
Akan ada masa di mana kesedihan berganti dengan kegembiraan, air mata dibalut dengan senyuman. Dengan penuh kesabaran Hawa menjalani kehidupannya. Walaupun mungkin tidak terang-terangan warga desa mencibirnya mengatakan anaknya adalah anak haram, tapi mereka nyatanya memang menyebar fitnah di kampung itu, membuat nama Hawa buruk.
Berulang kali kedua orang tuanya menjelaskan bahwa Hawa mempunyai suami, namun tidak adanya sosok itu yang pernah datang mengunjungi Hawa dan anaknya membuat warga merasa dibohongi dan mulai bergunjing mengenai status anak Hawa.
Oleh Tarjo anak Hawa diberi nama Raja dan Hawa menambahkan kata wise belakang nama Raja, berharap agar benar-benar menjadi seorang penguasa yang penuh dengan kebijaksanaan. Hawa tersenyum, dia suka nama anaknya, nama yang begitu berkarisma.
Anak itu menjadi bintang di hati semua orang di rumah itu. Semua kasih sayang dan perhatian tercurah kepada Raja. Lambat laun, para tetangga bisa menerima keadaan Hawa dan juga Raja. Anak itu seolah membawa berkah, bercahaya setiap orang. Setiap memandang Raja, pasti akan langsung jatuh cinta pada bocah itu.
Raja bertumbuh menjadi anak yang kuat dan pintar biar. Lebih cepat bicara dan berjalan dari anak seusianya. Tidak terasa Raja sudah menginjak usia empat tahun dan besok Hawa ingin membuat pesta ulang tahun kecil-kecilan untuk putranya.
Ruang tamu sudah disulap dengan dekor yang meriah dipenuhi dengan balon dan juga banyak jajanan untuk anak-anak yang diundang dalam perayaan ulang tahun itu.
Hawa ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, dia tidak ingin anaknya merasa berbeda dari teman-teman yang lain karena tidak memiliki ayah.
Namun, walau tidak memiliki anak, tapi Raja selalu disukai dan tidak pernah kekurangan kasih sayang. Semua orang yang bertemu dengan Raja pasti langsung menyukai anak itu. Mereka beranggapan bahwa Raja tidak pantas tinggal di kampung dengan wajah yang begitu tampan dan juga menggemaskan bak anak artis yang putih mulus dan tampak terawat.
"Bunda apakah nanti ayah akan datang di acara ulang tahunku?" tanya Raja bermain dengan ujung rok ibunya yang sedang sibuk membuat kue untuk ulang tahunnya besok.
__ADS_1
Kalau sudah bertanya mengenai ayahnya, Hawa akan lemas. Sudah empat tahun berlalu, dia sendiri tidak tahu kabar Adam.
Kalimat yang mengatakan waktu adalah satu-satunya yang bisa membalut luka nyatanya benar. Sedikit demi sedikit Hawa bisa lepas dari bayangan Adam walaupun tidak bisa dipungkiri selamanya pria itu akan bersarang di hatinya, tapi dia bisa lebih ikhlas menjalani hari-harinya tanpa memikirkan pria itu bersama istrinya dan kehidupan mereka yang sempurna.
Hawa menebak, dari Pernikahan Adam dan Sarah, saat ini mungkin mereka sudah memiliki beberapa orang anak. Hawa memandang putranya, ada luka di hatinya yang menganga. Sebagai manusia biasa dia juga ingin anaknya mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya tapi dia sudah memilih jalan ini. Dia tidak bisa menyalahkan Adam karena dia pun tidak tahu mengenai kehamilannya.
Memikirkan bahwa anak Sarah dimanja oleh Adam namun anaknya tidak mendapatkan hal serupa, membuat Hawa pasti akan menangis. Hawa tahu, suatu hari nanti, saat Raja sudah besar, anaknya itu pasti menyalahkannya atas keputusannya menjauhkan anak itu dari ayahnya, maka Hawa siap menanggungnya.
"Papa nggak bisa datang, Sayang. Dia lagi kerja. Suatu hari nanti papa pasti datang menemui kita," ucap Hawa menenangkan hati Raja. Berulang kali anak itu bertanya mengenai keberadaan ayahnya dan mengapa mereka tidak dijemput, Hawa hanya bisa dikatakan hal sederhana itu sebagai jawaban.
Bertambahnya usia Raja anak itu sudah mulai memahami keadaan mereka. Dia tidak pernah lagi bertanya mengenai keberadaan ayahnya yang tidak kunjung datang menjemput mereka. Dia tidak ingin melihat kesedihan di wajah ibunya, karena setiap menanyakan perihal ayahnya mata Hawa akan berkaca-kaca dan wanita itu akan menyembunyikan tangisnya dari Raja.
Walau oma dan Opanya begitu memanjakannya, tapi kasih sayang Hawa lebih berarti dari apapun dalam hati Raja kecil.
Hawa dikejutkan dengan kedatangan Mita. Dia tidak tahu mengenai kabar kepulangan temannya itu. Wanita itu datang menemuinya di rumah Hawa.
Selain karena rasa rindu pada teman baiknya itu, Mita ingin memastikan bahwa keadaan Hawa baik-baik saja. Dari ibunya, Mita sudah mendengar perihal nasib Hawa yang digunjing dan dicemooh warga kampung karena dia dianggap hamil dan memiliki anak tanpa menikah.
__ADS_1
"Ini ada oleh-oleh buat kamu dan juga anakmu," ucap Mita memberikan bungkusan kepada Hawa. Saat itu Raja minta ikut dengan dibawa Omanya ke rumah sakit, jadi tidak bisa bertemu Mita.
"Apa pria itu tahu?" tanya Mita dengan suara berbisik, beruntung saat itu kedua orang tua Hawa sedang pergi ke rumah sakit untuk memeriksa dada ayahnya yang terasa sesak sejak dua minggu belakangan ini.
Hawa menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Mita.
"Kenapa kau bodoh, harusnya kamu memberitahukan padanya. Anakmu berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik, Wa!"
"Itu nggak mungkin, Mit. Dia sudah menikah, aku tidak mungkin merusak rumah tangganya. Aku juga tidak mau mengambil resiko, kalau aku membawa Raja kehadapan mereka, keluarganya akan mengambil anakku dan membuangku. Aku tidak mau, Mit. Aku tidak bisa berpisah dari Raja," ucapnya dengan tegas.
Mita bisa memahami ketakutan Hawa dan dia sebenarnya juga tidak setuju kalau sampai Hawa berpisah dengan anaknya.
Dia sendiri tidak tahu mengenai perkembangan rumah tangga Adam dan Sarah walaupun mereka sama-sama di Jakarta. Dia seperti biasanya hanya terkurung di kosan dan juga bekerja di tempat Mami Cinta dan tidak punya waktu untuk libur. Ini saja dia minta izin pulang ke kampung, hanya diberi waktu tiga hari karena mendengar ayahnya yang sakit keras.
"Terima kasih karena kamu tidak mengatakan apapun kepada orang tuaku mengenai pekerjaanku di Jakarta," ucap Mita ketika Hawa mengantarnya sampai ke depan teras rumah mereka.
"Aku tidak punya hak untuk membuka aib orang karena aku pun punya aib sendiri. Aku masih tetap menyarankan agar kamu berhenti dari pekerjaan itu, tapi apapun keputusanmu, aku hargai karena kamu akan selalu jadi teman terbaikku," ucapnya yang membuat Mita terharu dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Mita baru saja pulang 10 menit yang lalu, ketika kedua orang tuanya tiba bersama Raja. Anak itu datang mencarinya dengan nada suara nyaring, seperti tidak sabar ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Bunda, lihat ini, aku mendapatkan mainan dari Pak dokter," ucap Raja begitu gembira, menunjukkan mainan pesawat terbang dalam ukuran kecil yang ada di tangannya.