Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
5. Tidak seperti yang diharapkan


__ADS_3

Mika terus melirik kearah pria yang membawanya, ia langsung menyadari sesuatu. Sepertinya ia sudah melakukan sesuatu yang ceroboh dan pasti berhubungan dengan pemuda yang ditolongnya semalam.


"Saya tidak akan melakukan hal buruk pada kamu, jadi tidak usah takut." kata Axio datar, ia menyadari anak yang ia bawa mulai gemetar.


Mika merasa mobil berhenti, ia melihat mereka berhenti didepan sebuah restoran mewah. Axio turun dari mobil, membuat mau tidak mau Mika juga ikut turun.


Mika berjalan mengekori Axio yang masuk kedalam restoran tersebut, mereka langsung duduk dimeja yang sepertinya sudah dipesan sebelumnya.


'mau ngapain tuh pak tua ngajak gw kemari, jangan-jangan dia mau ngasih gw makan makanan yang udah dikasih obat bius lagi. Sumpah, gw udah gak mau berurusan sama orang kek mereka lagi.' batin Mika.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Axio, masih pake nada dingin dan datar.


"Apa aja, terserah tuan." jawab Mika masih dengan kegugupannya.


Axio lalu menyebutkan pesanan pada pelayan, selesai mencatat pesanan pelayan tersebut pergi meninggalkan Axio bersama Mika.


"Jangan panggil saya tuan, nama saya Axio Lavande orang tua dan Jeandra Kairan Lavande. Kamu pasti sudah mengenal anak saya Jean kan?" kata Axio menatap Mika yang terlihat sedikit berpikir.


"Oh, tuan itu ayahnya si Jean!." Mika menunjuk kearah Axio, ia bahkan sedikit berteriak membuat atensi pengunjung restoran tertuju padanya.


Mika langsung menutup mulutnya, sumpah dia malu. Padahal seharusnya ia sudah tahu, tapi kok malah kaget ya?


"Iya, dan jangan panggil saya dengan sebutan tuan." Axio meminum segelas air putih yang tersedia diatas meja, ia sedikit terkejut dengan teriakan Mika.


"Kalau gitu saya panggil om aja, gimana?" ucap Mika yang diangguki Axio.


Tidak lama pesanan mereka datang, Mika menatap bahagia dengan menu yang dipesan Axio. Memang sudah lama ia tidak makan steak yang menjadi makanan favoritnya, tentu saja saat mika hidup sebagai Anzel dan menjadi anak angkatnya Gibran.


"Jadi om mau ngomongin apa?" tanya Mika, to the points biar cepat kelar soalnya.


Axio mengeluarkan sebuah amplop coklat dan saku jasnya, ia lalu menyodorkannya kedepan meja Mika.


Mika mengambil amplop tersebut.


"Itu saya berikan sebagai ucapan terimakasih karena sudah menolong anak saya." kata Axio.


"Uhuk,uhuk.." Mika terbatuk-batuk saat melihat isi amplop tersebut, lalu ia menatap bingung kearah Axio.


"Ini maksudnya apa ya om?" otak Mika masih nglag kayaknya.


"Uang itu untuk kamu sebagai imbalan karena sudah menjada anak saya yang kabur dari rumah." ucap Axio disela makannya.


"Tapi saya menolong anak om ikhlas kok, saya tidak mengharapkan imbalan." Mika meletakkan amplop tersebut diatas meja.


"Tapi saya tidak suka berhutang budi pada siapapun, lagipula kamu pasti butuh uang itu kan?." nada bicara Axio mulai terdengar merendahkan Mika.


"Haaah,,, saya emang miskin om, tapi saya bukan pengemis." Mika menghela nafasnya, pria didepannya mulai menyebalkan menurutnya.


"Saya mau kamu menerimanya, saya tidak suka penolakan!." tuh kan mulai maksa si Axio.


Dengan berat hati Mika mengambil amplop tersebut, ia melirik kearah Axio yang terlihat tersenyum. Mika kembali melihat uang yang ada didalamnya, mungkin sekitar lebih dari 10 juta menurutnya.


"Mika ambil segini aja." Mika mengembalikan amplop tersebut kedepan Axio setelah mengambil 1 lembar uang merah dari amplop tersebut.


"Kenapa?" Axio menatap heran pada Mika.

__ADS_1


"Ini cukup untuk biaya makan malam dan sarapan Jean waktu itu, saya gak akan ambil lebih dari yang seharusnya om. Tapi om jangan salah paham ya, bukaannya saya nolak pemberian om. Saya cuma gak mau ngambil kesempatan dari niat ikhlas saya nolongin anak om." jelas Mika.


"Baiklah kalau begitu, saya mengerti." Axio mengambil kembali amplop coklat tersebut lalu memasukkannya kedalam saku jasnya.


"Saya sudah selesai om, saya mau pulang sekarang." Mika benar-benar ingin segera pergi menjauh dari Axio, ia punya firasat buruk dari pertemuannya malam ini.


"Kalau begitu kamu saya antar kamu pulang." ucap Axio yang diangguki oleh Mika.


_ _


Jean mendengar mobil Daddy pulang dari ruang keluarga mansionnya, ia langsung berlari menuju pintu depan mansionnya.


"Baby jangan berlari, nanti jatuh." ucap Aksan yang tidak dihiraukan oleh Jean.


"Daddy pulang." ucap Axio saat masuk kedalam mansion.


Ia disambut oleh anak bungsu kesayangannya yang melihat kebelakang Axio, Jean seperti mencari sesuatu.


"Bang Mikanya mana dad?" tanya Jean yang mencari kebenaran Mika dibelakang Daddy-nya.


"Baby kok tidak peluk daddy dulu." Axio merentangkan kedua tangannya meminta untuk dipeluk oleh Jean.


"Bang Mika mana dad, kok daddy pulang sendirian sih?" Jean kembali bertanya saat berada dalam pelukan Axio.


"Kamu itu, nyariin si Mika sampai segitunya dek." kata Aksan yang sudah berdiri didepan Daddy-nya.


"Daddy..." lirih manja Jean yang terlihat sangat menggemaskan Dimata axio dan Aksan.


"Mika belum bisa tinggal bareng kita baby, tapi nanti Daddy bujuk dia lagi supaya mau tinggal disini ya." Axio mencubit pelan hidung mungil milik Jean.


"Sudah baby, tadi Daddy malah ajak Mika makan malam di restoran. Mungkin Mika butuh waktu untuk berpikir sayang." Axio sebenarnya berbohong, ia sama sekali tidak membahas mengenai hal yang ditanyakan Jean.


"Kalau gitu mending Jean aja yang langsung jemput bang Mika deh sekarang." nah si Jean tetep Keukeh sama keinginannya.


"Besok lagi saja ya baby, ini sudah malam. Mika juga pasti ingin beristirahat sambil memikirkan tawaran daddy kamu juga, jadi baby harus sabar ya." Diana datang lalu langsung mengelus lembut rambut anak bungsunya.


"Iya mommy, tapi janji ya nanti Jean ikut kalau mau jemput Mika." Diana mengusak rambut Jean melihat rengekan anak bungsunya itu.


_ _


Mika merebahkan tubuhnya diatas kasur lipat yang ada di dalam kamar kost milikinya, ia menutup keningnya dengan lengan kanan sambil menatap lurus kearah.


Ia terus memikirkan pertemuannya dengan orang tua pemuda yang sudah ia tolong, Mika merasa takut jika nanti kehidupannya akan berubah. Sungguh, ia hanya ingin menikmati hidupnya dengan tenang. Sekolah sambil bekerja keras untuk masa depannya hanya itu saja yang di inginkannya, hingga rasa lelah ditubuh dan mentalnya membuat Mika memejamkan matanya. Tidak lama kemudian, alam mimpi mengambil seluruh kesadaran Mika.


Mika membuka matanya dengan paksa, keringat membasahi kening dan tubuhnya. Nafasnya tersengal saat kembali mengalami mimpi buruk, yang sebenarnya bukanlah mimpi melainkan kepingan kejadian di kehidupannya sebagai Anzel dulu.


Bagaimana Anzel membuat Dean selalu di salahkan atas perbuatan liciknya, Mika memutuskan membasuh wajahnya untuk menyegarkan pikirannya.


Ia menatap pantulan wajahnya di cermin, lalu menepuk-nepuk kedua pipinya.


"Lupakan semua itu Mika, Lo bukan lagi Anzel yang menyedihkan. Sekarang Lo adalah Mika yang penuh dengan optimisme dan pantang menyerah." monolognya pada diri sendiri.


Karena mimpi buruknya, Mika yang tidak bisa tidur lagi menghabiskan waktunya untuk belajar. Karena baru pukul 2 pagi, jadi ia enggan mencuci atau membersihkan kamar kostnya.


Hingga waktu terus bergulir menampilkan sinar fajar yang perlahan menyinari langit kelam, Mika yang sudah kembali dari kegiatannya di pasar akan pergi kesekolah. Tempat yang paling Mika benci karena selalu di bully oleh Zeon dkk, tapi sekolah juga tempatnya meraih masa depan yang lebih baik.

__ADS_1


"Bang Mika...!" pekik seseorang saat Mika mengunci pintu kamar kostnya.


Mika mengenal suara itu, ia menghela nafasnya. Moodnya sedang buruk karena mimpi buruk dan kurang tidur, sekarang harus kembali berurusan dengan bocah manja anak orang kaya tentunya.


"Eh, elo. Ngapain pagi-pagi kesini, gak kabur lagi kan?" tanya Mika yang berdiri sambil menatap Jean penuh selidik.


"Gak lah bang, Jean kesini mau jemput abang." jawab Dean, ia sudah bergelayut manja di lengan kiri Mika.


Mika menaikkan sebelah alisnya, ia masih bingung harus berkata apa sampai sebuah suara kembali menginterupsi otaknya yang sedang berpikir.


"Jadi dia yang namanya Mika?" ucap pria berusia diatas 20an yang sepertinya datang bersama dengan Jean.


Mika itu pintar menebak situasi, mungkin karena pengalamannya sebagai Anzel yang seorang manipulator. Jadi Mika langsung tahu kalau orang yang tadi berbicara dengan sinis pasti salah satu keluarganya Jean.


"Iya, bang Aksan. Bang Mika ikut Jean ke mansion ya, biar daddy bisa langsung ngurus surat adopsi Abang?" ucap Jean yang awalnya menatap Aksan lalu kembali tersenyum pada Mika.


Mika langsung melepaskan rangkulan dari Jean dengan sedikit kasar, telinganya masih berfungsi dengan baik. Tapi apa maksud perkataan bocah di sampingnya, bukankah adopsi artinya menjadi anak angkat.


"Maksud Lo apa Jean?" ucap Mika dengan kasar, ia juga menggelengkan kepalanya ribut.


"Jangan bersikap kasar pada adikku?" ucap Aksan dingin.


Tangan besarnya mencengkram pipi Mika dengan kuat, Mika yang tidak siap hanya bisa meringis karena rasanya sangat sakit. Mika itu terkejut, jadi dia gak sadar kalau sudah kasar pada Jean dan tidak juga tidak di sengaja.


"Abang lepas?" Jean langsung memegang tangan Aksan yang langsung mengendurkan cengkramannya, tapi belum di lepas.


Sampai Mika dengan berani menghempaskan tangan besar milik Aksan, lalu menatap tajam pada pria dewasa tersebut.


"Bang Mika gak papa kan, sakit ya kita kerumah sakit yuk?" ucap Jean yang sangat khawatir.


Mika yang hendak mengamuk mengurungkan niatnya, ia sangat menyayangi nyawanya. Kalau melawan pasti bisa langsung mati di pukul oleh pria besar didepannya.


"Gak papa kok Je, Lo mending pulang deh. Gw mau berangkat sekolah, bisa ketinggalan bus soalnya. Dan juga jangan panggil gw abang, secara gw lebih muda dari Lo dan juga gw gak mau jadi sodara Lo." ujar Mika yang langsung mendapat tatapan sendu dari Jean.


"Tapi bang..." lirih Jean.


"Udah ya, urusan kita udah selesai karena gw udah terima imbalannya dari daddy Lo. Dan please, jangan panggil gw dengan sebutan abang lagi ya?" kata Mika yang memohon.


Karena sungguh ia merasa tidak nyaman berurusan dengan keluarga kaya, Mika hanya tidak mau mimpi buruknya menjadi nyata dan mengulang kehidupan buruknya lagi.


"Gw pamit ya, bye." ucap Mika seraya berlari menuruni tangga meninggalkan Jean dan kakak sulungnya yang tengah terdiam.


Selepas kepergian Mika, Aksan yang melihat adik bungsunya masih diam menunduk langsung menghampirinya.


"Baby, kamu baik-baik saja?" kata Aksan.


Jean mengangkat wajahnya perlahan, Aksan langsung terkejut saat melihat mata adiknya yang sudah berkaca-kaca.


"Hiks,, hiks,, huwaaaaaa.. semua ini gara-gara bang Aksan, sekarang bang Mika gak mau jadi abangnya Jean karena bang Aksan udah kasar sama dia,,, hiks." tangis Jean pecah.


Aksan langsung memeluk tubuh mungil adiknya lalu mengusap lembut punggung dan kepalanya.


Jean tentu saja menyalahkan dirinya atas penolakan yang dilakukan oleh Mika, tapi Aksan memiliki alasan untuk semua itu.


Ia tidak ingin Jean berdekatan dengan orang yang salah, Aksan tidak mau sampai adik terluka. Dengan sabar ia memapah tubuh Jean ke dalam mobil sambil terus menenangkannya, ia juga berjanji akan membawa Mika pada Jean.

__ADS_1


__ADS_2