Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA : Masuk Rumah sakit


__ADS_3

Tiger segera melarikan Adam ke rumah sakit, di perjalanan dia juga menghubungi keluarga Mahesa agar segera datang ke rumah sakit tempat Adam akan dirawat karena pria itu tidak sadarkan diri, serpihan kaca masuk menembus kulit kepalanya dan membuat banyak darah bercucuran.


Mendengar kabar itu seluruh anggota keluarga menjadi gaduh, semua berkeinginan untuk melihat keadaan Adam. Tidak terkecuali dengan Hawa. Namun, dia tidak berani menyuarakan isi hatinya karena takut seseorang akan menyadari betapa khawatirnya dirinya terhadap Adam.


"Bunda, ada apa? Kenapa kita bangun pagi-pagi sekali?" tanya Raja yang masih mengantuk. Dia terbangun karena kegaduhan dan juga Daniel yang keluar masuk ke kamar untuk mengambil sweater untuk dipakai, tampaknya dia akan ikut ke rumah sakit.


"Nggak ada apa-apa, Nak. Kamu kembali tidur ya. Ada bunda di sini," ucap Hawa yang ingin sekali membawa Raja melihat keadaan ayahnya. Dia juga ingin mengatakan kepada Daniel bahwa dirinya ingin sekali ikut ke rumah sakit untuk melihat Adam, tapi dia takut kalau Daniel merasa aneh, kenapa dia begitu peduli dengan keselamatan Adam, sehingga Hawa mengurungkan niatnya.


Semua orang di rumah itu mempunyai kepentingan sendiri untuk ikut melihat Adam. Ibu Dewi, karena memang dia adalah wanita yang melahirkan Adam. Sarah tentu saja ikut karena dia adalah istri Adam. Reka memaksa ikut karena dia masih mencintai Adam dan sebenarnya yang paling penting pergi ke sana dari semua orang itu adalah Hawa, karena dia adalah wanita yang dicintai Adam, sekaligus Ibu dari anaknya tapi nyatanya Hawa tinggal di rumah sementara yang lainnya pergi. melihat keadaan Adam


Dia hanya bisa berdoa untuk keselamatan kesembuhan Adam, hatinya begitu khawatir akan terjadi hal buruk kepada pria itu.


Sisa hari itu, Hawa hanya termenung menunggu kabar dari Daniel yang bahkan tidak pulang ke rumah untuk mengabarinya, barulah saat malam tiba, Daniel pulang bersama Sarah.


Hawa yang tidak bisa tidur memang duduk di balkon kamar menatap ke arah luar dan melihat kedatangan Daniel dan Sarah bersamaan. Dia segera turun untuk menyongsong kedatangan mereka, tidak peduli kalaupun nantinya mereka akan curiga, mengapa dirinya begitu antusias menanyakan perihal kesehatan Adam.

__ADS_1


Hawa sudah turun di lantai satu, tapi tidak menemukan Adam dan juga Sarah. Bergegas Hawa mencari keberadaan keduanya. Sayup-sayup Hawa mendengar suara yang membawa langkah Hawa mendekat. Lampu di ruang tamu dan juga di beberapa ruangan lain di rumah itu emang dipadamkan pada malam hari.


Suara itu berasal dari ruangan samping yang mengarah ke pintu gazebo yang ada di taman. Hawa terdiam mematung di tempatnya kala mendengar pembicaraan kedua orang yang dikenalnya sebagai suara Daniel dan Sarah.


"Itu tidak mungkin Dan. Banyak orang yang akan kita sakiti kalau kita kembali bersama," ucap Sarah dengan suara gemetar.


Jantung Hawa berdebar dengan kencang, dia meremas baju di dadanya, menahan debaran jantung yang berdetak lebih cepat. Hawa semakin penasaran mengenai apa yang mereka bahas, tapi melihat mereka bersembunyi di sini membuat Hawa semakin curiga.


Perlahan Hawa bergerak lebih dekat ke arah pintu, menempelkan telinganya untuk mendengar. Dia tahu tidak semestinya dia menguping pembicaraan orang namun, yang ada di balik pintu itu adalah ipar dan juga suaminya, dia harus tahu apa yang mereka bahas.


"Apa kau gila, apa yang akan dikatakan orang tuaku, kalau aku pergi meninggalkan suamiku? Aku nggak bisa, Dan!"


"Jadi kau lebih memilih untuk hidup di neraka ini? Baik, aku tidak akan memaksamu. Kita hancur sama-sama, saling menyakiti. Aku tahu di hatimu masih ada aku, aku bisa melihat dari tatapan matamu dan apakah kau tahu bahwa Adam mencintai perempuan lain? Itulah alasannya mengapa dia tidak pernah menyentuhmu dan menganggapmu sebagai istrinya!"


Tidak ada hujan ataupun petir namun, Hawa merasa seperti disambar mendengar pernyataan Daniel. Benarkah selama ini hubungan Sarah dan Adam tidak baik-baik saja? Bahkan pria itu tidak menyentuh istrinya! Lantas untuk apa mempertahankan pernikahan seperti itu?

__ADS_1


Kaki Hawa gemetaran, dia ingin sekali meninggalkan tempat itu, tidak mau mendengarkan lebih banyak lagi perbincangan kedua orang yang ternyata memiliki hubungan, dan tidak ada satu orang pun yang tahu.


"Apalagi yang ingin kau selamatkan dari pernikahanmu? Kau tahu sendiri bahwa suamimu tidak pernah menyukaimu," ucap Daniel terus mencerca Sarah agar mau mengikuti apa yang dia katakan.


"Lalu, bagaimana dengan Hawa? Apakah kau sanggup untuk meninggalkannya? Kalian bahkan sudah punya anak," tanya Sarah, dia tidak ingin menjadi perebut suami orang terlebih Daniel sudah memiliki anak dengan Hawa, kasihan Raja jika harus dipisahkan dengan ayahnya.


"Aku yakin Hawa adalah gadis bijaksana. Dia akan mengerti dengan keadaan kita, aku akan bicara dengan Hawa secepatnya, asalkan kau mau ikut denganku. Kita tinggalkan keluarga ini. Demi dirimu aku rela melupakan dendamku pada keluarga ini asal kau kembali kepadaku," jawab Daniel dengan suara begitu lembut. Hawa bisa melihat dari bayangan tangan Daniel yang membelai lembut pipi Sarah.


Dia tidak benci kepada pria itu, hanya kecewa. Ternyata selama ini Daniel sudah membohonginya. Dia menikahi dirinya hanya untuk balas dendam kepada keluarga ini karena sudah dipisahkan dari Sarah.


"Katakan kepadaku, Sarah sesungguhnya apa kau masih mencintaiku? Apakah aku masih ada dalam hatimu?" tanya Daniel penuh harap. Dia tidak akan pernah melepaskan wanita yang dicintai itu lagi, tapi satu kata penolakan bisa saja membuatnya membenci Sarah selamanya dan dia masih menunggu jawaban wanita itu.


"Sarah, Aku tidak akan pernah memaksakan kehendakku kepadamu. Jika memang kau tidak mencintaiku lagi maka aku akan memilih untuk pergi dari sini selamanya. Kau tahu aku tidak tahan melihatmu bersama pria lain, memikirkanmu tidur dengan Adam saja membuatku marah. Jadi, aku minta kau jawab dengan sepenuh hatimu. Apakah kamu masih mencintaiku?"


"Kau masih bertanya, bukankah kau mengatakan bahwa kau sudah melihat cinta di mataku? Aku sangat mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Kau tahu sendiri alasanku menerima pernikahan ini karena paksaan orang tuaku. Apa mungkin aku bisa melupakan semua yang sudah kita lalui di Jerman? Kau adalah pria pertama bagiku, yang memilikiku seutuhnya," jawab Sarah dengan isak tangisnya.

__ADS_1


Kalimat Sarah berakhir seiring dengan Daniel yang menyapukan bibirnya pada bibir gadis itu. Daniel mencium dengan begitu agresif, melepas rasa rindu dan rasa dahaga yang selama ini membelenggunya. Pria itu mencecap, merasakan Sarah di bibirnya, menyentuh kulit wanita itu yang selalu datang di tiap malam-malamnya. Daniel tidak peduli lagi dengan apapun. Dia siap menentang dunia asal bisa bersama dengan gadis yang sangat dicintai ini.


__ADS_2