Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
17. Sick


__ADS_3

Mika berjalan menyusuri jalanan yang masih terlihat sepi, ia memutuskan pergi dari mansion keluarga jean saat jam masih menunjukkan pukul 4 pagi.


Saat semuanya masih terlelap, ia meminta pada bodyguard yang menjaga gerbang agar di buka. Bodyguard itu sempat menolak karena tidak ada perintah dari sang majikan, namun Mika berbohong jika ia sudah meminta ijin untuk pulang.


Mika juga menulis sebuah pesan yang ia letakkan diatas nakas Jean, ia tidak ingin bocah itu menangis saat mendapati dirinya sudah tidak ada dikamarnya.


Mika menarik nafas dalam-dalam, membiarkan udara pagi masuk kedalam paru-parunya. Lalu melanjutkan langkahnya, hanya ada beberapa mobil yang terlihat lalu lalang. Tapi Mika memang sedari awal memutuskan untuk berjalan kaki, tujuannya adalah toko ibu Nia.


° ° °


Jean terbangun dalam tidur lelapnya, tangannya meraba-raba kesamping mencari tubuh seseorang yang ia peluk semalaman.


Karena merasa kasur disampingnya kosong, Jean mendudukkan tubuhnya sambil mengucek matanya. Ia terkejut karena Mika tidak ada dikamarnya, ia langsung berlari menuju kamar mandi namun disana juga kosong.


Matanya menemukan sebuah kertas yang ada diatas nakas, ia langsung duduk dan membacanya.


Gw pulang duluan, maaf kalo gak bilang dulu sama lo. Jangan nangis, gw gak maksud untuk ninggalin Lo. Tapi gw harus berangkat kerja, sekali lagi gw minta maaf dan janji jangan nangis, ok.


Jean tidak jadi menangis saat membaca tulisan tangan Mika, ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu bersiap untuk berangkat sekolah.


Semua anggota keluarganya telah berada di ruang makan, mereka masih menunggu sosok paling penting di keluarga mereka, siapa lagi kalau bukan Jean.


Mata mereka langsung tertuju saat lift mansion tersebut terbuka, menampilkan sosok malaikat mereka.


"Pagi semuanya." sapa Jean sambil tersenyum.


"Pagi sayang/baby."


"Baby kok sendiri, Mika mana?" tanya Carolina saat Jean hendak duduk.


"Abang Mika udah pulang." ucapnya sambil menampilkan ekspresi sedih.


"Kapan dia pulang, kok tidak bilang dulu.?" tanya Diana saat mengambil makanan untuk anaknya.


"Gak tahu mom." Jean menaikkan bahunya.


"Dasar tidak tahu diri, pulang tidak ijin dulu. Apa dia kira ini rumahnya?" Allen berkata dengan nada sinis, membuat atensi semuanya tertuju padanya.


"Allen, jaga bicaramu." Matias selaku kepala keluarga memberi peringatan pada cucunya.


"Itu kebenarannya, bisa-bisanya orang asing seperti dia masuk ke mansion ini. Apalagi tidur bersama dengan baby, apa kalian tidak berpikir kalau dia itu hanya memanfaatkan baby saja. Bagaimana kalau dia punya maksud tertentu pada baby, pada keluarga kita.?" lanjut Allen.


Semua langsung menatap serius pada Allen, hingga si bungsu melempar gelas yang ada dihadapannya.


Prang


Semua orang yang ada diruang makan langsung terkejut, mereka melihat kearah Jean yang sudah menampilkan wajah marahnya.

__ADS_1


"Bang Allen gak boleh ngomong kaya gitu, bang Mika itu bukan orang jahat. Dia itu baik, bang Mika gak pernah manfaatin Jean. Hiks,, selama ini Jean yang selalu maksa bang Mika supaya ngikutin keinginan Jean. Walaupun Jean tahu bang Mika itu gak suka sama Jean sama permintaan Jean. Hiks,, hiks.." Jean menangis, ia sangat tidak suka jika orang lain menghina abang kesayangannya itu.


"Iya sayang, Mika itu anak yang baik. Udah jangan nangis ya." Diana memeluk anak bungsunya.


"Padahal bang Mika minta Jean untuk janji gak akan nangis, tapi Jean malah nangis mommy." ucap Jean di sela tangisnya.


"Abang Mika juga bilang kalau Jean gak boleh manja dan cengeng terus, Jean harus mandiri, gak boleh bergantung sama orang lain. Gak boleh maksa orang lain, harus tanggung jawab. Karena abang Mika bilang kalau dia gak bisa selamanya ada disisi Jean." lanjut Jean, mengatakan apa yang Mika katakan pada di kolam renang kemarin.


"Mika bilang seperti itu?" Diana menangkupkan wajah Jean sambil menatap mata anaknya itu.


"Iya mommy." Jean mengangguk, air matanya masih mengalir di kedua pipinya.


"Brian, tanyakan pada Mika kenapa dia berbicara seperti itu pada baby." titah Diana yang diangguki oleh anak tengahnya.


Ucapan Jean cukup membuat semuanya terdiam, sedikit merasa bersalah karena penilaian mereka pada Mika. Namun tidak demikian dengan Allen, ia masih menampilkan ekspresi dinginnya.


Hingga acara sarapan selesai dan mereka melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.


Jean mendiamkan salah satu abang kembarnya, ia bahkan tidak melirik sedikitpun saat Allen mengajaknya berbicara.


Saat turun dari mobil Brian, Jean juga langsung pergi tanpa menyapa Vian dan lainnya yang sudah menunggu mereka di parkiran sekolah.


"Baby kenapa?" tanya Vian sambil melihat punggung Jean yang sudah menjauh.


"Ngambek, gara-gara Allen." kata Brian yang juga langsung melanjutkan langkahnya.


Allen berlalu tanpa mengatakan sepatah katapun, Kahfi dan Law memilih tidak peduli lalu menyusul langkah Brian dan Gallen meninggalkan Vian yang mengepalkan tangannya.


Jean berjalan cepat, tujuannya hanya satu yaitu kelas abang kesayangannya Mika. Jean tanpa permisi langsung masuk kedalam kelas setelah melihat Mika yang duduk sambil menyanggah dagunya, matanya menatap langit lewat jendela kelas.


"Abang..." ucap Jean yang sedang menahan tangisnya.


Mika langsung menoleh pada anak yang memanggilnya, ia terkejut melihat Jean yang seperti sedang menahan tangisnya. Terlihat jelas cairan bening dimatanya dan juga hidung yang sedang memerah.


Mika berdiri, tanpa meminta penjelasan dari Jean ia menarik tubuh Jean dalam pelukannya. Ia tahu anak di hadapannya ingin menumpahkan tangisnya.


"Bang Allen jahat bang, Jean benci sama bang Allen. Dia bilang bang Mika itu jahat, dan cuma pengen manfaatin Jean doang. hiks,, hiks." tangis Jean pecah dalam pelukan tubuh Mika yang tidak berbeda jauh dengan Jean.


Mika mengelus lembut punggung Jean, ia mencoba menenangkan Jean tanpa mengatakan sepatah katapun. Otaknya masih sedang mencerna ucapan bocah didepannya, meskipun ia tahu semua orang yang melihat pasti akan mengira ia memanfaatkan anak konglomerat seperti Jean.


Mika tidak marah, karena menurutnya percuma. Meskipun ia tidak menerima pikiran buruk orang lain tentangnya, biarkan semua terkuat pada waktunya.


Merasa getaran ditubuh Jean menurun, Mika melepaskan pelukannya. Ia mengelus lembut rambut Jean sambil menatapnya dengan senyuman.


"Jangan dipikirin ya omongan jelek tentang gw, yang penting Jean percaya kalau gw gak seperti itu. Jangan nangis lagi ya, dan jangan marah sama bang Allen juga. Dia cuma khawatir sama Jean, bang Allen cuma takut Jean terluka aja." Mika menghapus air mata di pipi Jean.


Mereka berdua menjadi tontonan bagi murid yang ada dikelas Mika, termasuk Gio yang melihat tidak suka pada Mika. Sedangkan diluar kelas, Brian dan yang lainya juga melihat Jean yang menangis dalam pelukan Mika.

__ADS_1


Tatapan Brian dan Mika bertemu saat Mika mengedarkan pandangannya, namun ia langsung menatap Jean.


"Jean sekarang kekelas ya, jangan nangis lagi ok." kata Mika yang membereskan rambut Jean, seperti seorang kakak yang memperhatikan adiknya.


"Iya bang, Jean kekelas dulu ya." pamit Jean lalu pergi meninggalkan Mika.


Mika kembali melihat kearah Brian, disampingnya ada Gallen dan Allen. Ia yang merasakan sakit dikepalanya sejak bangun tidur memilih kembali duduk di kursinya, melipat kedua tangannya lalu membenamkan wajahnya.


Ia ingin memejamkan matanya sejenak, berharap rasa sakit di kepalanya akan berkurang saat jam pelajaran pertama di mulai.


• • •


Mika berbaring di kasur yang ada diruang UKS, ia meminta ijin pada guru karena kepalanya terasa semakin sakit.


Matanya masih terpejam saat bel istirahat berbunyi, tidak lama kemudian tangan seseorang yang menempel di dahinya berhasil membuatnya terusik dan membuka matanya.


"Kak Dea." ucapnya serak saat mendapati tiga orang siswi berada didekatnya.


Mika mendudukkan tubuhnya, ia kembali meringis saat sakit kembali mendera kepalanya.


"Lo mending tiduran aja." Dea melihat Mika khawatir.


"Maaf gw udah ganggu Lo tidur, waktu gw tadi kekelas temen Lo bilang kalo Lo ijin ke UKS makanya gw kesini." lanjut Dea.


"Iya kak gak papa." Mika duduk sambil memijat bagian atas hidungnya.


"Lo sakit apa, mukanya pucet banget." Cindy yang mendudukkan dirinya di kasur yang sama dengan Mika juga melihatnya khawatir.


"Cuma sakit kepala kok kak, mungkin karena kurang tidur aja. Oh iya, kalian ada perlu apa cariin Mika?" kata Mika.


"Nih, buat Lo. Sebenarnya tadi pagi mau gw kasih, tapi karena tadi pagi Vian berdiri didepan kelas Lo makanya gak jadi gw kasih." Dea menyerahkan sebuah paper bag berukuran besar pada Mika.


Mika menerimanya, lalu melihat isi paper bag itu. Ada sweater miliknya dan beberapa bungkus makanan berupa coklat dan keripik kentang.


"Itu sebagai ucapan terimakasih untuk pertolongan malam itu, makasih ya kalo Lo gak ada gw gak tahu apa yang bakal terjadi sama gw." kata Dea.


"Mika terima ya kak. Makasih juga udah balikin sweaternya, kirain bakal kakak buang soalnya udah jelek banget." Mika menyimpan pemberian Dea disampingnya.


Niken mendekat kearah Mika, pemuda itu sedikit terkejut saat lagi-lagi ada telapak tangan yang menempel di dahinya. Sementara kedua temannya hanya menatap heran dengan sikap temannya itu.


"Panas, Lo demam ya. Udah minum obat?" ucap Niken saat memeriksa suhu di kening Mika.


Mika mengangguk sambil berkata " udah kak, tadi minta sama guru penjaga UKS."


"Udah makan?" lanjut Niken yang di jawab gelengan oleh Mika.


"Harusnya makan dulu sebelum minum obat." ujar Cindy yang di angguki semuanya.

__ADS_1


Belum sempat menjawab, tiba-tiba pintu ruang UKS terbuka. Menampilkan sosok yang menatap Mika dengan tatapan khawatir, belum lagi keringat dan napas yang terengah-engah.


__ADS_2