
Seorang siswa masuk kedalam ruang UKS, nafasnya terengah-engah. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menetralkan nafasnya.
"Sorry ka, di luar sekolah ada anak SMA lain yang lagi ngamuk. Dia nyariin Lo, dia bilang namanya Zeon. Dia bawa pisau, kalau Lo gak keluar dia bilang bakal nyakitin siswi yang dijadiin sandra sama dia." kata Dimas, ketua kelas Mika.
Mika kembali terkejut, ia tidak menyangka kakak kelas yang selalu membully dulu datang kesekolahnya dan mengancam murid lain.
"Apa sudah dilaporkan sama guru.?" bukan Mika, melainkan Niken yang bertanya.
"Udah, tapi dia malah ngancem." kata Dimas yang menampilkan raut ketakutan.
Mika langsung turun dari ranjang, rasa pusing di kepalanya membuatnya hampir jatuh jika tidak ditahan oleh Niken.
"Jangan keluar, Lo disini aja. Biar para guru yang nyelesain masalah ini." Dea mencoba menenangkan Mika yang mulai panik.
"Gak kak, gw tahu Zeon itu kaya gimana. Gw harus kesana sebelum dia nglukai orang lain." Mika menyingkirkan tangan Niken lalu berlari melewati Dimas.
Mika berlari sekuat tenaga, ia bahkan tidak memperdulikan rasa sakitnya. Yang harus ia lakukan adalah menghentikan Zeon dengan cara apapun. Zeon itu seperti mempunyai gangguan mental, karena ia selalu terlihat senang saat berhasil menyakiti targetnya.
Saat berada di lorong, Mika berpapasan dengan Jean dan abang-abangnya. Ia tidak berhenti meskipun Jean memanggil namanya, karena khawatir dengan sikap abang kesayangannya itu Jean malah ikut berlari mengikuti Mika.
"Jangan berlari baby." teriak Vian,namu tidak dihiraukan.
Mereka hanya bisa saling menatap bingung, sampai mereka bertemu dengan Dea dan kedua temannya, jangan lupakan Dimas yang mengikuti ketiga gadis itu.
"Apa yang terjadi, kenapa kalian berlarian?" Vian menahan tang Dea.
"Lepas, bukan urusan lo." Dea menghempaskan tangan Vian dan melanjutkan langkahnya diikuti oleh Niken.
Cindy menjulurkan lidahnya mengejek Vian, ia senang karena temannya mengacuhkan pemuda yang selama ini menyia-nyiakan perasaannya.
"Sebenarnya ada apa sih?" Kahfi terlihat bingung, bertanya pada law yang hanya mengangkat bahunya.
"Ada anak SMA lain yang nyariin si Mika, dia ngancem pake pisau kalau Mika gak buru-buru keluar untuk nemuin dia." kata Dimas.
"Sial, baby bisa dalam bahaya." ucap Brian yang langsung ikut berlari.
Vian, Kahfi, Law, Gallen dan Allen juga langsung mengikuti Brian, meninggalkan Dimas yang masih mengatur nafasnya.
"Lagi-lagi gw di tinggal." lirihnya sambil mengusap keringat di keningnya.
Didepan sekolah, seorang siswi ketakutan saat sebuah pisau lipat menempel dilehernya. Tubuhnya didekap dari belakang oleh siswa yang memakai seragam sekolah yang berbeda darinya.
__ADS_1
Wajah siswi itu sudah basah oleh air mata, rambutnya juga berantakan. Siswi tersebut merintih, meminta untuk dilepaskan.
"Lo bakal mati, kalau Mika gak nunjukin batang hidungnya." ancam Zeon, suaranya begitu menakutkan.
"Salah aku apa, aku mohon tolong lepasin. Kalau kamu mau uang, aku bisa minta papa aku kasih berapapun yang kamu mau." kata siswi tersebut, mencoba bernegosiasi dengan Zeon.
"Lo pikir uang Lo bisa buat gw seneng hah."
"Aw,, " pekik siswi tersebut saat Zeon secara tiba-tiba menarik rambutnya, pisau yang menempel dilehernya sedikit menggoreng leher putih gadis tersebut hingga mengeluarkan darah segar.
Raut wajah Zeon seperti menampilkan senyum kemenangan saat ia melihat Mika yang sedang berlari kearahnya.
"Lihatlah, akhirnya mangsa gw datang juga." Zeon menambah senyum smirknya.
"Le,, pas in dia Ze,,on." ucap Mika yang terengah-engah.
"Lama sekali hah, Lo buat gw nunggu terlalu lama. Gw udah buat sedikit goreng kecil karena sudah merasa kesal menunggu Lo Mika. Hahahaha." tawa Zeon terdengar begitu mengerikan.
"Kamu dari sekolah mana, bisa-bisanya kamu mengancam murid sekolah kami. Sebaiknya cepat lepaskan Siska sebelum pihak berwajib menangkap kamu." kata seorang guru yang datang tidak lama setelah Mika.
"Hahaha,, gw gak takut sama polisi. Mika, ini semua gara-gara Lo. Jadi kalau kalian ingin meminta pertanggungjawaban, Mika lah yang bersalah." Zeon mengarahkan pisaunya pada Mika.
"Mau Lo apa?" tanya Mika yang mulai memasang wajah datarnya, rasa paniknya bahkan sudah tidak terlihat.
"Lo, gw mau Lo jadi milik gw. Puasin hasrat gw, merintih dan meminta ampun seperti dulu. Gw mau Lo tunduk sepenuhnya sama gw." Zeon mulai terbawa emosinya sendiri.
Sementara orang-orang yang melihat Zeon bergidik ngeri, mereka melihat kearah Mika dan Zeon bergantian.
Mika bergerak, melangkahkan kakinya menuju Zeon yang tersenyum penuh kemenangan. Pikirannya bahkan sudah melayang, memikirkan siksaan apa yang akan ia berikan pada Mika.
Baru beberapa langkah, lengan Mika ditahan oleh seseorang. Dia adalah Jean yang menatap khawatir pada Mika, air matanya bahkan sudah membasahi kedua pipinya.
"Jangan pergi bang, dia jahat." ucap Jean sambil menggelengkan kepalanya.
"Gw gak akan pergi, gw cuma mau menyelamatkan cewek itu." bisik Mika, Jean yang paham maksud abangnya itu melepaskan lengan Mika.
Jean menatap punggung Mika yang semakin menjauh darinya, ia melihat Mika mendekati Zeon dengan tatapan tenangnya.
Mika semakin mendekat, Zeon terlihat semakin senang. Melihat Zeon tidak mengendurkan dekapannya pada Siska membuat Mika harus membuat rencana lain.
Senyuman menghiasi wajah datar Mika, membuat Zeon sedikit heran. Ia tidak melihat wajah ketakutan Mika yang dari awal sangat ia harapkan, membuat ia berpikir lain tentang Mika. Zeon tidak mengharapkan ekspresi itu, ia mulai merasa sedikit ketakutan dalam hatinya.
__ADS_1
Karena panik, Zeon mengarahkan pisau yang ia pegang kearah Mika. Sepertinya rencana Mika untuk menyerang mentalnya berhasil, suasana hati Zeon mudah berubah. Apalagi ia paling takut jika target bulliannya tidak ketakutan kepadanya.
"Berhenti disana, jangan mendekat lagi atau gw bunuh cewek ini." ucap Zeon yang panik.
"Tadi Lo bilang mau miliki gw, kenapa dengan ekspresi Lo itu. Apa Lo gak seneng gw datang hah.?" Mika terlihat mengejek Zeon.
Siska yang berada dalam dekapan Zeon merasa bingung karena tiba-tiba saja tubuh Zeon seperti bergetar, sedangkan Mika malah terlihat lebih menyeramkan dari Zeon.
"Gw bilang berhenti, atau aw...."
Mika berhasil menangkap tangan milik Zeon yang memegang pisau, ia mencengkram kuat hingga pisau tersebut terlepas.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Siska langsung melepaskan dirinya dari dekapan Zeon. Ia berlari menuju pelukan guru perempuan yang ada disekitarnya.
Sementara orang-orang terkejut dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Mika.
"Lo bilang mau miliki gw.." Mika mulai mendorong tubuh Zeon hingga tubuh pemuda tersebut mundur beberapa langkah darinya.
"Lo bilang mau nyiksa gw sampai gw minta ampun." bukan hanya dorongan, kini Mika mulai melayang pukul kewajah Zeon yang sebenarnya lebih tinggi darinya.
"Lo pikir gw itu apa hah, selama ini gw diem karena gw sadar diri. Iya gw sadar kalau gw cuma murid beasiswa apalagi Lo sering ngancem gw bakal di keluarin dari sekolah." pukulan Mika berhasil membuat tubuh Zeon roboh.
Mika menduduki tubuh Zeon, mencengkram kerah seragam sekolah Zeon. Mika sudah tidak perduli tentang statusnya sebagai murid beasiswa, persetan perilaku baik yang ia pertahankan selama ini. Mika juga sudah tidak peduli jika ia sampai di keluarkan dari sekolahnya sekarang.
"Mana sikap angkuh Lo tadi hah, selama ini gw diem meskipun gw muak sama perlakuan Lo." Mika berteriak di depan wajah Zeon.
Mika sudah dikuasai emosinya, entah itu emosi Anzel atau Mika yang asli. Mika hanya ingin melampiaskan semua perasaan yang ia pendam.
"Sampah." kata Zeon pelan, Mika melayangkan kembali banyak pukulannya pada wajah Zeon, membuat pemuda tersebut hampir kehilangan kesadarannya.
"Ya, gw emang sampah. Bahkan orang tua kandung gw membuang gw dengan mudahnya, semua orang menatap jijik dan benci sama gw. Seolah-olah gw itu hama, benalu sampah yang harus mereka jauhi." Air mata Mika keluar dengan sendirinya, hatinya begitu sakit karena menahan kesedihannya selama ini.
"Salah gw apa, apa gw gak berhak mendapatkan kasih sayang seperti orang lain. Gw cape, gw cape pura-pura baik-baik aja. Dan Lo Zeon, kenapa Lo selalu buat gw inget rasa sakit dihati gw, kenapa Lo selalu muncul saat gw mulai melupakan semuanya. Kenapa hah..??" Mika menarik kuat kerah baju Zeon membuat tubuhnya sedikit terangkat, padahal pemuda itu sudah kehilangan kesadarannya.
Ucapan Mika begitu menyayat hati mereka, sikap Mika yang supel ternyata menyimpan banyak luka yang ia sembunyikan.
Tubuh Mika tersentak saat ia mendapat pelukan dari seseorang, Jean memeluk Mika dari belakang membuat Mika sadar dari emosinya.
"Bang Mika cukup, jangan seperti ini bang. Jean janji bakal selalu ada disamping bang Mika, Jean gak akan biarkan abang merasa sendirian lagi." ucap Jean disamping telinga Mika.
Mika melepaskan cengkramannya, merasakan kehangatan dari tubuh anak yang mendekapnya. Pandangannya mengabur, rasa sakit di kepala yang sempat ia lupakan kini menyerangnya lagi.
__ADS_1
Tubuh Mika yang hendak ambruk sempat ditahan oleh Jean, anak itu langsung panik karena melihat Mika yang jatuh pingsan didekat tubuh Zeon.