
Mika dan Dean sampai diruang UKS, tidak ada siapapun didalamnya. Mungkin petugas yang biasanya berjaga sedang beristirahat, jadi Mika memutuskan untuk mengobati luka ditangan Dean sendiri.
"Kak Dean duduk dulu geh, Mika ambil kotak obatnya dulu." kata Mika sopan, ia bahkan menambah embel kak pada nama Dean.
Dean menurut, ia duduk di salah satu brangkar. Dia melihat Mika berjalan menuju lemari tempat menyimpan kotak p3k di sekolahnya. Mika juga mengambil wadah dan es batu dari dalam kulkas kecil di ruang UKS.
Mika mengisi wadah dengan air dan es batu untuk mendinginkan kulit tangan Dean yang memerah, pemuda tersebut terlihat meringis saat Mika menyiramkan air dingin tersebut secara perlahan.
"Tahan sebentar kak, kalau gak di dinginin nanti malah melepuh kulitnya." ucap Mika seraya menahan tangan Dean yang terus meronta.
"Sshh,, sakit ka." lirihnya.
Selesai mendinginkan kulit tangan Dean, mika mengelapnya hingga benar-benar kering, setelah itu Mika mengoleskan salep pada tangan Dean.
"Perih.." ucap Dean saat Mika mengoleskan salep di tangannya.
"Yup, udah selesai. Semoga aja gak jadi luka yang serius ya ka, tapi lebih bagus kalau di bawa ke dokter aja." kata Mika sambil merapikan isi dari kotak p3k.
"Makasih ya ka, udah mau ngobatin luka di tangan Dean." ucap Dean yang memegang tangannya.
"Iya sama-sama."
Mika meletakkan kembali kotak p3k, lalu berjalan menghampiri Dean. Ia duduk di brangkar di sebelah Dean, sedang Dean terlihat seperti senang karena di perhatikan oleh Mika.
"Jadi, tadi itu kan Dean sengaja atau gak nyenggol Jean sampai kuah baksonya kena tangan sendiri?" Mika menatap Dean datar.
"Ma,, maksud Mika apa? Apa Mika juga gak percaya sama Dean dan lebih percaya sama Jean.?" Dean menunjukkan wajahnya.
__ADS_1
"Gw gak nuduh kak, cuma nanya. Gw gak berpihak sama siapapun, tapi gw gak suka sama kebohongan. Jadi gw pengen Lo jujur, dan nanti gw juga tanya sama Jean biar sama-sama jelas mana yang bener." ucap Mika, ia masih mencoba menahan kesabarannya.
"Dean gak bohong kok, Jean yang sengaja numpahin kuah panas baksonya. Mika dan yang lainnya juga lihat kan, semua orang di kantin juga lihat kuah bakso Jean tumpah di tangan Dean." kata dengan dengan memelas, ia berharap Mika akan mempercayainya.
"Ya udah, nanti mika coba minta penjelasan Jean. Dan ada satu hal yang buat Mika penasaran tentang kak Dean?" lanjut Mika.
"Mika penasaran tentang apa?" tanya Dean dengan polos, aslinya pura-pura polos.
"Kenapa gw ngerasa Lo caper sama gw kak, maaf aja ya kak tapi sebenarnya maksud kak Dean itu apa deketin gw selama ini?" Mika melihat kedua tangannya.
"Boleh Dean jujur." ucap Dean yang langsung diangguki oleh Mika.
"Sebenarnya Dean itu ngerasa kamu itu mirip sama seseorang di hati Dean, Dean bisa ngerasain kalau kamu itu adalah Anzel, saudara angkat Dean. Makanya Dean pengen selalu dekat sama kamu, karena tahu kalau kamu itu pasti Anzel." perkataan Dean membuat mata Mika membulat sempurna.
"Inget gak pas pertama kali kita ketemu di rumah sakit, kamu tiba-tiba datang peluk aku pas aku lagi histeris karena inget sama Anzel. Dari situ aku tahu kalau kamu itu pasti Anzel, omongan aku benar kan kalau kamu itu adalah Anzel." lanjut Dean.
"Jawaban apa yang akan kau berikan pada bocah itu, apa kau akan mengakui perkataannya. Mengaku jika kau adalah Anzel." ucap Xaniel didalam pikiran Mika.
"Tapi gw bukan Anzel kak, gw Mika, Mikadeo bukan saudara angkat kak Dean. Lagipula kenapa kak Dean bisa beranggapan kalau gw itu dia, sedangkan gw aja gak tau si Anzel itu orang seperti apa." ucap Mika setelah menghela nafasnya.
"Kamu jangan pura-pura lagi dek, ini Abang Dean. Dulu kalau selalu pengen di panggil adek sama Dean, padahal umur kamu itu lebih tua. Apa kamu gak inget itu dan juga saat papa, abang Rezka sama abang Rey menjadi keluarga angkat kamu. Apa kamu lupa semua itu An?"
Dean memegang kedua tangan Mika, ia menatap kedua matanya. Mika mengalihkan pandangannya saat Dean mencoba menggoyahkan pendiri.
"Kamu udah gak bisa ngelak An, Dean bisa tahu itu kamu. Sekarang ayo pulang sama Dean, papa dan abang juga kangen sama kamu, aku dan mereka nungguin kamu An."
Mika menghempaskan tangan Dean, ia berdiri sambil terus mengalihkan matanya agar tidak bertatapan dengan Dean. Dean tidak boleh tahu jika dia adalah Anzel, karena Mika sudah benar-benar menutup masa lalunya.
__ADS_1
Mika hanya ingin bahagia bersama keluarga barunya, ia tidak ingin kembali mengingat kehidupannya sebagai Anzel. Kini ia hidup sebagai Mika dan sampai akhir hayatnya nanti akan tetap menjadi seorang Mika.
"Gw harus jelasin gimana lagi sama lo, gw itu bukan Anzel dan berhenti menganggap gw itu dia, karena gw bukan Anzel dan Anzel itu bukan gw paham lo." kata Mika dengan nada sedikit kasar.
Setelah mendengar perkataan Mika, Dean terlihat memegang dadanya. Dean jatuh terduduk, menundukkan kepalanya sambil menangis.
"Maafin aku Anzel, maafin aku. Aku gak bisa menghentikan papa, bang Rezka dan bang Rey saat itu. Dean minta maaf gak bisa selametin kamu, Dean nyesel. Dean udah salah, sampai mereka nyiksa kamu Anzel. Dean nyesel gak bisa berbuat apa-apa saat papa nembak kepala kamu saat itu." racau Dean.
Mika terkejut mendengar penuturan Dean, ia jadi bertanya-tanya dari mana ia tahu jika papa angkatnya Gibran menghabisi nyawanya dengan cara di tembak di bagian kepala.
"Maafin Dean An, maafin Dean, hiks,, hiks." Dean menangis sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Mika yang merasa tidak tega langsung mendekati tubuh Dean, ia menangkup wajah yang sudah berurai air mata itu. Dean terlihat sangat sedih, apalagi ucapan jadi semakin tidak jelas.
"Dean, Dean jangan kaya gini Dean. Plis Lo jangan nangis kaya gini." Mika mulai terlihat panik, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.
"Anzel,,, Anzel,, maafin abang.. hiks,, hiks.." teriak Dean.
Mika langsung menarik tubuh pemuda tersebut dapat pelukannya, sedangkan Dean terus menangis histeris sambil terus menerus memanggil nama Anzel.
"Iya ini Anzel bang, Anzel ada disini. Sekarang abang tenang ya, Anzel mohon."ucap Mika terpaksa, karena hanya dengan mengaku dirinya Anzel adalah satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya untuk menenangkan Dean.
"Jadi kamu beneran Anzel, selama ini Dean gak salah sama perasaan Dean. Maafin abang ya dek, bang Dean gak bisa selamatin Anzel waktu itu." ucap Dean sambil menatap wajah Mika.
"Iya Anzel maafin abang kok, sekarang bang Dean tenang ya jangan nangis lagi. Anzel jadi ikutan sedih ngeliatnya." Mika membersikan air mata Dean dengan tangannya, ia sungguh merasa tidak tega melihat keadaan Dean yang seperti ini.
Dean tersenyum, ia menikmati sentuhan lembut dar Mika. Mika mungkin kalah karena rasa ibanya, tapi hanya untuk saat ini. Ia akan memikirkan jalan keluar selanjutnya untuk menyadarkan Dean bahwa dirinya bukanlah Anzel.
__ADS_1
"Kau sudah masuk dalam permainan bocah itu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya Mika ah bukan, tapi Anzel." kata Xaniel menyeringai.
Tanpa sepengetahuan Mika, Xaniel sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Dean kepadanya. Xaniel sengaja tidak memberitahu Mika, karena alter ego milik Mika tersebut ingin menyaksikan apa yang akan terjadi pada Mika terlebih dahulu. Karena untuk saat ini, Xaniel tidak bisa melakukan apa-apa. Xaniel tidak memiliki tenaga yang cukup untuk mengendalikan tubuh Mika, dan jika ia memaksakan dirinya untuk muncul mungkin Xaniel akan benar-benar menghilangkan dari tubuh Mika.