Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
6. Jean sakit


__ADS_3

Sore hari di dalam mansion milik keluarga Lavande, seluruh penghuninya tengah sibuk dan panik karena anak bungsu mereka mendadak terkena demam.


"Baby makan dulu ya, habis itu minum obat?" Diana mengelus punggung Jean yang sedang di peluk olehsi sulung Aksan.


"Hiks,,hiks.. Mau bang Mika, hiks,, huwaaa." tangis Jean pecah membuat semua menjadi kalang kabut.


Wajah pucat dengan hidung dan mata yang sudah memerah, nafas Jean juga mulai naik turun akibat sesak.


"Baby jangan nangis, cup cup cup." Brian mengambil alih Jean lalu menggendongnya seperti sedang menimang bayi.


Jean menyusupkan wajahnya di dada abang keduanya, Jean mengeratkan pelukannya sambil menikmati harum tubuh sang kakak yang menenangkan.


"Jean, pengen bang Mika bang." lirih Jean yang masih sesenggukan.


Saat mereka bertiga terus mencoba menenangkan Jean, sang kepala keluarga datang dengan wajah khawatir. Apalagi ia mendengar kabar jika bungsu kesayangannya terkena demam, padahal tadi pagi ia masih terlihat baik-baik saja.


"Ada apa ini mom, Aksan bilang baby demam." Axio masuk kedalam kamar Jean lalu menatap anak dan istrinya bergantian.


Atensinya tertuju pada si bungsu yang masih digendong oleh Brian, Jean menyadari kedatangannya daddy-nya langsung merentangkan tangannya meminta untuk digendong.


"Ada apa baby, mana yang sakit hemm?" Axio menggendong Jean ala koala.


"Je,an pengen banget Mika.. huwaaa.." seketika mereka langsung memegang kedua telinga saat tangis Jean kembali pecah.


Axio bisa merasakan panas ditubuh anak bungsunya, ia mengelus punggung Jean dengan lembut guna memenangkan tangisannya.


"Pengen ketemu Mika, hemm?" tanya Axio yang langsung diangguki oleh si bungsu.


"Aksan kamu jemput Mika sekarang dan bawa dia kemari, mungkin saat ini dia sedang bekerja di distro. Minta alamat distro tersebut pada Riko.!" Aksan mengangguk setelah mendengar perintah sang kepala keluarga.


"Gw ikut bang." Brian menyusul langkah Aksan yang sudah pergi meninggalkan kamar Jean.


"Baby jangan nangis lagi ya, abang kamu mau jemput Mika sekarang." Jean mengeratkan pelukannya saat mendengar perkataan Axio, sedangkan Diana terus mengelus punggung putranya sambil tersenyum kearah suaminya.


_ _


Mika mengayuh sepedanya saat langit sudah menghitam, melewati jalanan yang masih cukup ramai.


Ia melihat jam tangannya yang masih menunjukan pukul 7 malam, dan belum waktunya ia pulang bekerja. Tetapi Bintang melarangnya bekerja setelah lukanya diobati oleh Risa, pacar sekaligus calon istri Bintang.


Saat ini ia hanya ingin cepat sampai kontrakannya untuk melepaskan lelah ditubuhnya. Tidak seperti anak-anak lain seusianya yang nongkrong di cafe atau tempat lainnya, Mika lebih senang diam sendirian didalam kontrakannya. Ia akan merenungkan hari-hari yang ia lalui sambil memikirkan jalan hidup kedepannya, Mika tidak ingin hidupnya berjalan seperti saat menjadi Anzel.


Mika sampai didepan bangunan kontrakan dua lantai, ia sendiri tinggal dilantai dua bagian pojok. Mika memarkirkan sepedanya, lalu berjalan menuju tangga dibagian samping kontrakan.


Saat baru melangkah pada anak tangga kelima, tangannya ditahan seseorang. Mika terkejut, langsung menghempaskan tangan yang menurutnya sangat besar itu lalu berbalik untuk melihat orang dibelakangnya.

__ADS_1


"Kamu harus ikut saya sekarang." Suara berat dan dingin mendominasi pendengaran Mika saat itu, Aksan


"Gak." ucap singkat Mika lalu melanjutkan langkahnya.


"Lo harus bertanggung jawab sama adek gw." Mika memutar bola matanya malas, lalu kembali membalikkan tubuhnya. Ia melihat pemuda yang lebih muda berdiri dibelakang Aksan.


"Perasaan gw gak pernah hamilin anak orang, terus ngapain gw harus tanggung jawab." Mika menghela nafasnya, ia benar-benar merasa lelah.


"Lo salah paham, maksud gw Lo  harus tanggung jawab pada adik kami Jean." Mika menaikkan sebelah alisnya saat mendengar perkataan Brian.


"Baby sakit dan dia terus memanggil nama kamu, jadi kamu harus ikut dengan kami sekarang ke mansion." Jelas Aksan.


"Kalau sakit mending panggil dokter atau bawa kerumah sakit, bukannya malah nyari gw." Mika mulai jengah menghadapi kedua orang didepannya.


"Tapi baby hanya ingin kamu, bahkan baby menangis sambil memanggil nama kamu. Jadi kamu ikut saya dengan suka rela atau saya paksa." Aksan mengeluarkan aura dinginnya, membuat Mika merasa merinding.


"Iya, iya, gw ikut. Tapi gw ganti baju dulu, kalian tunggu aja di bawah." Mika meninggalkan Aksan dan Brian menuju kamarnya untuk mengganti seragam sekolah dengan kaos hitam dan celana jeans senada, ia juga membawa Hoodie berwarna biru tua.


Didalam perjalanan menuju mansion hanya keheningan yang ada, tidak ada yang membuka suara untuk memulai obrolan. Mika menghela nafasnya, ia seperti berada ditengah-tengah manusia kutub. Sesekali ia melirik kearah Aksan yang sibuk menyetir dan Brian yang sedang asik memainkan ponselnya. Bosan, itu yang ia rasakan saat ini hingga mereka sampai didepan pintu gerbang mansion.


Mika turun dari mobil setelah melihat Aksan dan Brian turun lebih dulu, ia berjalan di belakang mereka memasuki mansion keluarga Jean.


'hmm, ternyata dalamnya yang beda jauh sama punya papa Anzel dulu.' batin Mika saat berada didalam mansion.


"Kenapa kalian lama sekali sih nak,.


Mika hanya mengangguk sambil tersenyum pada wanita yang ia perkirakan adalah ibu dari kedua orang didepannya, wanita tersebut menarik tangan Mika membawanya menuju lift lalu naik kelantai 3 mansion tersebut.


"Aduh maaf Tante jangan ditarik begini tangan saya." Mika merasakan sakit di pergelangan tangannya akhirnya angkat bicara.


Wanita tersebut menghentikan langkahnya, ia menatap tajam kearah Mika yang langsung menundukkan kepalanya. Seperti di tatap Malaikat maut pikir Mika saat ini.


"Ah, maaf. Sepertinya saya jadi panik karena terlalu khawatir pada baby." Diana melepas cengkramannya.


Mika menghela nafasnya, ia memegangi pergelangan tangan kanannya yang terlihat memerah.  Bagaimana bisa seorang wanita paruh baya memiliki cengkraman sekuat itu.


"Iya gak papa tante, terus Jean nya mana? Soalnya kata mereka berdua, Jean pengen ketemu saya." Mika mencoba bicara sesopan mungkin pada wanita dihadapannya.


"Kamu ikut saya sekarang." Diana kembali melanjutkan langkahnya, hingga ia berdiri didepan sebuah kamar.


"Kenapa lama sekali mom, tanganku sudah seperti mau patah karena terlalu lama menggendong baby." kata pria paruh baya saat melihat Diana masuk kedalam kamar.


Mika mengernyitkan dahi, ia masih ingat wajah pria tersebut. Dia adalah tuan Axio yang beberapa hari lalu menemuinya saat sedang bekerja.


Mika juga melihat seseorang sedang merintih dalam gendongan Axio, kemudian Diana berjalan mendekati suaminya sambil mengelus punggung anak di gendongan Axio.

__ADS_1


"Baby, Mika sudah ada disini nak." bisik Diana.


Jean langsung mengangkat kepalanya yang sangat terasa pusing itu, lalu melihat kearah Mika. Tangisnya pecah, Jean juga merentangkan tangannya pada Mika, minta digendong mungkin. Tapi kan badan Mika gak beda jauh dari Jean, jadi Mika gak mau lah


Mika melihat miris pada Jean, wajahnya sudah sangat pucat dengan hidung dan mata yang sudah memerah. Entah sudah berapa lama Jean menangis pikir Mika saat itu.


"Jean kenapa, sakit ya?" Mika menghampiri Jean lalu menyentuh keningnya, sangat panas.


"Jean sudah minum obat, Tante? Diana menggelengkan kepalanya, tatapan juga berubah menjadi sendu.


"Jean mending dibaringkan diatas kasur deh om, kasian pasti badannya sakit." ucap Mika.


"Baby tidak mau." jawab singkat Axio.


Mika menghela nafasnya lagi, ia melihat Jean kembali memeluk Axio. Mungkin karena Mika tidak menanggapi Jean yang ingin digendong olehnya. Sedangkan didepan pintu kamar Jean, kedua kakaknya hanya berdiri melihat kearah adiknya.


"Jean tiduran dulu ya dikasur, kasian papa kamu pasti pegel dari tadi gendong kamu.?" Mika mengelus rambut belakang Jean, ia langsung mengalihkan pandangannya saat melihat axio menatapnya tajam.


Jean bereaksi, ia mengangguk. Dengan hati-hati, Axio membaringkan tubuh anak bungsunya.


"Jean udah makan sama minum obat?" tanya Mika yang duduk disamping Jean. Sedangkan Jean hanya menggeleng kepalanya pelan


"Kalau gitu Jean makan dulu ya, habis itu minum obat. Mika suapin mau?" tanya Mika yang melihat semangkok bubur yang diletakkan di atas nakas.


"Gak mau bubur." lirih Jean.


"Terus Jean mau makan apa?" lanjut Mika, ia sebenarnya ingin cepat pulang dari kandang singa ini.


"Nasi goreng buatan bang Mika, Jean pengen makan itu." kata Jean.


Semua orang yang berada didalam kamar Jean langsung menatap Mika, sedangkan yang ditatap tidak henti-hentinya beristighfar. Bisa mati kutu, jika mereka terus menatap Mika seperti itu.


"Ya udah Mika buatin ya, tapi janji Jean makan?" tanpa sadar Mika mengarahkan jari kelingkingnya.


Jean menautkan jari kelingkingnya juga, Mika tersenyum. Ia merasa sedikit kasihan pada Jean, mungkin hanya rasa kemanusiaannya saja, tidak lebih.


"Tante dapurnya dimana ya?" tanya Mika yang berdiri.


"Ikuti saya." Diana berjalan diikuti Mika, tapi tiba-tiba saja tangan Jean menghentikan langkahnya.


"Kenapa Jean.?" tanya Mika melihat tangannya dipegangi oleh Jean.


"Jangan pergi." lirih Jean yang sudah kembali berkaca-kaca.


"Gw gak akan pergi kemana-mana kok, katanya pengen nasi goreng buatan Mika." Mika menepuk kepala Jean lalu mengusapnya lembut.

__ADS_1


Jean kembali tenang, ia tidak jadi menangis. Membuat keluarganya menatap heran, kenapa bisa seorang pemuda membuat baby tenang semudah itu.


__ADS_2