Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
Xaniel kembali datang dalam mimpi


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Mika sudah diijinkan pulang dari rumah sakit. Ia berbaring dikasur yang ada di kamar Jean, malam ini ia akan tidur bersama Jean karena permintaan bungsu Lavande itu tidak bisa di tolak.


"Abang ..." panggil Jean yang berbaring disamping Mika dengan nada manja.


"Iya Je,," jawab singkat Mika tanpa menoleh pada anak di sampingnya.


"Jangan sakit lagi ya." Jean mendudukkan tubuhnya, menundukkan wajahnya yang terlihat sendu.


Mika menatap wajah Jean dengan seksama, ia tersenyum simpul. Bahagia, karena sekarang memiliki seseorang yang selalu mengkhawatirkannya.


"Abang juga gak mau sakit Je, tapi mau gimana lagi." kata Mika dengan lembut, tanpa sadar dia memanggil dirinya sendiri dengan sebutan abang.


"Daddy, papa dan yang lainnya bilang kalau Dean itu mau celakain abang. Jean gak mau abang sampai kenapa-kenapa, Jean takut bang." lirih Jean.


Mika merasakan ada tetesan air yang jatuh di lengannya, ia melihat Jean menangis. Mika mengangkat tangannya, mengusap lembut pipi Jean untuk membersihkan air matanya.


"Jean jangan khawatir ya, gak akan ada hal buruk yang akan terjadi lagi kok. Karena sekarang Mika punya kalian." kata Mika yang ikut mendudukkan dirinya.


"Hiks,, hiks.. Jean sayang sama abang. Abang jangan tinggalin Jean ya, karena Jean punya firasat abang akan tinggalin Jean. Jean gak mau bang." Jean memeluk tubuh Mika dengan erat yang di balas oleh Mika.


"Mika gak akan pergi kemana-mana, jadi Jean jangan mikir yang aneh-aneh ya. Mika janji gak akan pernah tinggalin Jean." Mika menepuk-nepuk punggung Jean.


Jean masih mempertahankan pelukannya, ia benar-benar merasa takut kehilangan sosok yang selalu bisa menenangkannya. Beberapa hari ini Jean selalu mendapatkan mimpi buruk di setiap tidurnya, di mimpinya ia melihat Mika berjalan pergi menjauh darinya.


Hingga waktu berlalu, Jean tertidur dalam pelukan Mika. Entah kenapa Mika malah tidak merasa mengantuk, pikiran kembali melayang.


Mika memikirkan nasib dirinya diantara dua pilihan, mengaku jika dirinya adalah anak yang di culik oleh Dirham atau tetap diam merahasiakan semua hal tentang masa lalunya.


Mika mencoba bertanya pada Xaniel, namun entah mengapa beberapa hari ini ia tidak bisa berkomunikasi dengan alter ego tubuhnya itu. Xaniel seperti menghilang, karena tidak biasanya Xaniel diam saat Mika dalam bahaya.


Mika memejamkan matanya, mencoba memanggil Xaniel dalam hatinya. Namun masih tidak ada jawaban, pada akhirnya rasa kantuk menyerangnya. Mika mulai memasuki alam mimpinya.


Mika membuka matanya, ia melihat hamparan putih terbentang tanpa batas. Mika mengerjap bingung, karena perasaannya tadi ia sedang tidur didalam kamar Jean.


Mika ingat, hamparan putih ini adalah tempat Mika bertemu dengan Xaniel untuk pertama kalinya, Mika mengedarkan pandangannya mencari sosok dengan rupa sama dengannya yaitu Xaniel.

__ADS_1


Pemuda itu menghela nafasnya, ia duduk bersila karena tidak bisa menemukan sosok yang ia cari.


Mika yang sudah hanyut dalam pikirannya terkejut saat sosok yang ia cari tiba-tiba saja muncul dihadapannya, Xaniel yang muncul seperti hantu itu tersenyum pada Mika.


"Lo kemana aja, gw panggil-panggil kok gak nyahut?" kata Mika yang kesal, ia berdiri sambil bersedekap dada.


"Kenapa?? Apa kau merindukanku?" ucap Xaniel yang tertawa kecil melihat tingkah Mika yang sedang kesal.


"Tentu saja gak, gw gak rindu sama Lo. Yang gw butuhin cuma saran Lo, karena gw takut salah ambil keputusan makanya gw mau tanya dulu sama Lo?" ketus Mika.


"Jangan kesal seperti itu Anzel, kau tidak seperti dirimu yang biasanya. Dan lagi, sejak kapan kau membutuhkan saran dari saya. Bukankah kau selalu bisa mengambil keputusan terbaik, jangan bergantung padaku Anzel karena saya hanyalah sosok bayangan bagimu." ujar Xaniel.


"Tapi bagi gw Lo itu bukan bayangan, karena sebenarnya tubuh ini milik Lo bukan milik gw." kata Mika yang melirih di akhir kalimatnya.


"Baiklah, kalau kau benar-benar membutuhkan saran saya akan membantu. Ceritakanlah masalahmu Anzel." Xaniel menjentikkan jarinya.


Tiba-tiba saja muncul sebuah kursi panjang, hamparan putih juga berubah menjadi Padang rumput dengan bunga-bunga warna warni.


Xaniel menepuk sisi kanan kursinya, meminta Mika untuk duduk disebelahnya. Mika yang masih dalam kondisi terkejut mengangguk, lalu duduk disamping Xaniel.


"Mungkin keduanya, gw harus gimana menghadapi Dean kedepannya. Gw juga mau minta saran sama Lo, apa gw harus cerita yang sebenarnya pada keluarga Lavande atau lebih baik diam dan merahasiakan semuanya?" kata Mika yang menunduk, melihat pada kakinya.


"Masalahmu dengan Dean mungkin akan sedikit merepotkan, sepertinya keluarga Lavande atau lebih tepatnya Dexter dan anak kembarnya mulai mencari tahu tentang Anzel yang menjadi penyebab depresinya Dean. Dan sepertinya mereka mulai menemukan banyak rahasia, salah satunya adalah mengenai Anzel." kata Xaniel yang membuat Mika menatapnya terkejut.


"Dan sepertinya hanya tinggal menunggu waktu sampai mereka mengetahui identitas sebenarnya dari Anzel, apa kau bisa membayangkan saat Dexter dan anak kembarnya tahu kau Anzel adalah anak bungsunya yang mati di tangan Dirham ternyata mati di tangan keluarga Aditama. Hahahaha." Xaniel tertawa keras, sementara Mika menggelengkan kepalanya.


"Itu gak mungkin terjadi kan Xaniel, itu gak akan terjadi.?" Mika berdiri memegang pundak Xaniel, matanya tersirat kekhawatiran.


"Kau masih mengkhawatirkan mereka, orang-orang yang sudah menyiksamu sampai mati. Jangan menaruh rasa iba kepada mereka Anzel, ingat lah bagaimana mereka memperlakukanmu dengan kasar." Xaniel membalas tatapan Anzel dengan raut kemarahan.


"Meski begitu, paling gak gw juga ngerasain kebahagiaan walaupun cuma sebentar." lirih Mika, air matanya meluncur dipipinya.


"Tapi itu tidak cukup untuk membayar perbuatan keji yang mereka lakukan padamu, walaupun kau juga bersalah. Tapi bukankah seharusnya mereka memberikanmu kesempatan kedua, seperti diriku yang memberikan kesempatan kedua untukmu." ujar Xaniel.


Xaniel harus meyakinkan Anzel untuk membenci Dean dan keluarganya, ia tidak ingin keluarga Lavande menjadi ragu dengan sifat Mika. Meskipun Xaniel tahu, ia terlalu ikut campur dengan hidup Mika yang sekarang.

__ADS_1


"Dan bisakah kau tetap diam, menjalani hidupmu sebagai Mika dan melupakan semua masa lalumu termasuk kenyataan jika kau adalah anak bungsu Dexter dan Carolina.?" lanjut Xaniel yang lagi-lagi membuat Mika menatapnya terkejut.


"Kenapa?" tanya Mika lirih.


"Karena meskipun kau mengakui jati dirimu yang sebenarnya, kau hanya akan membuat mereka ragu untuk menerimamu sebagai anak mereka. Bukankah mereka sudah menganggapmu seperti anak sendiri, jadi untuk apa yang membuat situasi rumit yang akan membuat mereka memilih menjauhimu.." kata Xaniel.


Mika duduk bersimpuh dihadapan Xaniel, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bibirnya mulai mengeluarkan suara isakkan, Xaniel juga melihat tubuh pemuda dihadapannya bergetar kuat karena menahan tangis.


Xaniel menjentikkan kembali jarinya, padang rumput dan kursi didekatnya menghilang menjadi hamparan putih seperti semula.


Xaniel merendahkan tubuhnya, menarik kedua tangan Anzel yang di gunakan untuk menutupi wajahnya. Xaniel menatap sendu pada Anzel, lalu menghapus sisa air mata di pipinya.


"Tegar lah, bukankah kau adalah pemuda yang kuat. Karena alasan itulah saya memilihmu untuk mengendalikan tubuh Mika, jadi berhentilah menangis. Terimalah hidupmu yang sekarang Anzel, hiduplah sebagai Mika, hanya Mika. Jangan pernah berpikir untuk hidup sebagai Anzel atau sebagai orang lain, karena hidupmu saat ini adalah takdir yang harus kau jalani." kata Xaniel.


Mika menatap Xaniel yang tersenyum teduh padanya, ia merasa tenang. Jadi seperti ini perasaan Jean saat dirinya memberikan tatapan teduh, terasa kehangatan menyelimuti relung hatinya.


"Terimakasih Xaniel, terimakasih untuk semuanya. Gw janji akan menjalani hidup gw sebagai Mika dan melupakan kehidupan lama gw sebagai Anzel, karena Anzel sudah tiada." kata Mika dalam pelukan Xaniel.


Xaniel tersenyum, ia mengelus punggung Anzel dengan lembut. Namun lama-kelamaan senyuman berubah seperti seringaian, Xaniel terlihat seperti merencanakan sesuatu.


Mika merasakan tubuhnya di guncang-guncang seseorang, ia membuka matanya perlahan. Sambil mengerjapkan matanya, Mika melihat Jean yang sedang menatapnya khawatir.


"Abang gak papa, apa ada yang sakit lagi kenapa tidurnya sambil nangis?" kata Jean yang terlihat sangat khawatir.


Mika mendudukkan tubuhnya, mengusap wajahnya yang sudah basah. Ia tidak menyangka tangisan di dalam mimpinya ikut terbawa ke dunia nyata.


"Mika gak papa kok Jean, tadi mimpi ketemu nenek terus nangis gak tahunya kebawa kedunia nyata kayaknya." ucap Mika sambil tersenyum setelah selesai membersihkan sisa air matanya.


"Mika kangen sama nenek, kira-kira papa sama daddy Jean ijinin Mika gak ya kalau Mika minta ijin buat ziarah ke makam nenek?" tanya Mika pada Jean


"Abang mau pergi ke makam?" tanya balik Jean yang langsung diangguki oleh Mika.


"Kalau gitu biar Jean aja yang minta ijin bang, pasti di ijinin." ucap Jean penuh keyakinan.


Mika selalu dibuat tersenyum saat melihat tingkah kekanak-kanakan milik Jean, Mika sudah tidak merasa risih karena sekarang ia merasa sangat nyaman dengan tingkah Jean yang menurutnya sangat lucu.

__ADS_1


__ADS_2