
Mika membuka matanya perlahan, ia mendapati dirinya terbangun di tempat yang bernuansa putih disepanjang pandangan mata. Untuk kedua kalinya ia terbangun dialam bawah sadarnya, ia mendudukkan dirinya lalu menatap sekelilingnya.
Hingga pantulan dirinya terpampang didekatnya,ia melihat sosok Xaniel(jiwa Mika asli) duduk disampingnya tapi entah sejak kapan.
"Kau sudah bangun? Apa tidurmu nyenyak?" tanya Xaniel dengan nada datarnya, pandangannya lurus kedepan.
"Kenapa gw terbangun ditempat ini lagi, apa terjadi sesuatu dengan tubuh kita?" tanya balik Mika/Anzel, mengabaikan pertanyaan Xaniel yang dia anggap sebagai Mika asli.
"Tubuh kita baik-baik saja, kau pingsan. Karena itulah kita bisa bertemu lagi, saya tahu pasti banyak pertanyaan yang ingin kau tanyakan pada saya." ucap Xaniel, menatap Anzel sambil tersenyum.
"Mengenai wajah gw saat masih hidup sebagai Anzel, gw baru aja melihatnya saat berada di kamar Dean. Apa Lo tahu sesuatu, entah kenapa gw ngerasa wajah itu sedikit mirip dengan seseorang." kata Mika dengan nada serius.
"Mengenai ingatan tentang wajah dan kehidupan lamamu, saya tidak tahu. Mungkin saja itu adalah bayaran yang harus kau tukar untuk kehidupan keduamu. Apa kau penasaran dengan semua itu?" ujar Xaniel, entah rencana apa yang sedang dipikirkannya karena tanpa Mika sadari Xaniel tersenyum miring.
"Hmm, gw cukup penasaran tentang semua hal yang gw alami. Entah kenapa rasanya ada yang mengganjal, kalau Lo tahu sesuatu gw harap lo bisa ngasih tahu gw." kata Mika sambil mengangguk.
"Saya memang mengetahui semuanya Anzel."
Mika terkejut saat mendengar perkataan Xaniel, ia menatap lekat wajah seseorang yang seperti pantulan cermin baginya.
"Tapi apa kau bisa menerima semuanya,dan menerima keadaanmu nanti saat kau mengetahui segalanya.?" Xaniel membalas tatapan Mika yang nampak serius.
"Kau ingat dengan laki-laki yang bernama Dirham?" tanya Xaniel.
"Tentu saja, dia adalah ayah angkatku sebelum aku bertemu dengan keluarga Dean. Walaupun ayah Dirham tidak pernah memperlakukan seperti seorang anak." kata Mika yang terkejut diawal namun terdengar lirih saat mengakhiri kalimatnya.
"Apa kau tahu kenapa Dirham selalu menyiksamu?" Xaniel kembali bertanya.
"Ayah bilang karena gw adalah anak dari orang yang sudah mengambil kebahagiaannya." lirih Mika/Anzel.
__ADS_1
"Ya dan keluarga yang sudah mengambil kebahagiaannya itu adalah keluarga Lavande. Dan Anzel sebenarnya adalah anak bungsu dari Dexter dan Carolina yang di culik sesaat setelah di lahirkan, kau adalah bungsu dari anak kembar 3 mereka."
Mika merasa seperti tersambar petir saat mendengar penjelasan yang keluar dari mulut Xaniel, Mika menggeleng ribut kepalanya.
"Dan sayangnya Dirham sudah mati ditanganmu 2 bulan yang lalu, walaupun sebenarnya sayalah yang membunuhnya dengan menggunakan tubuhmu." lanjut Xaniel yang membuat air mata Mika lolos begitu saja dari matanya.
"Lo membunuh ayah, tapi kenapa?" ucap Mika pelan, leher terasa seperti tercekik setelah mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Xaniel.
"Karena dia kembali untuk menghancurkan kebahagiaan keluarga Lavande, di menculik Jean. Kau masih ingat kejadian di gudang sekolahnya waktu itu, saat keadaanmu kritis saya mengambil alih tubuh kita untuk menyelamatkan Jean dari tangan Dirham. Dan dengan terpaksa, saya membunuhnya saat itu." kata Xaniel.
"Lo serius dengan kata-kata Lo kan, gak bohongi gw atau nipu gw?" ucap Mika yang masih belum bisa percaya perkataan Xaniel.
"Saya serius, itulah semua kebenaran yang saya ketahui. Dan walaupun kau mengetahui semuanya, kau tidak akan bisa menjadi bagian keluarga Lavande seutuhnya. Karena sekarang kau hidup di tubuh Mika sebagai Mika, bukan ditubuh Anzel. Karena Anzel sudah tiada di tangan Gibran, papanya Dean benar bukan." Jelas Xaniel.
"Dari mana Lo tahu semua itu?" tanya Mika yang terkejut dengan Xaniel yang mengetahui kehidupan lamanya.
"Saya tahu segalanya Anzel, dan sekarang Dean menjadi depresi dan terobsesi kepadamu. Asal kau tahu saja, Dean bukan terobsesi untuk menjadikanmu keluarganya, melainkan ia ingin menyiksamu sampai puas untuk melampiaskan rasa dendamnya kepadamu saat dia berhasil menarik perhatianmu." Xaniel berdiri berjalan kehadapan Mika.
"Kenapa Lo sampai melakukan semua itu buat gw, Mika asli?" tanya Anzel.
"Karena saya membutuhkan jiwamu, dan lagi mungkin lebih baik saya mengatakan yang sebenarnya. Saya bukanlah Mika yang asli, saya adalah Xaniel alter ego milik Mika." kata Xaniel yang berjongkok dihadapan Anzel yang terlihat bingung.
"Xaniel, alter ego. Maksud apa, lalu di mana jiwa Mika yang asli?" tanya Anzel yang semakin bingung.
"Jiwa Mika yang asli sudah mati, tapi saya tidak mau menghilang dari dunia ini jadi saya menarik jiwamu saat kau mati di tangan Gibran. Karena saya hanya kepribadian yang muncul akibat trauma yang dialami Mika asli, saya hanyalah bayangan dari jiwanya. Saya harap kau bisa menerima semua penjelasan saya." ucap Xaniel lalu berdiri membelakangi Anzel yang masih terduduk sedih.
"Kau tidak bisa kembali kekeluargaan aslimu Anzel, karena kau sudah mati itu adalah kenyataan yang harus kau terima. Bukankah kau masih bisa menyayangi mereka walau hanya sebagai anak angkat, nikmati hidupmu dan berhati-hatilah pada Dean dan keluarganya. Karena semua masalah ini belum akan berakhir, mungkin saja saya harus turun tangan jika kondisinya tidak bisa terkendali lagi."
Mika hanya diam mencerna semua perkataan Xaniel, semuanya terasa membingungkan baginya. Apalagi kenyataan jika dirinya adalah saudara kembar dan Allen dan Gallen, sangatlah sukar diterima oleh nalarnya.
__ADS_1
"Sekarang pergilah, jalani hidupmu dengan baik Mika. Karena saya sangat menyukai semua sensasi yang di hasilkan dari apa yang dirasakan hatimu."
Xaniel menempelkan jari telunjuknya di kening Mika, mendadak cahaya yang sangat menyilaukan muncul dihadapannya. Bertepatan dengan matanya terbuka, pemandangan kamarnya yang ia lihat.
Mika merasa basah di pinggir matanya, sepertinya ia tertidur sambil menangis. Ia melihat kearah kanan tempat tidurnya, Mika melihat Allen yang sedang tertidur disampingnya.
Mika memiringkan tubuhnya, membuatnya bisa menatap wajah damai Allen. Air matanya kembali keluar, di barengi rasa sesak di dadanya.
Mika ingin menyentuh wajah Allen, namun rasa sakit di bahunya membuatnya pasrah dengan hanya menatap wajah sang kakak.
Mika mulai terisak, ia tidak bisa menahan kesedihan dan kerinduannya lagi. Mika ingin memeluk Allen dan mengatakan kalau dirinya adalah Khallen,adik kembarnya. Namun Mika tidak bisa melakukan hal tersebut, karena kenyataannya sekarang ia hidup di tubuh Mika dan Anzel atau Khallen sudah mati
Allen merasa terusik karena isak tangis Mika yang terdengar olehnya, Allen membuka matanya mendapati Mika yang sedang menangis dihadapannya.
"Lo kenapa ka, apa ada yang sakit?" Allen mendudukkan tubuhnya, sambil menatap wajah Mika yang masih terisak.
Mika menggeleng lemah kepalanya, ia hanya diam karena tidak tahu harus mengatakan apa pada Allen.
Mika meremas selimutnya, dadanya terasa sakit karena kenyataannya yang baru saja diterimanya. Allen menjadi panik, ia menarik tubuh Mika. Memeluk tubuh bergetar pemuda tersebut, mencoba menenangkannya.
Mika membalas pelukan Allen, jujur ia sangat merindukan keluarganya dulu. Saat ia hidup sebagai Anzel dan menjadi tawanan Dirham, ia pernah berpikir kenapa keluarga kandungannya tidak pernah mencoba menyelamatkannya.
"Lo kenapa ka? Jangan buat gw bingung begini." kata Allen frustasi, namun ia tidak melepaskan pelukannya pada Mika.
Entah kenapa ia merasa sedih melihat kondisi Mika yang selalu ia anggap orang asing, Allen juga merasakan kerinduan jauh disalah satu sudut hatinya.
Puas menangis, Mika yang merasakan lelah dan sakit ditubuhnya kembali tertidur dalam pelukan Allen.
Dengan hati-hati Allen membaringkan tubuh Mika, membersihkan air mata diwajahnya. Allen menghela nafas, tatapan khawatir terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
Pertanyaan dalam pikirannya saat ini adalah apa yang sebenarnya terjadi kepada Mika, apa ada hubungannya dengan Dean. Jika iya, apa yang sudah dilakukan Dean pada Mika hingga membuatnya terpuruk seperti ini.
Allen akan mencari tahu, ia harus mengetahui semua hal mengenai Mika. Allen merasa harus melindungi bocah di depannya itu, karena Mika sudah membuatnya mencurahkan perasaannya.