
Jam istirahat sudah berbunyi, hampir semua murid di Atlanta high school sudah memenuhi penjuru kantin. Tapi hari ini Mika memutuskan pergi ke perpustakaan dulu sebelum pergi kekantin, ia ingin meminjam beberapa buku.
Mika berjalan di deretan rak yang berisi buku-buku, ia melihat dengan teliti setiap judul buku. Saat ini Mika berada dijejerkan rak buku mengenai pelajaran kimia dari kelas 10 hingga 12. Setelah berkeliling selama 5 menit, ia akhirnya menemukan buku yang ia cari, tapi sialnya buku itu berada dirak paling atas.
Mika berjinjit untuk mengambil buku tersebut, namun tetap tidak berhasil. Ia bahkan mengutuk tubuh pendek milik Mika, padahal dulu pas ia hidup sebagai Anzel tubuh sedikit lebih tinggi, hanya sedikit ya.
Mika menyerahkan, ia menengok ke kanan dan kiri untuk melihat siapa yang bisa ia mintai bantuan. Mika melihat seorang pemuda berdiri disudut rak buku, ia langsung menghampirinya.
"Permisi kak, boleh minta bantuannya gak?" ucap Mika sopan pada pemuda yang terlihat lebih dewasa darinya.
Pemuda tersebut hanya menatap datar pada Mika, ia lalu meletakkan buku yang sedang ia baca di rak tempatnya semula.
"Bantu apa?" singkat pemuda tersebut yang dibalas senyuman oleh Mika.
"Tolong ambilin buku diatas sana, soalnya gak nyampe kak." kata Mika terlihat menahan malu.
"Owh yang mana?" Mika langsung berjalan menuju tempat buku yang hendak ia ambil diikuti pemuda tersebut.
"Yang itu kak, judulnya teori Atom." tunjuk Mika.
Pemuda itu langsung mengambilkan buku bersampul biru tersebut dan menyerahkannya pada Mika.
"Makasih ya kak, oh ya kenalin saya Mika kalau kakak namanya siapa?" Mika mengulurkan tangannya pada pemuda didepannya yang dibalas oleh pemuda tersebut.
"Randi." ucap pemuda tersebut.
"Kalau gitu sekali lagi terimakasih ya kak Randi." kata Mika yang dibalas deheman oleh Randi.
"Saya duluan ya kak, sampai jumpa." Mika meninggalkan Randi yang masih terdiam sambil menatap punggung Mika.
Randi tersenyum tipis, sangat tipis hingga tidak ada seorangpun yang menyadarinya. Ia kemudian kembali mengambil buku yang tadi sempat ia baca.
° ° °
Mika berjalan menuju kantin setelah menyimpan buku yang ia pinjam dalam tasnya, ia berjalan sedikit cepat karena takut membuat Jean lama menunggu.
Namun saat Mika berada di perjalanan menuju kantin, ia melihat sebuah tontonan yang menarik.
Mika sedikit menarik tubuhnya untuk bersembunyi, ia ingin melihat terlebih dahulu sebelum memutuskan tindakan apa yang akan di ambil.
Mika melihat Jean tengah dirundung oleh 3 orang siswi, sepertinya mereka adalah kakak kelas Jean. Tidak ada yang menolong Jean, mereka sama seperti Mika yaitu hanya menonton.
__ADS_1
Rambut dan seragam atas milik Jean sudah basah karena tumpahan minuman, sepertinya adalah jus jeruk. Jean hanya menunduk sambil terisak, sementara ketiga siswi yang merundungnya tertawa terbahak-bahak.
"Coba Lo liat Cindy, tuh babi udah cosplay jadi mahluk lemah tersakiti. Hahahah." kata Niken sambil memegang perutnya yang sakit akibat tertawa.
"Nangis terooos, sampe mampus. Dasar babi yang bisanya nangis doang, terus ngadu deh sama abang-abangnya." Cindy menatap sinis pada Jean yang menangis.
"Salah Jean apa kak, kenapa kalian giniin Jean, hiks,, hiks." ucap Jean pelan disela tangisannya.
"Mau tahu salah Lo,.
Gara-gara Lo, tunangan gw jadi cuekin gw. Alvian lebih perhatian sama lo dibandingkan gw yang notabene adalah pacar sekaligus tunangannya." Radea Anastasya melipat tangannya didepan dada sambil menatap benci pada Jean yang terus menunduk sambil menangis.
"Ta,, tapi kan itu bukan salah Jean. Mungkin Abang Vian emang udah gak suka lagi sama kak Dea, makanya abang Vian cuekin kakak." Jean dengan berani membalas ucapan Dea.
"Eh dasar babi, Lo ya udah berani ngelunjak sama kita. Enaknya kita apain ya girls." Niken mendorong tubuh Jean dengan jari telunjuknya hingga tubuh kecil Jean mundur beberapa langkah.
Mika yang masih dalam persembunyian merasa sedikit jengah, ia harus membantu Jean walaupun sebenarnya sangat malas.
Mika berjalan perlahan setelah menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia menghampiri Jean dari samping.
Jean terlonjak terkejut karena tiba-tiba saja ada yang menjilat pipinya, ia menoleh kearah anak yang menjilatinya. Mata bungsu Lavande itu kembali berkaca-kaca.
"Abang Mika.." lirih Jean.
"Lo tau gak Jean, Lo itu udah manis terus sekarang disiram pake jus jeruk, Lo jadi tambah manis plus seger lagi." ucap Mika sambil menepuk kepala Jean, membuat sisa jus di rambut Jean menempel ditangannya.
"Beneran bang." Jean yang tadinya hendak menangis langsung menampilkan wajah berbinar.
Mika tersenyum lalu menjilati tangannya, terlihat jorok oleh ketiga gadis didepannya.
"Siapa Lo, jangan coba-coba ikut campur urusan kita ya!" Cindy berucap masih dengan tatapan aneh pada Mika.
"ishh, siapa yang mau ikut campur kak. Orang gw cuma mau nyamperin Jean trus pergi kekantin bareng kok, lagian kenapa Jean pake disiram pake jus segala sih kan mubadjir tuh jus jeruk." Mika sedikit mengangkat bahunya tanda tidak peduli.
"Sini gw bersihin dulu rambut Lo, kalau abang-abang Lo liat nanti pasti jadi perang lagi, males gw nontonnya." Mika menarik tangan Jean menuju toilet yang berada tidak jauh dari sana.
Ketiga gadis itu hanya bisa menatap heran tanpa berkata apa-apa, toh Mika memang sudah membawa Jean pergi dari hadapan mereka.
"Kelas yuk." ajak Niken yang diangguki keduanya.
"Ngomong-ngomong tuh anak siapa ya, kagak pernah liat gw?" ucap Cindy sambil berjalan.
__ADS_1
"Iya sama, gw juga gak tahu. Tapi kayaknya Jean deket banget sama dia. Oh ya terus masalah Alvian gimana, Lo gak papa kan kalo sampai mereka ngadu terus Alvian tambah marah sama lo." kata Niken sambil menatap khawatir pada gadis disebelahnya.
"Gak tau lah, gw gak peduli." ucap Dea sambil mengangkat bahu acuh.
Mika membersihkan sisa jus yang ada di rambut dan kerah seragam Jean dengan tisu dan sedikit air, ia menatap malas a pada bocah yang sedari tadi menatapnya penuh binar, jangan lupa senyuman yang terlihat mengerikan bagi Mika.
"Makasih ya bang." kata Jean.
"Iya." jawab Mika sambil terus membersihkan rambut Jean.
"Mereka siapa, kok bisa giniin Lo?" lanjut Mika yang beranjak untuk membuang tisu ketempat sampah.
"Oh,, mereka itu kak Cindy, kak Niken sama kak Dea. Kak Dea itu tunangannya Abang Vian, gak tau kenapa tadi kak Dea bilang kalau bang Vian cuek sama dia gara-gara Jean." ucap Jean sambil menampilkan wajah bingungnya.
Mika menghela nafas, sepertinya bocah didepannya tidak tahu situasi. Jean itu polos, namu kepolosannya sudah mendekati level bodoh sampai-sampai ia tidak bisa menilai ekspresi seseorang.
"Kira-kira kenapa ya bang, kak Dea sama teman-temannya marah sama Jean?" Jean memiringkan kepalanya sambil meletakkan jari telunjuk didagunya.
"Gak tahu dan gak usah dipikirin, nanti otak Lo berasap lagi." ketus Mika, bocah didepan memang selalu membuatnya menarik nafas dalam-dalam.
"Kantin yuk, udah laper gw." Mika beranjak meninggalkan toilet diikuti oleh Jean yang berjalan mengekorinya, persis anak bebek mengikuti induknya.
° ° °
Mika berjalan sambil menuntun sepedanya, langit terlihat berwarna sangat gelap meskipun kerlipan bintang terhampar menghiasinya.
Sambil menatap langit, ia tersenyum kecut. Mika merasakan lelah ditubuh dan jiwanya. Ia baru saja pulang bekerja di distro milik Bintang, ia ingin cepat pulang namun entah kenapa ia merasa malas untuk mengayuh sepedanya.
Mika berhenti disebuah taman yang terlihat sangat sepi, mungkin karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Mika memutuskan duduk di sebuah kursi taman, hembusan angin malam menyapu wajahnya.
Sambil menyenderkan tubuhnya, mika menutup kedua matanya. Mencoba merasakan ketenangan yang timbul karena suasana hening, pikiran Mika mulai melayang jauh.
Ia mengingatkan kembali kenangannya bersama kakak dan ayah angkatnya, tawa bahagia mereka meskipun diatas penderitaan seseorang.
Dean, satu nama yang terus membuatnya merasakan penyesalan. Mika sangat menyesal karena membuatnya hidup menderita, bahkan di akhir hidupnya ia tidak pernah mengucapkan maaf padanya.
"Gw harap lo hidup bahagia sekarang, gw minta maaf atas semua yang udah gw lakuin, gw bener-bener nyesel Dean." Mika menunduk, air matanya kini membasahi pipi berisi miliknya.
Mika menghapus air matanya kasar setelah menyadarkan dirinya, semua yang terjadi adalah takdir. Mika hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan keluarga angkatnya dulu.
Ia hanya harus menjadi orang yang lebih baik, karena kesempatan kedua yang tuhan berikan untuknya tidak boleh di sia-siakan lagi.
__ADS_1
Setelah mengumpulkan kembali semangatnya, Mika mengayuh sepedanya pulang menuju kontrakannya.