
"Itu tidak mungkin. Kau adalah pria yang menyebalkan itu?" pekik Hawa yang benar-benar tidak menyangka kalau memang pria itu adalah Daniel, yang tinggal di depan apartemen Adam. Lalu bagaimana mungkin Adam tidak tahu bahwa adiknya tinggal di sana.
"Kau pasti bohong, bisa saja itu adalah temanmu," lanjut Hawa yang merasa Ini semua tidak masuk akal.
"Aku nggak bohong, Wa. Pria itu adalah aku, dan kau perlu tahu, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa aku tinggal di sana, tidak juga Adam! Aku memilih apartemen itu justru karena ingin memata-matai Adam."
"Lalu?" tanya Hawa menanti penjelasan keseluruhan dari Daniel.
"Saat aku memintamu untuk meninggalkan Adam, itu tulus aku lakukan karena aku kasihan kepadamu, aku peduli melihat penderitaanmu bukan karena aku benci dan dendam padanya."
"Aku tidak mengerti Daniel, kenapa kau harus membenci abangmu sendiri dan mengapa kamu merasa dendam pada keluarga ini? Aku mendengar pembicaraan mu malam itu dengan Sarah dan aku sedikit kecewa karena kamu memanfaatkan ku," terang Hawa yang akhirnya mengaku sudah mencuri dengar pembicaraan suaminya dengan Sarah malam itu.
"Kamu tahu dari mana, Wa?" kening Daniel berkerut.
"Aku minta maaf, saat kamu pulang dengan Sarah malam itu di rumah sakit, aku mencarimu, ingin menanyakan keadaan Adam. Namun, aku justru mendapat kejutan kala melihat kalian berdua menyusup ke pintu samping. Aku berdiri di sana mendengarkan semua obrolanmu dan Sarah. Hatiku sakit dan kecewa, aku jatuh pada orang yang ingin memanfaatkan ku, tapi anehnya aku tidak membencimu hanya kecewa," jelas Hawa dengan berani.
Hawa menarik napas lalu mengembuskannya dengan berat, sepertinya ini sudah saatnya dia terbuka kepada Hawa.
"Tuan Richard Mahesa yang terhormat memperkosa seorang wanita hingga mengakibatkan dia hamil. Wanita itu bekerja di kediaman keluarga Mahesa hingga melahirkan seorang putra yaitu aku. Ibu Dewi yang sangat terhormat tidak ingin nama baik keluarganya tercemar hingga memutuskan untuk menyiksa dan mengurung ibuku rumah sakit jiwa. Ibuku yang tidak terima akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Rasa bersalah yang menghantui diri Ibu Dewi membuatnya mau mengurusku, menganggap sebagai anaknya dan itupun karena permintaan dari ayahku. Jadi aku cukup punya alasan untuk mendendam pada keluarga ini bukan, Wa? Bagaimana hancurnya perasaan ibuku atas penyiksaan mereka. Aku tidak akan pernah memaafkan mereka atas kematian ibuku," terang Daniel dengan getir.
__ADS_1
"Penyebab kau tidak mau menyandang nama Mahesa di belakang namamu?" susul Hawa yang akhirnya mengerti mengapa nama belakang mereka berbeda.
Daniel mengangguk. Carlton adalah nama belakang keluarga ibunya. Oma dan Opanya lah yang membesarkan Daniel hingga sampai berumur lim tahun, lalu ditarik oleh Ibu Dewi. Dia tidak menampik kalau keluarga Mahesa sudah menyekolahkannya hingga menjadi dokter tapi itu tidak cukup untuk membayar kematian ibunya.
"Aku turut menyesal atas apa yang sudah terjadi kepada ibumu, Dan. Tapi dendam tidak akan membuatmu tenang. Lupakan masa lalu, aku mohon kamu pria yang baik, aku tetap sedih atas apa yang terjadi dengan ibumu, tapi kalaupun kamu lakukan balas dendam, ibumu tidak akan pernah kembali lagi dia, sudah tenang di alamnya."
Daniel terdiam. Apa yang dikatakan Hawa benar adanya. Dia juga lelah menyimpan dendam. Mungkin mereka tidak satu ibu, namun darah Mahesa ada di tubuhnya, artinya Adam juga abangnya.
"Aku akan memaafkan mereka jika Sarah kembali padaku. Wa, mengapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya kalau Raja anak Adam. Kau tahu kenyataan Adam tidak menyentuh Sarah adalah bukti bahwa dalam hati Adam masih ada dirimu," kata Daniel meyakinkan Hawa.
"Aku memang melahirkan Raja, tapi Adam tidak tahu, dan kalau pun dia tahu aku tidak yakin dia peduli, apalagi kalau sampai kembali padaku. Sejak awal pertemuan hingga hubungan kami berakhir, bagi Adam aku hanya seorang wanita simpanan yang dia sewa, tidak lebih. Wanita yang tidak pantas untuk dicintai apalagi dijadikan istri," jawab Hawa dengan suara bergetar. Sakit kala mengingatnya, tapi itu kenyataan.
"Aku tidak tahu yang jelas, aku menyadari kalau diriku ternyata pengecut! Tapi satu hal yang ingin aku minta padamu, dan sebaiknya kita berpisah. Ceraikan saja aku dengan begitu kau tidak punya beban terhadapku lagi dan mengenai hubunganmu dengan Sarah, Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Kalau kalian berdua memang saling mencintai maka perjuangkan," ucap Hawa sembari tersenyum pada pria itu.
Daniel begitu beruntung bisa mengenal sosok Hawa, gadis yang hebat, walau begitu banyak masalah. Namun, tetap tegar dan semangat menjalani hidupnya.
"Bolehkah aku memelukmu?" tanyanya, dengan rasa canggung Hawa mengangguk lalu masuk ke dalam pelukan Daniel.
***
__ADS_1
Masalah tampaknya tidak pernah usai dari hidup Hawa. Ada saja hal yang membuat dia terluka dan dan sulit mendapatkan kebahagiaannya.
Pintu kamar mereka dibuka dengan kasar hingga daun pintu beradu dengan dinding kamar. Adam sudah berdiri di ambang pintu memandang mereka yang tengah berpelukan.
Sontak Hawa mendorong tubuh Daniel, menatap sosok Adam yang begitu marah kepadanya. Bola matanya sudah menggelap menahan emosi dan luapan amarah.
"Apa maksud semua ini?" tanya Daniel yang berdiri menghadang Adam. Pria itu takut kalau abangnya akan berbuat kasar. Dia tahu kemarahan Adam kali ini karena melihat mereka berdua berpelukan.
Adam yang sudah pulang ke rumah mencoba untuk beristirahat dan tidur, namun tidak sedetik pun dia bisa memejamkan matanya, membayangkan Hawa yang berada hanya beberapa jengkal dari kamarnya membuatnya gelisah. Dalam pikirannya, gadis itu menari-nari tersenyum memanggil dirinya, rasa rindu sudah membakar akal sehat dan juga pikiran Adam. Dia sadar tidak seharusnya dia mencari Hawa yang saat ini sudah berstatus istri adiknya, tapi semakin lama dia menahan rasa rindu dan memendam cintanya maka dirinya akan semakin gila, menyimpan amarah yang selama ini dia pendam untuk Hawa.
Dia tidak lagi memikirkan apapun, dia akan bicara kepada ibunya dan mengatakan semuanya, memberitahukan pada Sarah dan juga ibunya bahwa Hawa adalah gadis yang dicintai yang selama ini menjadi satu-satunya wanita yang ada dalam hidupnya.
Dia akan menceraikan Sarah, tidak perduli ibunya setuju ataupun tidak. Bahkan dia juga tidak peduli kalau semua orang menentangnya, demi Hawa dia bisa melakukan apapun.
Hatinya sudah mantap, bergegas dia menyeret langkahnya menuju kamar Hawa tepat saat dia membuka pintu perlahan dia melihat keduanya sedang berpelukan lalu dengan penuh emosi Adam menendang daun pintu itu hingga membuat keduanya terpekik kaget.
"Minggir aku tidak punya urusan denganmu! Aku ingin bicara dengan wanita itu!"
"Wanita yang kau maksud itu adalah istriku," ucap Daniel terus menghadang langkah Adam yang ingin mendekati Hawa. Gadis itu benar-benar ketakutan, meremas tangannya mencoba menenangkan hatinya. Hanya Adam yang bisa membuatnya ketakutan seperti ini.
__ADS_1
"Dia memang istrimu saat ini tapi dia dulu adalah simpananku. Dia hanya milikku!" tegas Adam.