
Tubuh Aksan membeku saat Xaniel melepaskan timah panas dari pistolnya, sambil menyeringai.
"Akh.."
Sementara pistol milik Dirham yang tadi di arahkan ke kepala Jean, terlempar jauh karena tangan Dirham yang terkena tembakan dari Xaniel.
"Brengsek,. " umpat Dirham saat pergelangan tangannya mengeluarkan darah segar.
Melihat Dirham kembali melakukan pergerakan, Xaniel kembali mengarahkan pistolnya.
Dor
Dor
Dua peluru melesat mengenai kedua paha Dirham, tubuhnya terjatuh. Ia meringis menahan sakit, namun Xaniel justru terlihat menikmati pemandangan kesakitan dari lawannya itu.
"Kau memilih orang yang salah tuan, saya akan membuat anda merasakan seperti apa neraka yang pernah anda ciptakan di kehidupan seseorang." Xaniel berjalan perlahan kearah Dirham.
Sementara Aksan hanya diam membeku melihat apa yang sudah di lakukan oleh Xaniel pada musuh keluarganya.
"Tuan Aksan, sebaiknya anda cepat bawa keluar tubuh adik anda dari sini. Karena saya tidak mau jika anda menyaksikan apa yang akan saya lakukan pada tikus tanah ini, dan lagi jangan sampai anda mengganggu saya dan menjadi target saya selanjutnya." kata Xaniel dengan nada rendah.
Sinar rembulan yang masih di celah atap menerpa wajah Xaniel, seringaian kembali menghiasi wajah dinginnya. Sangat berbeda dengan Mika yang memiliki tatapan teduh yang menenangkan.
Aksan segera membawa tubuh adiknya dalam gendongan setelah membuka tali ikatannya, Jean tidak terusik karena kehilangan kesadarannya akibat siksaan dari Dirham.
Diluar ruangan tersebut juga sudah ada beberapa orang suruhan Reinhard yang menunggu Aksan, mereka mengawal Aksan agar bisa keluar dari gedung tersebut dengan aman.
Di sisi gedung lain, Renhard bersama dengan David sedang menikmati acara mencabut nyawa musuh-musuhnya. Kekuatan para tikus tanah itu tidak sebanding dengan Reinhard yang seorang mafia berdarah dingin.
Hingga matanya menemukan sosok yang ia cari, Marvelio yang sedang di lindungi oleh beberapa anak buah dan tangan kanannya.
Reinhard dan David berjalan menuju tempat Marvelio, membiarkan anak buahnya membersihkan jalan untuknya.
Sambil menenteng revolver di kedua tangannya, Reinhard menerjang musuh-musuhnya. Marvelio terkejut, saat melihat anak buahnya yang terkapar satu persatu hingga mata menemukan sosok yang membuatnya terkejut.
Marvelio langsung mengarahkan revolver miliknya pada sosok Reinhard yang entah sejak kapan ada dihadapannya dan juga mengarahkan senjata padanya.
Reinhard tersenyum evil, yang juga di balas senyuman sinis oleh musuh bebuyutannya itu. Yang tidak di mengerti oleh Marvelio adalah kenapa mereka ada disini, bukankah aksinya kali ini tidak ada hubungannya dengan Reinhard.
"Kenapa kau ikut campur dengan urusanku pak tua.?" tanya Marvelio yang menatap tajam pada kakek tua didepannya.
"Ah, aku sendiri tidak tahu kenapa aku disini. Mungkin karena aku sedang bosan dan memerlukan hiburan." ucap santai Reinhard sambil menarik sudut bibirnya.
"Cih, karena kau sudah disini. Lebih baik aku mengantarmu lebih cepat menuju alam baka, tuan Reinhard."
__ADS_1
Jleb
Reinhard tersembunyi sinis saat sebuah peluru menembus punggung Marvelio, dan yang melakukannya adalah Randi yang menembak dari jarak jauh dengan pistol peredam.
"Kau licik, dasar brengsek." umpat Marvelio yang memegang dadanya sambil tertelungkup, karena peluru yang di tembakan Randi menembus sampai dadanya.
Reinhard menekan kepala Marvelio dengan revolver miliknya sampai menyentuh lantai.
"Kelicikan bukanlah hal yang aneh di dunia kita, aku hanya membalas apa yang pernah kau lakukan pada istri dan menantuku."
Dor
Darah segar mengalir keluar dari kepala Marvelio saat kepala di tembak dari jarak yang sangat dekat diikuti dengan hembusan nafas terakhirnya.
Reinhard dan David tertawa keras, namun juga terdengar lirih. Sementara Randi tersenyum puas saat melihat tubuh orang yang sudah merenggut nyawa mamanya terkapar dengan darah membanjiri sekitar kepalanya.
Kembali pada Xaniel yang sedang menyeret tubuh Dirham setelah mengunci pintu ruang tersebut, lelaki itu berontak namun entah kenapa tenaga Xaniel jauh lebih besar.
Xaniel menarik katananya, Dirham sekuat tenaga mencoba memundurkan tubuhnya.
"Akh...." pekik Dirham saat Xaniel menusuk paha kirinya dengan ujung katana lalu menariknya hingga membuat luka sayat yang sangat dalam dan panjang.
"Hahahaha, sungguh menyenangkan saat melihat wajah kesakitanmu itu." tawa Xaniel.
Xaniel menarik rambut Dirham, lalu menyeretnya mendekati tembok di belakangnya.
"Iissh.." ringis Dirham yang tidak di indahkan oleh Xaniel.
Xaniel membenturkan kepalanya Dirham dengan keras, hingga tercetak darah di tembok yang ada dibelakangnya.
"Dasar bajingan." ucap pelan Dirham yang masih bisa didengar oleh Xaniel.
"Kau mengumpat pada saya tuan, hahahaha sungguh beraninya. Dasar tikus tanah, kau bilang akan mengantarkan saya ke alam baka. Cepat buktikan, buktikan pada saya tuan Dirham atau saya yang akan menunjukkan bagaimana cara kau menyiksa anak yang kau culik dari keluarga Lavande, kalau tidak salah kau memberinya nama Anzel bukan?" kata Xaniel yang membuat mata Dirham hampir keluar karena terkejut.
"Dari mana kau tahu semua itu.?" Dirham memegang tangan yang mencengkram rambutnya.
"Kau tidak perlu tahu, asal kau tahu saja, Anzel itu menyayangimu meskipun kau selalu menyiksanya. Dia sudah menganggap kau sebagai ayahnya sendiri, kau yang selalu menorehkan luka di tubuh dan juga hatinya tapi dia tidak pernah sekalipun membencimu. Karena apa, karena baginya kau adalah sosok ayah yang selalu dia banggakan. Walau dia sudah tahu kau adalah orang yang memisahkan dirinya dari keluarganya, dia selalu menyisakan tempat untukmu didalam hatinya." suara Xaniel begitu bergetar saat mengucapkan apa yang sebenarnya dirasakan oleh jiwa Anzel.
"Apa yang kamu tentang bocah pembawa sial itu hah." hardik Dirham.
Jleb
"Akh..." teriak Dirham saat Xaniel lagi-lagi menusukkan katananya yang kini menancap diperut kirinya.
Ia mengoyak perut Dirham, hingga darah memenuhi seluruh katananya. Setelah itu Xaniel dengan tidak berperasaan menarik katananya, lalu menjilat darah yang ada ditangan kanannya.
__ADS_1
"Ah, darah seorang penjahat memang selalu terasa manis. Mengenai apa yang tadi kau bicarakan, sebenarnya saya sangat tidak peduli. Saya hanya ingin membuatmu mengingat kembali semua kejahatanmu dan dengan begitu saya memiliki alasan yang kuat untuk membunuhmu."
Xaniel menempelkan ujung katana pada samping leher Dirham yang berusaha keras mempertahankan kesadarannya. Rasa sakit sudah menyebar di bagian bawah tubuhnya, ia bahkan sudah tidak bisa merasa kedua kakinya.
"Apa kau ingin mengucapkan pesan terakhirmu?" Xaniel berjongkok didepan Dirham yang sudah sekarang dengan katana yang masih menempel di lehernya Dirham.
"Katakan pada keluarga Lavande, aku akan menunggu mereka di alam baka."
Srett
Kepala Dirham menggelinding di dekat kaki Xaniel, anak itu tersenyum puas saat darah yang memancar dari leher Dirham membasahi wajahnya.
"Hahahhaahhaha..." tawa mengerikan Xaniel terdengar hingga keluar gedung, karena perlawanan musuh telah berakhir.
Xaniel yang keluar dari gedung tersebut dengan menenteng kepala Dirham membuat semua orang terkejut, apalagi noda darah yang memenuhi tubuh dan wajahnya.
Allen, Gallen dan Brian bahkan menelan paksa ludahnya, bagaimana bisa Mika yang terkenal sangat lembut dan tidak pernah melakukan kekerasan (kecuali sama Zeon) bisa berbuat sesadis itu.
Kepala Dirham dilempar kehadapan Dexter dan Matias, mereka menatap lekat kepala orang yang sudah mengambil salah satu anggota keluarga Lavande itu.
"Anggap saja hadiah dari saya, dan satu hal yang ingin saya sampaikan pada kalian. Khallen, anak itu memang hidup menderita tapi dia juga sempat merasakan kebahagiaan dengan mendapatkan perhatian dari keluarga angkatnya. Yah, walaupun dengan cara yang tidak benar dan harus membuatnya kembali meregang nyawa, karena itu kalian tidak perlu merasa bersalah lagi." ucap Xaniel sambil mengusap darah yang keluar dari hidungnya.
Melihat wajah Xaniel yang semakin pucat dan tubuhnya yang gemetar, Reinhard mendekati tubuh anak itu untuk menopang tubuhnya.
"Saya baik-baik saja kakek tua." Xaniel menyadari wajah khawatir pria tua di sampingnya.
"Ck, bisakah kau berhenti memanggilku kakek tua.?" Reinhard tersenyum.
"Ah, sepertinya sudah sampai batasnya.." gumamnya yang masih bisa terdengar oleh Reinhard.
"Kau akan tidur lagi?" Xaniel mengangguk.
Sementara yang lain hanya menatap Xaniel dan Reinhard dengan tatapan aneh.
"Bisakah kalian rahasiakan semua yang kalian lihat hari ini, saya tidak ingin Mika tahu seperti apa alter ego yang dimilikinya. Paling tidak saya tidak ingin ia merasa tertekan, jadi berjanji untuk merahasiakan semuanya." ucap Xaniel yang di angguki semuanya.
"Baiklah, kami mengerti apa maksudmu." kata Axio.
"Haaaahh, kakek tua bisakah kau menjaga tubuh ini sampai saya bangkit nanti." Xaniel menghela nafasnya, sedangkan Reinhard hanya mengangguk.
"Kalau begitu sampai jumpa." lirih Xaniel yang tubuhnya ditahan oleh Reinhard saat jatuh pingsan.
"David cepat siapkan mobil, kita harus segera kembali kerumah sakit."
Reinhard menggendong tubuh Xaniel atau sekarang adalah Mika ala bridal menuju mobil ada sedikit jauh dari tempat mereka berdiri.
__ADS_1
Disaat perjalanan pulang mereka, Reinhard terus mengelus lembut wajah anak di pangkuannya.
"Aku akan selalu menjagamu, entah kau itu adalah Xaniel ataupun Mika. Karena bagiku kau adalah permata yang di titipkan Renata padaku. Aah, Renata apa yang sedang melihatku di alam sana." gumam Reinhard yang dapat didengar dengan jelas oleh anak dan cucunya.