
Mika/Xaniel menghela nafasnya, ia jengah pada semua orang yang menatap tajam yang sulit diartikan.
"Berhenti menatap saya seperti itu?" Xaniel yang kesal akhirnya buka suara.
"Apa yang sebenarnya kamu tunggu, cepat jelaskan dan beritahu kami dimana baby atau kamu hanya berpura-pura untuk mendapatkan perhatian dari kami." Axio geram, ia tidak bisa menunggu lagi saat anaknya mungkin saat ini dalam bahaya.
"Tunggu sebentar lagi tuan Axio, saat mereka sampai saya akan menjelaskan semuanya." ucap Xaniel tanpa memperdulikan kemarahan yang nampak jelas di wajah Axio.
"Kita sabar dulu sayang, jangan terbawa emosimu." Diana mencoba menenangkan hati suaminya, padahal ia sendiri sedari tadi menahan cemas.
"Apa yang terjadi pada Mika, kenapa ia nampak berbeda Al.? bisik Gallen.
"Entahlah, gw juga belum ngerti. Saat sadar dia sudah seperti itu, bersikap aneh dan mengatakan jika namanya adalah Xaniel bukan Mika." jelas Allen.
5 menit berlalu, namun tidak ada tanda-tanda orang yang ditunggu Xaniel akan datang. Axio yang sudah tidak bisa menahan emosinya bangkit, namun saat hendak keluar kamar rawat ia dihentikan oleh perkataan Xaniel.
"Akhirnya mereka datang, bersabarlah tuan Axio, tamuku akan segera sampai di kamar ini." Xaniel menunjukkan senyum evilnya.
Tidak lama kemudian pintu kamar tersebut di ketuk seseorang, Aksan yang berdiri paling dekat dengan pintu membukakan pintu tersebut.
Saat pintu di buka, masuklah 3 orang pria berbeda usia. Mereka saling menatap heran, sedangkan anak-anak mereka mengenal salah satu pria tersebut yaitu Randi.
"Ck, lama. Dari mana saja kau kakek tua." Xaniel berdecak kesal sambil melemparkan umpatan reinhard.
"Sabar lah boy, aku juga perlu menyiapkan semuanya." ucap reinhard berjalan mendekati Xaniel.
Keluarga Lavande menatap bingung pada ketiga pria itu, mereka hanya ingin segera mendapat penjelasan dari Xaniel.
"Musuh kalian adalah Dirham Argantala bukan?" David membuat suara yang ditatap serius oleh semuanya.
"Dari mana kau tahu?" tanya balik Matias.
"Karena sepertinya kita memiliki musuh dan tujuan yang sama." lanjut David.
"Maksud mu?" Matias mengernyitkan dahinya.
"Sebenarnya kami tidak memiliki urusan dengan Dirham, melainkan dengan sekutunya Marvelio." timpal Reinhard.
Sedangkan Xaniel saat ini sedang mengganti pakaian rumah sakitnya dengan pakaian yang di bawa oleh Reinhard
"Kalian tahu kenapa sulit sekali mencari tahu dimana tempat mereka menyembunyikan anak bungsumu, itu karena kekuasaan Marvelio yang membantunya. Tanpa kalian ketahui, Marvelio memiliki kekuatan untuk mengendalikan kota, ah bukan hanya kota melainkan negara ini dalam genggamannya." jelas David.
Mereka terdiam, tidak percaya dengan apa yang dikatakan David.
"Tapi aku tahu dimana mereka sekarang." ucap Xaniel yang sudah berpakaian serba hitam, ia juga mengambil pedang dan pistol kecil dari barang bawaan Reinhard.
Mereka terkejut, menatap Xaniel tidak percaya. Mereka juga heran dengan penampilan Xaniel sekarang, ia lebih mirip pembunuh bayaran.
"Berapa banyak yang kakek siapkan?" tanya Xaniel pada pria tua yang masih terlihat gagah.
"Hanya sekitar 150 orang, sangat sulit mengumpulkan orang-orang terampil yang bisa di percaya di kota ini." jawab Reinhard.
__ADS_1
"Bisa jelaskan apa maksud semua ini, kami masih belum mengerti?" Dexter yang masih bingung akhirnya mengeluarkan isi hatinya.
"Kita akan menyerang markas mereka, dan biarkan saya bersenang-senang dengan orang yang sudah menculik bungsu kalian." kata Xaniel.
"Dan kami akan membantu karena Marvelio adalah musuh kami dalam dunia gelap." lanjut Randi.
"Dan sebaiknya kita cepat, karena saya tidak bisa mengendalikan tubuh ini terlalu lama " Xaniel berjalan melewati keluarga Lavande yang masih terdiam.
"Berapa lama?" Reinhard menghentikan langkah Xaniel yang lalu berbalik menatapnya.
"Mungkin kurang dari 6 jam, karena itu ayo kita pergi sekarang." Reinhard bersama David dan Randi berjalan mengikuti Xaniel.
Matias dan Dexter juga mengikuti mereka, Diana menahan tangan suaminya saat hendak pergi.
"Hati-hati sayang dan tolong bawa baby dengan selamat." Diana menatap Axio yang diangguki oleh suaminya.
Kini mereka dalam perjalanan menuju tempat persembunyian Dirham, ada 3 mobil yang berjalan beriringan dengan mobil milik David didepan sebagai penunjuk jalan.
"Apa kita bisa percaya pada mereka dad?" tanya Aksan yang berada di mobil kedua pada Axio yang duduk disampingnya, dikursi belakang juga ada Brian dan Riko tangan kanan Axio.
"Daddy juga tidak tahu, tapi kita juga tidak bisa menemukan dimana baby sekarang, jadi harapan satu-satunya hanya mereka."
Sementara di mobil ketiga yang di kendarai oleh Dexter, ada Matias dan kedua anak kembarnya.
"Tahan emosi kalian saat bertemu dengan bajingan itu, fokus utama kita adalah menyelamatkan baby baru setelahnya kalian bisa membalas dendam atas kematian Khallen." ucap Matias memperingatkan menantu dan cucunya agar tidak lepas kendali.
Sementara di mobil pertama, Xaniel terlihat seperti mengelus katana yang diberikan oleh Reinhard.
"Kau memang sangat tahu apa yang aku inginkan kakek tua, katana ini sangat bagus, sangat cocok untuk menusuk dan memotong setiap bagian tubuhnya." Xaniel tersenyum, lalu memasukkan katana tersebut kedalam sarungnya.
Sedangkan David dan Randi hanya saling melempar senyuman, melihat interaksi keduanya.
Perjalanan terasa begitu panjang, karena sudah hampir 4 jam mereka melakukan mobilnya namun belum ada tanda-tanda akan sampai. Saat ini tepat tengah malam, dan mereka sudah mulai memasuki kawasan hutan yang ada di kota sebelah.
Apa hanya mereka akan menyerah markas musuh?, tentu saja tidak. Karena Reinhard sudah menempatkan semua anak buahnya di sekitar bangunan yang menjadi tujuan mereka. Dan lagi Xaniel juga mulai menjelaskan rencananya yang bisa di dengar oleh semua anak buah Reinhard lewat sambungan earphone yang mereka pakai.
Hingga mereka sampai di sebuah jalan setapak, David menghentikan laju mobilnya dan diikuti kedua mobil di belakangnya.
Xaniel keluar dari mobil dengan katana di belakang punggungnya, ia meregangkan tubuhnya.
"haaaaahh, akhirnya sampai." kata Xaniel.
"Dimana markas mereka, kenapa kita berhenti disini?" tanya Dexter yang menyadari tidak ada bangunan apapun disekitarnya.
"Sabar lah, dari sini kita akan berjalan kaki. Kalian tidak ingin mereka sampai tahu kedatangan kita bukan?" Xaniel memiringkan kepalanya, lalu mulai berjalan.
Mereka berjalan menyusuri pepohonan dan semak belukar, hingga mereka melihat Xaniel berhenti lalu bersembunyi di sebuah semak.
"Kita sudah sampai." ucap Mika pelan sambil menunjukkan sebuah bangunan tua yang sepertinya sudah di tinggalkan.
"Jangan lengah, mereka menyembunyikan anak buahnya di semak dan pohon di sekitar bangunan itu. Kalian bereskan musuh yang ada didepan, yang berada didalam hutan akan menjadi tanggung jawab kakek tua itu. Saya akan masuk untuk melawan orang yang menculik Jean, saat mereka lengah segera selamatkan baby kalian dan langsung pergi menjauh dari gedung itu." Xaniel menjelaskan rencana yang sudah ia buat.
__ADS_1
Mereka langsung mengangguk paham, hingga muncul seorang pria yang menggunakan baju berwarna army/hijau tua sambil membawa tas.
"Kalian bisa menggunakan senjata kan, pilih senjata kalian dan kita langsung bergerak." Mereka mengangguk dan langsung mengambil senjata yang ada didalam tas tersebut.
Axio, Brian dan Allen menyerang dari depan. Gallen, Dexter dan Randi dan sisi kanan. David, Randi dan Matias dari sisi kiri. Dan terakhir, Xaniel bersama Aksan dari belakang.
Xaniel sebenarnya ingin masuk sendirian kedalam gudang, namun Aksan memaksa ikut bersama Xaniel dengan alasan ingin segera menyelamatkan adik bungsunya.
Bunyi letusan senjata api mulai terdengar, menandakan di mulainya penyerang. Xaniel menembaki satu persatu musuh hingga amis darah mulai tercium oleh Aksan.
Xaniel merangsek masuk, menuju salah satu kamar yang dapat ia pastikan adalah ruangan tempat Jean di sekap.
Aksan membuka pintu paksa, hingga engselnya terlepas. Ia mengepalkan tangannya karena kemarahan mulai menguasainya saat melihat sosok kesayangannya duduk terikat dengan luka lebam di sekujur tubuhnya.
Didekat Jean, Xaniel bisa melihat Dirham dan Willy yang terkejut karena kedatangan mereka. Dan fokus mereka tertuju pada Xaniel, Willy sampai tidak percaya bagaimana bisa Mika harusnya sudah mati mengingat luka akibat pukulannya tadi siang.
"Apa kau terkejut bocah.?" Xaniel menunjukkan senyum evilnya.
"Bagaimana bisa, bukankah seharusnya kamu sudah mati." kata Willy yang di tanggapi dengan santainya oleh Xaniel.
"Tapi saya masih hidup dan akan mencabut nyawa kalian, hahahaha." Tawa keras Xaniel terdengar memenuhi ruangan tersebut.
"Kau......
dorr
Aw....?"Dirham tidak melanjutkan kalimatnya saat sebuah timah panas bersama di tangannya.
"Lebih baik kamu cepat bawa Jean pergi, saya saja sudah cukup untuk mengajarinya." titah Xaniel pada Aksan setelah melihat keadaan anak tersebut yang terlihat kacau.
"Jangan sombong dasar bocah miskin." ucap Willy dan,,,
Dor,,
Dor,,
Dua buah peluru bersarang tepat di kepala bocah itu dan pelakunya adalah Xaniel yang tersenyum puas.
"Sayang sekali, saya tidak ingin bermain denganmu jadi aku harus segera menghabisi nyawa." Xaniel yang sedikit kesal, tanya sengaja menembak kepalanya dan Willy membuat tubuhnya langsung terkapar.
Xaniel berjalan mendekati Jean, namun tiba-tiba Dirham menempelkan moncong senjata di kepala Jean yang pingsan.
"Jangan mendekat atau aku akan menghabisi nyawanya." ancam dirham.
Xaniel tidak terpengaruh, ia terus melanjutkan langkahnya. Wajahnya begitu tenang, tidak ada ketakutan ataupun ketakutan diwajahnya.
"Berhenti atau aku akan benar-benar menembak kepalanya." Dirham menatap tajam wajah bocah didepannya.
Mika masih belum menggubris perkataan Dirham, karena ia memang tidak begitu peduli pada anak dia hadapannya.
Dirham terlihat menarik pelatuk pistolnya, ia tidak segan-segan untuk membunuh anak tersebut.
__ADS_1
Aksan yang menyadari nyawa adiknya dalam bahaya, segera berlari menuju adik kesayangannya itu. Dan....
Dor.