Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
Pukulan Rezka


__ADS_3

"Itu gak bener bang, dia memang Anzel." kata Dean, sepertinya ia kehilangan kata-katanya.


Seketika Rezka merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan pada Mika, memang salahnya yang tidak mencari tahu lebih dulu alasan Mika membuat adiknya menangis.


"Kenapa diam kak, kalau Lo gak tau apa-apa seharusnya Lo cari tahu lebih dulu. Lo juga harusnya awasi sikap adik kesayangannya Lo itu, dia bahkan menyakiti dirinya sendiri hanya untuk mendapatkan perhatian dari gw. Cih, sikapnya benar-benar menjijikkan." kata Mika.


Ia meludahkan darah di mulutnya karena merasa jijik dengan sikap Dean selama ini, meniru sikapnya dulu hanya untuk mendapatkan perhatian. Menuduh orang terdekatnya, agar terlihat seperti orang yang tersakiti.


"Dek, apa semua yang dikatakan dia benar?" tanya Rezka sambil menatap adiknya.


"Gak bang, dia bohong bang." Dean menggelengkan kepalanya, ia seperti kalah langkah karena perkataan Mika.


"JAWAB ABANG DEAN, APA BENAR SEMUA YANG DIKATAKAN OLEHNYA?" tanya Rezka untuk yang kedua kalinya, bahkan Rezka berteriak di hadapan semua murid di kelas adiknya.


Mika tersenyum miring, walaupun ada sedikit perasaan tidak tega pada Dean. Tapi Mika harus tegas kali ini, karena dia tidak bisa membiarkan Dean berbuat lebih jauh pada orang-orang di sekitarnya.


Dean terus menggelengkan kepalanya, ia terlihat semakin histeris. Dean mulai mencengkram rambutnya, bergumam tidak jelas.


Rezka langsung mendekati tubuh Dean untuk menenangkan adiknya, Rezka memeluk tubuh Dean. Mika merasakan rasa sesak di dadanya, jujur ia masih merasakan iri saat Rezka memperlakukan Dean dengan penuh kasih sayang.


"Ka, Lo gak papa kan?" teriak Randi yang datang setelah murid di kelasnya melapor tentang keributan yang terjadi dikelasnya.


Mika yang masih berdiri dengan berpegangan di tembok tidak menjawab pertanyaannya Randi yang berjalan kearahnya.


"Saya mendengar laporan kalian membuat kegaduhan di kelas ini, bisa jelaskan ada masalah apa sampai anda berani memukul murid di sekolah ini. karena seharusnya semua masalah bisa di selesaikan oleh pihak sekolah." kata Randi datar.


Randi melihat kearah Rezka yang sedang memeluk tubuh Dean, ia menahan amarahnya. Karena Randi tidak suka jika seseorang menyakiti Mika yang sudah dianggap adik olehnya.


"Saya minta maaf, semua ini terjadi karena kesalahan pahaman saya..." ucap Rezka yang terpotong oleh Dean.


"Dean gak salah bang, dia memang Anzel bang. Bang Rezka harus percaya sama Dean, percaya kalau dia adalah Anzel." Dean meronta dalam pelukan Rezka.


"Lebih baik anda membawa adik anda pulang sekarang, dan masalah keributan yang sudah terjadi akan kita selesaikan besok." kata Randi yang di angguki oleh Rezka.

__ADS_1


Rezka membawa tubuh adiknya keluar dari kelas Mika, memang lebih baik jika membawa Dean pulang agar lebih tenang. Rezka juga akan memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu semua yang berhubungan dengan adiknya.


Meninggalkan Rezka dengan pertanyaan, Randi menghampiri tubuh Mika. Ia menangkup wajah anak tersebut, namun tiba-tiba saja tubuh Mika ambruk dalam pelukannya.


"Ka, bangun ka. Kamu kenapa?" kata cemas apalagi setelah melihat wajah pucat Mika.


"Kak Randi mending bawa Mika ke UKS deh, soalnya tadi dia kena pukul kakaknya Dean." ucap Dimas , ketua kelas.


Randi langsung menggendong Mika dipunggungnya, tapi sepertinya Randi tidak membawa Mika menuju ruang UKS. Randi justru membawa mika menuju mobilnya, tujuannya adalah rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Randi kembali menggendong tubuh Mika. Ia meminta dokter yang berjaga untuk memeriksa kondisi Mika.


Setelah menunggu selama hampir 30 menit, dokter keluar dari ruang UGD. Randi yang nampak cemas langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaan adik saya dok?" kata Randi saat menghampiri dokter.


"Sepertinya pasien mendapatkan pukulan keras di kepala kanannya, saya sudah memberikan penanganan dan untuk luka di kedua bahunya sepertinya sudah mendapatkan perawatan. Untuk saat ini pasien akan mendapatkan perhatian khusus sampai kondisi membaik, kalau begitu saya permisi dulu ya nak." Jelas dokter yang langsung pergi meninggalkan Randi.


Mika sudah dipindahkan kekamar rawat inap, Randi juga sudah menelepon pihak sekolah dan tentu saja keluarga Lavande yang langsung menelpon rumah sakit untuk memindahkan Mika ke kamar rawat VVIP.


Pintu kamar rawat Mika di buka dengan keras, Randi melihat Jean masuk bersama Brian dan si kembar. Jean langsung menghampiri brangkar Mika, wajahnya terlihat sudah basah oleh air mata.


Randi menyingkirkan, membiarkan Jean duduk di samping tubuh abang kesayangannya itu. Tangisnya kembali pecah tatkala melihat wajah pucat Mika dan lebam di pipi kanannya. Bocah itu mengambil tangan Mika, menggenggamnya dengan lembut.


"Kenapa abang bisa kaya gini, seharusnya jangan pergi kesekolah kalau abang sakit,, hiks,, hiks.." lirih Jean yang mencium punggung tangan Mika.


"Apa yang sebenarnya terjadi Ran, gw dengar ada keributan di kelas Mika. Apa yang membuat Mika seperti ini adalah Dean?" tanya Allen yang menatap serius pada Randi.


"Aku tidak mengetahuinya dengan pasti, karena saat aku sedang berada di ruang guru, teman sekelas Mika datang dengan panik dan mengatakan kalau orang yang bersama dengan Dean memukul Mika. Jadi aku langsung pergi kekelas mika, di sana aku memang melihat orang yang sedang memeluk Dean. Karena keadaannya yang tidak memungkinkan, jadi aku meminta orang tersebut membawa pulang Dean dan masalah hari ini akan di selesaikan besok atau di hari lain." jelas Randi menjawab pertanyaan dari Allen.


"Kapan bang Mika bangun, bang Randi?" tanya Jean yang duduk disamping Mika.


"Menurut dokter yang tadi memindahkan Mika, nanti malam atau besok pagi Mika baru akan sadar." ucap Randi.

__ADS_1


"Karena kalian sudah di sini, aku ijin kembali ke sekolah ya. Masih banyak pekerjaan yang harus aku urus." pamit Randi.


"Ketua OSIS memang harus tetap di sekolah, gw tahu lo pasti sibuk banget." kata Gallen.


"Baiklah, terimakasih karena sudah membawa Mika kerumah sakit." timpal Brian yang diangguki oleh Randi.


Selepas kepergian Randi, Brian berjalan menghampiri Jean lalu mengelus punggung adiknya itu. Sedangkan Allen dan Gallen memilih duduk di sofa yang berada di kamar rawat Mika.


"Al, sebenarnya ada masalah apa sih antara Mika sama si Dean itu sampai-sampai abangnya si Dean itu mukul Mika?" tanya Gallen pada kakak kembarnya.


"Dean sepertinya menganggap Mika sebagai saudaranya yang sudah meninggal, gw inget pertemuan Mika dan Dean saat berada dirumah sakit. Gw tahu Mika itu anak yang sangat baik, tapi gw gak nyangka Dean menganggap kebaikan Mika secara berlebihan." kata Allen yang menarik nafasnya.


"Satu hal yang gw tahu tentang Dean, anak itu seperti menderita depresi. Karena saat pertama kali gw lihat dia dirumah sakit, dia sedang menangis histeris dalam pelukan orang dewasa yang mungkin adalah kakaknya." jelas Mika.


"Kalau begitu Mika bisa dalam bahaya dong Al, kita gak tahu hal nekat apa yang bisa di lakuin orang yang sakit mental modelan  kayak Dean." kata Gallen yang untuk pertama kalinya berbicara dengan serius pada Allen.


"Mika juga sepertinya mengalami ketakutan kepada Dean, dan sepertinya luka di bahunya itu adalah perbuatan Dean. Gw bakal minta papa untuk mencari tahu semua tentang Dean dan keluarganya, jadi untuk sementara gw minta sama Lo untuk bantu gw menjaga Mika dan baby juga karena mungkin saja Dean juga akan mengincar baby." kata Allen yang berdiri menatap langit dari jendela rumah sakit.


° ° °


Rezka menyeret tubuh Dean menuju kamarnya, ia mendorong kasar tubuh Dean. Kemarahan sepertinya menguasai kepalanya, apalagi setelah mendengar perkataan Mika yang menyebutkan Dean terobsesi kepadanya dan hendak membalaskan dendamnya pada Anzel kepada Mika.


Padahal Mika sudah menolong saat Dean menyayat pergelangan tangannya hingga kehabisan banyak darah, Rezka tidak menyangka adiknya akan membalas kebaikan orang yang sudah menyelamatkannya dengan begitu kejam.


"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan dek, apa kamu mau mengikuti perilaku Anzel hanya untuk mendapatkan sebuah perhatian. Apa perhatian dari kami saja belum cukup untuk kamu hah, sampai kamu berani berbuat licik seperti itu." bentak Rezka pada Dean.


Rezka sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya di pikirkan adiknya itu, tapi yang membuatnya sangat marah adalah karena Dean mengikuti apa yang pernah Anzel lakukan dulu.


"Maafin Dean bang, maafin adek. Dean merasa hidup Dean menjadi hampa setelah kematian Anzel, seharusnya abang kasih Dean kesempatan untuk membalaskan rasa sakit dihati dan tubuh Dean. Abang dan papa seharusnya tidak menghabisi nyawa Anzel secepat itu." kata Dean.


Rezka lagi-lagi di buat terkejut oleh adiknya, ia tidak menyangka Dean yang polos dan baik hati memiliki rasa benci dan dendam sedalam itu pada Anzel.


Tanpa mereka berdua sadari, Reyhan yang mendengar percakapan kedua saudaranya di buat membeku. Reyhan tidak menyangka jika adiknya memiliki pikiran seperti itu, apalagi sampai menyimpan dendam pada Anzel.

__ADS_1


Meskipun Reyhan juga ikut menyiksa Anzel saat itu, jauh di dalam hatinya ia masih menyimpan ruang untuk Anzel. Reyhan masih menyayangi Anzel, dan sekarang ia sangat merasa menyesal karena ikut menyakiti adik angkatnya itu.


__ADS_2