
Selepas kepergian Dexter dan kedua anaknya, suasana tegang masih menyelimuti kediaman Aditama. Gibran terdiam, ia masih memikirkan perkataan Dexter. Gibran merasa khawatir, jika orang tersebut mengetahui tindakan kekerasan yang sudah keluarganya lakukan pada Anzel.
Rezka juga hanyut dalam lamunannya, memikirkan masalah yang akan dihadapi keluarga. Apalagi ia juga memukul anak bernama Mika karena kesalahpahamannya.
Rezka juga memikirkan ucapan anak tersebut yang mengatakan jika Dean adiknya terobsesi pada dirinya dan melakukan hal buruk pada orang lain hanya untuk mendapatkan perhatiannya.
Hal tersebut mengingatkan pada Anzel, anak yang diangkat anak oleh papanya. Rezka juga ingat, menderitanya sang adik karena perbuatan Anzel yang dengan licik mengelabui semua orang.
Jauh sebelum semua itu terjadi, mereka sama sekali tidak tahu apa yang sudah dialami Anzel dalam hidupnya.
Anzel menghabiskan 16 tahun usianya dalam ruangan gelap beralaskan tikar tipis tanpa selimut yang bisa menghangatkan tubuhnya dimalam hari, mendapat siksaan dan makian hampir setiap hari. Terkadang ia tidak mendapatkan jatah makan hingga beberapa hari.
Pertumbuhan Anzel menjadi lambat, tubuhnya pendek dan kurus akibat kurang nutrisi. Itulah sebabnya Anzel memiliki perawakan dan wajah yang berbeda dengan saudara kembarnya.
Anzel menghabiskan setiap detik hidupnya dengan berharap, berharap orang tua kandungnya mencari dan menyelamatkannya dari siksaan Dirham. Aneh ia tidak bisa membenci Dirham, hatinya selalu menerima pria kasar itu sebagai ayahnya. Meskipun hanya rasa sakit yang Anzel dapatkan dari pria tersebut.
Hingga suatu malam, tubuhnya seperti sudah tidak sanggup menahan siksaan dari pria yang sudah dianggapnya ayah. Anzel sekarat, lebih tepatnya ia dianggap mati oleh Dirham. Anzel berhenti bernafas setelah menerima tendangan keras didadanya, keji bukan. Padahal Anzel sudah tidak sadarkan diri sebelumnya, tapi Dirham masih menghujani tubuh kecil Anzel dengan tendangan keras.
Dirham tidak memakamkan tubuh Anzel, ia memerintahkan anak buahnya untuk membuang tubuh Anzel di dalam hutan.
Tubuh Anzel yang tergeletak didalam hutan tiba-tiba saja menunjukkan sedikit pergerakan, karena Anzel sebenarnya belum mati dia hanya mengalami henti nafas sementara.
Keesokan paginya, Anzel ditemukan oleh Gibran yang sedang bersembunyi dari musuh-musuhnya. Gibran yang merasa iba membawa tubuh Anzel kerumah sakit dan juga mengajak tinggal bersama di negaranya.
Anzel merasa bahagia, hidupnya lebih baik setelah tinggal bersama Gibran. Anak-anak Gibran juga bisa menerimanya, meskipun anak sulung Gibran selalu bersikap dingin padanya.
Pada akhirnya Anzel yang haus kasih sayang mulai melakukan apapun untuk mendapatkan perhatian lebih dari Gibran dan anak keduanya, hingga akhirnya ia mulai menyakiti anak bungsu Gibran yang sangat polos baginya.
Rezka yang sejak awal tidak pernah menyukai Anzel bersikap semakin dingin pada Anzel, membuat anak tersebut lebih gencar mencari perhatiannya. Rezka hanya melihat sisi licik dan jahat dan Anzel, ia tidak pernah memikirkan perasaan Anzel yang sebenarnya.
"Dean yang salah di sini pah?" kata Reyhan yang berjalan menuruni tangga.
Gibran dan Rezka yang hanyut dalam pikirannya melonjak terkejut saat mendengar perkataan Reyhan, sedang Reyhan menatap dingin pada kedua anggota keluarganya itu.
"Apa maksud kamu nak?" tanya Gibran.
__ADS_1
"Obsesi Dean itu salah, dan kita juga salah mengerti alasan Dean yang terpuruk saat itu." kata Reyhan yang mendapat tatapan heran dari mereka berdua.
"Jelaskan yang benar Rey, Abang tidak mengerti." kata Rezka.
Reyhan berjalan mendekati kedua anggota keluarganya, lalu meletakkan sebuah buku di diatas meja yang ada di hadapan mereka. Gibran dan Rezka melihat kearah buku tersebut, lalu kembali menatap Reyhan dengan penuh tanya.
"Itu diary milik Dean, aku menemukannya di dalam kotak yang ia letakkan di bawah kasurnya. Semua yang Dean lakukan ada disana, termasuk rencananya untuk menjadikan Mika sebagai pengganti Anzel untuk membalaskan dendamnya" kata Reyhan yang kemudian duduk bersandar sambil memijat keningnya.
Rezka mengambil buku diary tersebut, membacanya secara acak. Matanya terlihat terkejut saat membaca setiap huruf yang tertulis di buku tersebut, Rezka tidak menyangka adik yang sangat di sayanginya bisa memiliki pemikiran jahat seperti itu.
[ 24 Agustus 20xx
Seorang pemuda memeluk gw saat gw histeris karena memikirkan rasa benci gw pada Anzel, dan bang Rezka juga bilang kalau pemuda itu yang mendonorkan darahnya saat gw nyoba nyakitin diri gw sendiri.
Refleks gw panggil pemuda itu Anzel, tapi ia bilang kalau namanya adalah Mika. Saat gw melihat kedalam matanya, entah kenapa gw inget sama anak sial itu. Dan itu buat gw benci sama anak bernama mika itu.]
[02 September 20xx
Lagi-lagi gw ketemu sama Mika saat gw histeris, tapi kali ini dia bersama seseorang yang menurut gw wajahnya mirip sama Anzel.
Sepertinya Mika adalah anak yang baik, entah kenapa gw malah berpikir untuk menuntaskan rasa dendam gw sama Anzel lewat Mika.]
[17 September 20xx
Setelah gw mencari tahu tentang Mika,gw akhirnya daftar sekolah di sekolah yang sama dengan Mika.
Hari ini secara kebetulan gw ketemu dengan Mika yang sepertinya hendak pergi kekantin, langsung aja gw peluk dia. Gw bergelayut manja pada Mika, namun terganggu oleh kehadiran seseorang yang sepertinya adalah teman Mika.
Gw jadi punya rencana jahat untuk Mika, gw akan dapatin perhatiannya lalu menyiksa tubuh dan mentalnya. Gw mungkin akan melakukan hal yang sama dengan Anzel dulu, sedikit bermain licik untuk mendapatkan perhatian orang lain ]
Rezka melempar buku tersebut keatas meja,ia benar-benar tidak menyangka adiknya yang terlihat polos dan baik ternyata memiliki pikiran jahat seperti itu. Sementara Gibran juga tidak kalah terkejut saat membaca buku harian anak bungsunya.
"Dean sudah kelewat pah, kemarin dia membawa Mika kemari dan saat aku mendengar teriakkan Dean aku melihat Mika berlari menuruni tangga dengan wajah ketakutan. Aku juga melihat bagian pundak baju Mika berwarna merah darah, aku tidak tahu apa yang sudah Dean lakukan pada Mika." kata Reyhan.
"Kenapa Dean bisa melakukan hal seperti ini, papa masih tidak bisa percaya nak.?" lirih Gibran.
__ADS_1
Rezka mengepal-ngepalkan kedua tangannya, ia merasa sangat kecewa pada Dean. Padahal selama ini ia selalu percaya kepadanya, Rezka bahkan membuat papa dan adiknya melakukan hal keji pada Anzel. Mereka mengambil nyawa Anzel karena menganggapnya sudah membuat Dean menderita.
"Dimana adikmu sekarang Rey?" tanya Gibran pada anak keduanya.
"Di kamar, aku membuatnya tertidur dengan obat penenang setelah mendengar anggota keluarga Lavande datang. Aku melihat Dean seperti ingin melakukan sesuatu, jadi aku membiusnya." ucap Reyhan yang di angguki oleh papanya.
Pikiran Rezka menjadi kacau, ia juga merasa bersalah sudah memukul Mika dengan sekuat tenaga. Rezka bangkit dari duduknya, tujuan satu yaitu menemui Mika dan meminta maaf kepadanya.
"Kamu mau kemana nak?" tanya Gibran saat melihat Rezka yang hendak pergi.
"Ke mansion keluarga Lavande, aku mau meminta maaf pada Mika." kata Rezka datar.
"Mika tidak ada disana bang, menurut informasi yang aku dapatkan Mika saat ini dirawat dirumah sakit." Reyhan tahu Abang sulungnya adalah orang yang bertanggung jawab.
Semua kebencian Rezka pada Anzel disebabkan oleh Dean, sementara Reyhan dia sangat menyesal karena ikut menyiksa Anzel malam itu. Jauh didalam hatinya, Reyhan memang menyayangi Anzel seperti adiknya sendiri. Namun setelah melihat Gibran dan Rezka membela Dean, Reyhan akhirnya mengikuti rencana mereka. Dan pada akhirnya, penyesalan mereka tidak bisa mengembalikan hidup Anzel yang malang.
• • •
Mika menatap Jean yang sedari tadi terus menceritakan masa kecilnya, ia tahu bungsu Lavande itu sedang berusaha menghiburnya.
Ada sedikit rasa menyesal karena sudah membiarkan Dean menyakitinya, karena seharusnya Mika bisa menyelesaikan masalahnya dengan Dean lebih cepat.
Jean berhenti berbicara karena melihat abang kesayangannya itu dari tadi hanya diam, Jean menyentuh pipi Mika kedua tangannya yang membuatnya terkejut.
"Bang Mika lagi mikirin apa, ngelamun kaya gitu?" tanya Jean, anak polos yang memiliki tingkat kepekaan yang sangat tinggi.
"Gak ko Je, gw cuma mikirin Lo aja." kata Mika sambil tersenyum.
"Mikirin Jean,,, emang Jean kenapa bang?" Jean memiringkan wajahnya, ekspresi bingung anak itu memang sangat lucu bagi Mika.
"Kenapa ya??? Gw cuma mikir kenapa Lo makin imut aja ya, jadi gemes gw." Mika mengacak-acak rambut Jean, membuatnya mendengus kesal sambil menggembungkan pipinya.
"iih abang,, Jean itu ganteng bukannya imut." ucapnya kesal.
Mika tertawa melihat tingkah Jean, Lina dan Diana juga ikut tertawa melihat tingkah mereka berdua. Keputusan benar membawa Jean kemari, karena Mika memang nampak murung semenjak sadar tadi.
__ADS_1
Jean ikut tertawa sambil menahan kesal, walaupun ia tahu Mika menyembunyikan sesuatu darinya. Jean akan menunggu abang kesayangannya itu menceritakan sendiri masalah, ia tidak ingin memaksa Mika karena tidak ingin membuat abang kesayangannya itu menjauh darinya....