
Hari berganti, meninggalkan setiap kenangan dan luka di hari kemarin, begitupun dengan Mika yang berkeyakinan untuk mengubah masa lalunya.
Biarlah rasa sakit menjadi penguat jiwanya, biarkan lelah menjadi penyemangat dan penyesalan menjadi pelajaran hidup yang indah untuknya.
Mika mengawali pagi hari ini dengan menatap pantulan dirinya di cermin, wajah yang setia menemaninya selama 7 bulan ini. Wajah teduh yang menyimpan luka didalam hati, di tambah lagi luka yang di bawa jiwa barunya.
"Lupain semuanya, sekarang Lo punya mereka yang peduli sama lo. Jangan buat kesalahan yang sama, Lo harus jadi orang yang lebih baik dan menjadi sosok pelindung untuk keluarga baru Lo." monolog Mika sambil menatap dirinya dengan penuh semangat.
Ceklek
Mika menoleh saat mendengar pintu kamarnya di buka seseorang, ia tersenyum melihat sosok pertama yang dilihatnya hari ini.
"Pagi bang, turun sekarang yuk." sapa Jean, senyuman terpampang jelas di wajahnya.
Mika membalas senyumannya, lalu berjalan mendekati pemuda yang lebih tua darinya tapi bagi Mika/Anzel dia adalah sosok adik yang memiliki hati lembut, jangan lupa kepolosan yang mendekati bodoh darinya.
"Ayo Jean."
Pintu lift terbuka, Mika dan Jean keluar dan berjalan menuju ruang makan. Disana sudah menunggu anggota keluarga Lavande lainnya, Mika dan Jean duduk di tempat mereka. Memulai acara makan dengan sapaan pagi dan obrolan ringan lainnya, tentu saja Mika sangat menyukai suasana seperti ini. Hingga acara makan pagi selesai, dan mereka memulai kegiatannya masing-masing.
° ° °
Mika berjalan sendirian di koridor sekolah, ia baru saja kembali dari perpustakaan. Menjalani kehidupan monoton seperti biasanya, namun Mika menikmatinya dengan baik.
Hingga saat baru saja menuruni tangga, tubuhnya membeku. Matanya menatap pada sosok yang begitu di kenalnya, dia adalah Dean.
Saat Mika larut dalam pikirannya, hingga Dean menangkap sosoknya. Pemuda itu berlari menghampiri Mika, meskipun sosok lain terus berteriak memanggil namanya.
Dean memeluk tubuh Mika saat anak itu masih diam berpikir, pelukannya begitu erat hingga tanpa sadar Mika membalas pelukannya.
"Jadi bener, kamu sekolah disini. Abang Rezka bilang kalau Dean pengen ketemu lagi sama Mika, Dean harus sekolah disini." ucapnya dengan mata berbinar.
"Adek jangan berlari seperti itu, kamu bisa jatuh nanti."
Mika langsung menatap sosok yang baru saja berbicara pada Dean, dia adalah Reyhan atau abang Rey.
"Dean bisa lepas, soalnya sesak." kata Mika lembut, Dean langsung melepaskan pelukannya.
"Maafin Dean ya Mika." ucap Dean yang diangguki oleh Mika.
"Oh ya Ka, kenalin ini abang kedua aku namanya abang Reyhan." Dean memperkenalkan sosok disampingnya.
"Panggil aja mika, kak." Mika menerima uluran tangan pemuda itu, ia bahkan tersenyum kepadanya.
"Jadi kak Dean ngapain disini?" Mika mencoba bertanya, bukan karena rasa ingin tahunya tapi hanya untuk mencairkan suasana yang canggung.
"Jadi Dean mau sekolah disini, tapi kepala sekolah bilang besok baru masuk kelas. Tadinya mau kemarin kesekolah, tapi gak jadi soalnya kemarin bang Rey kecelakaan jadi baru hari ini bisa daftarnya." kata Dean.
"Jadi yang kemarin itu memang beneran bang Reyhan." batin Mika.
__ADS_1
"Oh iya deh." ucap Mika.
"Kamu habis dari mana?" tanya Dean.
"Habis dari perpus, ngembaliin buku yang kemarin gw pinjemin..." kata Mika yang harus terpotong karena teriakkan seseorang.
"Oy Mika.." teriak Revan yang langsung berlari dan merangkul tubuh Mika.
"Habis dari perpus ya, kamu mau kekantin gak kalau mau ayo bareng." kata Revan saat merangkul tubuh Mika.
"Iya, tapi gw mau kekelas dulu." jawab Mika.
"Mereka siapa Ka, kenalan kamu?" Revan melihat kearah Dean dan Reyhan.
"Namanya kak Dean, kalau yang satunya kak Reyhan. Mereka habis dari ruang kepsek karena mulai besok kak Dean sekolah di sini." jelas Mika yang hanya di balas 'hem' oleh Revan.
"Kalau gitu Mika duluan ya kak, sampai ketemu besok."
"kita duluan ya kak, permisi." kata Revan yang berjalan di belakang Mika.
Dean menatap punggung Mika dengan sendu, ia merasakan kerinduan yang entah pada siapa. Reyhan yang melihat kesedihan di wajah adiknya langsung memeluk tubuh Dean dari samping, lalu berjalan bersama.
Sementara di kantin, Mika hanya memainkan makanannya. Mika seperti kehilangan selera makannya, ia mengingat kembali pertemuan dengan Dean.
Jika Dean bersekolah disini, itu artinya ia akan selalu bertemu dengannya. Dan tidak menutup kemungkinan Dean akan menjadi dekat dengannya, yang menjadi masalah adalah apakah Dean itu masih menganggapnya sebagai Anzel.
Mika menghela nafasnya lagi, dan hal itu sangat menggangu orang-orang yang satu meja dengannya. Mereka bahkan menatap heran sekaligus kesal dengan sikap Mika.
"Abang Mika kenapa makanannya gak di makan.?" tanya Jean khawatir.
"Eh,, ini di makan kok Je." ucap Mika yang merasa sedikit terkejut.
"Kalau dimakan kenapa belum satu sendokpun itu bakso masuk ke mulut Lo.?" kini Gallen yang bertanya.
"Gak papa kok kak, gw cuma lagi gak selera makan." Mika meletakkan sendoknya, lalu mengambil minuman dan meminumnya sedikit.
"Tapi bang Mika harus tetep makan, walaupun cuma sedikit. Jean gak mau Abang sakit, apa mau Jean suapin.?" ucap Jean penuh perhatian, ia bahkan sudah mengambil sendok di mangkok Mika dan menyodorkannya pada Mika.
Mika memasukkan sendok yang diarahkan padanya, membuat senyum berbinar menghiasi wajah Jean.
Dari luar kantin, Dean melihat Mika yang tengah di suapi pemuda yang terlihat sebaya dengannya. Dean menunduk lesu tatkala melihat keakraban mereka, terlintas ingatan saat Anzel diperlakukan dengan manja oleh kakak kandungnya sendiri. Begitu menyakitkan untuk Dean saat itu, namun sekarang justru terasa sangat dirindukan olehnya.
• • •
Keesokan harinya, Dean resmi menjadi murid baru di sekolah tempat Mika menimba ilmu. Dan yang membuat Mika terkejut adalah karena Dean menjadi teman sekelasnya, Mika hanya bingung karena seharusnya Dean itu menjadi kakak kelasnya. Dan yang paling mengganggu Mika adalah sosok berbaju hitam yang berdiri di belakang Dean yang menempati tempat duduk Gio yang sudah pindah sekolah kemarin.
Bel tanda istirahat berbunyi, seketika beberapa siswa siswi mengerumuni tempat duduk Dean. Mereka mulai bertanya banyak hal, dan yang membuat mereka tertarik adalah pengakuan Dean yang pindahan dari luar negeri.
"Mika, temenin gw main basket yuk." kata seorang pemuda yang berjalan menghampiri tempat duduk Mika.
__ADS_1
Mika menatap sosok yang sudah berdiri didepannya itu dengan malas, bukannya apa-apa Mika sebenarnya ingin pergi ke perpustakaan lalu kekantin. Apalagi cuaca yang sangat cerah dan pastinya panas.
"Kak Jimi ngapain kesini?" tanya Mika, terdengar ketus tapi anehnya malah membuat pemuda di depannya tertawa pelan.
"Lo gak budeg kan, gw mau ngajakin Lo main basket." kata Jimi yang sudah duduk dihadapan Mika.
"Kak Jimi gila ya, gak liat tuh diluar lagi panas banget. Kak Jimi mau gw mati karena dehidrasi atau kulit gw gosong karena kebakar sinar matahari." ujar Mika masih dengan tatapan malas dan nada ketusnya.
"Terus kapan Lo mau nemenin gw main basket, pagi-pagi Lo udah ngilangin entah kemana. Jam istirahat juga sering ngilang dan datang telat ke kantin, kalau pulang sekolah Lo langsung cabut dari sekolah." Jimi memelas pada Mika, membuatnya kembali menghela nafas.
"Gw bukan ngilang kak, tapi gw pergi ke perpus. Dan juga gw kan udah pernah bilang sama Lo kalau gw itu gak suka main basket karena gw gak suka keringetan, beda halnya kalau Lo ajakin gw ke toko buku pasti gw mau ikut." ucap Mika yang membuat Jimi langsung tertunduk lesu.
"Ya udah kak, gw mau ke kantin dulu. Jean sama yang lain pasti udah nungguin gw." kata Mika yang bangun dari duduknya.
"Kalau gitu gw ikut Lo ke kantin aja atuh." Jimi merangkul tubuh Mika.
Namun saat Mika berjalan melewati tempat duduk Dean, ia merasa tangan di cekal seseorang.
"Dean ikut Mika boleh ya?" kata Dean yang masih memegang tangan Mika.
Sebenarnya sedari tadi Dean terus memperhatikan Mika, meskipun ia sedang di kelilingi murid lain perhatiannya selalu tertuju pada Mika. Dean masih merasa jika Mika itu adalah Anzel, meskipun perkiraannya telah terpatahkan dengan fakta Mika itu usianya lebih muda darinya, fisik dan kebiasaannya juga sangat berbeda dari Anzel.
"Dia siapa Ka?" bisik Jimi di telinga Mika.
"Murid baru kak.
Kalau mau ikut bareng kekantin ayo kak." ucap Mika pada Jimi dan Dean.
Mika bersama Jimi dan Dean sampai di kantin, jangan lupakan sosok berbaju hitam yang sedari tadi juga mengikuti mereka. Dean bilang namanya adalah Aram, dia adalah bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga Dean.
"Dia siapa Ka?" tanya Allen melirik kearah Dean saat Mika sampai dimeja.
"Kenalin, nama gw Aldean tapi kalian bisa panggil gw Dean. Gw murid baru di kelasnya Mika." Dean memperkenalkan dirinya pada semua orang di meja tersebut.
"Salam kenal ya Dean, nama aku Jean. Semoga kita bisa jadi teman baik ya." ucap Jean penuh semangat.
"Wah Lo pasti orang kaya ya, sampai bawa bodyguard ke sekolah." celetuk Law sambil melihat kearah bodyguard Dean.
"Ah gak kok, papa cuma khawatir aja sama kesehatan gw makanya harus sampai di jaga sama bodyguard." Dean tertawa garing.
"Abang,, pulang sekolah ajarin Jean naik sepeda ya? tadi daddy telpon katanya sepeda yang Jean mau udah sampai di mansion. Abang ajarin ya?" Jean bergelayut di tangan Mika.
"Iya, pulang sekolah nanti pasti Mika ajarin kok."
Mika tersenyum sambil mengelus punggung Jean, lagipula ia sudah lama tidak mengendarai sepeda semenjak ia tinggal bersama keluarga Lavande. Mika jadi teringat dengan Emu, sepeda tua yang ia tinggalkan di kontrakannya.
Sepertinya Dean menahan cemburu pada Jean, ia merasa kesal pada bocah manja itu. Padahal Dean masih meyakini Mika itu adalah Anzel, dan ingin segera menjadikannya bagian dari keluarganya.
Allen menyadari perubahan ekspresi wajah Dean, bukan hanya Allen tapi Gallen dan Brian juga. Radar bahaya untuk sang adik sepertinya menangkap sinyal dari Dean, mereka merasa harus waspada dengan sosok Dean murid baru di kelas Mika.
__ADS_1