Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
30. Bertemu kembali


__ADS_3

Mika berbaring diatas brangkarnya, dia sudah dipindahkan dari kamar ICU ke kamar rawat biasa. Mika yang belum bisa banyak bergerak akhirnya hanya bisa berbaring sambil mendengarkan celotehan riang dari Jean dan juga saudaranya.


"Jean, minum."ucap Mika yang merasa haus.


"Abang haus?" Mika mengangguk, Jean menghentikan celotehannya lalu membantu Mika untuk minum dari gelas yang ada diatas nakas.


"Makasih Je,"


Tidak lama kemudian, Diana bersama Carolina datang sambil membawa paper bag yang ternyata isinya adalah kotak makan.


"Kalian pasti lapar kan, mommy dan mama bawain kalian makan, sekarang kita makan bareng ya." ucap Diana sambil mengeluarkan kotak makan dari dalam paper bag.


"Mika juga makan ya, biar cepat pulih dan bisa cepet pulang." Carolina mengelus rambut Mika, ia juga membawa makanan untuknya.


"Iya tante, terimakasih." ucap Mika lembut.


Carolina duduk dikursi samping brangkar yang tadinya di duduki oleh Jean, karena sekarang Jean sudah pindah duduk di sofa bersama para abang dan juga mommynya.


Carolina menyodorkan sendok berisi bubur buatannya untuk Mika, ia menatap heran pada Carolina lalu mengalihkan atensinya pada si kembar Allen dan Gallen.


"Tante bisa bantuin Mika duduk, biar mereka Mika bisa makan sendiri.?" seketika wajah wanita disampingnya itu sedih, padahal Mika hanya merasa tidak enak hati menerima perhatiannya.


"Tapi kalau tante mau suapin Mika juga gak papa kok." lanjut Mika yang menyadari rona sedih di wajah Lina.


Carolina tersenyum lembut, lalu ia menyuapi Mika dengan telaten yang di terima dengan baik oleh anak tersebut.


Didalam hati Mika, ia sangat ingin menangis karena terharu bahagia. Jujur ia sangat menginginkan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah di dapatkan dari kehidupan lamanya.


Sedangkan Carolina seperti merasakan kerinduan yang mendalam saat memperhatikan Mika, namun ia sadar Mika bukanlah anaknya yang hilang. Tapi tidak ada salahnya jikalau Carolina mencurahkan kasih sayangnya pada Mika sebagai pengganti anaknya yang sudah tiada. Naluri sebagai ibu memang tidak bisa terbantahkan, karena sebenarnya Anzel jiwa yang saat ini di tubuh Mika adalah anak bungsu Carolina yang di culik oleh Dirham.


"Sudah tante." Mika menolak suapan ke lima nya.


"Satu sendok lagi ya nak, kamu baru makan sedikit loh." Carolina menyodorkan sendoknya, sambil menatap bubur yang baru di makan sedikit oleh Mika.


"Satu sendok saja yang tante, soalnya udah eneg."

__ADS_1


Mika kemudian menerima suapan tersebut, setelah Lina meletakkan wadah berisi bubur lalu membantu Mika untuk minum.


Mika kembali membaringkan tubuhnya, ia mengedarkan pandangannya kearah Jean dan yang lainnya.


"Mika boleh tanya sesuatu gak?" tanya Mika yang masih melihat kearah Jean.


"Hemm, boleh. Memang mau tanya apa?" Lina mengangguk.


"Apa yang sebenarnya terjadi tante, karena yang terakhir mika ingat Mika di pukul seseorang di gudang sekolahnya waktu mau buka tali yang mengikat Jean. Kenapa Jean terikat di gudang, terus sekarang malah terlihat baik-baik saja, sama anak yang mukul mika itu sekarang dimana? Bukannya  Mika gak seneng Jean baik-baik aja, tapi Mika cuma ngerasa bingung aja?" Lina mendengarkan dengan baik setiap pertanyaan Mika.


"Anak itu pengen membully baby di gudang, kamu datang jadi dia panik lantas mukul kamu. Tapi gak lama kemudian, Brian dan yang lainnya datang untuk menyelamatkan Jean dan kamu nak. Kalau anak yang bully baby, sudah dikeluarkan dari sekolah dan sepertinya dia pindah keluar negeri." jelas Lina yang semuanya adalah bohong.


Karena sebenarnya, Jimi itu membantu musuh keluarga Lavande. Dan dia sudah mati saat penyelamatan Jean di tengah hutan akibat di tembak Dexter disana.


Mika hanya mengangguk, meskipun masih terasa mengganjal di hatinya. Apalagi ia masih ingat tentang suara yang terus memperingatkannya, sekarang ia tahu itu adalah suara Xaniel. Ah, sepertinya Mika lupa bertanya padanya tentang peringatan-peringatan yang Xaniel berikan.


"Kapan Mika boleh pulang tante?" tanya Mika yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kalau Lo udah bener-bener sembuh, karena gw gak mau Lo maksain tubuh Lo lagi." bukan Lina, melainkan salah satu anak kembarnya, Allen yang menjawab pertanyaan Mika.


"Tapi gw udah gak betah di sini kak, tiduran setiap hari bikin badan gw malah jadi kaku." kata Mika dengan nada memohon.


Mika membeku, dengan ucapan dan perlakuan lembut Lina. Matanya mendadak berkaca-kaca, Allen dan Lina menyadari air mata Mika yang mulai mengalir panik.


"Kamu kenapa nak?" ucap panik Lina saat melihat Mika menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Mika menggelengkan kepalanya, masih dengan menutup wajahnya. Ia hanya tidak ingin menampilkan sisi lemahnya pada orang lain, namun perlakuan Lina menyentak relung hatinya.


"Lo kenapa, apa ada yang sakit." tanya Allen yang juga khawatir, atensi mereka yang masih duduk disofa juga tertuju pada Allen dan Mika.


Sementara Lina bisa mendengar anak di depannya itu menangis, naluri keibuannya kembali tersentak, ia menarik tubuh Mika dalam pelukannya.


"Abang Mika kenapa?" Jean menghampiri brangkar Mika setelah mendengar suara tangisan.


"Gak papa nak, tante tahu kamu pasti kesepian. Pasti berat berjuang untuk hidup sendirian di luar sana, mulai sekarang kamu bisa menganggap kami sebagai keluarga kamu." Lina mengusap punggung Mika, memenangkannya dalam pelukan.

__ADS_1


Semua orang yang ada disekitarnya bisa merasakan atmosfer kehangatan yang terjalin antara Mika dan Lina, sambil menatap mereka berdua dengan senyuman.


• • •


Beberapa hari kemudian, Mika sedang duduk sendirian di sebuah kursi taman rumah sakit sambil menatap kearah anak-anak yang tengah bermain di taman itu juga.


Mika tersenyum saat melihat anak yang bertingkat konyol, sepertinya anak itu pasien dirumah sakit ini yang sedang menghibur orang tuanya.


Tapi yang sebenarnya menjadi perhatian Mika bukanlah anak-anak itu melainkan Pemuda yang duduk di kursi belakang mereka, Mika menghela nafasnya saat memperhatikan keadaannya.


Pemuda itu adalah Dean, yang sedang menatap kosong kearah anak-anak tersebut. Disampingnya juga ada Rezka yang seperti sedang mengajarkan bicara, namun terlihat tidak di respon oleh Dean.


Saat serius memperhatikan pemandangan dihadapannya, Mika di kejutkan dengan tepukan lembut di pundaknya. Ia menoleh, lalu tersenyum karena orang yang membuyarkan lamunannya adalah Allen.


"Lagi ngapain disini, Lo harusnya istirahat di kamar Lo?" tanya Allen dengan nada selembut mungkin.


Semenjak Mika membuka matanya, Allen memang bersikap lebih baik padanya. Tidak ada lagi tatapan tajam penuh curiga, nada bicara Allen juga jadi lebih lembut tidak dingin ataupun ketus seperti dulu. Yah walaupun tetap menggunakan bahasa gaulnya.


"Gak papa kok kak, gw bosen di kamar terus. Udah minta pulang juga gak kalian ijinin kan." ucap Mika dengan nada semelas mungkin.


"Itu karena Lo belum sehat bener, lagian yang gak ijinin kan dokter bukan keluarga gw." Allen duduk disamping Mika, lalu menyamakan pandangannya.


Allen seperti salah mengira Mika sedikit sedang melihat kearah anak-anak yang sedang bermain, karena ia seperti merasakan Mika itu sedang merasa kesepian.


"Iya iya, lagian gw juga gak bisa maksa karena gw sadar gw bukan siapa-siapa. Bisa dapat perawatan yang terbaik aja seharusnya gw bersyukur." Mika menghela nafasnya.


"Kenapa, Lo gak suka sama perlakuan kita?" Allen menaikkan bicaranya.


"Bukan gitu kak, ya deh gw minta maaf." ucap Mika yang sebenarnya tidak ingin berdebat dengan Allen, ia hanya ingin sendirian untuk memperhatikan orang-orang yang sangat dirindukan.


"Ayo balik kekamar?" ajak Allen yang sudah berdiri.


"Nanti kak, gw masih mau di sini sebentar lagi." tolak Mika yang perhatiannya masih tertuju pada Dean dan Rezka.


"Ck, cepetan.." Allen menarik tangan Mika namun di hempaskan.

__ADS_1


Mika beranjak, ia menatap serius pada Dean yang terlihat sedang histeris. Mika melihat Dean seperti berteriak sambil menangis, Dean juga menjambak rambutnya sendiri.


Mika tidak tahan melihatnya, ia berjalan cepat menuju tempat Dean. Allen berdecak kesal melihat Mika yang tidak menghiraukannya, ia memanggil Mika namun anak itu terus berjalan cepat. Tujuannya adalah Dean, orang yang sudah ia sakiti di kehidupan lamanya.


__ADS_2