
Mika berlari menuju tempat Dean dan Rezka, terlihat jelas diwajahnya raut kekhawatiran. Sementara Allen juga mengikuti langkah Mika,ia hanya penasaran dengan apa yang menarik perhatian teman adiknya itu.
Allen menabrak punggung Mika saat anak itu berhenti mendadak, ia meringis karena hidungnya terkena kepala Mika. Namun anehnya, tubuh Mika seakan membeku.
"Aish, kenapa sih Lo?" Allen mengusap hidungnya.
Allen menjadi kesal karena Mika tidak meresponnya, anak itu bahkan tidak mengucapkan permintaan maaf seperti kebiasaannya.
"Kalau mau berhenti mendadak bilang-bilang dong, kalau penyok hidung gw gimana hayo." omel Allen berharap Mika berbalik untuk meminta maaf.
Masih tidak direspon, Allen berjalan ke hadapan Mika. Allen langsung terkejut saat melihat kedua pipi Mika yang sudah dialiri air mata, lalu ia menoleh ketempat yang menjadi fokus Mika.
Yang Allen lihat adalah seseorang berusia dengan Aksan yang sedang menenangkan pemuda seusianya, namun apa yang membuat Mika sampai menangis.
"Mika, oy Mika ,, sadar, Lo kenapa?" Allen mengguncangkan pundak Mika.
"Ah, iya kak." Mika terkejut setelah sadar dari lamunannya, ia langsung panik lalu menghapus air matanya.
"Lo kenapa nangis?" tanya Allen untuk kedua kalinya.
"Gw gak apa-apa kok kak, tadi mata gw cuma kelilipan." ujar Mika, yang terlihat jelas sedang berbohong.
"Kelilipan apa, gajah. Sampai banyak gitu air mata Lo." kata Allen.
Namun entah karena apa, Mika menyingkirkan tubuh Allen dan berjalan menghampiri kedua orang itu.
Mika langsung di tatap tajam oleh Rezka, namun ia sudah menyiapkan mentalnya. Sedangkan Allen membalas tatapan tajam Rezka, ia tidak suka orang lain menatap Mika seperti itu.
" Siapa kamu dan mau apa? Rezka menatap penuh curiga.
Mika menghela nafasnya, perlahan tangan kanannya terangkat dan di letakkan di kepala Dean, mika sedikit merendahkan tubuhnya agar bisa menatap mata pemuda yang ada dalam pelukan Rezka.
"Berhentilah menangis, kasian mata kamu harus bekerja keras memproduksi air mata. Kasian juga kakak kamu karena harus kesusahan menenangkan kamu." ucap lembut Mika sambil mengelus rambut Dean.
Tubuh pemuda itu berhenti memberontak, Dean terdiam sesaat lalu melihat kearah Mika yang sudah menampilkan senyum teduhnya.
"Sekarang tenang ya, Mika emang gak tahu apa yang sudah terjadi sama kamu tapi jangan menyerah seperti ini. Kasian kakak kamu, dia itu sayang banget sama kamu. Apa kamu gak kasian ngeliat kakak kamu kesusahan." ujar Mika sambil melirik kearah Rezka.
Sedangkan Allen di buat diam dengan apa yang dilihat dan didengarnya, apalagi Mika menggunakan bahasa aku-kamu padahal biasanya selalu menggunakan bahasa gaul kecuali pada orang yang lebih tua.
"Anzel, Anzel ini Abang Anzel." racau Dean yang melepas paksa pelukan Rezka dan langsung memeluk Mika, karena tidak siap Mika terjengkang dan akhirnya jatuh.
"Mika,," pekik Allen yang siap menghardik Dean, namun di hentikan karena melihat Mika melarangnya.
"Anzel maafin abang, maafin abang Dean. Dean gak bisa selamatkan nyawa adek, semua ini salah Abang."
Mika mengelus lembut punggung pemuda itu, ia bisa mencium wangi Citrus ditubuh Dean.
__ADS_1
"Jangan terus-terusan menangisi Anzel kak, ikhlaskan Anzel dan biarkan dia tenang." Mika mengangkat wajah Dean, menatap lekat iris coklat yang sudah kehilangan cahayanya itu.
"Anzel pasti sangat bahagia karena memiliki kakak yang begitu menyayanginya, karena itu kakak harus berhenti menyalahkan diri seperti ini." ucap Mika.
Dean seperti tersentak, ia menggelengkan kepalanya. Lalu kembali memeluk tubuh Mika, menikmati aroma yang sama dengan aroma tubuh Anzel dulu yaitu aroma vanilla.
Sementara Rezka yang memperhatikan mereka berdua hanya diam, lalu ia teringat dengan sosok yang sudah menyelamatkan nyawa adiknya itu.
"Sekarang kakak tenang ya, jangan nangis lagi ok." Mika melepas pelukan Dean dengan lembut, lalu kembali menampilkan senyumannya.
"Kamu yang mendonorkan darah untuk Dean saat itu kan?" Allen terkejut mendengar pertanyaan dari Rezka.
"Iya kali, Mika lupa. Mika emang pernah donorin darah karena ada suster bilang kalau pasien yang baru datang itu sangat membutuhkan darah dan ternyata golongan darahnya sama kaya Mika." Mika meletakkan jari telunjuknya didepan dagu, terlihat seperti sedang berpikir.
"Kakak bisa bangun gak, soalnya badannya berat." kata Mika yang sedari tadi menahan tubuh Dean yang jauh lebih besar darinya.
Dean langsung mengangkat tubuhnya dengan bantuan Rezka, lalu duduk di kursi yang tadi ia duduki. Sedangkan Mika berdiri di bantu oleh Allen yang menarik tangannya.
"Terimakasih karena sudah menyelamatkan nyawa adik saya." ucap Rezka dengan suara rendahnya, Mika merasa de Javu dengan suara itu.
"Iya sama-sama kak." Mika menepuk celana belakangnya membersihkan debu yang menempel.
"Ka, kita harus kembali kekamar sekarang. Baby sudah nungguin di kamar." ucap Rezka yang melihat pesan di ponselnya.
"Kalau gitu Mika balik kekamar dulu ya kak." ucap Mika.
Saat hendak meninggalkan tempat tersebut tangan Mika ditahan oleh Dean, Mika berbalik sambil tersenyum.
"Jangan pergi, abang mohon." lirih Dean.
"Nanti kita ketemu lagi di sini ya kak, sekarang Mika harus balik kekamar dulu."
"Ayo kak." Mika pergi setelah tangannya di lepaskan oleh Dean.
Dean menatap punggung Mika yang semakin menjauh, ia merasa lebih tenang meskipun masih merasakan kerinduan pada Anzel.
"Dia Anzel bang, Dean yakin dia Anzel." gumam Dean pada Rezka.
Pria matang itu menatap sendu adiknya, apa rasa penyesalan dan kerinduannya pada Anzel membuatnya beranggapan jika pemuda tadi adalah Anzel. Rezka tahu pasti, Anzel sudah tiada di tangan Gibran, papa mereka.
Sementara Mika berjalan dengan lunglai, matanya menatap kosong. Hati perih melihat keadaan anak yang selalu tersakiti olehnya seperti kehilangan semangat hidup.
Allen yang berjalan di belakang Mika hanya bisa menatap punggung yang biasanya tegap kini sedikit meluruh, hatinya bertanya-tanya tentang apa yang baru saja terjadi.
Apa Mika memang selalu peduli dengan orang-orang di sekitarnya, atau ada alasan lain di balik sikap baiknya pada pemuda itu.
Allen melihat Mika berjalan semakin menempel ketembok koridor rumah sakit, tiba-tiba saja tubuh Mika merosot. Allen segera menghampiri tubuh Mika.
__ADS_1
"Ka, Lo baik-baik aja kan." Allen memegang lengan Mika yang terduduk.
Lagi-lagi, Allen melihat Mika menangis. Tubuhnya refleks memeluk Mika, menenggelamkan kepalanya di dalam ceruk lehernya.
Mika terisak, Allen memilih diam membiarkan pemuda itu menangis dalam dekapannya walaupun ia juga penasaran dengan apa yang membuat Mika menangis. Mungkin nanti, ia akan bertanya di saat Mika sudah tenang
Allen memapah tubuh Mika hingga sampai dilantai dimana Mika dirawat, anak itu melepaskan pegangan yang diberikan oleh Allen. Sedikit merasa heran, Allen melihat Mika menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan perasaannya. Mika juga membersihkan sisa air matanya diwajahnya.
"Yang tadi anggap aja kak Allen gak liat apa-apa ya,?" Mika tersenyum kepadanya membuat Allen menatapnya heran.
Allen mengangguk, setelah ia mengerti maksud ucapan Mika. Sambil memasang wajah cerah seperti biasa, Mika memasuki kamar rawatnya diikuti Allen di belakangnya menatap dengan penuh kekhawatiran.
"Abang Mika dari mana, kenapa Jean datang gak ada di kamar?" cerocos Jean saat Mika masuk.
"Habis jalan-jalan sebentar sama kak Allen, soalnya bosen dikamar terus jadi pengen cepet pulang deh." ujar Mika tersenyum pada Jean.
Di belakang Jean ada Brian, Gallen, Vian, law dan Kahfi. Mereka duduk di sofa.
"Gimana kabar lo?, gara-gara Lo sekarang baby gak suka di manjain lagi." ucap Law pundung karena Jean tidak mau di perlakukan seperti dulu, bocah itu sudah tidak pernah bergantung lagi dengan abang-abangnya.
"Udah lebih baik, lah kan bagus kalau Jean sekarang mandiri. Mika jadi seneng dengernya." Mika memeluk tubuh Jean yang dibalasnya dengan semangat.
"Kak Randi juga di sini?" ucap Mika saat menemukan sosok yang selalu di temuinya di perpustakaan, ia baru saja keluar dari kamar mandi.
Mika langsung melepaskan pelukannya, ia menghampiri Randi meninggalkan Jean yang sepertinya merajuk.
"Kamu tidak datang ke perpustakaan dalam waktu lama, jadi aku khawatir dan bertanya pada Kahfi yang kebetulan satu kelas." kata Randi dengan lembut.
"Oh ya gw heran, Lo kok bisa kenal sama ketos sekolah kita?" tanya Kahfi yang sedang mengupas buah apel.
"Lah emang kak Randi itu ketua OSIS?" tanya balik Mika yang terkejut karena tidak mengetahuinya.
"Emang Lo kenal dia itu siapa?" timpal Law sambil memakan apel yang di kupas Kahfi.
"Oy, enak banget ya. Gw ngupasin bukan buat Lo."Kahfi menatap tajam pada Law yang hanya menampilkan cengirannya.
"Satu doang bro, pelit amat sih."
"Maaf ya kak, Mika gak tahu kalau kak Randi itu ketua OSIS." Mika menunduk, ia merasa tidak enak.
"Gak papa, kamu masih baru di sekolah jadi wajar kalau gak tahu." Randi menepuk pundak Mika.
"Abang," tengah Jean yang merasa tidak dipedulikan oleh Mika.
"Iya Je." Mika menoleh kearah Jean yang berdiri di belakangnya.
"Wajah dan mata abang kenapa, kayak habis nangis?" tanya Jean, membuat semua atensi tertuju pada Mika yang menatap terkejut pada Jean.
__ADS_1