Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
32. kepekaan Jean


__ADS_3

"Wajah sama mata abang kenapa, kaya habis nangis?." tanya Jean.


Mika merasa terkejut dengan pertanyaan Jean, atensi semua orang di sekitarnya juga tertuju padanya.


Sedangkan Allen hanya bisa menahan kata yang ingin ia ucapkan, ia hanya ingin tahu kenapa Mika bisa sesedih itu setelah bertemu pasien tadi.


"Owh, ini tadi kelilipan je, perih banget makanya sampai merah." Allen mendengar Mika mengucapkan alasan yang sama pada saat ia bertanya.


"Terus masih sakit gak bang." Jean mendekati, berjinjit untuk melihat keadaan iris mata Mika.


"Udah gak papa ko Je, tadi udah di bersihin di bantuin kak Allen." kata Mika yang menghentikan kegiatan pura-pura mengucek mata.


Sementara Allen yang berdiri di belakang Mika hanya bisa menghela nafasnya, karena untuk apa Mika selalu bersikap baik-baik saja di hadapan keluarganya.


Meninggalkan Mika dan keluarga Lavande, di kamar rawat Dean kini sudah tertidur dengan lelap. Pemuda itu juga terlihat lebih tenang, untuk sementara Rezka mungkin bisa bernafas sedikit lega.


Rezka duduk disamping brangkar adik bungsunya, ia mengingat kembali kejadian yang baru saja disaksikannya dimana pemuda yang pernah menyelamatkan nyawa adiknya bisa menenangkan Dean hanya dengan sebuah sentuhan dan senyuman.


Rezka juga mengingat kembali wajah pemuda lain yang berdiri di belakang Mika, kenapa ia terlihat mirip seperti dia. Meskipun garis wajahnya jauh berbeda, namun Rezka mengakui kemiripan pemuda itu dengan Anzel, pemuda yang sudah membuat keadaan adiknya seperti ini.


Di matanya, Anzel terlihat seperti bocah dengan wajah imut dan memiliki tatapan manja. Berbeda dengan pemuda itu, Allen memiliki garis wajah tegas dan dingin jauh dari kata imut, apalagi tatapan tajam Allen bisa membuat seseorang langsung menunduk takut.


Rezka berpikir mungkin ia harus menyelidiki tentang Mika dan pemuda yang bersamanya.


"Cepat sembuh ya dek, abang rindu tawa ceria kamu." lirih Rezka sambil mengelus lembut rambut milik Dean.


° ° °


Keesokan harinya, Mika sudah di ijinkan pulang nanti sore. Ia merasa sangat senang karena bisa terlepas dari rasa bosan, karena yang ia lakukan dirumah sakit itu hanya rebahan dan aslinya Mika itu gak pernah diem karena punya banyak kegiatan seperti kerja atau semacamnya.


Dan sekarang, Mika sedang duduk di kursi taman rumah sakit. Ia sudah duduk disana selama 1 jam, berharap bisa bertemu lagi dengan Dean. Ia hanya sendirian, karena Jean dan abangnya sedang sekolah, pria dewasa lagi kerja di kantor, sedang para perempuan memasak dan mempersiapkan kepulangan Mika.


Setelah menunggu cukup lama, Mika tersenyum saat melihat pemuda yang sedang di nantikan nya. Namun ia merasa sedikit terkejut dengan pria yang menemani Dean, dia bukan Rezka melainkan Gibran papa angkatnya dulu.

__ADS_1


Mika menarik nafas dalam-dalam, ia harus menyiapkan mentalnya. Toh mereka tidak akan menyadari kalau dirinya adalah Anzel karena sekarang ia hidup ditubuh Mika.


Dean berjalan semakin mendekat padanya, Mika tersenyum saat Dean menatapnya dengan binar. Sedikit lega karena Mika bisa melihat semangat hidup dimatanya.


"Anzel..." panggil Dean sambil berlari menghampiri Mika.


"Jangan berlari dek.." tegur Gibran.


Sedangkan Mika tengah menahan air matanya agar tidak keluar, Mika merindukan suara itu, suara tenang yang selalu menyapa dan menemaninya saat hidup sebagai Anzel.


Lagi-lagi Dean memeluk Mika secara mendadak, membuat mereka berdua terjatuh dengan posisi duduk. Mika meringis karena tubuhnya menjadi bantalan untuk Dean saat mereka jatuh.


"Adek gak papa?" Gibran menghampiri Dean, tercetak jelas rasa khawatirnya.


"aduh, kalau mau peluk bisa pelan-pelan gak. Ini udah kedua kalinya gw jadi bantalan Lo jatoh." cerocos Mika karena merasa sakit di bagian belakang tubuhnya.(kayaknya keceplosan pake bahasa gaul)


"Hehehe, maaf Dean seneng banget soalnya. Makanya jadi terlalu semangat." Gibran tertegun saat melihat tawa dari bibir anaknya yang setengah tahun telah menghilang.


"Iya, iya Mika ngerti. Sekarang bangun dulu ya, kan kemarin aku udah bilang badan kamu itu berat." kata Mika.


"Oh ya dari kemarin kita belum kenalan kan?" kata Mika yang canggung karena terus di perhatikan oleh Gibran.


"Dean udah tahu, kamu Anzel kan. Adek angkatnya abang sama papa." ucap Dean, berhasil membuat Gibran seperti ditusuk ribuan pedang.


Pria itu menatap nanar anaknya, bagaimana Dean bisa menganggap orang lain sebagai Anzel. Sementara Mika juga kembali menahan sesak di dada, membayangkan apa yang sudah terjadi pada pemuda yang selalu ia panggil abang padahal usianya lebih muda.


"Ye,, kamu salah. Nama aku tuh Mika bukan Anzel, terus aku itu cucu angkat nenek Renata Aileen. Jangan asal ngira ya? Makanya ayo kenalan biar kamu gak salah orang." kata Mika yang menutupi wajah sedihnya dengan senyuman.


"Tapi,,"


"Dia benar dek, dia bukan Anzel. Dia dan Anzel itu orang yang berbeda sayang." lirih Gibran memotong ucapan anaknya.


Air mata Dean mengalir, Mika bisa merasakan kesedihan di matanya. Mika menarik tubuh kurus Dean dalam pelukannya, mengelus lembut dan juga punggungnya.

__ADS_1


"Kakak jangan nangis terus, nanti sakitnya gak sembuh-sembuh. Kakak boleh kok anggap Mika sebagai adik, tapi Mika gak mungkin bisa ganti Anzel adik kakak ya." ucap lembut Mika.


Gibran menatap lega saat tubuh bergetar anaknya menghilang, ia juga melihat bagaimana Mika dengan lembut membersihkan sisa air mata dipipi anaknya.


"Nah sekarang, kasih tahu Mika. Nama kakak siapa?" Mika menatap wajah pemuda tersebut dengan senyum teduhnya.


"Dean, Aldean Shanon Aditama."


"Nama kakak bagus, akan lebih sesuai kalau wajah kak Dean gak sedih kaya gini." Mika membereskan rambut Dean, ia sedikit berjinjit karena tinggi badan Dean memang melebihi darinya.


"Duduk yuk kak, om juga duduk ya." Mika menggenggam tangan Dean lalu membawanya untuk duduk di kursinya taman yang tidak jauh dari mereka.


"Oh ya kak, sore nanti Mika sudah boleh keluar dari rumah sakit." kata Mika yang menatap kosong kearah didepan.


"Jadi kak Dean juga harus cepat sembuh ya, siapa tahu nanti kita ketemu lagi." lanjut Mika.


"Kak Dean tahu, masa lalu memang pengalaman yang memberikan kita pelajaran hidup tapi jangan jadikan masa lalu sebagai alasan untuk terpuruk. Hidup mati seseorang itu adalah takdir yang sudah di tentukan oleh tuhan, jadi kita tidak mungkin bisa mengelak." Mika menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.


"Jadi, kak Dean jangan pernah salahin diri sendiri atas kematian adik kakak. Karena mungkin aja saat ini Anzel lagi sedih karena melihat keadaan kak Dean yang seperti ini dari atas sana." lirih Mika.


Mika menoleh kesamping, menatap wajah Dean yang kembali berurai air mata. Ia masih menahan sakit di dadanya, sebesar apa dampak kematiannya pada Dean. Mika/Anzel semakin merasa menyesal karena membuat Dean menderita, padahal Dean lah yang sudah menyelamatkannya dari semua penderita yang dialaminya setelah kabur dari siksaan Dirham.


"Mika benar dek, kamu harus berhenti menyalahkan diri kamu sendiri. Kamu sudah buat papa, bang Rey dan bang Rezka sedih. Lihatlah, tubuh kamu saja jadi kurus begitu karena kamu menolak makan." Gibran memeluk tubuh anaknya dari belakang, mencium rambut sang anak.


"Sekarang kak Dean senyum ya, jangan nangis terus. Mika balik kekamar dulu ya, soalnya udah kelamaan di sini." Mika bangun dari duduknya, namun lagi-lagi tangannya dicekal oleh Dean.


"Apa kita bakal ketemu lagi." lirih Dean yang di balas senyuman oleh Mika.


"Kalau jodoh pasti bakal ketemu lagi kok kak, Mika pamit ya jangan lupa jaga kesehatan." Mika pergi meninggalkan Dean bersama papanya.


Mika bertahan untuk tidak menoleh lagi kebelakang, ia tidak mau Dean melihat pipinya yang basah karena air mata.


Mika pamit bukan karena ingin kembali kekamar, tapi lebih karena ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Hatinya sakit saat bertemu dengan keluarga angkatnya dulu, tapi tidak di pungkiri ia juga merasakan kerinduan yang mendalam. Ia ingin sekali merasakan pelukan hangat dari Gibran, meskipun ia mati di tangannya tapi Mika sangat mengerti alasan papa angkatnya mencabut nyawanya.

__ADS_1


"Dia Anzel pah, Dean bisa merasakannya. Meskipun wajahnya beda, tapi dia itu Anzel pah." ucap Dean saat ada dalam pelukan Gibran.


Sementara Gibran hanya bisa menenangkan anak bungsunya sambil menatap punggung Mika yang semakin menjauh dan menghilang dibalik tembok.


__ADS_2