Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
Kekhwatiran Mika


__ADS_3

Reinhard terus memikirkan hubungan anak yang menolongnya dengan sang pujaan hati saat masih duduk di sekolah menengah itu. Ia berpikir untuk mencari tahu lebih dalam mengenai anak bernama Mikadeo Aileen itu, sekaligus menyelidiki kehidupan neneknya yaitu Renata Aileen.


Beberapa hari kemudian, Reinhard mulai mengikuti Mika tanpa sepengetahuan anak itu. Ia sudah mendapatkan informasi mengenai kematian Renata dan juga penyebabnya, karena merasa ada yang ganjil dengan kecelakaan yang dialami Renata bersama Mika, ia juga menyelidikinya kembali dan mendapatkan kenyataan jika kecelakaan itu adalah rekayasa dari musuh bisnis keluarga Aileen.


Reinhard juga mendapat informasi jika Mika di usir oleh anak satu-satunya Renata, yaitu Wiratama yang mengusir Mika tanpa memberinya uang sepeserpun. Mika hidup dalam kesulitan, apalagi semenjak ia mulai mendapatkan bully atau tindakan kekerasan dari orang di sekitarnya.


Selama mengikuti Mika beberapa hari ini, Reinhard mulai menyadari jika Mika memiliki dua kepribadian. Satu sisi Mika selalu bersikap ramah, baik dan tentunya lemah karena hanya bisa diam dan menangis saat di bully. Namun saat Mika mengalami kekerasan fisik secara berlebihan, sifat satunya akan muncul yaitu kejam, sadis dan seperti spikopat.


Hingga Reinhard sering menemui Mika saat alter egonya itu muncul dan memperkenalkan dirinya sebagai Xaniel, Reinhard menawarkan bantuan sebagai ganti dari ucapan terimakasih karena sudah menolongnya. Xaniel tentang saja menerimanya dan meminta Reinhard membantu Mika saat ia tertidur didalam tubuh Mika.


Reinhard yang sudah menganggap Mika atau Xaniel sebagai cucunya sendiri, ia berusaha memenuhi setiap permintaannya walaupun itu adalah hal keji dan kejam. Karena Xaniel selalu meminta Reinhard untuk membersihkan sisa kekejamannya.


Reinhard juga mengenalkan Xaniel pada David dan putranya yang tidak sengaja bisa satu sekolah dengannya, Mika tidak mengenali mereka karena Xaniel tidak pernah memberikan ingatannya saat jiwa itu mengambil alih tubuhnya.


flashback end


Mobil yang dikendarai oleh Allen akhirnya sampai di mansion, Mika dan Jean turun. Mika melihat sebuah mobil terparkir di dekat gerbang, membuatnya harus menyiapkan mental karena akan bertemu dengan orang yang sangat ingin di lupakan olehnya.


"Abang Mika kenapa?" Jean melihat Mika menghela nafasnya.


"Gak kenapa-napa kok Je." ucap pelan Mika.


"Ya udah ayo masuk, Jean udah laper banget soalnya." kata Jean yang langsung masuk kedalam mansion meninggalkan Mika yang masih menatap mobil itu.


Allen yang baru saja keluar dari mobil langsung memperhatikan Mika, ia melihat kegusaran di wajah adik angkatnya itu. Allen jelas tahu apa yang sudah membuat Mika terlihat tidak nyaman, ia menghampiri tubuh pemuda itu lalu menepuk pundaknya.


"Jangan terlalu keras untuk berpikir, biarkan para dewasa keluarga ini yang menyelesaikan masalah kamu dek." Allen merangkul tubuh Mika, ia juga mengelus lengan pemuda tersebut agar lebih tenang.


"Makasih ya kak." ucap lembut Mika, ia memaksakan senyumannya pada Allen.


"Gak usah di paksain, kakak tahu beban hidup kamu itu berat. Kalau senyuman itu cuma nambahin beban mending gak usah. Ayo masuk."

__ADS_1


Allen masuk kedalam mansion dengan menggandeng tangan Mika, ia baru sadar jika tangan pemuda itu sangat kecil dibandingkan tangannya.


"Kak kalau seandainya Mika udah bohongin kalian semua, apa kalian akan maafin gw." kata Mika pelan, membuat Allen menghentikan langkahnya.


"Tergantung, jika kebohongan itu untuk kebaikan semuanya mungkin gw bakal maafin Lo. Dan mungkin yang lain juga akan melakukan hal yang sama kaya gw."


Jawaban Allen membuat Mika sedikit lebih tenang, jika itu memang yang terbaik Mika mungkin akan memilih tidak mengatakan apapun mengenai masa lalunya. Ia akan menganggap Anzel sudah mati dan tidak akan peduli dengan tindakan keluarga Lavande pada keluarga Dean saat mereka mengetahui kenyataan tentang kematian Anzel.


Mika dan Allen akhirnya sampai di ruang keluarga, mereka langsung disambut oleh Lina yang langsung memeluk tubuh Mika. Mika hanya diam, ia masih merasa bingung dengan pelukan mama angkatnya itu apalagi Lina juga sampai menangis.


Mika mengedarkan pandangannya, ia melihat Reyhan dan Rezka duduk diantara kepala keluarga Lavande. Ia kembali memperhatikan Lina, Mika mengelus punggung mamanya dengan lembut.


"Sebenarnya ada apa ya mah, kenapa nangis?" tanya Mika yang masih kebingungan.


"Maafin mama ya nak, mama terlalu terbawa suasana setelah mendengar cerita dari nak Reyhan dan Rezka. Mama gak nyangka kalau kamu harus menderita karena perbuatan adik mereka." Lina melepaskan pelukannya, memegang wajah Mika sambil menatap sendu.


"Mika gak papa kok, lagian Dean juga terlalu sedih karena kehilangan seseorang di hidupnya. Jadi Mika memaklumi perbuatan Dean dan juga sudah memaafkannya." kata Mika.


"Udah mah jangan nangis terus, Mika bilang dia gak papa jadi mama gak usah lebay kaya gitu." ketus Allen yang mendapat tatapan tajam dari Mika.


"Kak Allen jangan ngomong begitu sama mama, gak sopan." ucap Mika yang hanya di balas helaan nafas dari Allen.


"Mika kekamar dulu ya mah, mau bersih-bersih dulu soalnya tadi habis dari makam." pamit Mika yang langsung berjalan menuju tangga.


"Kenapa lewat tangga nak, kan ada lift?" tanya Dexter yang duduk di sofa.


"Mau lewat tangga aja pah, sekalian olahraga biar badan Mika lebih sehat." Mika menghentikan langkahnya, menatap Dexter dengan senyum teduhnya.


Reyhan dan Rezka di buat tertegun dengan senyuman tipis yang di buat bibir Mika, seperti merasa de Javu dengan senyuman yang dulu sering menemani mereka, senyuman Anzel. Sedangkan yang lain hanya membalas dengan senyuman, karena mereka sungguh menyukai lengkung bibir yang bisa menenangkan hati mereka itu.


Hingga akhirnya punggung kecilnya Mika menghilangkan, mereka kembali memasang wajah serius terutama Dexter yang terlihat seperti ingin memakan hidup-hidup kedua pemuda di hadapannya.

__ADS_1


Tujuan Reyhan dan Rezka mendatangi mansion keluarga Lavande adalah untuk meminta maaf untuk semua hal but yang adik mereka lakukan, terutama Rezka yang sempat memukul Mika merasa sangat menyesali perbuatannya.


Melihat niat tulus keduanya, Axio selaku penengah terus mengingatkan adik iparnya untuk bersikap rendah hati. Sebagai orang yang lebih dewasa mereka harus bersikap bijak dan tidak terbawa emosi, walaupun sebenarnya Axio juga kesal karena Dean juga pernah menyeret Jean dalam rencana jahatnya.


Setelah mendengarkan cerita dan penjelasan dari kedua kakak beradik ini, mereka sedikit merasa prihatin juga dengan Dean yang sampai mengalami gangguan mental hanya karena rasa dendamnya. Mereka tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Dean, apalagi mereka sebenarnya tahu jika kakak dan ayah bocah tersebut yang sudah menghabisi nyawa anak bernama Anzel.


Untuk saat ini keluarga Lavande memang belum mengetahui jika Anzel itu adalah Khallen, anak bungsu Dexter dan Lina karena mereka belum mendapatkan informasi lebih lanjut dari orang yang mencari identitas Anzel.


"Sekali lagi kami benar-benar minta maaf untuk kesalahan yang adik kami buat, saya akan memberinya hukuman dan akan membawanya pada psikiater. Dan jika itu belum cukup, saya akan membawanya keluar negeri." ucap Rezka dengan penuh penyesalan.


"Kami sudah paham dengan situasinya, berhentilah meminta maaf seperti itu. Di sini yang salah adalah adik kamu, jadi masalah hukuman itu menjadi tanggung jawab kalian sebagai keluarganya." kata Axio.


"


Tapi jika adik kalian atau salah satu dari keluarga kalian berani menyentuh keluarga kami, jangan harap kalian bisa bernafas dengan bebas karena kami tidak akan mengampuni siapapun yang menyakiti anggota keluarga kami." tegas Dexter yang membuat Reyhan dan Rezka kembali menunduk.


"Sudah-sudah, masalah ini jangan dibuat terlalu berat. Kita hanya perlu mengawasi anak-anak saja, karena bagaimanapun masalah ini adalah masalah anak-anak kita." timpal Diana yang diangguki oleh semuanya.


"Bagaimana kalau sebelum pulang kalian makan malam bersama kami dulu?" ucap Lina yang berjalan dari arah ruang makan, ia habis mengecek makan malam keluarga itu.


"Mungkin tidak usah Tante terimakasih, kami akan langsung pulang saja." tolak Reyhan.


"Makan dulu, karena kami tidak menerima penolakan nak." kata Diana tegas walaupun sambil tersenyum.


Sementara Mika yang baru saja selesai mandi sedang duduk di balkon kamarnya, ia duduk di kursi belajarnya yang sengaja ia seret. Matanya menatap langit malam yang mulai di hiasi bintang-bintang.


Tiba-tiba saja pandangannya terhalang oleh wajah kakak kembarnya, ia adalah Gallen yang memeluk tubuh Mika dari belakang. Senyuman nampak indah di wajahnya, wajah yang entah kenapa tidak serupa dengan wajah saat hidup sebagai Anzel, mungkin karena semua sel dominan di miliki kedua kakak kembarnya itu.


"Jangan di lepas dek, biarin kak Gallen peluk kamu sebentar lagi." bisik Gallen yang lalu menempelkan wajah di pipi Mika.


Sementara Mika memilih diam, ia hanya mengangguk pelan menjawab perkataan kakak angkatnya itu. Mika merasa nyaman dengan pelukan Gallen, hatinya terasa menghangat.

__ADS_1


"Gw tahu kehidupan berat yang udah Lo  jalani selama ini dek, juga perlu tahu saat Lo merasa lelah ada kami yang akan selalu ngedukung dan jadi sandaran Lo. Jadi jangan sungkan untuk berbagi segalanya ya dek, karena kami juga akan membagi kebahagiaan kami untukmu." ucap Gallen yang membuat Mika meneteskan air matanya.


__ADS_2