
Mika bangun dari tidurnya saat secercah sinar fajar memasuki kamarnya, ia menatap tirai jendelanya yang terbuka sambil bertanya siapa yang sudah membuka tirai tersebut.
Ia melihat kesamping, menatap Jean yang masih tertidur pulas. Mika mencoba bangun dari atas ranjangnya, namun tubuhnya terasa sangat lemas. Mika sedikit heran dengan kondisi tubuhnya yang akhir-akhir ini tidak terlalu baik, apa karena ia tidak pergi bekerja atau ada yang lain.
Jean membuka matanya saat Mika baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Ia mendudukkan tubuhnya sambil mengucek mata dan juga menguap.
"Abang Mika kapan bangun?" tanya Jean yang masih sedang mengumpulkan nyawanya.
"Barusan, Jean mending cuci muka geh kalo gak langsung mandi biar ngantuknya ilang." titah Mika yang sedang memakai atasan seragam sekolahnya.
Jean melihat kearah jam dinding dikamar Mika yang baru menunjukan pukul 6.15 pagi, masih terlalu pagi baginya untuk bangun karena biasanya dia bangun diatas jam 7. Namun semenjak Mika tinggal bersamanya, Jean berusaha untuk bangun sepagi mungkin.
"Ya udah, Jean pergi kekamar dulu ya bang." Jean bangun keluar dari kamar Mika tanpa menunggu jawaban dari abangnya itu.
Setelah memakai seragamnya, mika berdiri didepan cermin lalu menyisir rambutnya. Ia menatap heran sekaligus terkejut saat melihat tampilan wajahnya, Mika menyadari iris mata kanannya berwana berbeda dengan yang kiri.
"Lah kok beda sih, tapi sejak kapan?" tanya Mika pada dirinya sendiri sambil terus memperhatikan iris mata kanannya yang berubah dari hitam menjadi biru tua.
Mika mengucek matanya, takut-takut ia salah lihat. Namun tidak ada yang berubah, akhirnya Mika memilih tidak terlalu memikirkannya lagi dan menyiapkan buku dalam tasnya.
Selang 30 menit, pintu kamarnya di ketuk seseorang. Mika langsung membuka pintu tersebut dan dilihatnya Jean yang sudah memakai seragam sekolahnya.
"Turun kebawah yuk bang, udah waktunya sarapan." ajak Jean yang diangguki oleh Mika.
Mereka turun menuju ruang makan dengan menggunakan lift, sesampainya di meja makan Mika dapat melihat seluruh anggota keluarga Lavande sudah berkumpul.
"Duduklah dan kita bisa mulai sarapannya." suara bariton milik Matias seperti menyadarkan Mika yang tengah termenung, ia langsung duduk di kursi yang sudah disiapkan.
Acara makan sarapan di mulai, terdengar suara dentingan sendok dengan piring hingga seseorang membuka suara.
"Bagaimana sekolah kalian, apa berjalan dengan lancar?" tanya Matias entah pada siapa.
"Semua baik-baik saja opa, hanya ada sedikit insiden kemarin." Brian menjawab pertanyaan sang kakek.
"Owh, masalah itu sudah daddy beritahukan pada opa semalam. Karena itu opa akan menugaskan beberapa bodyguard disekolah kalian mulai hari ini." lanjut Matias.
Mika menghentikan acara makanya, ia menatap kearah Matias dengan keheranan. Matias yang menyadari sorot matanya langsung membalas tatapan Mika.
"Apa apa nak, apa ada yang mengganggumu?" tanya Matias yang masih menatap tajam Mika.
"Ah, gak ada kok tuan." Mika menggeleng pelan lalu melanjutkan kembali makannya.
"Ada apa dengan sebelah iris matamu ka, sepertinya warnanya jadi berbeda?" Carolina yang sempat melihat mata Mika akhirnya bertanya.
"Emangnya beda ya mah, coba Jean mau lihat bang?" Jean turun dari kursinya lalu berjalan mendekati Mika.
__ADS_1
Mika merasa kurang nyaman saat semua orang di meja makan jadi memperhatikannya, Jean bahkan sudah berdiri didepan Mika lalu menyibak rambut abangnya.
"Iya beda, kok bisa gitu bang?" Mika sedikit mendorong tubuh Jean, lalu merapikan rambutnya.
"Udah kaya gini dari lahir, biasanya pake softlens tapi kecebur di wastafel tadi pagi." kata Mika yang sebenarnya bohong karena ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan iris matanya.
Jean mengangguk diikuti yang lain, hingga acara makan pagi selesai. Mereka pergi dari meja makan untuk melakukan aktivitas masing-masing.
Mika yang hendak pergi menuju mobil Brian di hentikan oleh cekalan seseorang, Mika menoleh kearah orang tersebut yang ternyata adalah Allen.
"Ada apa kak?" tanya Mika.
"Lo bareng sama gw aja." kata Allen yang masih memegang pergelangan tangan kanan Mika.
"Ya udah tapi gw bilang dulu sama Jean." ucap Mika yang diangguki oleh Allen, ia juga langsung melepas pegangannya saat Mika melirik kearah tangannya.
Mika berjalan cepat untuk menyusul Jean yang sudah sampai didepan mobil Brian.
"Je, gw bareng sama kak Allen ya." kata Mika saat berhasil menyusul Jean.
"Kalau gitu Jean bareng sama bang Allen juga ya.?" kata Jean yang lalu menatap Brian meminta ijin dari bang tengahnya itu.
"Tidak baby, kamu tetap bersama Abang. Tidak ada bantahan." Brian menatap dingin pada adiknya yang membanting pintu mobil.
"Ya udah,Lo hati-hati sama Allen ya. Ingetin supaya pelan-pelan aja sama Allen jangan ngebut gitu." ucap Gallen sebelum masuk kekursi depan mobil Brian.
"Kursi depan,gw gak mau dikira supir pribadi Lo." Allen menunjuk pintu depan, Mika hanya menunjukkan cengirannya pada Allen lalu duduk dikursi yang Allen maksud.
Kedua mobil itu keluar dari gerbang mansion diikuti satu mobil didepan dan satu lagi di belakang mereka, terasa seperti sedang di kawal pikir Mika.
Mika menyandarkan kepalanya di pintu mobil sambil menikmati pemandangan jalan yang mulai padat oleh kendaraan lain.
Tidak ada obrolan, hanya keheningan yang menemani perjalanan Mika kesekolah.
° ° °
Jam pulang sekolah berbunyi, Mika memutuskan untuk pergi ke perpustakaan terlebih dahulu. Niatnya hanya ingin meminjam buku penunjang materi untuk pelajaran fisikanya.
Hingga ia sampai didepan buku yang ia cari, membuka beberapa lembar buku untuk memastikan materi yang cari ada dibuku tersebut. Namun ia tersentak saat sebuah tangan menepuk lembut pundaknya, ia refleks langsung menoleh kebelakangnya.
"Kak Randi." ucap Mika yang masih terkejut.
"Sedang baca buku apa?" Randi memutuskan untuk sedikit berbasa-basi pada Mika.
"Oh ini, fisika kak. Ada materi yang kurang paham makanya cari buku penunjang di sini." Mika menunjukkan buku paket yang ia pegang.
__ADS_1
"Kak Randi masih lama disini?" lanjut Mika yang diangguki oleh Randi.
"Iya, soalnya sebentar lagi akan ada olympiade matematika." kata Randi tenang, Mika tersenyum. Ia begitu menyukai suara lembut kakak kelasnya itu.
"Kalau gitu Mika duluan ya kak." Mika berjalan meninggalkan Randi yang masih berdiri mematung.
Randi menampilkan senyum simpulnya saat melihat punggung Mika yang semakin menjauh.
"Akhirnya kau kembali, my dark angel." gumam Randi yang tadi sempat melihat iris mata Mika yang berbeda warna.
• • •
Beberapa hari berlalu, Mika masih berangkat sekolah satu mobil dengan Allen. Saat jam istirahat, Mika yang pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang ia pinjam datang terlambat kekantin.
Mika langsung menuju tempat biasa Jean dan abang-abangnya duduk, tapi ia tidak melihat Jean disana.
"Jean mana kak?" tanya Mika pada Kahfi, tapi yang ditanya malah mengernyitkan dahinya.
"Bukannya baby nyusulin kamu ke perpus." jawab law yang duduk disamping Kahfi.
Seketika Brian dan si kembar langsung menunjukkan ekspresi khawatirnya, Brian langsung menghubungi bodyguard yang pergi bersama adik bungsunya itu.
Sementara Mika merasakan pening yang tiba-tiba menyerangnya, lagi-lagi ia mendengar suara yang selama beberapa hari ini tidak di dengarnya.
'gudang, anak itu akan dalam bahaya jika kau tidak segera datang kesana'
Gumam suara yang hanya bisa didengar oleh Mika itu. Refleks, Mika langsung berlari dengan panik, ia bahkan menambrak seseorang dan anehnya Mika tidak menghiraukannya malah terus berlari.
Wajah Brian juga menegang saat ia tidak bisa menghubungi bodyguard yang ditugaskan menemani Jean.
"Sial, baby dalam bahaya." ucapnya sebelum berdiri.
Si kembar yang memahami keadaan langsung pergi mengikuti langkah Brian menuju luar kantin.
"Ayo kita juga ikut cari baby." kata Law yang di angguki Vian dan Kahfi.
Mereka menyebar, mencari keberadaan adik bungsu mereka. Brian dan si kembar juga memerintahkan bawahan orang tuanya untuk ikut mencari.
Setelah 30 menit mencari, mereka masih belum bisa menemukan Jean. Hingga mereka berdiri di depan gedung sekolahnya, tempat itu memang belum mereka cari.
Allen mencoba membuka pintu gudang, namun terkunci dari dalam. Mereka langsung menaruh curiga pada tempat tersebut, Brian dan Vian ancang-ancang untuk mendobrak pintu gudang.
Brak
Pintu gudang terbuka, mereka berenam langsung masuk diikuti oleh beberapa bodyguard dibelakang mereka.
__ADS_1
Allen langsung terkejut saat melihat tubuh seseorang tergeletak digudang tersebut, Brian dan yang lainnya langsung mengikuti Allen.
Lagi-lagi mereka di buat terkejut, saat mengetahui sosok yang tergeletak dengan darah yang mengucur dari kepala dan lebam di sekujur badannya.