Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA : Kebohongan Lain


__ADS_3

Hawa tidak punya pilihan lain, selain menerima ajakan Rangga untuk mengantarnya pulang.


Sepanjang jalan pria itu terus saja ngoceh bertanya ini dan itu atau enggak menjelaskan sesuatu hal, padahal kepala Hawa tidak bisa menangkap apa yang disampaikan pria itu. Hatinya ketakutan memikirkan jawaban apa yang harus dipersiapkan kalau Rangga bertanya sesuatu mengenai tempat tinggalnya itu.


Apartemen milik Adam itu bukanlah sembarang apartemen, tapi hunian mewah. Apa mungkin ada orang yang tiba-tiba saja memberikan apartemen untuk ditinggalinya dengan pembayaran menjaga dan bersihkan apartemen itu? Bukannya lebih bagus apartemen itu disewakan saja jika yang punya memang tidak sedang berada di sini?


Hal yang paling membuat Hawa bingung nantinya saat Rangga bertanya bagaimana dia bisa mengenal pemilik apartemen itu, jawaban apa yang harus dia ucapkan?!


"Benar ini tempat tinggalmu?" tanya Rangga menatap gedung menjulang tinggi yang begitu mewah dan juga terlihat mahal.


Rangga yang sudah berada lima tahun di Jakarta, tentu saja tahu apartemen itu adalah apartemen kelas satu, tempat tinggalnya orang-orang berduit dan kaya raya.


"Iya," jawabnya singkat.


Awalnya gadis itu berencana memberikan alamat palsu kepada Rangga, tapi Hawa tidak tahu alamat apartemen lain yang bisa dia jadikan tameng. Dia belum tinggal lama di kota ini, tentu saja tidak tahu kota Jakarta dan tempat mana saja yang banyak apartemennya, jadi Hawa terpaksa memberikan alamat yang sebenarnya kepada Rangga tadi.


"Gila! Ini' kan apartemen tempat-tempat orang kaya, selebritis, pejabat dan pengusaha yang menyimpan wanita simpanannya. Kok kamu bisa tinggal di sini?" tanya Rangga masih menatap bangunan Apartemen itu.


Mendengar kata simpanan membuat hati Hawa mencelos. Seandainya Rangga tahu bahwa dia juga adalah simpanan pengusaha kaya, apa yang akan pria itu katakan? Mungkin dia akan memaki bahkan tidak mau berteman lagi dengannya lagi. Bukan hanya dia, Susi dan juga teman-teman yang lain pasti akan mencemooh dan menjauhinya.


Hawa hanya bisa memberikan senyuman getir kala Rangga mengalihkan tatapannya dari bangunan itu ke wajah Hawa.


"Kamu kok bisa kenal sama pemilik apartemen ini?" tanya Rangga.


Benar'kan tebakan Hawa, pertanyaan itu akan muncul dari bibir pria itu. Kalau hawa bisa menghilang saat itu, dia pasti sudah menghilang meninggalkan Rangga dengan segala selidiknya.

__ADS_1


Tapi sepanjang perjalanan tadi dia belum sempat mencari jawabannya, dan saat ini dia terjebak dengan pertanyaan dari Rangga.


"Oh itu, aku dikenalkan sama majikanku yang lama. Jadi, sebelumnya aku'kan bekerja dengan orang nah, beliau berteman dengan pemilik apartemen ini, dan menawarkan aku untuk tinggal di sana. Begitu...," Jawabnya terbata-bata.


Rangga menatap serius manik mata Hawa, mencari kebenaran dari dalam sana tapi sepertinya Rangga tidak mempersoalkan lagi apa jawaban Hawa benar atau salah, yang penting ada rasa bangga di hatinya kalau temannya itu bisa tinggal di apartemen, walaupun hanya berstatus sebagai pembantu.


"Wa, aku boleh naik nggak? Pengen lihat ruangan di apartemen itu seperti apa, kemarin ada iklannya di televisi, gila luas dan mewah banget. Aku penasaran pengen lihat aslinya," tanya Rangga menggebu-gebu.


"Apa yang harus Hawa jawab? tidak mungkin dia mengijinkan pria itu naik dan melihat apartemen milik Adam, walau seingatnya di sana tidak ada foto pria itu, tapi'kan tetap saja dia tidak berhak memasukkan orang lain ke apartemen itu tanpa seizin pemiliknya.


"Sorry, Ga, bukan aku nggak mau, cuman aku nggak berani memasukkan orang tanpa izin dulu. Nanti aku tanya dulu sama yang punya, Apa aku boleh membawa teman berkunjung ke sana, untuk sekarang jangan dulu, ya. Maaf, sekali lagi maaf aku harap kamu bisa mengerti," pinta Hawa.


Rangga mengangguk, dia memahami posisi Hawa. Apa yang dikatakan gadis itu benar. Di sana dia hanya seorang pekerja yang bertugas menjaga apartemen itu tidak mungkin dengan sembarangan membawa orang lain ke sana.


"Aku ngerti, santai, Wa. Aku paham kok. Ya udah, aku pulang ya," jawab Hawa memakai kembali helmnya.


"Besok aku jemput, ya. Kebetulan tempat tinggalku searah dengan apartemen ini jadi kamu nggak usah lagi naik ojek," ujar Rangga menawarkan bantuan.


Hawa sebenarnya ingin sekali menerima bantuan dari Rangga karena dia juga lebih nyaman jika pergi ke kantor bersama pria itu daripada bersama Adam, tapi pasti Adam yang tidak akan setuju.


"Nggak usah deh, aku naik ojek aja takut ngerepotin kamu," jawab Hawa kembali memberikan senyumannya kepada Rangga.


Rangga yang sejak awal bertemu dengan Hawa sudah menyukai gadis itu, tidak langsung menyerah dia kembali memaksakan untuk menawarkan jasanya.


"Nggak papa kok, aku nggak keberatan lagi pula kamu sudah baik, membawakan bekal untukku."

__ADS_1


"hahaha... itu sebenarnya bukan buat kamu tapi buat Jos, tapi karena dia nggak masuk kerja ya udah deh aku kasih ke kamu," jawab Hawa polos.


Rangga yang mendengar itu merasa kalah malu. Hawa terlalu polos, harusnya walaupun kenyataannya seperti itu, dia tidak perlu mengatakan pada dirinya secara gamblang.


"Kamu itu polos banget sih? jujur banget," jawab Rangga mencubit pelan tangan Hawa.


"Dih, sakit. Kamu apaan sih sakit tahu," jawabnya Sembari terkekeh. Dia hanya berkata apa adanya. Kenyataannya bekal itu memang untuk Jos, dia kenapa dia harus berbohong demi menjaga perasaan Rangga.


"Udah ah, kamu pulang sana keburu maghrib," lanjut Hawa, melambaikan tangan pada Rangga.


Setelah Rangga benar-benar pergi, barulah Hawa masuk. Dekat pintu masuk, dia disapa oleh seorang wanita yang dulu juga pernah berbincang dengannya.


"Selamat sore, Mbak, baru pulang kerja ya?" tanya wanita berambut merah.


Hawa hanya mengangguk seraya tersenyum. Hanya itu yang bisa dia lakukan, tersenyum agar bisa menyembunyikan lukanya dan juga status dirinya yang mungkin akan dianggap sampah masyarakat jika tahu yang sebenarnya.


"Namanya siapa sih, Mbak kita saling menyapa tapi saling tidak tahu nama kita masing-masing," lanjutnya. "Aku Lina, kamu?" tanyanya mengulurkan tangan kehadapan Hawa.


"Aku Hawa, Mbak," ujarnya menyambut uluran tangan wanita itu.


"Mbak Hawa ini siapanya Mas Adam sih? saya sering lihat tuan Adam lebih sering berkunjung ke apartemennya ini," tanya wanita itu ingin tahu.


"Aku saudara jauh mas Adam Mbak, seperti yang aku bilang kemarin. Sepupu jauh, cuman aku dikasih tugas untuk menjaga dan membersihkan apartemen Mas Adam," jawabnya begitu susah mengucapkan kata 'Mas' dari mulutnya untuk Adam.


Hanya 15 menit mereka mengobrol, Hawa segera pamit. Dia takut kalau Adam nanti datang, dia belum juga mandi. Dalam surat perjanjian mereka, ketika Adam tiba di apartemen, dia harus sudah siap melayani pria itu.

__ADS_1


"Aku pamit dulu ya, Mbak masih banyak yang mau dikerjakan di rumah."


__ADS_2