Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)

Hawa untuk Adam (Simpanan CEO Arogant)
HUA: Strategi


__ADS_3

Mata Hawa belum bisa terpejam, masih terus mengamati langit-langit kamarnya. Seharusnya udara yang dingin dan rintik hujan di luar sana mampu membuatnya terlelap. Sudah satu jam yang lalu Hawa masuk ke dalam kamar setelah perbincangan yang cukup lama bersama ayah dan ibunya.


Daftar kebohongan yang dibuat Hawa terhadap kedua orang tuanya semakin bertambah kala ayahnya menanyakan jenis pekerjaan apa yang dia kerjakan di Jakarta hingga bisa memperoleh uang sebanyak itu.


Selama kurun waktu tujuh bulan, Hawa sudah dua kali mengirim uang ke kampung, yang pertama dia mengirim uang sebesar 20 juta lalu beberapa bulan kemudian dia juga mengirim uang sebesar 10 juta pada ibunya.


Hawa yang mengaku bekerja sebagai cleaning service di sebuah perusahaan membuat Pak Tarjo kurang percaya. Katakanlah gaji Hawa satu bulan lima juta, tujuh bulan berarti 35 juta, sementara uang yang sudah dikirimnya 30 juta, tidak mungkin dia tidak membutuhkan biaya untuk kebutuhannya sehari-hari belum lagi untuk membeli begitu banyak oleh-oleh yang dia bawa pulang ke kampung pasti juga membutuhkan biaya yang besar. Jadi, wajar kalau Pak Tarjo sedikit kurang percaya akan penjelasan putrinya.


Namun, sebagai ayah yang menghargai, dia tidak mau menekan Hawa dan mencoba percaya atas apa yang dikatakan oleh putrinya itu . Tidak ada yang tahu hanya Hawa dan Tuhan, bahwa hatinya begitu hancur karena harus berbohong kepada kedua orang tuanya.


Belum lagi ketika ibunya bertanya berapa hari rencananya untuk berlibur di kampung dan kapan dia pulang, Hawa tidak bisa menjawab.


"Aku belum tahu kapan Bu, mungkin beberapa hari ke depan aku masih di sini," jawab Hawa pelan.


"Ibu senang saja kamu berada di sini, yang Ibu khawatirkan jangan sampai karena kamu betah hingga ogah balik, nanti bosmu marah."


Hawa hanya tersenyum. Sebenarnya niat ibunya bermaksud baik mengingatkan dirinya perlunya menghargai pekerjaan Hawa, tapi perasaan Hawa yang saat ini sedang sensitif justru menganggap bahwa ibunya merasa terganggu dengan keberadaannya di rumah itu. Mungkin karena mereka tidak terbiasa akan keberadaan Hawa di ruang itu, hingga saat tiba-tiba aku pulang seperti ini tidak ada tempat bagi gadis itu di rumah itu.


Hawa bangun pukul 06.00 pagi karena sudah terganggu dengan bunyi berisik panci yang beradu di dapur. Warung ibunya memang berada di depan rumah mereka, jadi beberapa bahan dimasak ibunya di rumah lalu dibawa ke warung.


Biasanya kalau pagi, warga desa akan singgah untuk membeli sarapan di warung mereka.

__ADS_1


Ibu Marni memang terkenal pintar memasak, setiap ada acara hajatan di desa itu pasti memesan makanan kepada Ibu Marni.


Setelah Hawa selesai mandi dan sedikit mengoles bibirnya dengan liptint, dia pun beranjak ke depan membantu ibunya melayani para pembeli.


"Wah, ini anak Ibu? Hawa, kan?" tanya Bu Yuyun, ibu RT di desanya. Hawa hanya balas tersenyum sembari mengangguk.


"Wah, kapan datang? Kamu cantik sekali Hawa, pasti kamu sukses ya di Jakarta. Ibu dengar kamu kerja sama Mita ya? Mita nggak ikut pulang?" corocos ibu RT yang rasa ingin tahunya begitu besar. Dia tidak jahat hanya saja begitu hobi mengurusi urusan orang.


"Sudah nggak sama lagi Bu. Saya udah pindah kerja," jawab Hawa dengan pelan, kembali melanjutkan pekerjaannya mencuci piring di wastafel bekas makan para pembeli sebelumnya. Bu Marni yang melayani para pembeli sembari bercerita dengan mereka, setidaknya membuat fokus mereka teralihkan dari Hawa. Gadis itu diam-diam menyelinap masuk ke rumah, dia tidak tahan kalau harus menjadi bahan pembicaraan bagi warga kampung.


Mengenai kepulangan Hawa ke desa itu, menyebar dengan cepat. Dia yakin, keempat sahabatnya itu pasti bercerita di warung-warung lainnya, sehingga banyak pemuda yang datang ingin melihat Hawa. Mungkin mereka penasaran mendengar kecantikan Hawa yang kini begitu mempesona. Warung ibunya semakin sering didatangi oleh masyarakat desa tetangga. Semakin banyak pembeli semakin banyak juga uang yang terkumpul.


"Kedatangan kamu bawa rezeki untuk warung kita," ucap Bu Marni malam itu menghitung uang yang masuk. Hawa ikut senang jika memang dirinya berguna bagi orang tuanya.


***


Hari berganti, sudah seminggu Hawa di desa. Udara dan juga suasana yang menyenangkan di kampung halamannya itu membuat perubahan besar padanya.


Hawa kembali ceria dan yang terpenting nafsu makannya sudah kembali. Sebelum dia kembali ke kampung, Hawa sama sekali tidak berselera makan. Namun, seminggu di kampung halaman, berat badannya naik sampai dua kilo. Apapun yang ibunya masak pasti Hawa sukai.


"Ibu lihat kamu lahap benar setiap kali makan, ibu senang. Waktu kamu datang kemari, ibu sempat khawatir melihat kamu begitu kurus, Wa. Kamu makan yang banyak, biar sehat. Pasti kalau selama di Jakarta, makan kamu tidak teratur ya?" ucap Bu Marni tersenyum melihat putrinya yang makan dengan lahapnya.

__ADS_1


Hawa mungkin bersenang-senang di kampung halamannya menikmati kuliner yang terasa cocok di lidahnya. Namun, di kota Jakarta sana, seorang pria begitu mati-matian bertahan agar dirinya tidak harus dirawat di rumah sakit. Mual yang berkepanjangan serta pusing membuat Adam selama satu minggu ini menjadi uring-uringan.


Dia tidak mengerti apa yang terjadi pada tubuhnya. Amarahnya meledak-ledak, semua orang menjadi sasaran amarahnya.


Semua ini berawal ketika dia mulai pulang ke Indonesia sehabis berbulan madu dengan Sarah. Amarahnya meledak ketika mendapati apartemennya sudah kosong dan beberapa pakaian Hawa tidak berada di lemari itu lagi.


Dia bahkan sampai memukul Tiger berapa kali di wajah dan juga perutnya karena setiap ditanya pria itu tidak tahu kemana Hawa pergi.


"Lantas, apa gunanya kau aku pekerjaan'kan? Bukankah aku perintahkan kau menjaga dan mengawasinya?!"


Kecurigaan Adam beralih pada ibunya, tentu saja dia satu-satunya orang yang mampu menghilangkan Hawa dari hidupnya.


"Aku ingin tanya, apa yang sudah ibu lakukan kepada Hawa? Ke mana dia pergi?" tanya Adam begitu berang, masuk ke dalam kamar ibunya dengan penuh amarah setelah kembali dari apartemen yang didapatinya sudah kosong.


"Begini cara bicaramu kepada ibumu? Etika semacam apa ini, Adam?" tanya ibu dewi dengan santainya.


"Ibu tahu betul, mengapa aku seperti ini! Aku ingin tahu kemana wanita itu, apa yang sudah ibu lakukan kepadanya? Kalau sampai Ibu menyakitinya, aku bersumpah kesetiaanku selama ini kepada ibu dan rasa hormatku akan hilang seketika!" hardik Adam.


"Ibu tidak melakukan apapun, dia memang pantas untuk pergi," ucap Ibu Dewi berdiri dari duduknya dan dengan langkah gontai membuka laci dari nakas yang ada di samping ranjangnya, mengeluarkan beberapa lembar foto yang dia dapat dari seseorang yang dia suruh menguntit Hawa.


Adam mengambil foto itu, mengamatinya dan semakin besarlah amarahnya. Foto itu tidak menunjukkan wajah gadis duduk dengan seorang pria di taman di dekat apartemen mereka. Foto itu diambil dari arah belakang, tapi jaket yang dipakai Hawa membuktikan bahwa gadis itu adalah memang benar Hawa. Lalu ada foto di mana seorang pria yang memakai topi berdiri berhadapan dengan Hawa seolah pria itu baru saja keluar dari apartemen mereka.

__ADS_1


Amarah Adam semakin berkobar, dalam pikirannya Hawa pergi dengan pria itu dan yang terburuk ibunya mengatakan bahwa pria yang ada dalam foto itu sudah lama menjalin hubungan dengan Hawa di belakang Adam, yang semakin menyempurnakan skenario Ibu Dewi untuk membuat ada membenci Hawa selamanya.


__ADS_2