
Di kediaman keluarga Lavande tengah sibuk karena akan kedatangan tamu istimewa, para maid sibuk mempersiapkan makanan dan tempat. Sedangkan pada bodyguard sudah siap sedia untuk menjaga keamanan mansion tersebut.
Jean keluar dari lift, pandangan sedikit heran dengan kesibukan para maid. Ia langsung mendudukkan tubuhnya dimeja makan, disana juga telah menunggu anggota keluarga Lavande.
"Pagi mommy, Daddy, Abang." sapa Jean dengan senyum mengembang.
"Pagi sayang/baby." jawab semuanya.
"Mau ada apa ya mom, kok pada sibuk sih?" tanya Jean saat Diana mengambil nasi goreng untuknya.
"Oma, opa dan papa mama kamu bakal datang hari ini sayang." ucap Diana.
"Jadi bersikap baik lah, jangan membuat masalah seperti dulu lagi." tegas Axio pada bungsunya yang terkenal selalu membuat masalah setiap keluarga besarnya datang dari Amerika.
Jean menatap malas daddy-nya, lalu mulai memasukkan sendok berisi nasi goreng kemulutnya.
"Tenang aja kok dad, Jean gak akan buat masalah karena kata abang Mika Jean harus jadi anak baik dan penurut." kata Jean.
Keluarga Lavande memang terbiasa makan sambil berbincang ringan, itu mereka lakukan untuk saling mendekatkan diri. Hanya saja makan bersama saja mereka berkumpul, karena biasanya mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Setelah selesai sarapan mereka melakukan aktivitas masing-masing, Axio dan Aksan pergi bekerja sedangkan Jean dan Brian sekolah.
_
Jean berjalan sambil melompat sesekali saat berada di lorong sekolah, ia juga bersenandung ria. Moodnya sedang sangat baik karena keluarga besarnya akan datang dari Amerika, Jean ingin segera memberitahu Mika serta mengenalkannya pada mereka.
Dugh
Jean jatuh dengan tidak elit, dengan bokong yang mencium lantai dengan keras. Abang-abangnya langsung panik menghampiri Jean yang masih dalam keadaan duduk.
"Baby baik-baik saja, ada yang sakit?" Kahfi duduk berjongkok sambil memeriksa tubuh Jean.
Sedangkan Vian menatap tajam pemuda yang menabrak Jean, ia juga masih dalam posisi duduk.
"Jean gak papa kok bang." Kahfi membantu Jean berdiri lalu memposisikan tubuh Jean dibelakang tubuhnya.
"Lo emang anak sial ya, masih pagi udah buat masalah aja." ucap Law yang berdiri disamping Kahfi.
"Ma,maaf." lirih Revan dengan suara bergetar akibat ketakutan.
Vian membantu Revan berdiri, anak itu tersenyum mendapati sang kakak mau membantunya. Namun semua pikirannya langsung salah saat Vian melayangkan tangan kekarnya pada pipih mulus milik Revan.
Revan yang tidak siap menerima tamparan tersebut tubuhnya kembali jatuh tersungkur, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Matanya berkaca-kaca, siap menumpahkan rasa sakit hatinya.
"Abang Vian." pekik Jean yang terkejut melihat perlakuan kasar Vian pada adiknya.
__ADS_1
Jean hendak menghampiri Revan, namun tubuhnya ditahan oleh Brian.
"Diam, biarkan dia menerima hukumannya karena sudah menyakiti kamu." ucap Brian dingin, sekarang mata Jean juga ikut berkaca-kaca.
"Tapi bang.." lirih Jean.
Vian terlihat belum puas, ia kembali menarik kerah seragam sekolahnya. Menatap nyalang sang adik, sedangkan Revan hanya menunduk sambil menahan isak tangisnya.
"Dasar sampah, sekolah ini gak pantes buat anak sial kaya Lo." kata Vian.
Vian dan Revan mulai menjadi tontonan bagi siswa siswi yang mulai berdatangan kesekolah. Namun dengan tidak berperasaan, Vian tetap melanjutkan aksinya untuk menyakiti Revan.
"Udah kak, Lo keterlaluan." Mika menahan tangan Vian yang hendak memukul wajah Revan untuk kesekian kalinya.
Vian terkejut, Jean dan para pawangnya juga ikut terkejut karena entah dari mana Mika datang. Mereka bahkan tidak menyadari keberadaan Mika sebelumnya.
"Lepas, Lo gak usah ikut campur." Emosi Vian memuncak, kini ia juga menatap Mika dengan kebencian.
"Gak, gw gak akan lepas kalau Lo masih mau lanjutin mukul Revan." Mika menarik tubuh Revan kebelakang, melindungi Revan dari amukan kakaknya.
"Gw mau kasih pelajaran tuh anak sialan, lepasin atau Lo bakal tau akibatnya." Vian mencoba menarik tangannya, namun Mika menahannya dengan kuat.
"Berhenti manggil adik Lo anak sial, gw emang gak tahu masalah Lo tapi gw paling benci sama sebutan itu." Mika melepas cengkramannya sambil melempar tangan Vian dengan kasar.
Dengan berani Mika membalas tatapan Vian, ia lalu mengedarkan pandangannya pada Jean yang sedang menangis serta abang-abang Jean yang seperti melindunginya.
Vian seperti melupakan kemarahannya pada Revan, kini ia justru seperti hendak menerkam Mika.
"Iya gw tahu, gw sekolah disini karena beasiswa dari orangtuanya Jean. Gw sadar diri kak, tapi gw gak suka liat Lo semena-mena sama Revan. Lo dan kalian semua bahkan seperti buta dan selalu menyalahkan Revan, kalian gak bisa bedain mana yang sengaja dan tidak disengaja. Revan itu gak sengaja nabrak Jean, dan gw liat itu dengan mata kepala gw sendiri." kata Mika sambil menunjuk Revan dan Jean bergantian.
"Jangan sok tahu, Lo gak tahu kan Revan itu cemburu sama baby makanya dia selalu coba buat nyakitin baby." ucap Law yang berada sedikit jauh dari posisi mika dan Vian.
"Wajar lah kalau Revan cemburu, gw juga bakal kaya gitu seandainya kakak gw sendiri lebih sayang dan perhatian sama orang lain dibandingkan adiknya sendiri. Tapi kalian gak bisa langsung nyalahin Revan dong." balas Mika, membuat Law terdiam.
"Lo emang ngelunjak ya." Vian mencengkram kerah seragam Mika, tangannya terkepal keatas.
"Apa, kak Vian mau mukul. Silahkan pukul, sampai kak Vian puas. Biar gw punya alasan untuk keluar dari sekolah ini, asal kalian tahu gw udah muak liat sikap egois kalian." Mika menatap Vian tajam, ia tidak takut pada Vian.
"Jangan bang Vian, jangan pukul bang Mika, Jean mohon, hiks,, hiks.." Jean lepas dari perlindungan Kahfi berlari kearah Mika lalu berdiri diantara Vian, lalu memeluk kakak dari Revan untuk menenangkan emosinya.
"Bang Mika juga jangan ngomong mau keluar dari sekolah ini, Jean mohon." Jean yang masih memeluk Vian menoleh kearah Mika.
Mika menarik nafas dalam-dalam, ia harus meredam emosinya segera mungkin. Karena wajah bocah didepannya membuatnya merasa tidak tega.
"Udah jangan nangis lagi, maafin ucapan Mika ya." Mika mengelus lembut rambut Jean.
__ADS_1
Jean melepas pelukannya pada Vian lalu beralih memeluk Mika yang langsung mengelus lembut punggungnya.
"Maafin gw juga kak kalo ucapan gw udah kasar, tapi semua itu jujur dari hati gw." Mika menatap Vian yang sudah tenang.
"Bisa lepas sekarang gak pelukan, soalnya ada hal yang perlu Mika lakuin?" Jean melepas pelukannya, ia tersenyum yang dibalas oleh Mika.
Mika menghampiri Revan yang sedang menangis, ia tidak melupakan bocah di belakangnya.
"Sakit banget ya." Mika menyentuh sudut bibir Revan, membuat anak itu meringis sakit.
"Gw anterin Revan ke UKS dulu Jean, Lo mending langsung masuk kelas aja. Nanti kita ketemu dikantin pas istirahat, ok." Mika mengacungkan jempolnya.
"Hemm." Jean mengangguk senang.
° ° °
Mika menempel kapan ya sudah di beri obat merah pada sudut bibirnya Revan, anak itu terlonjak sambil meringis.
"Terima kasih." ucap Revan pelan namun masih bisa didengar oleh Mika.
"Iya sama-sama, Lo gak papa kan?" Mika duduk didepan revan setelah membereskan kotak p3k lalu meletakkan kembali ditempatkan.
"Iya udah gak papa kok, ini cuma luka kecil." ucap Revan sambil memegang sudut bibirnya.
"Bukan luka itu yang gw maksud, tapi hati Lo." kata Mika membuat Revan sedikit terkejut.
"Sepengetahuan gw selama di sekolah ini, kak Vian selalu kasar sama lo. Gw gak maksud mau ikut campur, tapi saran gw mending lo nyerah deh cari perhatian dari dia." lanjut Mika.
"Dia itu kakak kandung gw, tapi kenapa bang Vian malah lebih sayang sama orang lain. Gw cuma pengen bang Vian ngakuin gw sebagai adiknya." Revan menunduk, air mata terlihat meluncur dikedua pipinya.
"Iya gw ngerti perasaan Lo, kan itu cuma saran aja. Lagian kasih sayang dan perhatian itu gak harus datang dari kakak atau keluarga kandung, kasih sayang juga bisa datang dari orang lain kalau kita mau terbuka untuk menerimanya.
Pengakuan kadang tidak berarti apa-apa jika tidak berasal dari hati. Dan dari penglihatan gw, kakak kelas yang suka belain Lo itu tulus sayang sama lo. Jadi buat apa Lo mengharapkan sesuatu yang mustahil jika yang lebih baik ada disekitar Lo." kata Mika sambil tersenyum, namun tersirat nada kesedihan dalam ucapannya.
"Jadi gw harus nyerah untuk dapat kasih sayang dari bang Vian?" tanya revan yang diangguki oleh Mika.
"Cari kebahagiaan Lo sendiri, gw yakin Lo pasti bisa bahagia kok tanpa kak Vian." Mika bangkit berjalan menuju pintu ruang UKS.
"Sekali lagi makasih ya, oh ya nama Lo siapa?"
"Nama gw Mika, kalau gitu gw kekelas dulu. Kalau masih sakit mending istirahat dulu disini ya." kata Mika.
Mika meninggalkan Revan diruang UKS, saat berjalan beberapa langkah Mika berpapasan dengan dua pemuda yang membela Revan saat di kantin waktu itu.
Mika menoleh sebentar, lalu melanjutkan langkahnya sambil tersenyum. Senyum getir yang ia paksakan, Mika merasa langkahnya sudah terlalu jauh, ia tidak seharusnya ikut campur dalam urusan orang lain.
__ADS_1
Mika masuk kedalam kelasnya dengan perasaan campur aduk, ia bahkan merasa sedikit takut dan malu jika harus bertemu dengan Vian. Ia menghembuskan nafas gusar sambil memandang jauh keluar jendela kelas, membuat beberapa murid dikelasnya menatapnya heran.