
Mika kembali kekamar Jean, anak itu terlihat menangis sesenggukan. Helaan nafas Mika kembali terdengar, ia sungguh -sungguh tidak ingin berada disini. Namun anak didepannya begitu membutuhkannya, galau bukan.
Mika tidak mengatakan apapun, ia hanya menepuk kepala Jean lalu mengusapnya lembut. Tangisnya berhenti, Mika mendorong tubuh Jean agar kembali tertidur. Kali ini ia memeluknya lagi, membuat Jean kembali tertidur.
Malam ini Mika habiskan untuk menemani Jean dikamarnya, tapi ia sendiri tidak bisa memejamkan matanya. Ia menatap wajah damai Jean yang memakai plester kompres demam di dahinya, Mika jadi merindukan keluarganya dulu.
Saat ia masih hidup sebagai Anzel, ia juga mendapat banyak perhatian saat sakit. Mika sering berpura-pura kesakitan padahal hanya mengalami memar kecil ditubuhnya, hanya karena ia menginginkan begitu banyak perhatian.
Miris, pikir Mika saat ini. Begitu jahat, dan iya adalah pembohong yang handal. Ia ingin berubah, dan saat ini ia diberikan kesempatan kedua untuk merubah sifat buruknya.
Hingga pagi menjelang, Mika terus hanyut dalam pikirannya.
_
Saat ini jam menunjukkan pukul setengah 5 pagi, Mika pergi kekamar mandi untuk mencuci mukanya. Ia benar-benar tidak bisa tidur, lingkaran hitam dibawah matanya juga dapat terlihat. Ia menepuk-nepuk wajahnya, lalu tersenyum pada pantulan dirinya dicermin yang ada didalam kamar mandi Jean.
Mika memutuskan pergi kelantai bawah setelah memastikan Jean masih tidur dan demamnya juga turun. Terlihat hanya pada pekerjaan dan bodyguard yang sudah bangun, atau mungkin mereka tidak tidur pikir Mika.
Mika berjalan kearah dapur, ia merasa lapar karena semalaman ia belum makan. Dilihatnya beberapa maid dan chef sedang menyiapkan sarapan, Mika menghampiri mereka.
"Ada yang bisa gw bantuin gak?" tanya Mika dengan bahasa gaulnya, kalau pada keluarga Axio gak berani.
"Tidak perlu tuan, kami bisa mengerjakan tugas kami." jawab chef dengan sopan.
"Gak papa kok, sini gw bantuin." Mika mengambil pisau yang di pegang seorang maid lalu mulai mengiris sayuran untuk dimasak.
"Tapi tuan adalah tamu." ujar chef ragu.
"Gak perlu takut dihukum sama majikan Lo, nanti gw yang bilang kalau gw yang pengen bantuin kalian." kata Mika yang paham dengan situasi mereka.
Ingat, Mika juga pernah jadi anak orang kaya. Karena Mika disini adalah tamu, jadi harus di perlakukan seperti raja dan para pekerja itu takut mendapatkan hukum dari majikan mereka karena perlakuan mereka pada tamu majikannya.
Para maid dan chef bernafas lega setelah mendengar penjelasan dari Mika, mereka lalu melanjutkan acara memasaknya. Hingga seluruh masakan siap untuk dihidangkan, Mika kembali kekamar Jean.
Saat sarapan tiba, seluruh anggota keluarga Lavande sudah duduk di kursi mereka masing-masing (- Jean).
Mika mendatangi meja makan dengan Jean yang digendong dipunggungnya, tentu saja ia mendapat tatapan tajam/aneh dari mereka berempat.
"Baby kenapa turun, kalau lapar maid bisa mengantarkan makanan kamu?" Diana bangun menghampiri anaknya yang masih digendongan Mika.
"Jean udah gak papa kok mommy." ucap Jean sambil tersenyum.
"Bisa tolong bantuin gak, punggung saya udah pegel nih." Aksan langsung menghampiri Mika dan membantu menurunkan Jean dari gendongannya.
Mika bernafas lega sambil meregangkan otot punggungnya, sumpah Jean itu berat. Tubuh Jean dan Mika itu tidak jauh berbeda, dan lagi tubuh Mika itu tidak terlalu kuat.
"Jean mau dipangku sama bang Mika, boleh?" rengek Jean, Mika yang hendak menolak sudah ditatap tajam oleh para lelaki dimeja makan.
"Iya, iya Mika pangku." dengan ogah Mika mendudukkan Jean dipahanya.
__ADS_1
Sarapan pun dimulai, Mika menyuapi Jean dengan telaten. Tentu saja sambil mendapat tatapan menyeramkan dari Axio, Aksan dan Brian sedangkan Diana terus tersenyum melihat tingkah ceria dari anaknya.
"Habis ini Mika mau pamit pulang ya, soalnya Mika harus berangkat sekolah." kata Mika diakhir acara makan sarapan.
"Bang Mika mau pulang." mata Jean kembali berkaca-kaca, Mika mengelus rambut Jean sambil menghela nafasnya lalu mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan tawaran tadi malam?" kini Axio bertanya.
"Gimana ya om, jujur saya masih bingung. Saya merasa tidak pantas menerimanya." ucap Mika yang masih mengelus jean.
"Tolong kamu terima ya nak, kamu sudah menolak menjadi anak angkat kami. Paling tidak tolong terima tawaran untuk bersekolah dengan baby, ia sudah terlanjur sayang sama kamu nak." Diana menatap penuh harap pada Mika, keputusan yang berat saat ia berpikir tidak ingin terikat dengan mereka.
Mika diam sejenak, ia juga mendapat tatapan sendu dari Jean. Bagaimana ia bisa menolak jika mendapat tatapan memelas dan bocah didepannya.
"Ya udah deh, mika terima." senyum langsung mengembangkan diwajah Jean dan Diana.
"Tapi dengan satu syarat." lanjut Mika.
"Apa syaratnya?" Axio menatap serius.
"Saya minta ditempatkan dikelas yang berbeda dengan Jean." ucap Mika langsung mendapat tatapan tidak setuju dari jean.
"Kenapa?" lirih Jean.
"Gw gak mau nanti anak-anak sekolah Lo nganggep gw manfaatin Lo buat masuk sekolah bagus, kalau Lo gak mau berarti gw juga tolak permintaan keluarga lo." kata Mika tersenyum pada Jean.
Sedangkan Aksan masih menatapnya curiga dan Brian lebih seperti tidak peduli dengan keputusan dari daddy-nya.
Pada akhirnya Mika hanya menemani Jean seharian di mansion, mereka mainkan banyak permainan. Tentu saja yang menurutnya aman untuk dimainkan dan mendapat penjagaan ketat dari bodyguardnya.
Hingga sore hari datang, Mika pamit pulang. Tentu saja setelah memainkan drama yang Jean lakukan untuk menahannya pulang.
_ _
Mika sampai di kontrakannya setelah diantar pulang oleh salah satu supir Axio. Ia langsung masuk kedalam kamar kontrakan lalu merebahkan tubuhnya, padahal baru semalam ia tidak tidur dikamarnya namun rasanya sama rindu.
Ia melirik kesamping kanan kamar, terdapat tumpukan kardus. Mika tidak tahu apa isinya dan siapa yang meletakkan kardus tersebut didalam kamarnya.
Setelah membuka ketiga kardus tersebut, ternyata isinya adalah perlengkapan sekolahnya yang baru. Berupa seragam, tas, sepatu, dan buku. Lalu ponselnya berbunyi, ia membuka sebuah pesan masuk yang tidak ia kenal nomornya.
'semua itu adalah perlengkapan kamu untuk sekolah besok, pastikan kamu memakainya. Karena saya tidak menerima penolakan'
Mika menghela nafasnya, lalu membereskan barang-barang tersebut.
Ia memejamkan matanya, mika merasa lelah. Ia hanya ingin tidur malam ini, berharap semua yang ia lalui hanyalah sebuah mimpi dan esok saat ia bangun semua kembali seperti semula, hari-hari sebelum ia bertemu dengan Jean.
Namun ternyata keinginannya tidak terwujud, semua ini nyata. Sekarang ia sudah mengenakan seragam sekolah yang diberikan oleh Axio padanya, bukan hanya seragam melainkan semua keperluan sekolahnya.
Tidak lama kemudian, pintu kontrakannya terdengar seperti diketuk. Mika berjalan untuk membuka pintunya.
__ADS_1
"Selamat pagi abang Mika." Teriak Jean saat Mika membuka pintu.
"Haah, gak usah teriak Jean. Pendengaran gw masih normal kali." Mika menghela nafasnya, ia harus mengumpulkan stok kesabaran mulai saat ini.
"Ayo berangkat bang, udah siap kan?" Jean terlihat bersemangat lalu menarik tangan Mika, namun ia tepis.
"Gw ambil tas dulu, jangan main tarik aja." Mika mendengus kepada Jean.
"Hehehe,, maaf bang." Jean menggaruk kepalanya belakangnya.
Mika mengambil tasnya, lalu mengunci pintu kontrakannya. Ia berjalan di belakang Jean, karena lama akhirnya Jean menariknya dan masuk kedalam mobil.
Jean bergelayut manja pada tangan Mika yang sudah mendapat tatapan tajam dari Brian yang duduk di kursi pengemudi.
"Jean udah sehat?" Mika membenarkan posisi duduk Jean.
"Hemm, Jean udah sehat. Semua karena bang Mika yang merawat Jean." ucapnya manja lalu kembali menggelayuti Mika.
"Oh, ya deh." singkat Mika lalu melemparkan pandangannya keluar mobil.
Selama diperjalanan Mika memilih diam, meskipun Jean terus mengajak mengobrol. Ia sedang menyiapkan mental, karena keputusan untuk menerima permintaan tuan Axio mungkin akan membawanya kembali pada kehidupan dulu.
Sesampainya disekolah, awalnya Mika memandang takjub pada sekolah swasta tersebut. Namun tatapannya berubah menjadi biasa saja, toh ia juga pernah bersekolah disekolahan mewah di kehidupan sebelumnya.
Brian memarkirkan mobilnya, Jean keluar dari mobil diikuti olehnya.
Brian dan Jean terlihat menghampiri beberapa murid yang seperti sedang menunggu mereka, dari interaksi yang Mika lihat mereka juga dekat dengan Jean.
"Dia siapa, jangan-jangan anak yang kemarin Lo omongin?" tanya Kahfi pada Brian.
"Iya." jawab Brian dengan datar.
"Oh ya Abang semua, kenalin ini bang Mika." Jean menarik tangan Mika, membuatnya berada diantara murid yang terlihat sangat tampan. Pasti mereka most wanted sekolah ini, pikir Mika.
"Bang Mika, yang ini bang Kahfi, yang ini bang law, dan ini bang Vian."Jean menunjuk mereka satu-persatu.
"Nama saya Mika, kak." Mika mengulurkan tangannya. Tadinya mereka terlihat enggan, namun setelah melihat Jean menatap mereka langsung membalas uluran tangan Mika.
"Maaf kak Brian, ruang kepala sekolahnya dimana ya?" tanya Mika, ia hanya ingin segera meninggalkan teman-teman Jean tersebut.
"Jean anterin ya bang." kata Jean antusias dan hanya dibalas anggukan oleh Mika.
Setelah mengantar mika, Jean kembali kekelas. Tadinya ia menolak karena ingin mengantar Mika sampai kekelasnya, namun setelah dibujuk oleh Mika ia menurut dan sekarang Mika sedang berdiri didepan kelas barunya.
"Selamat pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru. Silahkan masuk nak dan perkenalkan nama kamu?" titah guru bernama Sintia.
Suasana langsung gaduh saat Mika masuk kedalam kelas, sayup-sayup terdengar mereka saling berbisik. Mika menatap satu-persatu siswa siswi dikelas tersebut, tatapannya tertuju pada seorang siswa yang juga membalas tatapannya.
Mika menghela nafasnya, ia tidak menyangka akan bertemu dan satu kelas dengan salah satu anak yang tidak ingin ia temui lagi dihidupnya.
__ADS_1