Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
20. Munculnya musuh dan masa lalu


__ADS_3

Mika membuka matanya saat sinar mentari masuk dalam celah tirai jendela kamar rawatnya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali lalu memposisikan tubuhnya untuk duduk.


Dahinya sedikit berkerut saat melihat dua pemuda sedang tertidur disofa dengan posisi satu orang duduk dan satu tidur dipangkuan yang lain.


Buka itu yang membuat Mika terkejut, melainkan siapa pemuda tersebut. Mereka adalah William dan Revan yang masih tertidur lelap, tapi sejak kapan mereka ada dikamar ini.


Tidak ingin mengganggu tidur keduanya, Mika bangun untuk pergi kekamar mandi. Tubuhnya terasa sudah lebih baik, meskipun terkadang kepalanya berdenyut sakit, tapi tidak separah kemarin.


Mika keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar setelah ia mencuci wajahnya, plester kompres demam yang terpakai di dahinya juga sudah ia lepas.


"Pagi kak." sapa Mika yang melihat William sudah bangun dan tengah mengelus rambut Revan.


"Pagi, apa sudah baikan?" tanya William.


"Iya kak, udah baikan kok. Oh ya sejak kapan kak William dan Revan ada disini, terus tahu dari mana Mika dirawat disini?" Mika menarik kursi disamping brangkarnya, lalu duduk disamping sofa.


"Sejak tadi malam, Revan memaksa pengen jenguk kamu karena khawatir. Kalau ditanya tahu dari mana, gw tanya sama Cindy yang kebetulan satu kelas saya gw." jelas William.


"Oh..." Mika mengangguk karena paham.


Revan sepertinya merasa sedikit terganggu dengan elusan William, ia membuka matanya, menatap wajah William lalu Mika.


Bocah itu duduk sambil mengucek matanya, namun langsung di hentikan oleh William.


"Mika sudah bangun, maaf ya semalam masuk kesini gak bilang-bilang." ucap Revan.


"Iya gak papa, makasih ya udah jenguk Mika." Mika menampilkan senyum teduhnya yang juga dibalas senyuman oleh Revan.


"Bang laper.." Revan menatap William dengan tatapan memelasnya.


"Kalau gitu abang beli bubur dulu buat sarapan, kamu diam disini ya dek?" William yang mengerti maksud Revan langsung berdiri dan keluar dari kamar rawat Mika.


"Anak yang kemarin menyandera siswi sekolah kita itu siapa, kok dia cari kamu sih?" tanya Revan, Mika langsung menampilkan wajah seriusnya.


"Dia kakak kelas yang sering bully gw disekolah yang dulu, namanya Zeon." kata Mika gugup.

__ADS_1


"Oh namanya Zeon, terus kenapa dia sampai datang dan cari Lo sih. Emang punya urusan apa sama lo?" tanya Revan, gw-lo ia gunakan saat tidak bersama abang-abangnya.


"Gw juga gak tahu, tapi apa yang terjadi setelah gw pingsan kemarin. Gw sempet kepikiran semalam, tapi gak berani nanya sama kakaknya si Jean." kata Mika yang terlihat penasaran.


"Dia masih pingsan saat polisi datang kesekolah, tapi pihak sekolah menutupi kejadian kemarin dari pihak luar. Orang tuanya Jean sudah mengatur semuanya, tapi gw gak tahu kemana si Zeon itu dibawa. Apa perlu gw tanya bang Vian, biar tahu semuanya." jelas Revan, membuat Mika menautkan alisnya lagi.


"Gak usah Van, jangan tanya kakak Lo. Gw gak mau Lo disakiti lagi sama kak Vian." Mika menggelengkan kepalanya, otaknya masih mencerna penjelasan dari Revan.


Mika mengalihkan obrolannya, ia tidak ingin terus memikirkan keadaan Zeon. Mereka saling lempar pertanyaan tentang kehidupan mereka, dan Mika jadi tahu betapa menderitanya hidup Revan akibat sikap kakaknya, Alvian.


Tidak lama kemudian William datang dengan kantong plastik ditangannya, ia meletakkannya dimeja. William membawa 3 porsi bubur ayam dan teh hangat, seketika wajah Revan berbinar menatap bubur ayam didepannya.


Mereka mulai menyantap sarapan dengan tenang, hingga Mika mulai membuka pembicaraan.


"Kalian emang gak sekolah?" tanya Mika yang sedikit penasaran di sela makannya.


"Uhuk,, uhuk.." Revan tersedak makanannya, segera William menyerahkan segelas air yang diminumnya sampai sisa setengah.


"Pelan-pelan dek." William menepuk punggung Revan, membuat Mika semakin di buat bingung.


"Oh iya deh." Mika yang enggan bertanya lebih jauh akhirnya memilih melanjutkan sarapannya.


° ° °


Sebuah perusahaan, Axio yang baru saja menyelesaikan rapat penting mendapat telepon dari seseorang yang tidak ia kenal.


Ia langsung mengangkat telepon tersebut, tapi tidak ada suara siapapun.


"Halo, halo, ini siapa? Jangan bercanda dengan saya? Halo." kata Axio mencoba memanggil lawan bicaranya.


"Selamat siang tuan besar Lavande, apa anda masih mengingat suara saya?" suara serak terdengar dari ponsel Axio.


Axio menautkan alisnya, ia langsung terkejut dalam diamnya. Ia mengenal suara pria itu, suara pria yang 17 tahun lalu pernah menghancurkan keluarga besar nya.


"Kau, dasar bajingan. Kau masih berani menunjukkan keberadaanmu pada kami, apa kau sudah bosan hidup dasar keparat?" ucap Axio penuh emosi, ia menunjukkan kemarahannya membuat bawahan yang ada didekatnya menatap takut.

__ADS_1


"Hahahaha,,, bosan hidup kau bilang. Jangan mimpi kalian bisa menangkap ku, oh ya apa kalian merindukan bocah yang aku bawa 17 tahun yang lalu?" tawa mengejek dapat didengar dengan baik oleh Axio.


"Oh ya aku akan memberikan kabar baik sekaligus buruk untuk kalian. Kabar baiknya, aku kembali untuk menghancurkan kebahagiaan keluarga kalian. Dan kabar buruknya, anak yang aku bawa 17 tahun yang lalu sudah mati. Ia tidak bisa bertahan dengan siksaan yang aku berikan, padahal aku belum merasa puas. Hahahaha...." tawa pria tersebut kembali terdengar.


"Dasar brengsek, bajingan, tega-teganya kau menghabisi anak yang tidak bersalah. Dimana hati nuranimu SIALAN." Axio kembali tersulut emosinya, ia merasa begitu sesak saat mendengar ucapan lawan bicaranya.


"Hati nurani kau bilang, bukankah kalian sama saja sepertiku. Ini belum berakhir Lavande, ternyata aku belum puas setelah menyiksa anak itu sampai mati. Aku butuh pelampiasan yang lain, bagaimana jika anak bungsumu tuan Axio."


"Jangan coba-coba berani menyentuh anak-anakku satu titikpun, aku tidak akan membiarkan tangan kotormu menyentuh tubuh anakku." kata Axio.


"Hahahah, kita lihat saja nanti. Aku atau kalian yang akan benar-benar hancur." pria itu mematikan sambungan teleponnya.


Axio yang sudah di liputi emosi langsung melempar barang apapun yang ada dihadapannya, kemarahan dan kesedihan memenuhi relung hatinya.


Ia harus segera membicarakan masalah ini pada seluruh anggota keluarganya, terutama pada adiknya Carolina. Karena pria jahat itu membawa salah satu anak kembar yang baru saja adiknya lahirkan 17 tahun yang lalu, tapi sebelum ia memberitahukan kabar kematian anak adiknya, ia harus memastikan lebih dulu kebenarannya.


Axio langsung menghubungi orang kepercayaannya, ia harus segera membereskan masalah ini sebelum nyawa anak-anaknya dalam bahaya.


"Cepat cari tahu tentang seseorang untukku, aku akan mengirim datanya. Cari tahu juga di mana keberadaannya sekarang." ucap Axio pada salah satu tangan kanannya melalui sambungan telepon.


• • •


Hari sudah menjelang siang, kondisi Mika yang semakin membaik membuat dokter melepas infus ditangannya.


Saat ini Mika sedang duduk di taman yang ada dihalaman rumah sakit, ia duduk sendirian setelah William dan Revan pamit pulang.


Mika menghela nafasnya, merasa beban di pundak terasa sedikit lebih berat. Apalagi setelah ia bertemu dengan Jean, mimpi buruk tentang kehidupan masa lalunya selalu datang dalam tidurnya.


"Gw harus gimana, kemana jiwa tubuh ini sebenarnya. Kenapa jiwa Mika gak pernah muncul sekalipun semenjak jiwa gw masuk ke tubuh ini." ucap Mika frustasi.


Hampir 6 bulan jiwa Anzel berpindah kedalam tubuh Mika, tapi tidak pernah sekalipun ia bertemu dengan jiwa Mika yang sebenarnya. Meskipun ia mendapat seluruh ingat tubuh yang ia tempati, tapi paling tidak ia ingin bertanya kenapa Mika membiarkan jiwanya hidup di raganya.


Mika larut dalam lamunannya, hingga matanya membola melihat kerumunan petugas rumah sakit yang sedang membawa pasien gawat darurat. Mika langsung berdiri dari duduknya, detak jantung perpacu dengan cepat saat melihat sosok yang sangat ia kenali. Sosok yang pernah hadir dihidupnya ada diantara kerumunan petugas rumah sakit itu.


Tiba-tiba saja air matanya mengalir, ia masih memegangi dadanya yang berdetak tidak karuan. Tanpa pikir panjang Mika berlari menuju sosok tersebut.

__ADS_1


__ADS_2