
Mika menahan tangan Gallen saat pemuda itu hendak melepaskan pelukannya, jika boleh meminta Mika hanya ingin berada dalam posisi itu lebih lama.
"Gw pengen bilang kalau gw adik Lo kak, tapi gw gak bisa, gw takut Lo gak percaya, gw takut nanti Lo anggap gw serakah dan gw juga takut kalau gw bilang yang sebenarnya kalian semua bakal jauhin gw. Kenapa takdir gw harus kaya gini, kenapa gw harus ketemu kalian dengan tubuh yang berbeda, ini gak adil tuhan." batin Mika
"Kok malah nangis sih, Mika yang gw kenal itu kuat gak cengeng walaupun masalah hidupnya itu berat." ucap Gallen.
Mika melepaskan pelukan Gallen, ia menghapus air mata dipipinya dengan punggung tangannya. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu tersenyum sambil menatap Gallen.
"Nah, itu baru Mika yang gw kenal." Gallen menepuk kepala Mika.
"Makasih ya kak." ucap Mika.
"Ekhemm..."
Allen menatap tidak suka kepada Gallen, ia cemburu dengan kedekatan Mika dan adik kembarnya itu. Yah walaupun Gallen itu tidak berniat merebut Mika darinya, namun melihat wajah garang kakaknya Gallen malah memikirkan ide jahil.
"Mika malam ini bobo sama kak Gallen ya?" ucap Gallen dengan nada manja sambil merangkul tubuh Mika.
Mika terlihat bingung dengan sikap Gallen yang tiba-tiba SKSD dengannya, ia menatap kearah Allen yang wajahnya terlihat memerah karena menahan marah.
"Tidak, Mika akan tidur bersamaku." tegas Allen, namun seperti adik kembarnya itu tidak kehilangan akal.
"ih,, seharian ini kan Lo udah pergi sama Mika gantian lah malam ini giliran sama gw." kata Gallen masih mempertahankan tubuh Mika dalam rangkulannya.
"Gw gak peduli, Mika harus sama gw." ucap Allen tidak mau kalah.
"Sama gw..."
"Gw .."
Mika merasa jengah dengan pertikaian kedua kakak kembarnya itu, apalagi tubuhnya yang ditarik kesana kemari oleh keduanya. Rasanya ingin menangis, namun Mika melihat sosok Jean yang berjalan menghampiri kamarnya. Mika langsung melepaskan diri dari twins devil itu dan berlari kearah Jean.
"Gw udah janji mau tidur sama Jean, iya kan Je.?" kata Mika sambil merangkul tubuh Jean.
Jean yang kebingungan hanya mengangguk mengiyakan perkataan Mika karena pemuda itu terus menatapnya seolah-olah meminta tolong. Jean lalu melihat kearah Abang kembarnya, ia langsung mengerti jika abang kesayangannya itu tidak mau berada diantara keduanya.
"Iya bang kembar, abang Mika udah janji sama Jean kalau malam ini mau tidur bareng." kata Jean yang langsung mendapat tatapan penuh binar oleh Mika.
"Tapi Ka,,..."
"Oh ya bang, Jean di suruh kemari untuk manggil kalian soalnya udah di tunggu di meja makan." lanjut Jean yang memotong ucapan Gallen.
"Udah di tungguin ya, kita langsung kesana aja yuk Je?" ucap Mika yang langsung menarik tangan Jean menuju lift.
Sementara Allen menatap Gallen dengan tatapan permusuhan, tapi Gallen hanya mengangkat bahunya acuh. Seperti apapun garangnya sang kakak, tidak pernah membuatnya takut sedikitpun pada sosok Allen.
__ADS_1
Jean dan Mika keluar dari lift, Jean terlihat terus berbicara pada Mika. Ia menceritakan hal-hal lucu tentang abang kembarnya itu, Mika sedikit terkekeh mendengarkan celotehan dari Jean. Ia merasa bisa sedikit melupakan masalahnya saat bersama bungsu Lavande itu.
Namun raut wajah Mika berubah datar saat sampai di meja makan, ia melihat kedua abang dari Dean duduk bersama dengan keluarga barunya. Namun Mika memilih diam, ia hanya enggan untuk bertanya karena sadar dengan posisinya sendiri.
"Kenapa mereka masih ada di sini pah?"
Namun seperti tidak dengan Allen yang langsung bertanya dengan ketus sambil melihat kearah Reyhan dan Rezka.
"Daddy yang mengundang mereka untuk makan malam bersama, untuk masalah yang sebelumnya sudah selesai. Jadi lebih baik kita lupakan sejenak kekakuan diantara kita semua." kata Axio.
Mika merasa di tatap oleh Reyhan, ia hanya menghela nafasnya. Sedangkan Reyhan seperti merasakan perasaan aneh setiap kali melihat wajah Mika, apa pengaruh Dean yang mengatakan jika Mika itu adalah Anzel sudah mempengaruhi otaknya sehingga ia juga mulai menganggap Mika adalah Anzel.
"Mika mau makan pakai lauk apa?" tanya Lina yang duduk disamping Mika.
"Mika mau ayam mah, satu aja gak usah banyak-banyak." ucap Mika saat melihat Lina hendak mengambilkan potong ayam kedua.
"Kamu harus makan banyak nak, soalnya kan baru sembuh biar cepat pulih. Besok kan sudah mulai masuk sekolah." ucap Lina sambil meletakkan potongan ayam kedua di piring Mika.
"Atau besok masih mau istirahat dirumah?" kali ini Dexter yang bertanya.
"Iya Mika makan semuanya, terus besok Mika mau sekolah soalnya udah sering banget absen nanti nilainya turun." kata Mika yang mulai memasukkan nasi kedalam mulutnya.
"Good job baby." ucap Allen.
"Byuuur,, uhuk,,uhuk..."
Mika yang baru saja mulai menelan makanannya menyemburkan makanan tersebut saat mendengar Allen menyebutkannya baby, ia terkejut karena sangat tidak suka dengan panggilan itu.
"Jangan panggil gw babi kak." ucap Mika setelah meminum habis air yang diserahkan oleh Lina.
"Bukan babi dek, tap baby." timpal Gallen sambil tertawa.
"Tapi gw gak suka, pokoknya jangan pernah panggil gw dengan sebutan itu. Cukup Jean aja yang di panggil baby sama kalian, gw gak mau." ucap Mika.
Jiwanya itu sudah berusia 17 tahun walaupun berada di tubuh pemuda 15 tahun, jadi mana mungkin ia mau di panggil baby. Ia juga seperti itu saat hidup sebagai Anzel, sangat membenci panggilan sayang tersebut.
Makan malam pun kembali dilanjutkan dengan keheningan, Allen terlihat terus memperhatikan Reyhan yang sering melirik kearah Mika. Namun ia hanya bisa menatap emosinya, jika ia terbawa emosi sekarang mungkin papanya akan memberikannya hukuman yang mengerikan.
Tidak lama setelah itu, Rezka dan Reyhan pamit pulang. Mereka langsung pergi keluar dari kawasan mansion Lavande yang lebih mewah dari mansion mereka yang ada di luar negeri.
Rezka memperhatikan raut wajah adiknya yang terus menampilkan kerutan di dahinya, entah apa yang sedang di pikirkan oleh Reyhan.
"Bang, gimana kalau omongan Dean itu benar. Kalau Mika itu sebenarnya adalah Anzel?" ucap Reyhan setelah lama diam.
"Maksud kami apa dek, apa kamu mulai terpengaruh dengan ucapan Dean?" kata Rezka yang tetap fokus pada kemudinya.
__ADS_1
"Bukan gitu bang, tapi saat gw ngeliat senyumnya, wajah kesal dan cemberutnya serta cara dia ngomong sangat mirip dengan Anzel." lanjut Reyhan yang menyandarkan tubuhnya.
"Terima kenyataan, Anzel itu sudah mati. Mati di tangan kita, setelah kita menyiksanya. Dan juga, Mika itu usianya beda sama Anzel jadi itu sangat tidak mungkin jika Mika adalah Anzel." ucap Rezka yang masih bersikap logis.
Sedangkan Mika sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, padahal jam sudah menunjukkan pukul 1 malam. sementara Jean juga sudah tertidur pulas disampingnya, Mika yang merasa haus pun akhirnya bangun dan berjalan menuju dapur.
Mika membuka lemari pendingin, mengambil botol air mineral. Namun tiba-tiba seseorang menahan botol tersebut, Mika yang terkejut langsung melepaskan botol air tersebut hingga terjatuh.
"Astaga kak, bisa gak jangan ngagetin gw. Berasa mau copot nih jantung." Mika memegang dadanya, detak jantung tidak beraturan.
Mika sungguh sangat terkejut, ia sempat berpikir sosok tak kasat mata yang memegang botolnya. Karena saat melihat matanya, Mika melihat tatapan tajam yang sangat menyeramkan.
"Ini jam 1 pagi, untuk apa kamu minum air dingin. Apa kamu mau terserang demam lagi." ucap sosok tersebut yang ternyata adalah Aksan.
"Mika cuma haus kak, mau minum." lirih Mika, yang masih saja merasa takut pada abang sulung Jean.
"Minum air biasa jangan yang dingin." Aksan menyerahkan segelas air putih pada Mika.
Mika menerimanya tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia yang memang sedang haus langsung menghabiskan air tersebut.
"Makasih ya kak." ucap Mika sambil meletakkan gelas di atas meja.
"Oh ya, kak Aksan kok belum tidur.?" lanjut Mika.
"Aku baru pulang kerja, lalu kenapa juga bocah sepertimu tengah malam begini belum tidur.?" kata Aksan yang memang baru sampai dirumah sekitar 5 menit yang lalu.
"Mika haus kak, makanya kebangun." Mika memberikan alasan.
"Kamu pikir saya percaya dengan kebohonganmu, kamu tidak bisa tidur kan. Apa kamu masih memikirkan masalah bungsu Aditama?"
Aksan bukanlah orang yang mudah di bohongi, ia sangat tahu jika Mika memilih banyak masalah di hidupnya. Namun bocah tersebut selalu menutupinya dengan senyuman dan wajah dewasanya.
"Mika balik kekamar dulu ya kak?" pamit Mika yang lalu berjalan meninggalkan Aksan.
Namun Mika merasa tangannya ditahan oleh Aksan, pemuda matang itu bahkan menarik tubuh Mika.
Cup
Mika terkejut saat mendapatkan sebuah kecupan di keningnya, ada angin apa sampai seorang Aksan yang selalu dingin padanya berbuat hal sehangat ini.
"Berhenti memikirkan hal yang berat dan tidurlah dengan nyenyak." ucap Aksan yang diangguki oleh Mika.
Mika melanjutkan langkahnya, saat pintu lift yang ia naiki hendak menutup ia sempat melihat kearah Aksan yang seperti tersenyum kepadanya.
Puk
__ADS_1
Puk
"Sadar Mika, jangan terlalu terbuai dengan semua kebaikan dan kasih sayang mereka. Inget status Lo Ka." ucap Mika sampai menepuk-nepuk kedua pipinya.