
"Penyesalan selalu datang terlambat, harusnya kau memikirkan hal itu sebelum mengambil keputusanmu. Selamat malam Sarah." Daniel bangkit dari duduknya dan meninggalkan gadis itu.
Air mata Sarah tak bisa dibendung lagi, menatap punggung Daniel yang menjauh. Seandainya waktu bisa diputar, dia ingin kembali memeluk pria itu, menyandarkan kepalanya di pundaknya dan mempercayakan semuanya akan baik-baik saja.
Melihat Daniel kembali ke rumah ini, membawa Sarah dalam pusaran kenangan. Dia teringat akan masa-masa indah mereka dulu, tidak pernah ada air mata seperti yang dirasakan saat ini.
Kalau'lah Sarah bisa menolak permintaan ayahnya untuk menikah dengan Adam, mungkin saat ini dialah yang ada di posisi Hawa menjadi istri Daniel yang begitu dia cintai.
Namun kenyataannya, ayahnya tidak mau mengerti status Daniel, yang dianggap tidak bisa dibandingkan dengan Adam.
Baginya Adam adalah cahaya terang yang membawa kemakmuran bagi keluarga mereka, darah murni yang mengalir di tubuh Adam membuatnya menjadi pilihan yang lebih baik daripadanya Daniel dengan segala masa lalu dan statusnya yang dipertanyakan.
Daniel menaiki anak tangga satu per satu, pikirannya berkecamuk, tidak hanya Sarah yang melayang jauh memikirkan masa lalu mereka. Semua harus berakhir karena dirinya bukanlah keturunan asli dari keluarga Mahesa.
Daniel lahir dari seorang wanita yang sudah diperkosa oleh tuan Mahesa. Wanita yang menjadi pelayan di rumah mereka yang ada di Sidney. Catherine Carlton, harus menanggung penderitaan setelahnya, disiksa mental dan fisiknya oleh Bu Dewi. Bahkan dengan sadisnya, wanita itu memasukkan Catherine ke rumah sakit jiwa, padahal saat itu wanita itu tidaklah gila.
Menyingkirkan wanita itu adalah salah satu jalan agar nama baik keluarga Mahesa tetap terjamin. Memasukkan wanita itu ke rumah sakit jiwa adalah menjadi pilihan tersadis yang pernah diambil Ibu Dewi.
Tuan Richard Mahesa memohon pada istrinya untuk merawat putranya, bagaimanapun Daniel adalah keturunan dari tuan Richard Mahesa.
Ibu Dewi begitu marah ketika mengetahui bahwa suaminya selingkuh, namun demi kesehatan suaminya yang saat itu divonis terkena kanker otak, Dewi menerima permintaan suaminya.
__ADS_1
Tidak selang berapa lama setelah Ibu Daniel masuk rumah sakit jiwa, wanita itu ditemukan meninggal bunuh diri. Rasa bersalah pun menghantui Dewi dan akhirnya mau menerima Daniel dan mengurus demi menebus rasa bersalahnya kepada ibunda Daniel.
"Kau yang memilih jalanmu, Sarah. Kau melepaskan genggaman tanganku, hanya demi menikah dengan abangku. Lantas sekarang, ketika kau tidak bahagia mengapa hatiku yang sakit?" batin Daniel mengusap wajahnya. Dia masuk ke kamar, memandangi wajah Hawa dan Raja yang tidur dengan nyenyaknya.
Lama Daniel menatap Hawa, ada rasa bersalah di hatinya karena sudah berbohong pada Hawa. Dia tidak tahu harus bagaimana mengatakannya kepada Hawa, bahwa sebenarnya awal dia menikahi Hawa hanya untuk menggunakan wanita itu membalas dendam, menghancurkan Sarah dan juga keluarga Mahesa.
Rencana balas dendamnya didukung oleh semesta. Daniel yang sudah menyelesaikan pendidikannya, menerima tawaran sahabatnya untuk mau bekerja di sebuah desa kecil yang kebetulan di sana masih kekurangan tenaga dokter.
Daniel yang ingin melupakan Sarah dengan segala rasa sakit hatinya menerima tawaran itu dengan tujuan ingin menyendiri dan jauh dari kekuasaan keluarga Mahesa, membawa pedih dan sakit hatinya yang ditinggalkan Sarah.
Mereka berdua sudah berjanji ketika tinggal bersama di Jerman, bahwa bersama akan memperjuangkan cinta mereka tidak peduli apapun rintangannya. Sarah akan tetap memilih dengan menggenggam tangan Daniel untuk kehidupan ini.
Daniel tahu jauh di lubuk hati Sarah, masih mencintai dirinya, hanya karena tertekan oleh tuntutan ayahnya yang meminta menikahi Adam, dia memilih untuk membuang cinta mereka.
Bahkan Daniel juga tahu kalau Raja adalah anak Adam. Pertama kali bertemu dengan anak itu di rumah sakit, Daniel merasa begitu familiar melihat wajahnya, mengingatkannya kepada Adam. Namun, saat itu Daniel menganggap hanya kebetulan sesaat.
Barulah Setelah dia bertemu dengan Hawa, dia semakin yakin bahwa Raja adalah anak Adam.
Rencana balas dendanya tampak sempurna, bukannya dia tidak tahu bahwa Adam tersiksa Dalam pernikahannya dengan Sarah, terlebih malam ini kenyataan itu dibuka oleh gadis itu yang membuat Daniel semakin mantap untuk melakukan balas dendam. Dia akan menahan Hawa bersamanya, menyiksa dan memperlihatkan kebahagiaan mereka sementara hati Adam pasti menjerit, ingin mendapatkan Hawa kembali.
Dan kehadiran Raja semakin memuluskan rencananya. Dewi akan semakin menyayangi Daniel, karena sudah memberikan keturunan untuk keluarga yang Mahesa, sementara Sarah dan Adam hingga saat ini belum dikarunia keturunan.
__ADS_1
***
"Mengapa wanita itu kembali ke sini, Tiger? Apakah ini sebagian dari rencana ibu?" tanya Adam menggenggam gelas kristalnya dengan sangat kuat, yang bisa saja pecah dalam genggaman Adam.
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Saya bahkan belum bertemu dengan Nona Hawa. Bagaimana mungkin saya tahu," jawabnya asal. Pikiran Tiger pun bercabang memikirkan dosa apa yang dibuat keluarga itu hingga takdir mempermainkan keluarga Mahesa.
Mungkin memang sudah banyak dosa dan kesalahan yang diperbuat keluarga itu. Hawa kembali datang dengan status sebagai istri Daniel yang notabene dibenci oleh Adam Mahesa.
"Sialnya lagi, bahkan mereka sudah punya anak!" lanjut Adam menghabiskan isi gelasnya.
Tiger hanya diam mendengarkan celoteh bosnya yang kini sudah mabuk. Dia melirik jam di pergelangan tangannya, sudah hampir pukul 02.00 pagi, saatnya membawa Tuan mudanya kembali ke rumah.
"Tuan, sebaiknya kita pulang. Anda sudah terlalu banyak minum malam ini, melebihi malam-malam sebelumnya," ucap Tiger menjauhkan botol yang akan diambil Adam untuk dituangkan ke dalam gelasnya.
"Berikan botol itu padaku, Tiger!" hardik Adam menatap marah pada asistennya itu. Bukan menurut, justru Tiger memindahkan minuman itu ke meja lain.
Amarah Adam tersulut, lalu berdiri sembari menggebrak meja. Tubuhnya sempoyongan dan hampir jatuh. Seorang pria yang juga sedang mabuk melewatinya dan menubruk tubuhnya hingga Adam terjatuh ke lantai. Dia bangkit dan tanpa mengatakan apapun memukuli pria itu bahkan Adam sampai memijak perutnya walau pria itu sudah terkapar di lantai, tidak sadarkan diri dan darah berceceran dari hidungnya.
Amarahnya yang tidak tertampung lagi, membuatnya dengan senang hati memukuli orang lain untuk menyalurkan amarahnya, yang seharusnya dilampiaskan pada Daniel dan juga Hawa.
"Sudah Tuan, lepaskan. Dia bisa mati, Tuan," ucapnya menarik tubuh Adam yang dengan santainya menginjak tubuh pemuda itu.
__ADS_1
Adam pun berhenti, berbalik badan dan pergi meninggalkan tempat itu bersama Tiger, tapi satu hal yang tidak dia sadari, teman dari pria mabuk itu memukulkan botol tepat di atas kepala Adam yang membuat pria itu jatuh pingsan.