
Hari telah berganti, mentari kini tengah tersenyum menyinari alam semesta.
Suasana sekolah mendadak ramai karena kedatangan dua manusia tampan berwajah serupa namun sedikit berbeda garis wajahnya.
Mereka adalah Allen dan Gallen yang memutuskan masuk sekolah yang sama dengan baby mereka, sebagai salah satu donatur terbesar Lavande bisa bebas keluar masuk sekolah.
Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah di temani baby mereka beserta abang-abang yang setia menjaga Jean, tentu saja mereka menjadi pusat perhatian. Terlebih dua pemuda itu memiliki pesona yang lebih di bandingkan Brian dan Alvian yang merupakan most wanted sekolah tersebut.
Bukankah menuju ruang kepala sekolah, mereka malah menuju kantin. Karena jalan menuju kantin melewati kelas 10, Jean meminta abang-abangnya untuk mampir kekelas Mika terlebih dahulu.
Sesampainya di kelas Mika, Jean yang melihat abang kesayangannya itu sedang membaca buku langsung menghampirinya.
"Pagi bang Mika." sapa Jean yang duduk di kursi hadapan meja Mika sambil tersenyum.
Mika sedikit terkejut dengan kedatangan Jean, ia langsung membalas senyuman bocah dihadapannya.
"Pagi juga Jean." Mika menutup buku yang ia baca.
"Abang rajin banget, masih pagi udah belajar." ucap Jean manja sambil menyanggah dagunya dengan kedua tangannya.
"Cuma baca materi untuk hari ini kok, oh ya Jean perlu sesuatu gitu sama Mika?" tanya Mika.
"Bang Mika kekantin yuk, ada yang mau Jean kenalin sama abang."kata Jean dengan antusias, ia bahkan seperti sudah melupakan kejadian kemarin yang membuatnya merasa kesal.
Toh Mika juga sudah bersikap biasa pada Jean, karena baginya kemarin itu bukanlah masalah yang membuatnya harus terus menghindar dari Jean. Prinsip Mika, hadapi semua masalah meskipun itu terlalu berat.
Mika melirik jam tangannya, masih ada waktu 30 menit sebelum jam pelajaran pertama di mulai.
"Boleh memang siapa yang mau Jean kenalin sama mika?" ucap Mika, karena kebetulan ia juga tidak sempat sarapan.
"Ada deh, makanya ayo bang kekantin." Jean menarik tubuh Mika, ia hanya menurut dan pasrah mengikuti keinginan Jean.
Saat keluar dari kelas, semua abang Jean sudah pergi kekantin duluan. Jean dan Mika juga langsung menuju kantin sekolah yang masih terlihat seperti, hanya ada beberapa murid yang sedang menikmati sarapan mereka.
Mereka sampai dikantin dan langsung menuju meja tempat biasanya mereka beristirahat di kantin. Mika memicingkan matanya, melihat dua pemuda yang tidak dikenalnya. Mungkin mereka adalah orang yang Jean maksud untuk diperkenalkan kepadanya.
"Bang Allen, bang Galen kenalin ini bang Mika yang Jean ceritain semalam." Jean menarik tubuh Mika, kedua pemuda tersebut menoleh kebelakang tempat Jean dan Mika berdiri.
"Allen." suara dingin begitu terasa saat pemuda itu memperkenalkan dirinya tanpa mengulurkan tangannya, ia bahkan sudah kembali duduk di posisinya semula.
"Kalau gw Gallen, panggil bang Gallen ya." ucap pemuda disampingnya, ia mengulurkan tangannya. perkataannya juga terdengar lebih ramah dari pemuda disebelahnya.
"Mika kak." Mika membalas uluran tangan dari Gallen sambil tersenyum.
"Duduk dulu bang, oh ya bang Kahfi pesenin makan buat Jean sama bang Mika dong." Jean menarik Mika untuk duduk disebelah Allen, lalu meminta Kahfi untuk memesankan makanan.
__ADS_1
"Gw bantuin ya kak." Mika bangkit saat melihat Kahfi hendak menuju stan penjual makanan.
"Abang duduk aja, biarin bang Kahfi aja." pinta Jean sedikit memelas.
"Gak enak sama bang Kahfi, Jean tunggu sini dulu ya." kata Mika yang mengejar Kahfi.
Mika sebenarnya hanya tidak ingin terlalu lama berdekatan dengan Allen yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan intimidasi.
Setelah kembali membawa makanan, mereka semua menikmati makanan tersebut. Sesekali terdengar celotehan dari mulut Jean, mereka semua tertawa dan tersenyum. Menyisakan Mika yang menahan ngeri karena terus mendapatkan tatapan tajam dari Allen.
Skip
Mika berjalan menyusuri rak-rak buku di dalam perpustakaan, setelah mengambil buku yang hendak ia baca ia berjalan menuju kursi yang disediakan perpustakaan untuk pengunjung perpustakan membaca.
Matanya melihat seseorang yang ia kenal, Mika lalu menarik kursi yang berada dihadapan pemuda yang tengah membaca dengan serius.
Mika duduk namun enggan menyapa pemuda tersebut karena takut mengganggunya. Randi, pemuda itu menyadari keberadaan Mika menutup buku yang sedang ia baca.
"Halo kak, maaf ya kalau gw gangguin Lo baca." Mika menggaruk tengkuknya karena merasa takut mengganggunya.
"Ini tempat umum, jadi tidak perlu merasa sungkan." jawab Randi datar.
"Iya kak makasih."
Mika mulai mencatat materi yang ia cari, ia merasakan Randi melirik kearahnya sesekali. Namun Mika memilih tetap melanjutkan kegiatan mencatatnya.
Randi merasa anak didepannya menarik, karena hanya sedikit murid sekolah ini yang menghabiskan waktu mereka untuk belajar di perpustakaan. Biasanya mereka ke perpustakaan untuk meminjam novel atau buku cerita, buku pelajaran hanya mereka pinjam saat mendapat tugas dari guru mereka.
Ponsel Mika berbunyi, ia panik dan langsung mematikan panggilan di ponselnya. Ia merasa tidak enak karena menggangu ketenangan dalam ruang perpustakaan, Mika menatap layar ponselnya dengan malas setelah bunyi nada dering kembali terdengar.
"Iya halo..." jawab Mika yang memutuskan mengangkat panggilan dari Jean.
"Abang dimana?." Mika menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara cempreng dari lawan bicaranya.
"Perpustakaan, ada apa?" tanya balik Mika.
"Abang gak kekantin, Jean ada di kelas abang Mika sekarang."
"Gw lagi malas makan, soalnya masih kenyang. Jean makan aja duluan sama yang lain." kata Mika sambil menyenderkan punggungnya pada senderan kursi.
"Tapi Jean pengen makan disuapin sama bang Mika." ucap Jean manja.
Randi melirik kearah Mika yang terlihat malas meladeni lawan bicaranya, ia bisa mendengar ucapan lawan bicara Mika dengan jelas karena volume suaranya yang cukup keras.
"Jean punya tangan kan jadi makan sendiri ya, itu tangan kalo jarang di pake nanti lemes kaya jeli mau. Sekarang Jean makan ya, nanti sakit loh." kata Mika.
__ADS_1
"Ya udah Jean makan duluan ya bang, nanti pulang sekolah tungguin Jean dulu di kelas jangan langsung pulang. Kalau abang gak ada Jean bakal ngadu sama daddy ."
Mika menghela nafasnya lalu mematikan panggilan dari Jean tanpa seijin nya.
"Huufft, dasar anak Daddy." lirih Mika lalu meletakkan ponselnya diatas meja.
Mika terkejut karena sepertinya Randi mendengar pembicaraannya dengan Jean, ia tersenyum kikuk. Rasa malu menderanya, bisa-bisanya ia berbicara dengan keras saat berada di perpustakaan.
"Ma,,maaf ya kak." lirih Mika.
Melihat Randi melanjutkan aktivitas membacanya, Mika juga kembali mencatat materi yang tadi sempat tertunda.
° ° °
Mika menghela nafasnya kasar, ia merasa menyesal mengikuti keinginan dari bungsu Lavande itu.
Saat ini ia berada didalam mobil bersama dengan Jean, mereka hendak menuju mansion milik keluarga Lavande. Yang membuat Mika kesal adalah tatapan dari Allen, sepupu Jean yang seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.
Lain dengan Jean, ia justru sedang bergelayut manja ditangan kanan Mika. Sesekali ia menyingkirkan tubuh Jean, namun karena ketidak pekaan dari bocah tersebut Jean kembali bergelayut pada Mika.
"Duduk yang bener Jean, nanti jatuh sakit lagi." kata Mika yang untuk kesekian kalinya membenarkan posisi duduk Jean.
"Iya deh bang, Jean seneng banget akhirnya abang Mika mau nemenin Jean main hari ini." Jean yang duduk diam terlihat senang.
Mika hanya membalas perkataan Jean dengan senyuman, lebih tepatnya senyum yang ia paksakan. Karena saat melihat kearah Allen, Mika lagi-lagi mendapati dirinya tengah ditatap tajam.
Sampai di mansion, mereka sudah disambut oleh anggota keluarga Lavande (-daddy dan Aksan karena masih di kantor).
Saat turun dari mobil, tangan Mika ditarik oleh Jean. Mika merasa sedikit kesal tapi memilih diam, ia tidak ingin masalah bertambah.
"Oma, opa, mama, papa kenalin ini abang Mika." Jean memperkenalkan Mika pada anggota keluarganya yang tidak Mika ketahui.
"Perkenalkan, nama saya Mikadeo." Mika mengulurkan tangannya, tapi tidak ada seorangpun yang membalas uluran tangannya.
Merasa uluran tangannya tidak direspon, Mika menariknya kembali. Ia merasa malu, tapi memilih untuk sadar diri. Mungkin mereka tidak ingin menyentuh orang miskin seperti dia.
"Jadi ini yang namanya Mika, kenalin saya Carolina Tantenya baby." ucap Carolina yang mencairkan suasana tegang.
"Iya tante, salah kenal." Mika membungkukkan tubuhnya sedikit.
"Kok kalian kaya gitu sih sama abang Mika." Jean merespon, merasa keluarganya bersikap acuh pada abang kesayangannya.
"Udah Jean, gak papa." kata Mika yang melihat Jean hendak menangis.
"Kalian bikin Jean kesel, kekamar yuk bang." Jean merengutkan wajahnya lalu menarik kembali tangan Mika menuju kamarnya.
__ADS_1