
Waktu cepat berlalu, menciptakan kenangan manis dan buruk. Tidak terasa empat bulan sudah Hawa bekerja di sana. Dia menikmati hari-harinya dan semakin dekat dengan teman-temannya.
Lantas Adam? Walaupun belum membuat pria itu mau mengatakan rasa sayangnya pada Hawa, tapi dapat dipastikan kalau kini Hawa sudah merajai hatinya, hal itu bisa dilihat, dari cara pria itu meminta Hawa untuk memanggil namanya saja.
"Mulai sekarang, aku mau kau memanggil namaku saja, tidak perlu ada memanggil tuan, terlebih saat kita berdua," ucap Adam kembali melu*mat bibir gadis itu. Tanpa disadarinya, pria itu sudah jatuh lebih jauh lagi dalam pesona Hawa. Dia juga semakin overprotektif pada gadis itu, selalu meminta laporan kemana pun Hawa pergi.
Ciuman panas itu membuat Hawa sesak, dia belum juga bisa mengatur napasnya saat mereka berciuman, Adam terpaksa melepaskan diri gadis itu.
"Kau masih saja menjadi gadisku yang polos," ucapnya membelai pipi Hawa yang tampak kemerahan karena malu hingga saat ini dia masih saja tidak pawai berciuman, selalu menahan napas saat bibir mereka beradu.
"Kenapa tiba-tiba aku dibolehkan memanggil namamu?" tanya Hawa sedikit takut. Dia tidak mau terlihat bodoh, dengan melanggar perintah.
"Karena aku suka namaku kau sebut dengan bibir seksimu ini, terlebih saat kita bercinta, erang*anmu saat memanggil namaku membuat gairahku tersulut."
Kembali wajah Hawa memerah, seolah seseorang menaburkan pemerah pipi di sana.
Sejak saat itu keduanya semakin dekat, memiliki ikatan, walau tanpa adanya kata-kata. Hawa tahu dia hanya milik Adam, begitupun sebaliknya.
Kala seorang kliennya menawarkan seorang gadis untuk menemani Adam, pria itu akan menolak secara halus, karena dia tidak berselera dengan wanita lain.
Pernah suatu hari, Adam terpaksa berada di bar bersama dua kliennya, dikelilingi wanita cantik yang sudah dibooking untuk menemaninya tapi dia hanya duduk sembari minum, mengabaikan wanita bayaran itu yang mencoba mendekatinya.
***
Minggu pagi, Hawa sudah duduk santai membaca buku di ruang perpustakaan Adam. Setiap hari Minggu, pria itu tidak akan datang menemuinya karena dia harus menghabiskan waktu bersama ibu dan keluarganya.
__ADS_1
Ponsel Hawa bergetar, menandakan satu pesan masuk. Hawa meraih benda pipih itu yang mengatakan kalau Mita sudah tiba, dia ada di depan apartemen.
Sudah dua kali Mita datang ke sana. Adam sudah mengizinkannya itu dengan catatan orang itu harus wanita dan lebih baik kalau dia juga mengetahui hubungan mereka berdua.
Tentu saja syarat itu hanya meloloskan Mita karena hanya Mita yang tahu bahwa dirinya sebenarnya adalah simpanan pria pemilik apartemen itu.
Pada kunjungan pertama Mita ke apartemen itu, dia begitu terkejut, bahkan sama syok mendapati bahwa selama ini yang menjadi pemilik diri Hawa adalah Adam Mahesa, salah satu CEO muda kaya, juga pria yang paling diminati saat ini oleh semua wanita dari kalangan manapun.
"Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau ternyata selama ini yang jadi sugar daddy mu itu adalah ada Mahesa," ucap Mita kala itu sembari mengagumi apartemen tempat Hawa tinggal.
"Loh, bukannya dulu waktu Tiger menjemput aku ke kosan mu, kamu udah tahu, kalau orang yang menyewa jasaku adalah tuan Adam Mahesa?" jawab Hawa santai, mengajak sahabatnya itu duduk di sofa agar mereka bisa berbicara dengan nyaman.
"Mana aku tahu kalau pria yang dimaksud adalah dia, aku pikir justru pria botak gendut dan menjijikkan yang pertama kali menjadi pelangganmu."
Bola mata Mita seakan ingin keluar dari tempatnya, terkejut dan terbelalak mengetahui rahasia yang selama ini tidak dirahasiakan oleh Hawa, hanya saja dia yang tidak peka dan tidak bertanya lebih jauh.
"Gila! Beruntung banget kamu. Ternyata yang ngambil perawan kamu justru pria tampan, mana kaya lagi. Sekarang dia justru ketagihan sama kamu hingga kamu disimpan di sini. Fix, kamu bakal jadi orang kaya, Wa. Kamu beruntung banget," ucapnya memandang Hawa dengan tatapan memuja, seolah saat ini dia melihat seorang bintang pada diri Hawa.
"Udah nggak usah dibahas, sama aja. Toh, aku juga di sini jadi simpan untuk melayaninya, setelah selesai hubungan kerja sama ini kami juga akan berpisah, hanya setahun habis itu aku harus angkat kaki.
"Bukannya kamu cerita sudah bekerja di perusahaan sekarang ini? kalau memang dia memutuskan kontraknya, kau masih bisa lanjut bekerja di perusahaan itu. Aku iri padamu. Aku ingin banget keluar dari pekerjaan gelap ku ini, tapi kau tahu sendiri orang tuaku setiap detik meminta uang kepadaku, kalau hanya kerja di perusahaan biasa seperti kamu tidak akan cukup," jawabnya meraih toples yang ada di depan meja dan mulai mengunyah biskuit coklat itu.
"Aku juga akan berhenti dari sana saat semua ini sudah berakhir, itu tertera dalam kontrak. Tapi aku mohon kamu jangan cerita ke siapapun mengenai hal ini, cuma kamu yang aku kasih tahu."
"Rahasia kamu aman bersamaku, tapi kenapa kamu jadi berhenti juga dari perusahaan itu? kan dia bisa menganggap kamu karyawan sama seperti yang lain."
__ADS_1
"Dia yang menginginkannya. Mungkin memang lebih baik kalau setelah perjanjian itu kami berpisah. Aku akan pulang ke kampung membuka usaha di sana," jawab Hawa, pandangannya kosong, dan terdengar helaan napas.
Setelah berlalunya waktu empat bulan kebersamaan mereka, entah benar Hawa masih bisa melepaskan diri dari Adam atau tidak, begitupun sebaliknya. Walaupun tanpa diucapkan oleh bibirnya Adam juga tidak akan segampang itu untuk bisa lepas dari belenggu Hawa.
"Akhirnya kamu nyampe juga, ngomongnya dari pagi mau kemari," ucap Hawa memberi kecupan di pipi Mita.
"Sini deh, buruan," ucap Mita menarik tangan Hawa agar mereka segera duduk di kursi ruang tamu.
"Kok kayaknya serius amat, ada apa?" tanya Hawa memperhatikan pada wajah Mita.
"Kemarin pria yang penyewaku membawaku ke restoran mewah, nah di sana coba tebak aku ketemu sama siapa?"
"Siapa?" tanya Hawa mengerutkan kening.
"Laku mu bersama seorang wanita dan kamu tahu, itu cewek cakep banget. Sempurna banget, aku nggak tahu dia siapa tapi yang pastinya hubungan mereka lebih daripada sekedar teman deh," ucap Mita yang ikut panas mengetahui bahwa Adam kini mempunyai koleksi wanita lainnya selain Hawa.
Kalaupun benar yang diucapkan Mita, Hawa tidak punya hak untuk marah, siapapun yang dibawa pria itu dan siapapun yang disukainya, itu terserah dia, hanya saja dia sebagai teman Hawa tentu saja tidak bisa tinggal diam tanpa memberitahu Hawa Apa yang dia lihat kemarin malam.
"Hawa yang mendengar itu tentu saja bersedih, dia tidak pernah berani bertanya mengenai Apa yang dilakukan Adam di luar sana dan dengan siapa. Setelah mendengar hal ini bolehkah dia bersedih hati?
"Kamu tahu siapa gadis itu?" susul Mita yang melihat mimik sedih di wajah Hawa.
Hawa hanya menggeleng lemah, Adam tidak pernah bercerita mengenai apapun padanya. Pria itu hanya datang untuk menuntaskan hasratnya dan setelah puas dia pergi.
"Dia tidak pernah pernah cerita, Mit, karena aku memang bukan siapa-siapanya!"
__ADS_1