
Mika merasa aneh dengan tingkah Gallen yang terus menerus seperti meledek kakak kembarnya saat mereka tengah berkumpul berada di ruang keluarga.
Disana juga ada Brian, Aksan, Diana, Lina dan Jean yang tiduran di pangkuan Mika, minus para pria dewasa yang masih di kantor dan opa Oma yang sudah kembali ke Amerika tadi siang untuk mengurus pekerjaan mereka di negeri Paman Sam itu.
Sementara di kanan kirinya ada Allen dan Gallen, Mika melihat Gallen yang tersenyum sambil cengengesan dan Allen yang terlihat kesal dan terus menatap tajam pada adik kembarnya itu.
Sedangkan Brian lebih sibuk dengan ponselnya, dan kedua ibu negara yang terus tersenyum bahagia melihat Jean yang tengah serius menonton film bocah dengan kuasa elemental dipangkuan Mika.
"Abang liat deh, kuasa airnya bikin Boboiboy jadi tenang gitu kaya sikap abang sama Jean kalau lagi nangis." Jean menunjuk layar besar LED TV.
"Ah iya tah, perasaan gw gak kaya gitu kok. Lo terlalu berlebihan Je." ucap Mika sambil mengelus pipi lembut milik Jean yang seperti candu baginya sekarang.
"Ckikiki..." Cekikikan Gallen lagi-lagi mengganggu pendengaran Mika, ia menatap jengah pemuda yang duduk disebelah kanannya itu.
"Kak Gallen kenapa sih cekikikan mulu, ganggu tau." kata Mika.
"Gak ko Ka, cuma lagi inget hal lucu aja." kata Gallen yang membuat Jean bangun dari pangkuan Mika.
"Hal lucu apa bang, Jean juga pengen tahu?" tanya Jean yang terlihat penasaran.
"Mau tau atau mau tau banget?" canda Gallen yang kembali mendapat tatapan tajam dari Allen saat ia melihat kearah kakak kembarnya itu.
"Mau tau banget bang, cepetan kasih tahu Jean." Jean duduk diantara mika dan Gallen yang membuat Mika harus menggeser duduknya.
"Tadi sore abang habis liat orang bucin by, dia malu-malu gitu pas di senyumin sama seseorang. Pura-pura pasang wajah datar padahal hatinya dag-dig-dug gak karuan, sok jaim banget pokoknya lucu deh liatnya." jelas Gallen, Jean memiringkan kepalanya karena tidak mengerti dengan maksud ucapan Gallen.
"Bucin, bucin itu apa bang.?" tanya Jean pada Gallen penasaran dengan kata baru yang di sebutkan Gallen.
"Masa baby gak tau sih bucin itu apaan?" tanya balik Gallen yang di balas gelengan cepat oleh Jean.
"Jean emang gak tahu, bang Mika tau gak bucin itu apa?" Jean memasang wajah polosnya, ia menarik kain baju Mika.
"Jean mending liat filmnya aja deh." Mika menunjuk layar tv membuat Jean berbalik melihat kearah Gallen dengan rasa penasarannya.
"Abang Gallen, bucin itu apa.?" rengek Jean, membuat Mika menarik nafas karena melihat tatapan tajam Allen pada adik kembarnya.
"Itu loh by, bucin itu......"
__ADS_1
Bugh
Kalimat Gallen terpotong saat sebuah bantal melayang ke wajahnya, ia mendengus kesal saat tahu siapa pelakunya. Dia adalah Brian yang terlihat seperti ingin membuangnya ke samudra Atlantik, sebenarnya Mika bisa membungkam mulut Gallen tapi sepertinya Brian lebih cepat bertindak.
"Awas saja jika kamu mengotori otak polos adikku dengan kata-kata kotor dari mulutmu." Brian menatap dingin, Gallen tertunduk. Ia mungkin berani pada kakak kembarnya namun tidak pada Brian.
"Mommy sama Mama ke dapur dulu ya sayang, mau masak sebentar lagi kan makan malam." pamit Diana pada anak-anaknya.
"Iya, kalian lanjutin aja santainya." lanjut Lina.
"Mika boleh bantuin gak?" tanya Mika yang ikut berdiri saat melihat kedua ibu negara hendak meninggalkan rumah keluarga.
"Jean ikut juga ya.?" kata Jean.
"Jean sini aja ya, kalau Lo ikut kedapur yang ada masakannya gak bisa di makan. Kalau Jean nurut dan gak nakal, Mika buatin brownies coklat deh." ucap Mika yang membuat mata Jean berbinar.
"Iya deh Jean tetep di sini, tapi janji ya Abang buatin brownies coklatnya." kata Jean yang di angguki oleh Mika.
Mika sebenarnya hanya menjadikan alasan untuk kedapur agar bisa terbebas dari anak-anak macam yang terus melempar tatapan tajam dan Mika merasa tidak nyaman.
"Oh ya, tadi bang Gallen belum kasih tau Jean bucin itu apa?" pertanyaan Jean membuat Gallen gemetar.
"Itu loh by, bucin tuh bubur cina. Ah iya bubur cina, Abang Gallen kekamar dulu ya tadi lupa di kasih banyak pr sama guru." Gallen langsung pergi meninggalkan Jean yang terlihat semakin bingung.
"Bang Allen, apa hubungannya bubur cina sana hal lucu yang di ketawain bang Gallen sih.?" Jean kembali memiringkan kepalanya karena bingung.
"Udah gak usah di pikirin perkataan Gallen yang gak jelas itu, kasian otak di kepala kamu di paksa bekerja terlalu keras." Allen mengusak rambut Jean lalu bangkit dari pergi menuju kamarnya.
Meninggalkan Jean bersama abang tengahnya, Brian. Jean menatap sang kakak yang terlihat serius memainkan game di ponselnya, membuat Jean merasa penasaran game apa yang di mainkan abangnya sampai menampilkan wajah seriusnya.
"Abang main game apa sih?" duduk Jean berpindah, mendekati abang tengahnya.
"Owh ini, abang lagi main game Robbery Bob." Brian memperlihatkan gamenya pada Jean.
"Ih, abang kok main game maling sih. gak baik itu bang, nanti di tangkap polisi loh." cerocos Jean saat tahu game yang membuat Brian terlihat serius.
"Gak akan di tangkap kok, kan cuma game baby." Brian meletakkan ponselnya lalu mengacak-acak rambutnya adiknya, ia juga mencubit kedua pipi gembul milik Jean.
__ADS_1
"A,,bwang luwopas swakwit." ucap Jean saat Brian mengunyel-ngunyel pipi adik bungsunya itu.
° ° °
beberapa hari berlalu tanpa ada halang rintang yang menghalanginya kehidupan bahagia Mika bersama keluarga barunya, ia mulai merasa nyaman dengan perlakuan keluarga Lavande padanya.
Meskipun masih canggung, Mika sudah mulai terbiasa memanggil Diana dan Carolina dengan sebutan mommy dan mama. Begitupun dengan panggilan daddy dan papa pada Axio dan Dexter. Meskipun ia tetap memanggil kakak bukan abang pada abang-abang Jean.
Seperti saat ini, mereka sedang menikmati makan pagi bersama. Diana dan Lina melayani semua anggota keluarga Lavande dengan telaten, termasuk juga pada Mika.
"Mika mau makan pake apa sayang?" tanya Lina yang duduk di seberang Mika.
"Mau pake ikan aja mah." ucap Mika yang langsung diambilkan oleh Lina.
"Diminum ya susunya baby, sayang." Diana meletakkan segelas susu coklat di hadapan Jean dan Mika.
"Terimakasih mommy." jawab Jean dan Mika bersamaan dan di balas senyuman oleh Diana.
Hati Mika menghangatkan, perhatian dulu ia dapatkan dengan merebutnya dari orang lain kini ia dapatkan dengan secara cuma-cuma. Tidak ada lagi sandiwara untuk mendapatkan kasih sayang, tidak ada lagi menyakiti diri sendiri untuk mendapatkan sentuhan hangat dari orang lain.
Semuanya ia dapatkan dari ketulusannya untuk menyayangi permata mereka, walaupun Mika sadar kebahagiaannya ini mungkin tidak akan abadi. Semoga saja tidak ada diri yang akan membuatnya kembali merasakan sakitnya di hianati, karena Mika tidak ingin mati untuk kedua kalinya.
Setelah menyelesaikan makan paginya, mereka pergi untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.
Jean merengek agar di ijinkan satu mobil dengan Mika, bocah itu langsung melompat kegirangan saat di ijinkan oleh abang tengahnya.
Jalan cukup lancar saat Allen memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, mereka bertiga menikmati perjalanan menuju sekolah tempat untuk menimba ilmu.
Jean terus berceloteh riang, Mika yang sudah terbiasa kini menikmati sambil ikut menimpali ocehan bocah tersebut. Sedangkan Allen tetap serius mengemudi.
Namun ekspresi wajah Mika sedikit berubah saat tiba-tiba rasa sakit menghantam kepalanya, telinga bahkan terasa seperti berdengung.
Semua belum berakhir, bersiaplah. Hal yang menyakitkan mungkin akan segera menimpamu lagi.
Ciiit
Brak...
__ADS_1