
Hawa memutuskan untuk mencari udara segar di luar apartemen, pikirannya buntu harus melangkah ke mana. Dia tahu dia tidak mungkin bisa bertahan di sini. Tapi sebelum pergi dia ingin sekali bertemu dengan Adam Namun, seperti yang sudah dikatakan Tiger tadi ketika mengantarkan makanan selepas mengantar Ibu Dewi, bahwa Adam saat ini sedang berada di luar negeri untuk bulan madu, jadi dia tidak mungkin menunggu kepulangan Adam, baru pergi dari sisinya.
Bisa dibayangkan bagaimana hancurnya Hawa kala mendengar hal itu. Di sana Adam yang bersenang-senang dengan istrinya, sementara di sini dia harus menanggung sakit hati dan juga rasa malu karena sudah dimaki oleh ibunya.
Rasa sakit ini harus dia sendiri yang menanggung. Bukakan'kah perbuatan salah ini mereka berdua yang melakukannya? Lantas mengapa hanya dia yang dianggap bersalah?
Untuk kesekian kali Hawa menghapus air mata di pipinya. Dia benci pada dirinya yang begitu cengeng harusnya ini saatnya dia menjadi kuat. Namun, tidak tahu mengapa perasaannya belakangan ini sering berubah-ubah lebih sentimental dan juga sangat melankolis.
"Aku pikir tadi setan, hampir saja aku baca ayat kursi," ucap pria itu yang kini sudah berdiri di samping Hawa.
Dengan ujung ekor matanya Hawa melirik ke arah pria itu, yang dengan santainya tanpa permisi sudah duduk di sampingnya.
Ingin sekali Hawa pergi dari sana, dia keluar dari apartemen dan duduk di taman ini justru karena ingin sendiri, berkutat dengan pikirannya, tapi pria ini justru datang dan duduk di sampingnya. Dia ingin pergi tapi takut dianggap tidak sopan.
"Kamu ada masalah apa?" tanya pria itu menoleh ke arah wajah Hawa.
Mereka sama sekali tidak pernah saling tegur, hanya melempar senyum sesekali itupun oleh Hawa sendiri, tidak pernah dibalas oleh pria itu, lantas ada apa dengannya serta merta datang dan duduk di sampingnya seolah mereka adalah sahabat, menanyakan permasalahan yang saat ini dihadapi?
"Maaf saya baik-baik aja. Saya permisi mau naik," jawab Hawa bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Jangan pernah lari dari masalah, hadapi masalah itu seberat apapun. Bukankah kau yang sudah memulai masuk dalam lingkaran yang seharusnya tidak kau masuki? Saran dariku, sebaiknya kau ikuti kata hatimu, buka matamu jika memang tidak ada kesempatan lagi untukmu bersamanya, lantas untuk apa kau pertahankan? Semiskin apapun seorang wanita masih di dipandang karena masih punya harga diri, tapi jika kau sudah tidak memiliki itu, maka jangankan di hadapan orang lain di hadapan kekasihmu pun, kau sudah tidak berharga lagi," ujar pria itu yang tanpa tedeng alih-alih justru duluan beranjak pergi dari sana.
Hawa merenung, mencoba menelaah apa yang diucapkan pria itu, benar yang dikatakannya. Selama dirinya berstatus sebagai pelacur dan simpanan dia tidak akan bisa mengangkat wajahnya untuk menatap orang lain. Dosa akan selalu menghantuinya, dan rasa bersalah akan menjadi temannya.
Selama dia menjadi simpanan Adam, pria itu hanya memandangnya lewat kacamata sebagai pemilik, bukan kekasih yang menyukainya dan ingin bersamanya. Lantas kepedihan apa yang pantas dia tanggung?
Hawa bangkit, menarik napasnya dalam-dalam dan mengembuskan dengan kasar. Dia sudah memutuskan, besok dia akan meninggalkan tempat itu dan pergi tanpa seorang pun tahu.
***
Untuk menghindari Tiger yang datang menemuinya seperti yang dilakukan pria itu, pagi-pagi sekali Hawa sudah berkemas. Malamnya dia sudah memasukkan pakaian ke dalam koper. Hanya dua koper yang dia bawa, pakaian yang layak dia pakai nantinya di kampung, dan untuk pakaian mewah dan juga bermerek yang selalu diberikan Adam untuknya, tidak dia bawa. Begitupun dengan perhiasan, juga dia tinggalkan karena tidak ada kata yang terucap dari Adam pada saat memberikan perhiasan itu, bahwa akan menjadi miliknya.
Hawa sudah mendorong kedua kopernya menuju pintu dan bersiap untuk meninggalkan apartemen itu, dipandanginya setiap jengkal ruangan yang sudah menjadi tempatnya selama 7 bulan ini.
Hawa paham posisi Adam. Dia tidak mungkin memilihnya dibandingkan dengan Sarah yang memiliki segalanya dari dirinya.
"Selamat tinggal Adam. Selamat tinggal kekasihku, selamat tinggal pujaan hatiku," gumamnya dalam hati sembari menghapus air mata yang kembali menetes.
Alangkah terkejutnya Hawa ketika membuka daun pintu, Tiger sudah berdiri di hadapannya, menatapnya dengan dahi berkerut memandang dirinya lalu beralih pada dua koper yang ada di kiri dan kanannya.
__ADS_1
"Anda mau ke mana Nona?" tanya Tiger. Dia sudah bisa menebak Hawa pasti ingin pergi setelah mendengar perintah Ibu Dewi. Satu hal lagi yang membuat Tiger begitu bersimpati kepada Hawa, wanita itu bukan seperti wanita yang lain, yang begitu materialistis, hanya memikirkan uang dan juga untung dan rugi.
Kalau wanita lain, mana mau dia meninggalkan Adam, pasti memilih untuk bertarung dengan Ibu Dewi asal bisa selamanya di sisi pria itu.
Harusnya Hawa bisa mengambil tindakan seperti itu. Dia tahu bahwa Adam akan mempertahankannya, tapi gadis itu tidak mau menyulitkan posisi Adam, tidak ingin anak dan ibu itu bertengkar.
Lagi pula satu hal yang paling penting, Hawa tidak ingin selamanya dipandang sebelah mata sebagai simpan.
"Izinkan aku pergi Tiger, kau sudah mendengar apa yang Ibu Dewi katakan," ucap Hawa memohon.
"Tapi tuan Adam tidak akan mengizinkan Anda pergi. Dia akan marah kepada saya jika saya tidak menghalangi Anda," jawab Tiger setengah hati, jauh di sudut hatinya dia mendukung kepergian Hawa.
Baginya Hawa sudah seperti adiknya sendiri. Gadis polos itu harus terjerumus ke dalam lingkaran dosa hanya karena keadaan yang memaksa.
"Aku mohon, aku tahu kontrak belum selesai, tapi kau sendiri tahu keadaannya sekarang berbeda. Aku tidak ingin Adam bertengkar dengan ibunya hanya karena aku, biarkanlah aku pergi, Tiger. Aku juga tidak ingin selamanya dipandang sebelah mata, dianggap sebagai perusak rumah tangga orang nantinya. Aku mohon, biarkan aku pergi," ucap Hawa terus mendorong kopernya hingga keluar dari ruangan itu.
Tiger menarik kedua koper itu yang membuat Hawa tersentak. Dia ingin protes namun, Tiger yang tidak mengatakan apapun justru berjalan lebih dulu di depannya membawa kedua koper itu bersamanya.
Hawa mengikuti langkah pria itu masuk ke dalam lift dan setelahnya menuju parkiran tanpa mengatakan apapun lalu memasukkan kedua koper itu ke dalam bagasi.
__ADS_1
"Tiger kau mau bawa aku ke mana lagi? Aku mohon pahamilah posisiku, Tiger," ucap Hawa menangis tersedu-sedu.
"Masuklah, aku akan mengantar Nona kemanapun Anda akan pergi."