Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
9. Revan si anak pembawa sial


__ADS_3

Mika beradu pandang dengan seorang siswa yang duduk di deretan tengah paling belakang, beberapa siswa siswi menyadari keanehan antara Mika dan siswa tersebut. Mika dan siswa itu langsung memutus tatapan mereka.


"Baiklah semuanya, kelas ini sepertinya kedatangan murid baru. Silahkan nak perkenalkan diri kamu." kata Bu Jasmine yang langsung diangguki oleh Mika.


"Nama saya Mikadeo, saya murid beasiswa, senang berkenalan dengan kalian dan semoga kita bisa jadi teman." Mika memperkenalkan dirinya, bukan sebagai Mikadeo Aileen.


Siswa tersebut seperti bernafas lega mendengar nama yang diucapkan Mika, ia khawatir Mika memperkenalkan dirinya dengan nama lengkapnya.


Siswa tersebut bernama Georgio Okta Aileen, anak dari Wiratama Aileen sekaligus cucu kandung dari Renata Aileen. Ia menatap tidak suka pada Mika, karena ia mengaggap Mika hanyalah pembawa sial dikeluarkannya. Tentu saja semua itu karena rasa cemburunya yang merasa neneknya lebih dekat dengan Mika yang hanya cucu angkat, sedangkan dirinya adalah cucu kandung.


"Oh, murid beasiswa toh. Kok pakaian kamu keren amat, dapat beasiswa hasil manfaatin anak orang kaya yah." seorang siswa yang duduk didepan berkata dengan sinis, membuat semua yang berada didalam kelas saling berbisik.


'anak beasiswa tapi gayanya sok gitu'


'jangan-jangan dia simpanan Tante girang'


'orang miskin kok gak sadar diri, sekolah ini gak pantes buat dia'


'dasar pengemis'


Begitulah kira-kira yang terucap dari bisik-bisik mereka, membuat Mika menjadi merasa kurang nyaman. Marah, tentu saja tidak. Mika cukup sadar diri kok, karena ia memang hanya orang miskin. Untuk bersekolah disekolah negri biasa saja dia juga harus berusaha untuk mendapatkan beasiswa.


"Sudah-sudah jangan pada ribut." Bu Jasmine mengetuk spidolnya pada papan white board.


Kelas menjadi tenang, mereka berhenti berbisik dan duduk sambil kembali memperhatikan sang guru.


"Sekarang mending nak Mika duduk dibelakang sana ya." Bu Jasmine menunjuk bangku kosong di belakang dekat pojok jendela.


" Sempurna" batin Mika melihat posisi duduknya yang sangat pas.


"Iya Bu, terimakasih." ucap Mika seraya berjalan menuju kursinya.


Mika mendapatkan tatapan tidak suka dari beberapa murid dikelas tersebut, namun seperti biasanya ia memilih acuh dan dengan santai berjalan melewati mereka.


"Baiklah semuanya, kita lanjutkan penjelasannya ibu tadi,..........." Bu Jasmine mulai menjelaskan materi pelajarannya.


Skip


Bel tanda istirahat berbunyi, seperti pengingat waktu makan siang bagi murid-muridnya. Kelas yang tadinya penuh menjadi sepi, hanya tertinggal beberapa murid yang sepertinya membawa bekal makan siang mereka.


Mika melihat kearah Gio, mereka beradu pandang lagi. Gio semakin sengit menatap Mika dengan tatapan kebencian, yang dibalas senyuman oleh Mika. Toh ia memang sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh orang lain, dianggap sampah dan pembawa sial.


"Bang Mika, ayo kekantin." teriak Jean menggelegar didalam kelas Mika.


Atensi sisa penghuni kelas tertuju pada Jean yang berjalan kearah tempat duduk Mika.


"Bang Mika, ayo." Jean menarik tangan Mika.

__ADS_1


"Sabar Jean." Mika memilih menurut dan berjalan melewati Gio dan teman-temannya.


"Owh, jangan-jangan tuh anak deketin si Jean biar bisa sekolah disini." kata Wili salah satu teman Gio yang duduk diatas meja.


"Ya iyalah, mana mungkin orang biasa bisa sekolah disini. Kecuali dia jual diri." Serentak mereka bertiga tertawa mengghibahkan Mika yang membuat telinganya terasa berdenging.


"Ayo bang, buruan. Abang-abang yang lain udah pada nungguin dikantin." Jean berjalan dengan masih menarik tangan Mika.


Mika akhirnya memilih diam, toh ia juga tidak tahu letak kantin disekolah ini. Hingga mereka tiba dikantin, suasana ramai begitu terasa. Beberapa murid terlihat saling berdesak-desakan mengantri makan siang mereka.


"Abang." Jean melambaikan tangannya sambil berteriak, ia melepaskan cekalannya pada tangan Mika.


Prang...


Jean yang berjalan duluan menabrak seorang pemuda hingga mangkok bakso yang ia bawa terjatuh dan pecah.


"aw.." ringis pemuda itu saat kuah bakso yang ia bawa terkena tangannya.


"Ma,,maaf. Huwa,,,,, Jean gak sengaja." tangis Jean pecah dihadapan Mika.


Abang-abang Jean yang sudah duduk dimeja favorit mereka segera menghampiri Jean yang sedang menangis kencang, mereka bahkan tidak sedikitpun melirik kearah pemuda yang masih duduk akibat jatuh ditabrak oleh Jean.


"Baby gak kenapa-kenapa kan, apa ada yang luka?" Law memeriksa tubuh Jean takut adiknya terluka.


"Je,,Jean gak papa tapi Jean gak sengaja bang hiks, hiks." Jean menggeleng namun masih menangis.


"Lo emang saudara gak punya hati." seorang pemuda lain mendorong tubuh Vian hingga bergeser dari posisinya.


"Maksud Lo apa hah?" Vian melayangkan pukulannya, namun bisa ditaha oleh pemuda yang mendorongnya tadi bernama William.


"Adek kandung Lo yang ditabrak dan jatoh, Lo gak liat tangan Revan merah gara-gara kena kuah baksonya." ucap Jimi yang membantu Revan untuk berdiri.


"Sakit?" tanya Jimi yang diangguki oleh Revan yang terlihat menahan tangisnya.


"Kalian gak usah tertipu sama wajah lugunya, gw tahu si Revan cuma pengen ngambil perhatian dari Vian." sarkas Kahfi.


Mika hanya diam melihat drama yang terjadi dihadapannya, ia melihat tangan Revan yang memerah. Mika juga menatap Brian yang seperti menahan amarahnya, Mika tidak menemukan kebohongan diwajah Revan seperti yang dituduhkan oleh Kahfi.


Dengan malas ia berjalan menghampiri Jean, ia harus menghentikan pertikaian tersebut sebelum terjadi perang. Tangan Revan juga harus segera diobati. Mika menepuk lembut kepala Jean, membuat anak tersebut yang tadinya menangis langsung diam.


"Cup,cup,cup. Udah jangan nangis."kata Mika yang mengusak lembut rambut Jean.


Jean langsung berhenti menangis, ia memeluk tubuh Mika membuat suasana menjadi semakin tegang.


"Sekarang Jean minta maaf ya sama dia." Mika menunjuk kearah Revan.


Brian,Kahfi, Law dan Vian menatap tidak setuju. Mika yang merasa hawa dingin menyeruak disekitarnya memiliki tetap acuh.

__ADS_1


"Tapi Jean gak sengaja bang." Jean melepas pelukannya.


"Iya, baby gak sengaja. Ngapain juga minta maaf sama anak sialan ini." Vian menunjukan Revan dengan sebutan anak sial, Revan menangis dalam pelukan Jimi.


"Lo emang brengsek Vian, bisa-bisanya Lo nyebut adik kandung Lo dengan sebutan anak sial." Liam kembali tersulut emosinya mendengar ucapan Vian.


"Jean yang nabrak kan, terlepas itu sengaja ataupun tidak. Tuh anak jatuh kena kuah panas pula, Jean emang gak merasa bersalah gitu?" Mika seperti punya banyak nyawa, bisa-bisanya ia mengacuhkan perkataan Vian.


Seluruh penghuni kantin saat ini hanya bisa terdiam, membuat suasana menjadi sangat hening hingga bisa mendengar ucapan Mika dengan jelas.


"Iya, Jean yang salah." Jean mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tapi by." kata Vian yang dipotong oleh Brian.


"Lo nggak usah ikut campur, ini buka urusan lo. Siapapun yang berani mengganggu baby mereka pasti akan menerima akibatnya." Brain berkata dengan nada dingin, membuat suasana menjadi mencekam.


"Kalau Jean merasa salah sekarang minta maaf hayo." Mika kembali mengacuhkan perkataan Vian bahkan Brian juga.


"Lo emang gak tahu diri.." Brian menarik tubuh Mika hingga sedikit menjauh dari Jean.


"Apa, Lo ngatain gw gak tahu diri. Lo harusnya sebagai kakak ngajarin hal yang baik sama Jean. Jean itu salah makanya gw nyuruh dia buat minta maaf, tapi Lo apa coba, malah seenak jidatnya belain kesalahan Jean. Kalian juga liat kan tuh tangan merah karena hampir melepuh, emang kalian gak kasian gitu." Mika dengan sangat berani menatap tajam pada Brian membuat seluruh penghuni kantin menahan nafasnya.


"Jean, ini yang terakhir. Cepet minta maaf." Mika mengalihkan pandangannya pada Jean tapi dengan tatapan teduh.


Jean maju menghampiri Revan, Kahfi sempat menghalangi namun ditepis oleh Jean. Ia mengulurkan tangannya pada Revan sambil berkata.


"Jean minta maaf ya Revan, Jean gak sengaja, sumpah." ucap Jean sambil menampilkan ekspresi menggemaskan membuat Brian dan ketiga temannya lupa akan rasa kesalnya.


"Iya Revan maafin." Revan menyambut tangan Jean, Revan juga tersenyum melihat Jean yang tersenyum kepadanya.


"Udah bang." kata Jean yang menghampiri Mika.


"Pinter." puji Mika sambil mengelus rambut Jean, membuat wajah bungsu Lavande itu semakin berbinar menampilkan wajah menggemaskan.


"Kak Brian liat, gak perlu adu otot kan buat nyelesain masalah kaya gini. Dan lagi kakak yang disana, mending sekarang bawa Revan ke UKS biar cepet diobati tangannya." kata Mika pada Liam sambil menunjuk tangan Revan.


"Gw gak tahu Lo ada masalah apa sama adek Lo, tapi gw gak suka Lo manggil dia sebagai anak pembawa sial karena alasan apapun. Dia itu sodara Lo, kalian punya darah yang sama inget itu kak." dengan berani Mika berkata pada Vian yang terdiam mendengar ucapan Mika.


"Sekarang Jean makan ya, Mika mau keperpus dulu tadi lupa ada buku yang mau dipinjam." Mika berjalan kembali kearah Jean lalu pergi meninggalkannya.


"Bang Mika gak makan?" tanya Jean saat Mika menjauh darinya.


"Gak deh, mendadak gw merasa kenyang." jawab Mika berlalu hingga tubuhnya menghilang dibalik pintu kantin.


Bang Mika kan belum makan apa-apa, kok bisa kenyang." tanya Jean entah pada siapa.


Mika membasuh wajahnya ditoilet, menatap pantulan dirinya dicermin. Ia harus menahan detak jantungnya saat mengatakan semua ucapannya tadi, ia akui dirinya memang sangat berani membuat Brian dan teman-temannya terdiam. Mika hanya merasa harus bertindak setelah melihat keadaan Revan.

__ADS_1


Hanyut dalam lamunannya, Mika menyadarkan dirinya dengan menepuk kedua pipinya. Saat ia hendak keluar dari toilet, sebuah tangan menariknya kuat menuju dalam bilik toilet.


__ADS_2