan.
"Jangan panggil, Mbak. Kayaknya kita seumuran, deh. Panggil Hawa aja," ujar Hawa tersenyum.
"Saya nggak berani, Mbak takut Pak Tiger atau tuan Adam marah," jawab Jos.
"Mereka nggak akan marah, justru kalau kamu panggil aku Mbak, orang-orang akan curiga. Kita mulai dengan berkenalan. Kenalkan namaku Hawa," ucap gadis itu mengulurkan tangannya ke hadapan Jos.
"Joslan, tapi Mbak eh kamu boleh manggil aku dengan Jos saja," jawabnya meralat omongannya setelah menerima picingan mata dari Hawa yang minta dikoreksi karena kembali memanggilnya dengan sebutan Mbak.
"Iya, Mbak. Saya kepala OB. Sudah dua tahun kerja di sini," jawab Jos.
"Kalau gitu aku harus panggil Pak jos dong, kamu kan atasanku. Pak jos mohon bimbingannya," ucap Hawa dengan tersenyum, berpura-pura menundukkan kepala tanda hormat pada Jos, yang melihat hal itu jadi tertawa terbahak yang diikuti oleh tawa Hawa.
Hawa bersyukur karena di perusahaan itu setidaknya dia mengenal seseorang Jos. Tampaknya dia pria yang baik dan juga sangat menyenangkan. Setengah jam ngobrol bersamanya, Hawa sudah mengerti apa yang harus dia kerjakan dan apa tugasnya. Dia juga saya sudah tahu lantai berapa saja yang harus dia kerjakan dan boleh dia datangi.
"Kebetulan yang biasa membersihkan ruangan tuan Adam sudah berhenti, tinggal Susi saja, jadi sekarang tugas kamu setiap pagi membersihkan ruangan tuan Adam bersama Susi," ucap Jos sembari mengambil pisang goreng di atas meja.
Seseorang yang dimintanya membelikan sarapan telah tiba dan keduanya saat ini sedang menyantap sarapan itu ditemani teh manis hangat.
__ADS_1
Setengah jam berlalu beberapa OB berdatangan. Seluruhnya petugas kebersihan yang ada di kantor itu berjumlah 12 orang, termasuk dengan Jos dan Hawa bersyukur karena hampir semuanya begitu ramah menyambut dirinya. Hanya ada seorang gadis yang bersikap cuek kepadanya tapi Hawa tidak peduli, dia di sini hanya untuk sementara seperti kata Adam, dia juga harus resign setelah satu tahun dari sekarang.
Jos meminta Susi menjadi partner kerja Hawa yang artinya setiap piket Hawa akan bersama Susi mengerjakan satu lantai.
Berdasarkan apa yang diterangkan Jos, pekerjaan itu tidaklah berat, dia bisa mengerjakannya. Seandainya Adam berbaik hati, setelah kontrak selesai, dia masih diperbolehkan bekerja di sini, tentu saja Hawa pasti akan gembira bisa bekerja dan menghasilkan uang yang halal.
Hari pertamanya bekerja, Susi menunjukkan ruangan yang harus mereka bersihkan, mulai dari ruangan rapat, ruangan marketing, dan juga divisi yang lainnya, tetapi yang paling penting pagi-pagi sekali mereka harus membersihkan ruangan Adam sebelum pria itu tiba di kantor.
Satu hal yang perlu kamu tahu, jangan pernah menyentuh apapun yang di atas meja tuan Adam. Kalaupun kamu mau membersihkannya meja kerjanya, angkat barangnya pelan dan letakkan kembali dengan hati-hati, jangan pernah mengabaikan debu di bawah benda-benda kecil di atas mejanya," terang Susi.
Hawa mengangguk mengerti. Kalau bisa pun dia tidak usah kebagian tugas membersihkan ruangan pria itu, tapi pastinya tidak akan enak hati pada Susi.
"Jam berapa biasanya tuan Adam datang?" tanya Hawa pada Susi, seniornya.
"Pokoknya kamu harus sudah sampai jam 07.00 pagi di kantor karena sebelum jam 08.00 pagi semuanya harus sudah rapi. Tuan Adam pria pembersih, dia nggak suka ada debu sedikitpun, jadi kamu harus benar-benar memperhatikan kebersihan di ruangannya," terang Susi yang sedikit bergidik ngeri.
Enam bulan bekerja, dia sudah pernah dua kali dimarahi oleh Jos karena laporan dari Adam yang mengatakan ruangannya kurang bersih dan rapi. Sejak itu, Susi lebih memilih untuk berjam-jam di ruangan itu agar tidak ada satupun yang menjadi celah bagi pria itu untuk memarahinya.
Untuk tugas pagi itu, Susi sudah mengerjakan pekerjaannya, jadi besok giliran Hawa yang harus membersihkan ruangan Adam.
Tidak banyak yang dikerjakannya hari itu, dia hanya mengikuti Susi dan melihat cara kerja wanita itu. Sesekali dia ikut membantu walaupun Susi memintanya untuk memperhatikan saja dulu apa yang dikerjakan wanita itu.
"Maaf ya, Sus. Kamu jadi repot karena harus mentraining aku," ujar Hawa merasa tidak enak hati.
__ADS_1