Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
16. Mimpi buruk atau kenyataan


__ADS_3

Mika duduk ditepi kolam renang, kakinya diayun-ayunkan didalam air. Sedangkan Jean tiduran dipangkuannya, sesekali Mika mengelus rambut bocah itu.


Mereka memutuskan pergi ke kolam renang setelah selesai mengganti pakaian, sedangkan anggota keluarga Jean hanya melihat mereka dari arah balkon.


"Jean boleh nanya gak bang?" tanya Jean yang menatap wajah Mika yang terlihat datar.


"Hem, boleh." jawab Mika yang masih menatap jauh, tanpa membalas tatapan dari Jean.


"Abang Mika kok gak keberatan sih dipanggil abang sama Jean padahal kan umur Jean lebih tua dari bang Mika?" kata Jean masih dalam posisi tiduran.


"Kenapa baru tanya sekarang Jean?" Mika balik bertanya.


"Soalnya semalam pas Jean ceritain tentang bang Mika sama semuanya mereka tanya kenapa Jean panggil Mika dengan sebutan abang padahal kan Jean yang harusnya di panggil abang karena lebih tua." kata Jean yang terdengar sedikit berbelit-belit, tapi Mika tahu inti pembicaraannya.


"Gw juga gak tahu Jean, yang seperti gini kayanya juga gak perlu terlalu di permasalahkan. Selama Lo nyaman sama panggilan itu, gw terima-terima aja." Mika berkata dengan santai, toh sebenarnya jiwa Mika itu sudah berusia 17 tahun jadi lebih tua dari Jean.


Mungkin seperti itulah yang namanya naluri sebagai kakak, walaupun terlambat bagi Mika atau Anzel untuk menyadarinya.


Anzel dulu memaksa di panggil adek oleh Dean, padahal usianya lebih tua darinya. Anzel merasa malu ketika mengingat kejadian itu, saat ia merengek pada papa angkatnya agar bungsunya mau menjadi abangnya.


Tanpa sadar Mika menarik nafas kasar, terlihat ekspresi gundahnya. Jean yang menyadari perubahan pada abang kesayangannya itu langsung mendudukkan tubuhnya sambil menatap Mika penuh curiga.


"Bang Mika kenapa?" tanya Jean.


"Gak papa, udah gak usah dipikirin lagi ya. Nanti kepala Lo sakit lagi." Mika mengangkat tangannya, mengusap lembut pucuk rambut Jean.


Untuk sesaat Jean memilih untuk diam seraya merasakan sentuhan lembut dari Mika, sesuatu yang selalu Jean inginkan darinya.


Sementara dari balkon yang berada di lantai dua, Matias menatap keduanya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


Desi yang merasakan aura suram menyelubungi sekitar suaminya, menepuk pundak Matias dengan lembut untuk menyadarinya.


"Jangan melihat cucuku dengan tatapan seperti itu sayang." kata Desi dengan lembut.


"Kenapa cucuku bisa sedekat itu dengan orang lain, apalagi orang tersebut hanyalah orang asing yang tidak kita ketahui asal usulnya." Matias mengepalkan tangannya, mencoba meredam amarahnya.


"Kita hanya perlu memperhatikan saja, jika anak itu membawa pengaruh buruk atau membuat baby kita dalam bahaya aku akan melenyapkannya dengan tanganku sendiri." Desi menyeringai.


Tiba-tiba saja Mika merasakan buku kuduknya merinding, ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Siapa tahu ada makhluk halus di sekitarnya.


• • •


Saat makan malam tiba, Jean keluar dari lift bersama dengan Mika yang nampak mulai merasa tidak nyaman.


Mika sempat meminta ijin untuk pulang dengan alasan harus pergi bekerja, bukannya mendapat ijin Mika malah harus menghadapi tangisan bungsu Lavande dan membuatnya dihadiahi tatapan menyeramkan dari seluruh anggota keluarga Jean.


Mika menghela nafas, ia menurut saja saat Jean lagi-lagi menarik tangannya. Jean bahkan menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Mika duduk, sedangkan ia duduk di sebelah Mika.


Mika yang di perlakukan sangat spesial oleh Jean hanya membalasnya dengan senyuman, setelahnya ia menunduk. Mika tidak berani mengangkat wajahnya apalagi melihat kearah keluarga Jean yang sudah ia yakini pasti menatapnya tajam seperti predator.


"Malam semuanya?" sapa Jean dengan suara cemprengnya.


"Malam baby." ucap mereka serentak.

__ADS_1


"Baby mau makan apa, biar mommy ambilkan?" tanya Diana yang duduk diseberang meja.


"Jean mau ayam mom, kalau abang mau makan apa?" jawab Mika, lalu menoleh kearah Mika.


"Apa aja, yang penting makanan." kata Mika.


"Mommy ambilkan untuk bang Mika juga ya?" pinta Jean.


"Iya sayang." Diana tersenyum pada Jean, lalu beralih pada Mika sambil mengambilkan lauk yang sama untuknya.


Diana memang tersenyum padanya, namun terasa aneh untuk Mika. Apalagi semua orang juga terus melihat kepadanya, membuatnya merasa gugup. Ia hanya ingin cepat menghabiskan makanannya lalu segera pulang ke kontrakannya.


Makan malam hari ini dilalui dengan keheningan, hanya dentingan sendok garpu yang beradu dengan piring saling bersahutan.


Hanya terdengar celotehan dari Jean yang terus mengobrol dengan Mika, ia hanya menyahuti seadanya. Sedangkan yang lain hanya memperhatikan mereka berdua saja.


"Abang Mika malam ini temenin Jean tidur ya?" kata Jean diakhir makannya.


Mika sedikit terkejut dengan permintaan Jean, ia melihat kearah Diana dan Axio yang berada dihadapannya. Mereka hanya tersenyum, namun dalam hati mereka tidak ingin Jean terlalu lama dengan Mika.


"Cuma nemenin sampai kamu tidur ya, habis itu Mika pulang." Mika menghela nafasnya.


"Ih, kok gitu. Bang Mika ya harus nginep lah." kata Jean sambil menunjukkan ekspresi merajuk.


"Besok kan Mika harus sekolah Jean, ini aja Mika gak enak sama kak Bintang karena gak masuk kerja." kata Mika dengan nada sedikit marah, cuma sedikit ya kalau banyak gak berani dia.


"Gak mau tahu, pokoknya abang Mika harus nginep dan tidur sama Jean, titik." Jean melihat kedua tangannya didepan dada, lalu menatap mommy dan daddy nya untuk meminta bantuan mereka.


"Nggak."


"Kalau sama abang Gallen.?" adik kembar dari Allen tersenyum mengejek lalu menatap Jean penuh harap.


"Nggak." lagi-lagi Jean menolak.


"Kalau gitu sama Oma dan Opa ya?" kini Desi yang berkata.


"Pokoknya nggak, Jean cuma mau sama bang Mika aja. Hiks, hiks.." Jean mulai menangis, Mika menghela nafasnya lagi.


Sial memang, bocah di sampingnya ini tidak tahu situasi. Padahal anggota keluarganya terlihat jelas tidak menyukai keinginannya itu, dan lagi mereka juga menatap tidak suka pada Mika.


Mika mengangkat tangannya, menepuk lembut rambut Jean. Memberikan obat penenang alami pada anak manja disampingnya.


"Iya Mika nginep disini, sekarang jangan nangis lagi ya?" suara Mika terdengar berat, Jean langsung menghapus air matanya dan memeluk tubuh Mika.


Diana dan Axio hanya menatap lega apa kedua bocah dihadapannya, berbeda dengan yang lainnya. Mereka menjadi semakin tidak menyukai Mika karena telah merebut perhatian baby kesayangan mereka.


Derap langkah seorang pria berusia sekitar 50 tahun masih terdengar gagah, pria itu memasuki sebuah kamar kecil yang didalamnya ada seorang remaja berusia 16 tahun tengah tidur dengan posisi meringkuk tanpa selimut. Padahal hari ini udara terasa sangat dingin karena diluar sedang turun salju.


Pria itu menarik tubuh mungil si remaja hingga ia terjatuh dari atas ranjang kecilnya. Anzel, remaja tersebut merasakan sakit dikepalanya. Ia mengerjapkan matanya, melihat kearah sosok yang sudah dengan kasar membuatnya terjatuh.


"Bangun, dasar anak sial." Pria itu mencengkram dagu kecil milik Anzel, membuat remaja itu meringis.


"Ayah sakit." ucap Anzel sambil memegang tangan pria yang ia panggil ayah agar bisa melepaskan cengkeramannya.

__ADS_1


"Cih, jangan pernah kamu panggil saya dengan sebutan ayah. Sudah saya bilang berapa kali, kamu itu bukan anak saya. Dasar anak sialan." Dirham, meludahi wajah Anzel sambil menatap jijik.


Dirham melepas cengkramannya, lalu sekuat tenaga menendang tubuh Anzel hingga membentur tembok. Darah keluar dari mulut kecilnya, ia terbatuk-batuk sambil menahan sakit yang luar biasa di perutnya.


"uhuk, uhuk.. kalau Anzel bukan anak ayah, lalu siapa. Tolong beritahu Anzel, biar Anzel bersamanya ayah." Anzel menyenderkan tubuhnya pada tembok, ia menyeka darah yang keluar dari mulutnya.


"Hahahah,,,, kamu kira saya akan memberitahu siapa keluarga kandungmu, jangan harap bocah. Gara-gara mereka anakku satu-satunya mati, mereka menyiksa Raziel sampai mati. Kamu pikir aku akan melepaskanmu semudah itu, aku akan menyiksamu sampai mati."


Tawa Dirham menggelegar diruangan kecil itu, ia berjalan mendekati Anzel. Tubuh kecil itu hendak mundur, namun tidak bisa karena terhalang tembok.


Anzel menggeleng ribut, ia sungguh ketakutan. Pria yang selalu ia panggil ayah itu memang sering menyiksanya, tapi tidak sesering saat ini.


Panggilan anak sial menjadi panggilan kesayangan dari Anzel, ia membencinya namun tidak bisa berbuat apa-apa.


Anzel semakin ketakutan saat Dirham menarik rambutnya, ia memberikan tatapan memohon ampun pada sang ayah. Namun yang ia dapat adalah seringaian yang terlihat sangat mengerikan, ayahnya sudah menjadi iblis.


Dirham menarik kepala Anzel, ia membenturkan kepalanya ke tembok di belakangnya. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali. Hingga dari tercetak pada dinding tembok tersebut akibat kepala belakang Anzel yang terluka.


Pria didepannya memang iblis, dia sama sekali tidak merasa kasihan pada Anzel. Mata sayu itu mulai mengabur bersamaan dengan kesadarannya yang melemah. Tapi Anzel masih bisa mendengar tawa yang keluar dari mulutnya.


"Hah,hah,hah.."


Mika membuka matanya, keringat membasahi sekujur tubuhnya. Ia melihat ke kanan dan kiri, lalu meraba kepala belakangnya.


Ia baru saja bangun dari mimpi buruknya, Mika menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Mika baru saja mengalami mimpi buruk, mimpi yang terasa begitu nyata baginya.


Ia melihat kearah Jean yang masih tertidur lelap, sambil menarik nafas untuk menenangkan tubuh dan pikirannya.


Mika berjalan kearah balkon kamar Jean, membuka sedikit gorden agar cahaya rembulan bisa masuk. Ia duduk sambil menatap kearah bulan yang bersinar sangat terang malam ini.


Sambil memeluk kedua lututnya, Mika yang masih berusaha menenangkan pikirannya pada akhirnya tidak bisa menahan bulir bening membasahi pipinya.


Ia menangis sambil menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Baginya mimpi itu terasa sangat nyata, karena mimpi itu memang sebuah kenyataan yang pernah ia alami.


Anzel pernah hidup dalam siksaan orang tua angkatnya, tentu saja bukan keluarga Dean melainkan keluarga lainnya sebelum ia bertemu dengan papanya Dean secara tidak sengaja.


Ayah dan ibu yang ia anggap sebagai orang tua kandungnya karena mereka lah yang mengurusnya sejak kecil, namun suatu malam mereka mengatakan kenyataan pahit jika mereka bukan keluarga kandung Anzel.


Dan lebih naasnya lagi, Anzel hanya di anggap sebagai alat balas dendam mereka.


Selalu di panggil dengan sebutan anak sial, membuat Anzel begitu membenci nama itu.


"Anzel kangen papa Gibran, kangen abang Rey juga,, hiks.." lirih nya pelan sambil menahan suara tangisnya.


"Anzel nyesel pah,, Dean maafin Anzel ya.." ucapnya dengan penuh penyesalan.


Mika larut dalam kesedihannya, hidupnya sebelum diangkat anak oleh Gibran begitu menyakitkan. Ia selalu di perlakukan kasar, selalu disebut anak sial. Membuatnya haus akan kasih sayang. Itu sebabnya ia menjadi seorang yang licik yang melakukan apapun untuk memperoleh kasih sayang, walaupun harus menyakiti orang lain.


Selesai menangis, Mika yang tidak bisa tidur masih bertahan duduk sambil memandang kearah bulan. Tatapannya terlihat kosong, tanpa disadarinya air matanya kembali luruh.


Mika bahkan tidak sadar jika seseorang sedang memperhatikannya dari pintu kamar Jean, ia melihat Mika dengan tatapan yang sulit untuk di artikan..

__ADS_1


__ADS_2