
Dokter Ridwan dan beberapa perawat serta seluruh anggota keluarga Hawa tentu saja terkejut mendengar ucapan dokter Carlton, begitupun dengan Hawa, dia menengadah menatap wajah dokter itu yang tampak serius berbicara dengan ayahnya.
Pak Tarjo diam, dia jelas-jelas mendengar perkataan dokter itu dan dari pengamatannya, Dia yakin kalau Dokter Carlton tidak sedang bercanda.
Dia menyampingkan selang oksigen yang ada di mulutnya, agar bisa lebih leluasa berbicara kepada dokter Carlton.
"Dokter, apakah ucapan Anda benar?" tanyanya dengan suara yang pelan dan terbata-bata.
"Benar, Pak. Walaupun saya hanya beberapa minggu mengenal Hawa, tapi saya tahu dia wanita yang baik dan saya juga belum menikah. Izinkan saya menikahi putri Bapak, izinkan saya mendampinginya," pinta dokter Carlton. Hawa tidak bisa berkata apapun, dia sadar bahwa dokter Carlton adalah pribadi yang baik, mungkin perkataan pria ini muncul karena terharu dengan drama sedih yang disaksikannya saat ini, disaat seorang ayah sedang menanti ajalnya dan masih memiliki satu harapan untuk putrinya, dokter Carlton datang untuk mengabulkan permintaan Pak Tarjo.
Hawa yang masih terkejut dengan perkataan dokter itu hanya bisa diam, menggigit bibir bawahnya sampai luka. Hawa tidak ingin menikah dengan seseorang yang tidak dia cintai. Tapi, kalau dia menolak bagaimana dengan ayahnya? Itu adalah permintaan terakhir dari sang ayah.
"Saya berterima kasih sekali Dokter, kalau Anda mau menikahi putri saya. Seandainya saya bisa melihat kalian menikah sebelum ajal menjemput," jawab Pak Tarjo dengan Isak tangisnya, yang membuat dadanya semakin sakit dan sesak, tapi air matanya mengalir deras, tanda bahagia dan bersyukur atas kebaikan Tuhan yang mengabulkan permintaan terakhirnya.
"Sudah Ayah, jangan menangis lagi," ucap Hawa menghapus jejak air mata ayahnya. Marni pun maju mendekat dan mulai membersihkan wajah suaminya dengan kain yang dia bawa.
"Sudah, Pak. Jangan bicara lagi, setiap kali Bapak bicara akan semakin sesak di dadamu."
"Hawa, Ayah ingin tanya apa kamu mau menikah dengan dokter Carlton?"
__ADS_1
Hawa merasa tersudutkan dengan keadaan, sama halnya seperti kali pertama dia me*lacurkan diri, itu semua karena keadaan dan dia tidak punya pilihan lain. Tapi dia ingin berbakti di titik terakhir ayahnya. Apapun akan dia lakukan demi membuat ayahnya bahagia.
Pernikahan itu pun berlangsung di ruangan Pak Tarjo. Dokter Ridwan dan beberapa pengurus rumah sakit menjadi saksi pernikahan Dokter Carlton dan juga Hawa.
Satu jam setelah pernikahan itu, Pak Tarjo pun akhirnya mengembuskan napas terakhirnya, menghadap Sang Pencipta untuk selamanya. Tangis keluarga mengantarkan kepergian Pak Tarjo, dia pergi dengan ikhlas wajahnya tampak tersenyum menghadapi kematian yang menjemput.
Tugasnya sudah usai di dunia ini, dia berharap keturunannya mendapatkan kehidupan yang baik dan bahagia Semoga amal dan perbuatan yang baik yang pernah dia lakukan menjadi bekalnya di alam baka.
***
Setelah pernikahannya Hawa meminta untuk tetap bisa tinggal untuk sementara waktu di rumah ibunya, tidak mengikuti dokter Carlton yang tinggal di rumahnya. Calton mengerti dengan keadaan Hawa, lagi pula saat ini keluarga itu sedang masa berduka. Dia memberikan kebebasan untuk Hawa selama yang dibutuhkan untuk menemani sang ibu. Dokter itu bahkan menawarkan agar mereka tinggal di rumah orang tua Hawa saja, agar wanita itu tidak merasa bersalah meninggalkan ibunya selepas kepergian Pak Tarjo.
Waktu yang berlalu bisa membalut luka Hawa. Sebulan setelah ayahnya pergi, mereka sudah bisa menjalani hari-hari mereka dengan ceria. Marni, Hawa beserta kedua adiknya sudah bisa tersenyum dan mengikhlaskan kepergian ayah mereka.
Sebelum mereka menikah dan Hawa menyetujui lamaran Carlton, saat itu Hawa mengatakan bahwa dia tidak bisa membuka hati untuk pria lain, karena saat ini, sejujurnya masih ada satu nama dalam hatinya, itu artinya dia juga tidak bisa menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri untuk melayani Carlton di atas ranjang.
Hawa pikir, Carlton akan menolak persyaratannya, dan akhirnya batal menika. Lagi pula, mana ada seorang pria menikah dengan seorang wanita tapi tidak mendapatkan apapun keuntungan dari wanita tersebut.
Tapi ternyata, tekad Carlton sudah bulat. Sejak awal dia sudah menaruh hati pada Hawa, ditambah lagi kelembutan dan paras cantik wanita itu membuat Carlton mengesampingkan semua persyaratan yang diberikan Hawa kepadanya.
__ADS_1
"Kenapa kau menatapku? Apa ada hal yang aneh?" tanya Carlton tersenyum melihat ke arah Hawa yang sedang memperhatikan dari ranjangnya.
"Aku merasa bersalah kepadamu karena kau sudah mau menikahi aku demi ayahku, dan aku sama sekali tidak pernah menuntut apapun dariku, bahkan kau tersiksa harus tidur di sofa itu, padahal kau bisa saja menikmati tidur nyamanmu di rumah ataupun di hotel yang kau inginkan," ucap Hawa merasa tidak enak hati.
"Anggap saja kau bertemu dengan malaikat, jadi jangan dipikirkan itu. Kau boleh mengabaikanku, asal setiap hari kamu memasakkan bekal yang enak untuk dibawa ke rumah sakit," jawab Carlton yang memang menikahinya bukan hanya sekedar dan nafsu. Dia akan memberikan waktu kepada wanita itu untuk memikirkan hubungan mereka.
"Carlton..."
"Aku kan sudah memintamu untuk memanggilku dengan nama panggilanku saja. Aku ini suamimu, Wa, bukan dokter yang sedang memeriksa pasiennya." Kembali karton tersenyum kepada Hawa yang menambah ketampanan pria itu.
"Terima kasih," ucap Hawa malam itu sebagai penutup, sebelum mereka terlelap dan terbuai dalam mimpi masing-masing. Hawa membelai dan mengecup kening Raja sebelum memeluk anak itu tidur di sampingnya.
Tiga bulan setelah menikah Carlton dipindahkan ke Jakarta, mau tidak mau Hawa dan Raja harus ikut bersamanya. Sebenarnya Hawa sudah menolak dan menceritakan alasannya untuk tidak bisa pergi ke kota itu, tapi ibunya menasehati Hawa agar mematuhi apa yang diminta oleh suaminya.
"Kamu tidak boleh membantah apa yang dikatakan Carlton, seorang istri yang baik akan patuh pada perkataan suami dan ikut kemana pun suaminya pergi. Lupakan masa lalu, kota Jakarta luas. Kau belum tentu juga akan bertemu dengan pria itu, kalaupun kau bertemu dengannya apa yang harus kau risaukan? Toh, dia juga tidak mengetahui tentang keberadaan Raja," terang Bu Marni membelai rambut Raja yang sedang tertidur pulas malam itu.
"Tapi, Bu...."
"Sudah, kamu pergi salat, tenangkan hati dan pikiranmu. Kamu juga sudah menceritakan perihal mengenai hubunganmu dengan pria itu dan juga keberadaan Raja. Nak Dan juga sudah bisa menerima, lihat saja bagaimana sikapnya kepada Raja yang begitu sangat menyayangi dan memanjakan anak itu. Apa lagi yang harus kau khawatirkan? Jangan takut, Ibu yakin Nak Dan akan selalu melindungi kalian berdua."
__ADS_1
Setelah mendapatkan wejangan dari ibunya dan juga demi menghargai dokter itu yang kini adalah suaminya, Hawa memutuskan untuk ikut ke manapun Carlton melangkah.
"Keluargaku sedikit unik, tapi satu hal yang aku minta kepadamu. Bagaimanapun sikap mereka nantinya, kau harus berani melawan. Jika ada yang menyakitimu, jangan pernah tunduk dan diam, ingatlah kau memilikiku sebagai pelindungmu!" ucap Carlton dengan tegas sembari menggenggam tangan Hawa.