
Ciiit
Brak
Allen menginjak rem secara mendadak, membuat Mika dan Jean yang duduk di kursi belakang terhuyung dan membentur kursi depan. Jean melepas pelukannya setelah melihat Mika meringis akibat benturan tubuhnya dengan kursi di sebelah Allen, sedangkan Jean baik-baik saja karena refleks Mika yang langsung memeluknya saat Allen memberhentikan mobilnya secara mendadak.
"Abang gak papa?" Jean membenarkan posisi duduknya.
"ish, iya gak papa kok Je." ucap Mika yang memegang pundaknya yang sakit akibat terbentur.
"Bang Allen bisa nyetir gak sih, Kenapa ngerem mendadak gitu sih." Jean menatap tajam pada Allen namun terlihat lucu bagi Mika dan Allen.
"Maaf baby, itu gara-gara ada mobil yang nabrak di depan kita." Allen menunjuk mobil merah di seberangnya, mobil itu baru saja menabrak pemotor dari arah yang sama dengan Allen.
Mika duduk kembali di tempatnya, ia melihat mobil dan motor yang baru saja mengalami kecelakaan. Ia bisa melihat pengemudi motor yang berjalan pincang ketepi trotoar dibantu pengendara lain, sedangkan pengemudi mobil juga keluar untuk memeriksa korbannya.
Saat hendak mengalihkan pandangannya, sekilas Mika seperti mengenal orang yang keluar dari mobil. Tanpa sadar Mika membuka pintu mobil Allen, lalu berjalan keseberang. Mika ingin memastikan penglihatannya tidak salah, orang yang keluar dari mobil merah itu adalah Reyhan Arsya Aditama, pemuda yang selalu melindungi Anzel saat ia masih hidup.
Mika ingin memeluk tubuh tegap, namun tubuhnya malah diam membeku saat berada tidak jauh darinya.
"Lo kenapa ka, mending cepetan masuk mobil lagi dari pada kita telat nanti." Allen menepuk pundak Mika, menyadarkan lamunannya.
"Ah, iya kak." Mika beranjak dari tempatnya mengikuti Allen.
"Abang kenapa tiba-tiba kesana?" tanya Jean saat Mika duduk di sampingnya.
"I,,itu cuma pengen liat kondisi korban kok Je." kata Mika sedikit gugup.
Allen melihat Mika seperti sedang menyembunyikan sesuatu, namun lagi-lagi ia memilih diam dan bertanya lebih banyak.
Di mata Allen, Mika adalah sosok misterius yang menyembunyikan banyak rahasia. Tapi apa yang sebenarnya Mika sembunyikan dari mereka semua, pada akhirnya Allen memilih untuk terus memperhatikan Mika sekaligus mengawasinya dari dekat.
Hanyut dalam keheningan, mereka akhirnya sampai di parkiran sekolahnya. Mika turun di ikuti Jean dan Allen, lalu berjalan menuju kelas mereka masing-masing.
Saat ini Mika sedang serius menyelami buku-buku tebal yang ia ambil dari rak buku perpustakaan. Tidak ada guru yang mengajar di kelas karena ada rapat guru dan kepala sekolah bersama yayasan sekolah.
Mika mengangkat wajahnya saat seseorang duduk diseberang mejanya, ia tersenyum lembut pada sosok ketua OSIS sekolahnya Randi Pratama A.
__ADS_1
"Serius seperti biasanya ya?" ucap Randi pelan namun masih bisa didengar oleh Mika.
"Iya kak, soalnya di kelas rame pada ribut terus." ujar Mika sambil menggaruk belakang kepalanya dengan ujung pulpen.
"Kamu mau tetap di sini atau pindah ketempat lain?" ujar Randi yang merasa perpustakaan semakin ramai.
"Emangnya ada tempat lain yang lebih tenang kak?" tanya Mika.
"Ada, ayok ikut."
Mika yang melihat Randi bangun dari duduknya langsung membereskan buku bawaannya dan mengikuti langkah Randi.
Di perjalanan mereka hanya di temani oleh keheningan, tidak ada obrolan dan Mika juga sungkan untuk memulai pembicaraan.
Hingga sampailah mereka di sebuah ruangan bertuliskan 'RUANG OSIS', Randi membuka pintu ruangan tersebut sedangkan Mika merasa sedikit bingung.
"Kok kita kesini kak, ini kan ruang OSIS?" tanya Mika yang masih berdiri didepan pintu pada Randi yang sudah ada didalam ruangan.
"Tidak ada tempat lain yang sepi dan tenang selain ruangan ini, jadi masuk lah?" kata Randi.
Dengan ragu Mika melangkah masuk kedalam ruangan yang terlihat sangat rapih itu, semua barang tersusun dengan teratur dan juga bersih dari debu.
Hingga ketenangan mereka terusik saat segerombolan siswa masuk kedalam ruangan OSIS, tatapan mereka beradu dengan Mika yang mengalihkan atensinya pada pintu ruang OSIS.
"Lah, ngapain Lo disini?" Mika masih mengingat wajah pemuda itu, dia adalah Jimi yang pernah dikalahkannya dalam permainan bola basket.
Bukannya menjawab pertanyaan kakak kelasnya, Mika malah menatap mereka satu persatu dengan tatapan terkejut yang terlihat sangat lucu bagi mereka.
"Dia sedang belajar, karena perpustakaan penuh dan kelasny berisik." suara sang ketua memenuhi ruangan tersebut saat menjawab pertanyaan Jimi.
"Owh, lagi belajar toh. Rajin banget sih kamu, bikin Cesi gemes aja." ujar Cesita Putri Ramadhani, yang menjabat sebagai sekretaris OSIS.
"Kak, tangannya bisa gak jangan gerayangan kemana-mana." Mika berkata sesopan mungkin saat Cesita meraba punggung dan perut kecil milik Mika.
Jujur Mika merasa risih dengan sentuhan yang di berikan oleh kakak kelas perempuannya itu, tapi gadis itu langsung menghentikan aksinya saat tatapan dingin milik sang ketua OSIS yang melihat kearahnya.
Mika sedikit bernafas lega saat Cesita sedikit menggeser posisi duduknya, di hadapannya juga ada seseorang yang siswa lain menatapnya dengan serius bahkan terlihat seperti curiga padanya.
__ADS_1
"Kak Randi, Mika balik kekelas sekarang ya?" kata Mika, bukan karena risih pada anggota OSIS yang lain tapi karena ia merasa tidak sopan memakai ruang OSIS padahal dia bukanlah anggota OSIS.
"Diam lah disini, apa kamu merasa risih dengan mereka?" kata Randi dengan nada serendah mungkin yang langsung di serang tatapan tidak bersahabat dari teman-temannya.
"Ah, gak kok kak. Mika udah selesai kok belajarnya, terus bentar lagi juga jam istirahat. Jadi Mika pamit keluar ya?" kata Mika yang sudah selesai membereskan barang bawaannya.
"Lo mau kekantin ka?" Jimi merangkul pundak Mika saat hendak berjalan keluar.
"Iya kak, tapi mau kekelas dulu buat naro buku." kata Mika masih dalam rangkulan Jimi.
"Makan bareng yuk, gw mau ketemu Revan dulu dan kita ketemuan di kantin ok.."
"Tapi kak..." ujar Mika yang tidak didengar oleh Jimi karena pemuda itu sudah berlari menjauh.
Mika menghela nafasnya, bukan karena ia merasa keberatan dengan ajakan Jimi namun karena ia selalu makan bersama Jean dan abang-abangnya dan Mika tahu mereka itu tidak akur dengan Jimi dan teman-temannya.
'ah, bukankah ini kesempatan yang bagus untuk mendekatkan kedua kelompok yang selalu berseteru hanya karena dua bocah manja itu.' Mika mendengar suara Xaniel dari dalam kepalanya.
Sedikit merasa merinding, entah sejak kapan kepribadian itu kembali terbangun di tubuh Mika. Apa lagi sedari tadi Xaniel juga terus bergumam tidak jelas, walaupun Mika memilih tidak meresponnya. Bisa-bisa di anggap gila jika ada yang melihat berbicara sendiri.
Selesai meletakkan bukunya didalam tas, Mika berjalan menuju kantin yang kali ini tidak terlalu ramai. Mungkin karena beberapa siswa memilih istirahat lebih dulu di kantin saat jamkos.
Mika langsung menunjukkan meja tempat Jean dan pawang, melihat piring dan mangkok makanan yang kosong Mika pikir sepertinya mereka juga datang ke kantin saat jamkos.
"Abang Mika dari mana aja sih, tadinya Jean kekelas gak ada. Mana kelasnya rame banget kaya pasar, terus susah banget cari bang Mika." cerocos Jean saat Mika baru sampai dan duduk dihadapannya.
"Iya maaf, tadi Mika ke perpustakaan dulu." kata Mika.
"Rajin banget sih Lo belajarnya, perasaan sering banget pergi ke perpustakaan.?" kata Law sambil menyeruput es kopinya.
"Harus lah kak, gw kan sekolah karena beasiswa. Paling gak gw jangan sampai bego-bego amat gitu, dan lagi sekolah kan emang tempatnya belajar." ujar Mika.
"Aish, sok banget sih Lo." ucap Vian dingin.
"Bukan sok kak, tapi cuma ngasih tau. Kasih orang tua kalian yang kerja keras buat sekolahin kalian di sekolah sebagus ini, jangan sampai usaha mereka jadi sia-sia." lanjut Mika, sedikit merasa sedikit teringat Gibran yang dulu menyekolahkannya di sekolah elit walaupun dia bukanlah anak kandungnya.
'sepertinya kau semakin melankolis saja bocah, tapi saya suka sensasi sesak didada ini.' ucap Xaniel di kepala Mika.
__ADS_1
"Haaaah," Mika menghela nafasnya, perkataan Xaniel mulai mengganggunya.
Jika bukan di tempat yang ramai, Mika mungkin akan membalas ucapan alter egonya. Bisa-bisanya Xaniel terus mengusiknya dengan ucapan aneh seperti itu.