
Persiapan pesta pertunangan Adam dan juga Sarah sudah rampung, terlihat ornamen gold yang menghiasi ruangan ballroom hotel membuat pesan mewah ruangan itu.
Acara akan diadakan besok sore, semua karyawan Mahesa Corporation diundang tanpa terkecuali. Alhasil kehebohan mengenai pakaian dan persiapan untuk pergi ke acara itu bergema di setiap divisi dan ruangan di kantor tidak terkecuali dengan pantry.
Orang-orang tampak mulai memikirkan ke mana dan apa yang harus mereka beli untuk bisa tampil dan berbaur dengan kalangan atas. Pesta itu tentu saja akan diakhiri banyak tamu penting dan ini kali pertama nyonya Dewi Mahesa membuka undangan ke semua orang termasuk karyawannya.
"Gimana nih, aku tuh, nggak punya gaun yang akan kupakai di acara itu," ucap Susi, menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ini kali ketiga dia meratapi nasibnya yang tidak memiliki pakaian bagus untuk menghadiri pesta itu.
"Bagaimana kalau kita nggak usah datang? Aku males pergi ke sana," sambar Hawa yang memang tidak ingin menampakan diri, terlebih ini adalah pesta keluarga Adam. Dia takut kedoknya akan terbuka. Lagi pula ini acara pertunangan pria itu dan pastinya akan menorehkan luka yang begitu besar di hatinya.
Hati wanita mana yang sanggup melihat pria yang dicintainya bertunangan di depan matanya sendiri dan yang terparah dia tidak bisa mengakui bahwa dirinya memiliki perasaan dan hubungan pada pria itu.
"Rugi besar dong kita, ini kesempatan bagus untuk kita bisa tampil di acara orang kaya, bisa makan enak dan juga bergaul dengan kalangan atas tanpa harus melihat status kita," tolak Susi.
"Lagian kamu nggak dengar apa yang disampaikan Pak Budi kemarin? Bagi karyawan yang tidak hadir tanpa keterangan yang jelas akan diberi sanksi gaji akan dipotong karena dianggap tidak menghargai nyonya Dewi," terang Jos yang sejak tadi berkutat dengan game di ponselnya.
Hufffh... Gadis itu hanya bisa menghela napas setelah mendengarkan penjelasan dari Jos.
Jelas Hawa membutuhkan gaji, untuk itu kan dia bekerja di sini? Dia tidak punya pilihan lain sepertinya, selain harus ikut menghadiri acara itu.
__ADS_1
"Aku punya ide, gimana kalau nanti kita izin pulang lebih dulu untuk cari pakaian? Kita cari gaun di tempat jual pakaian bekas? Bagus-bagus kok, para undangan enggak akan ada yang tahu kalau itu gaun bekas, yang penting bermerek," terang Susi.
Hawa dan Tari yang sama-sama mendengar saran dari Susi hanya diam, mereka belum beli pernah beli pakaian bekas dan tentu saja tidak tahu di mana membelinya.
"Kayaknya aku nggak usah deh beli pakaian soalnya aku punya gaun baru dua bulan yang lalu, aku beli di ma*tahari itupun karena lagi diskon jadi aku kayaknya pakai itu aja deh," ujar Tari.
"Jadi aku gimana dong?" tanya Susi, terlihat jelas bahwa gadis itu ingin sekali datang ke pesta pertunangan Adam.
"Gimana kalau aku pinjamkan gaunku padamu?" Tiba-tiba Hawa baru ingat bahwa di lemarinya begitu banyak gaun yang sangat indah bahkan ada yang belum dia pakai.
Hawa tahu itu semua pemberian dari Adam, tapi dia yakin pria itu juga tidak akan keberatan kalau gaun itu dia berikan satu untuk Susi, lagi pula untuk apa gaun terbuka itu dia koleksi? Toh, saat nanti pulang ke kampung juga tidak akan terpakai.
"Pada bicara apa sih ini, kok serius banget? Rangga yang baru masuk sembari menenteng ember dan juga kanebo duduk di dekat mereka, meletakkan begitu saja peralatan tempurnya di dekat pintu.
"Ini kita lagi ngebahas soal menghadiri pesta pertunangan tuan Adam, kita bareng-bareng kan berangkatnya?" tanya Jos menatap mereka satu persatu.
"Kalau gitu kita kumpul di satu titik. Gimana kalau di kantor ini aja? Dari sini kita baru menuju ballroom hotel tempat acara itu diadakan," saran Rangga yang disetujui semuanya.
***
__ADS_1
Kelimanya sudah sampai di lobby hotel mereka sedikit terlambat karena Susi harus terlebih dahulu mengganti pakaiannya dengan gaun yang dibawa oleh Hawa.
Seharusnya Susi ikut mengambil gaun itu kemarin ke apartemen, Hawa juga sudah menyiapkan jawaban jika sahabatnya itu bertanya mengenai apartemen mewah yang ditempati tapi ternyata suaminya datang menjemput dan harus membawa putri mereka ke klinik untuk mengikuti jadwal posyandu yang jatuh pada hari itu.
Jadi, diputuskan Hawa yang akan membawa gaun itu ada hari ini.
"Memang berkelas, beda dengan pesta kaum duafa seperti kita ya," ucap Jos tertawa nyengir sementara Rangga yang sejak tadi tidak henti-hentinya menatap dan melontarkan pujian kepada Hawa tampak tidak peduli, dia selalu berada di samping gadis itu, mengawal sekaligus ingin menunjukkan kepada semua karyawan dan tamu undangan bahwa gadis secantik Hawa adalah gebetannya.
Tidak bisa dipungkiri, Hawa memang terlihat sangat cantik, terlebih dia menyempatkan diri untuk singgah ke salon yang ada di lantai bawah. Bukan karena dia ingin atau kecentilan tapi itu adalah perintah dari Adam, melalui pesannya pria itu mintanya untuk berdandan dan juga berpenampilan menarik agar dia tidak dipandang sebelah mata oleh para para tamu dan juga karyawan yang lain
"Aku begitu pangling melihatmu. Kami minder, kau terlihat begitu cantik dan juga elegan sangat berbeda jauh dengan kami. Lihat saja, walaupun sudah memakai pakaian semewah ini tetap saja tidak bisa sebanding denganmu. Terima kasih ya, Wa, sudah memberikan aku gaun seindah dan semahal ini," ucap Susi yang masih tidak percaya kalau dirinya saat ini mengenakan gaun indah dan mahal hasil rancangan desainer kondang.
"Sama-sama, Sus. Aku senang kamu kalau menyukai gaun itu. Simpan saja buat kamu," jawabnya tersenyum.
"Serius? Makasih banyak ya, Wa. Berulang kali kamu menolongku. Bagiku kamu sudah seperti dewi penolong. Tapi kalau boleh aku tahu, kamu dapatkan gaun sebagus ini dari mana? Jangan bilang dari hasil gajimu, karena bertahun-tahun pun tidak akan mampu untuk membeli gaun sebagus ini," lanjut Susi yang penasaran saking excited-nya memakai gaun pemberian Hawa.
Dia sampai lupa bertanya kepada Hawa dari mana gadis itu mendapatkan gaun sebagus ini dan yang paling tidak masuk akalnya dengan gampangnya gadis itu memberikan kepadanya.
"Aku juga dapat dari seseorang, mantan majikanku yang dulu. Dia memang baik, karena gaun ini tidak muat lagi dia pakai, jadi dia memberikannya kepadaku," jawab Hawa yang memang sudah mempersiapkan jawaban atas pertanyaan itu.
__ADS_1
"Kamu adalah gadis yang beruntung, Wa. Karena hatimu baik makanya banyak berkat untukmu. Buktinya saja kamu diberikan cuma-cuma oleh majikan dan sekarang kamu memberikannya kepadaku. Aku berdoa semoga kau selalu bahagia dan segera menemukan pria yang baik dan juga mencintaimu."