Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
10. Lapangan


__ADS_3

Tangan Mika ditarik seorang pemuda masuk kedalam bilik toilet paling pojok. Gio, melihat keluar bilik sebelum masuk lalu mengunci bilik toilet tersebut.


Ruang sempit itu berisi Mika dan Gio yang berdiri saling berhadapan. Mika menaikkan sebelah alisnya, ia merasa heran dengan sikap pemuda didepannya.


"Mau ngapain, disini sempit Gio engap pula." ujar Mika yang merasa tidak nyaman dengan posisi mereka, bisa-bisa mereka dianggap tidak normal jika ada yang melihat.


"Gw mau ngomong sama lo." mata Gio melotot, ia menatap tidak suka pada Mika.


"Kalau ngomong bisa gak jangan disini, gw gak mau kalau sampe ada gosip tentang gw dan Lo yang berduaan didalam toilet." Mika terlihat menghela nafasnya, baru saja ia keluar dari masalah kini malah datang masalah lain.


"Lo gak usah mikir sampai kesitu, gw cuma pengen tahu ngapain Lo ada disini, disekolah ini?" tanya Gio.


"Gw lagi ngamen, puas Lo." jawab Mika santai.


"Bukan itu maksud gw, jawab yang bener, dan lagi bagaimana Lo bisa deket sama si prince Jean.?" Gio yang kesal mencengkram kerah baju Mika.


"Kalau gw disini artinya gw lagi sekolah, kalau tentang kedekatan gw sama Jean itu cuma kebetulan ajah." Mika berkata apa adanya.


"Cih, Lo emang gak berubah ya. Dari dulu juga gw tahu lo itu suka manfaatin orang kaya supaya bisa hidup layak kan." sarkas Gio membuat Mika melepas paksa cengkraman Gio.


"Jaga omongan Lo ya Gio, karena gw gak pernah ngelakuin apa yang Lo bilang tadi. Gw tahu lo cemburu karena almarhum nenek Renata lebih sayang sama gw dibandingkan sama lo, tapi jangan pernah Lo bilang gw manfaatin orang karena gw gak pernah kayak gitu."Mika terlihat menahan emosinya, jujur ia sangat tidak terima dengan perkataan dari Gio.


"Lo gak usah pura-pura, gw tahu semua akal busuk Lo Mika. Lo itu cuma anak yang dibuang jadi gak usah sok deh disekolah ini." kata Gio.


Mika masih menahan emosinya, ia sangat ingin memukul pemuda didepannya. Mika menarik nafas, lalu kembali menatap gio dengan datar.


"Jaga omongan Lo ya Gio, kalau Lo gak punya bukti jangan asal nuduh dan lagi emang Lo gak khawatir nemuin gw secara langsung kaya gini?"  ucap Mika dingin.


"Maksud Lo?" Gio terlihat seperti orang bingung saat ini.


"Lo gak takut orang-orang curiga karena Lo nemuin gw kaya gini, Lo inget pas tadi perkenalan gw bilang nama gw Mikadeo bukan Mikadeo Aileen. orang-orang pasti akan curiga sama lo, dan kalau mereka tahu anak beasiswa yang miskin ini sodara Lo mereka pasti bakal jauhin Lo dan bergosip tentang Lo." Mika terlihat tersenyum sinis.


"Lo emang pengen gw hajar ya?" sarkas Gio, menarik kerah seragam Mika sambil mengepalkan tangannya.


Gio yang sudah siap melayangkan pukulannya akhirnya memilih mengurungkan niatnya melihat Mika yang terus menatap datar.


"Cih, gak ada gunanya gw ngomong sama lo." kata Gio sambil melepas kasar cengkramannya.


"Lagian siapa juga yang mau ngomong sama lo." ucap santai Mika sambil merapikan pakaiannya.


Melihat Gio yang hanya diam Mika menerobos keluar dari bilik toilet, ia merasa kesal pada perkataan Gio namun ia juga tidak ingin membuat masalah lagi.


"Bersikaplah seolah kita gak saling kenal, itu pun kalo Lo pengen hidup tenang disekolah ini." kata Gio dari dalam bilik toilet yang masih bisa didengar oleh Mika yang sudah pergi dari toilet.


Tanpa mereka berdua sadari, seorang pemuda mencuri dengar dari bilik toilet disampingnya. Ia bahkan merekam percakapan antara Mika dan Gio, pemuda tersebut menyimpan ponselnya sambil menampilkan senyum smirknya.


•••

__ADS_1


Bel tanda pulang sekolah berbunyi, Jean kembali datang kekelas Mika untuk menjemputnya pulang. Sebenarnya ia merasa tidak nyaman dengan tatapan penghuni kelasnya saat melihat Jean yang bergelayut padanya, jika bisa ia ingin melempar Jean kelautan dalam agar tidak menggangu hidupnya lagi.


"Kak Brian kita mau kemana?" tanya Mika yang sadar Brian mengendarai mobilnya bukan kearah kontrakannya.


"Kita main ketime zone dulu bang." bukannya Brian yang menjawab melainkan Jean.


"Aish, mau ngapain? Anterin gw pulang aja deh, gw harus berangkat ke distro kak Bintang soalnya." ucap Mika.


"Kita main dulu ya bang, Jean mohon." Jean mulai kembali bergelayut manja pada tangan Mika.


"Iya, lagian kita udah janji sama baby untuk menemaninya main." lanjut Law yang ikut satu mobil dengan Brian, ia bahkan meninggalkan motornya disekolah.


"Gw gak bisa Jean, gw harus kerja. Udah dua hari gw gak bantuin kak Bintang jagain distronya. Lagian kan bisa sama mereka." Mika mulai terlihat kesal.


"Tapi bang, Jean pengen di temenin bang Mika." Jean terlihat murung, matanya juga mulai berkaca-kaca.


"Ikut, tidak ada penolakan." singkat Brian, membuat Mika menarik nafasnya.


"Lain kali aja ya Jean, tapi gak hari ini. Gw janji nanti pasti temenin Lo main." Mika menepuk lembut kepalanya Jean, sepertinya itu mulai menjadi kebiasaan Mika untuk menenangkan Jean.


Dan terbukti, kini Jean sudah tenang. Ia menghapus air mata yang jatuh dipipinya. Jean menatap Mika dengan senyuman.


"Tapi bang Mika janji ya bakal nemenin Jean." Jean menerjang tubuh Mika untuk memeluk tubuhnya, mika membalas pelukan Jean dengan elusan lembut pada punggung bungsu Lavande itu.


Setelah meminta pada Jean, Brian akhirnya mengantarkan Mika ke kontrakannya. Kenapa tidak langsung menuju distro, itu karena Mika ingin mengganti seragamnya dan juga mengambil sepedanya.


Keesokan harinya, Jean tidak menjemput Mika atas permintaan abang kesayangannya itu.


Dengan setia Brian, Law, Kahfi dan Vian menemani baby mereka yang sedang menunggu kedatangan Mika didekat gerbang sekolah. Tentu saja mereka menjadi tontonan pada siswa siswi sekolah tersebut karena pesona yang mereka miliki. Para siswi banyak yang berbisik bahkan berteriak kepada mereka, meskipun mereka terus memasang wajah datarnya mereka.


"Baby mending kita masuk yuk, disini mulai panas nanti kamu kepanasan terus demam gimana." bujuk Kahfi.


"Gak bang Kahfi, Jean mau tunggu bang Mika dulu baru masuk. Bang Mika kok belum datang juga ya?" Jean mulai menggigit kuku tangannya karena mulai merasa cemas.


"Jangan digigitin by." Vian menahan tangan Jean, mencegah adik kesayangannya melakukan kebiasaannya itu.


Tidak lama kemudian Mika mulai terlihat tenang mengayuh sepedanya, Jean yang menyadari kedatangan Mika langsung merasa sangat senang.


"Bang Mika kenapa lama?" Jean mengerucutkan bibirnya saat Mika berhenti didepannya.


"Iya maaf, udah jangan cemberut kaya gitu, kelihatan jelek tahu." Mika terlihat sedikit menahan tawanya, Jean memang terlihat lucu dan menggemaskan menurut semua abangnya, tapi tidak untuk Mika.


"Yuk masuk bang." ajak Jean yang diangguki oleh Mika.


Setelah memarkirkan sepedanya, mika berjalan masuk kedalam gedung sekolahnya bersama Jean dan para pawangnya. Lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian semua orang.


Sebelum masuk kekelas masing-masing, mereka akhirnya mengantarkan Mika lebih dulu atas keinginan baby kesayangan mereka. Kelas Mika memang yang paling dekat karena kelas 10 berada dilantai 1, sedangkan Jean, Kahfi dan law berada dikelas yang sama yaitu kelas 11 IPS 1, lalu Brian dan Vian di kelas 12 MIPA 1.

__ADS_1


Meskipun usia Mika lebih muda dari Jean, tapi Jean tetap memanggilnya abang dan semua Abang Jean juga tidak ada yang keberatan dengan panggilan baby mereka pada Mika.


Saat ini kelas Mika akan belajar olahraga, para siswi sudah mengganti pakaian mereka dengan baju olahraga raga. Tetapi para siswa tidak mengganti pakaian mereka dan hal itu membuat Mika merasa aneh.


"Kok kalian gak ganti baju sih?" tanya Mika pada Dion sang ketua kelas yang duduk didepan meja Mika.


"Ngapain, lagian walaupun ganti baju tetep gak bisa pake lapangan buat olahraga kok." ucap Dion sinis.


"Lah kenapa, itu anak cewek udah pada kelapangan. Emang lapangannya kenapa gitu?" tanya Mika sambil memegang dagunya.


"Jam olahraga kita samaan sama kelas 12 IPS 2, tuh kakak kelas gak kasih ijin buat kita pake lapangan. Kalau anak cewek mereka kelapangan juga buat liatin pesona tuh kakel, bukan buat olahraga." jelas Arga, teman Dion.


"Oh, ya udah deh gw duluan kelapangan." ucap Mika seraya meninggalkan kelasnya.


Sesampainya di lapangan, Mika melihat siswi-siswi kelasnya sedang menonton kakak kelas yang dimaksud Arga tengah bermain basket.


Setelah mengumpulkan keberaniannya, Mika berjalan menghampiri mereka.


"Maaf kak, boleh minta waktunya sebentar gak?" tanya Mika dengan sopan pada salah satu kakak kelas perempuan yang berdiri disamping lapangan basket.


"Eh, boleh kok. Lo ada perlu apa ya?" ucap Andin.


"Boleh minta ijin buat kelas saya make lapangan olahraga gak kak, soalnya sekarang kelas saya giliran mata pelajaran olahraga kak." Mika berkata sesopan mungkin, tapi Andin malah terlihat tersenyum sinis.


"Lo dari kelas 10.3 kan?"


"Iya kak."


"Gak boleh, kalian kan udah setuju untuk tidak menggunakan lapangan olahraga raga lagi. Kenapa sekarang minta ijin,? tanya Bella, teman Andin.


"Maaf kak Andin, dia anak baru dikelas kita. Makanya dia gak tau kalau kelas kita gak boleh pake lapangan." jelas Desti, siswi yang satu kelas dengan Mika, dia berdiri tidak jauh dari Andin dan Bella.


"Oh anak baru, Lo pengen bisa pake lapangan ini?" tanya Andin dengan tatapan aneh.


Mika hanya mengangguk, ia seperti merasakan firasat buruk dari tatapan kakak kelasnya itu.


"WOY JIMI, ADA ADIK KELAS YANG MAU NANTANGIN LO NIH."teriak Andin pada Jimi yang menghentikan permainannya.


"Tapi kak..." ucap Mika yang dipotong oleh Bella.


"Katanya Lo pengen pake lapangan, ya caranya Lo harus menang dari Jimi." ucap Bella yang berdiri sambil melipat kedua tangannya.


"Ada apa nih, siapa yang mau nantangin gw?" kata Jimi saat menghampiri Andin.


"Nih bocah, dia pengen pake lapangan katanya." Andin menunjukan Mika.


Jimi memandangi Mika dari bawah sampai atas dengan tatapan menyelidik dan terkesan meremahkan, Mika sempat salting namun kemudian ia bersikap biasa saja.

__ADS_1


Entah dari mana datangnya keberanian Mika saat ini, toh ia sudah biasa dengan berbagai jenis tatapan merendahkan,menghina dan mengintimidasi seperti itu.


__ADS_2