Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
Keluarga yang Mika rindukan


__ADS_3

Malam hari tiba, kini Mika yang masih tertidur di temani oleh Lina dan Dexter. Jean dan ketiga abang diminta pulang terlebih dahulu walaupun Jean sempat menolak karena ingin menjaga Mika.


Dengan bujukan dari Diana yang datang bersama Lina, akhirnya Jean mau untuk pulang dengan mommynya beserta yang lainnya.


Selama hampir satu jam Lina menemani tidur Mika sampai akhir sang suami datang setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Bagaimana kondisinya sayang?" tanya Dexter yang baru saja datang.


"Mika masih tidur pah, tapi mungkin sebentar lagi akan bangun. Seharusnya aku tidak mengijinkannya pergi kesekolah, apalagi aku tahu jika Mika itu sakit karena tubuhnya terluka." ujar Lina dengan sedih.


"Apa yang membuatnya terluka itu orang yang sama dengan yang membuatnya masuk rumah sakit?" Dexter kembali bertanya, tangannya memegang pundak sang istri untuk menguatkannya.


Dexter tahu, istrinya sudah jatuh hati kepadanya anak dihadapannya. Lina sudah menganggap Mika sebagai anak bungsunya, begitupun dengan kedua anak kembarnya.


"Entahlah sayang, tapi mendengar penjelasan dari Allen anak bernama Dean lah yang sudah membuat Mika jadi seperti ini. Allen juga bermaksud untuk meminta pertolongan padamu untuk mencari tahu tentang Dean, karena Allen takut anak itu sedang merencanakan hal buruk untuk Mika." ucap Lina yang terus menatap wajah damai Mika.


"Baiklah, aku akan minta beberapa orang kepercayaanku untuk mulai mencari tahu semuanya. Namun aku perlu meminta penjelasan lebih dulu pada Allen." kata Dexter yang juga ikut menatap khawatir pada Mika.


"Euughhh.."


Lina melihat bulu mata Mika bergerak dan mulai membuka matanya perlahan, Lina langsung mengelus kepala Mika saat anak itu membuka matanya sempurna.


"Syukurlah kamu sudah sadar nak, kamu butuh psesuatu atau mau mama panggilkan dokter?" tanya Lina yang sungguh terlihat khawatir sekaligus lega.


"Gak usah mah, mika ada dimana?" ucap Mika lemah, tubuh dan kepala nya terasa sangat sakit.


"Kamu ada dirumah sakit nak, tadi kakak kelas kamu Randi membawa kamu kerumah sakit karena pingsan di kelas." jawab Lina dengan lembut.


"Oh kak Randi ya." gumam Mika namun masih bisa didengar oleh Lina dan Dexter.


"Boleh papa tanya sesuatu nak?" tanya Dexter yang berdiri di belakang Lina.


"Iya boleh pah." Mika mengangguk.


"Sebenarnya ada masalah apa antara kamu dengan anak bernama Dean, papa dengar dari Allen dialah yang sudah membuatmu seperti ini." 


Mika menghela nafasnya, sebaik apapun ia merahasiakan semuanya pasti akan diketahui oleh mereka.


Mika menatap kedua orang tua dihadapannya, entah kenapa ia merasakan kerinduan yang amat dalam pada mereka berdua.


Mika ingin sekali memeluk mereka, mengatakan jika dirinya adalah Khallen anak bungsu mereka yang di culik oleh Dirham. Namun Mika sadar, jika ia melakukan hal tersebut mereka pasti tidak akan percaya dan mungkin akan menganggap Mika memanfaatkan kebaikan mereka. Mereka pasti berpikir Mika memanfaatkan kesedihan keluarga sikembar yang kehilangan anggota keluarga bungsunya.

__ADS_1


Air mata Mika mengalir disisi pelupuk matanya, Mika menutup kedua matanya dengan lengan kanan yang terbebas dari jarum infus. Apa yang di lakukan oleh Mika tentu saja mengambil perhatian dari Lina dan Dexter yang kembali menatapnya khawatir.


"Kamu kenapa nak, apa ada yang sakit bilang sama mama.?" ucap Lina.


Mika tidak bergeming, ia malah mengeraskan tangisnya. Mika sangat merindukan keluarganya dulu, keluarga yang terpisah darinya karena ulah jahat Dirham. Tapi apalah dayanya, Anzel atau Khallen yang merupakan anak kandung dari Lina dan Dexter sudah tiada walaupun jiwanya masuk kedalam tubuh Mika itu tidak akan merubah kenyataan bahwa dia sudah mati di mata mereka.


"Mika jangan seperti ini nak, katakan apa yang membuatmu menangis seperti ini jangan buat kami bingung.?" suara Dexter membuat Mika semakin merindukan sosok ayah/papanya.


"Ma,, maafin Mika ya mah,,pah. Mika gak papa kok, Mika cuma kangen aja sama nenek. hiks,, hiks" ucap Mika y sesenggukan.


Tentu saja itu adalah alasan yang paling logis yang terpikirkan oleh Mika, walaupun ia juga merasakan kerinduan pada sosok nenek Renata.


"Udah ya kamu jangan nangis, lebih baik kamu berdoa supaya nenek kamu tenang disana. Dan kamu juga jangan merasa sedih lagi karena ada kami yang akan menjaga dan menyayangi kamu nak." Lina menghapus air mata Mika dengan jari dan telapak tangannya.


Mika mengangguk, menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Ia harus bisa menerima kenyataan, meskipun itu adalah sesuatu yang berat untuknya.


Lina mengambil segelas air, membantu Mika minum agar merasa lebih tenang. Lina beranggapan mungkin Mika masih syok atas perlakuan kasar yang diterimanya tadi pagi, begitupula dengan Dexter yang segera memerintahkan anak buahnya agar bergerak secepat mungkin.


_


Mika kini sudah tenang, ia duduk bersandar pada bantal. Lina dengan telaten menyuapinya dengan bubur yang ia pesan secara online, karena Lina tahu makanan dari rumah sakit pasti terasa hambar dan Mika pasti tidak akan mau memakannya.


Lina yang mengerti langsung meletakkan wadah bubur yang masih tersisa setengahnya, lalu menyerahkan segelas air pada Mika.


"Sekarang Mika istirahat lagi ya, biar cepat sembuh." kata Lina saat menerima gelas dari Mika.


"Iya mah, makasih ya sudah mau merawat Mika." ucap Mika yang menyenderkan kepalanya pada bantal.


"Iya sayang." Lina merapikan selimut Mika hingga menutupi tubuhnya sebatas dada.


Saat ini Lina hanya berdua saja dengan Mika karena Dexter meminta ijin untuk keluar sebentar, walaupun sudah hampir satu jam dia belum kembali.


Dimana Dexter saat ini, dia sedang dalam perjalanan menuju rumah kediaman Aditama bersama dengan si kembar. Axio menyerahkan masalah ini kepada keluarga adiknya karena mereka yang meminta, Axio sudah paham jika Lina dan keluarganya sudah menganggap Mika sebagai anak dan adik bagi si kembar.


Dexter baru saja mengetahui jika Dean lah yang membuat Mika mendonorkan darahnya saat dia sendiri masih dalam keadaan sakit, walaupun Mika memberikan alasan karena rasa kemanusiaannya tapi tetap saja terasa janggal.


Apalagi penjelasan Allen dan Gallen yang menceritakan seperti apa obsesifnya Dean pada Mika membuat mereka merasa curiga, Dexter juga mencari tahu tentang anak bernama Anzel yang selalu di kaitkan dengan Mika.


Dan mereka menerima informasi yang mengejutkan, Anzel yang merupakan anak angkat keluarga Aditama di temukan meninggalkan akibat menjadi korban penculikan. Tapi setelah anak buah Dexter mencari tahu lebih dalam mereka mendapatkan informasi jika Anzel meninggalkan bukan karena penculikan melainkan meninggal karena siksaan yang dilakukan keluarga Aditama, keluarga angkatnya sendiri.


Setelah menghabiskan waktu hampir 1 jam, mobil yang Dexter kendarai bersama kedua anaknya akhirnya sampai di sebuah rumah dua lantai milik keluarga Aditama.

__ADS_1


Satpam membuka pintu gerbang setelah mendapat ijin dari tuannya, Dexter turun dari mobil disambut oleh Gibran dan beberapa maid yang berdiri dibelakang tuan mereka.


Setelah di persilahkan masuk, kini mereka berkumpul diruang tamu milik keluarga Aditama.


"Jadi langsung ke intinya saja tuan Aditama, maksud dari kedatangan kami kemari adalah berhubungan dengan anak anda yang memukul anak saya hingga masuk kerumah sakit." ucap Dexter yang ditatap serius oleh Gibran.


"Saya datang kemari bukan untuk meminta ganti rugi melainkan untuk meminta penjelasan pada anak anda untuk alasan apa dia sampai memukul Mika." lanjut Dexter.


Gibran yang tadinya terlihat serius kini menghela nafasnya, ia lalu memanggil seorang maid.


"Tolong panggilkan Rezka sekarang!" titah Gibran pada maid tersebut yang langsung pergi melaksanakan tugasnya.


"Jadi saya sebagai orang tua memohon maaf jika rezka sudah melukai anak anda, saya memang mendapat informasi jika Rezka sudah memukul murid sekelas dengan adiknya. Saya sendiri tidak tahu untuk alasan apa Rezka sampai melakukan kekerasan, karena itu lebih baik kita bertanya langsung pada Rezka." ujar Gibran yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya pada kedua anak kembar Dexter.


Entah kenapa Gibran merasa wajah kedua anak tersebut memiliki kemiripan dengan anak angkatnya dulu, walaupun Anzel memiliki tinggi badan yang berbeda jauh dari mereka dan bentuk wajah imut dan kecil sangat kontras dengan si kembar yang memiliki garis wajah yang tegas.


Rezka datang menghampiri Gibran, lalu duduk di sofa di sebelah Gibran. Rezka menatap tamunya satu persatu, tatapannya terhenti pada sosok Allen yang pernah di temuinya dirumah sakit. Namun Allen sebenarnya tengah menahan amarah pada pemuda yang sudah membuat Mika masuk kedalam rumah sakit.


"Jadi nak, mereka adalah keluarga anak yang kamu pukul tadi pagi. Bisa kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, karena yang papa tahu kamu memukul anak tersebut karena membuat Dean sedih." tanya Gibran pada Rezka.


"Sebelum saya mohon maaf karena telah melukai anak anda, saya mengaku salah karena sudah menyangka Mika bersikap kasar pada Dean. Namun setelah saya mendengar ucapan Mika yang mengatakan Dean sudah melakukan hal buruk hanya untuk mendekatinya, saya baru sadar jika yang bersalah adalah Dean bukan Mika." Rezka berkata dengan penuh penyesalan.


"Hal buruk apa yang sudah di lakukan oleh Dean, Ka. Papa tidak mengerti maksud kamu?" Gibran menatap bingung pada anak sulungnya itu, karena Gibran terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga ia tidak memiliki waktu untuk memperhatikan anak bungsunya.


"Dean terobsesi pada Mika pah, Dean menganggap Mika adalah Anzel. Karena itu Dean berusaha untuk menarik perhatian Mika, Dean bermaksud untuk memiliki Mika." kata Rezka pelan.


"Dengan berusaha menyakiti Mika, apa dia pikir tindakannya itu bisa membuat Mika menerimanya. Asal kalian tahu saja, Mika ketakutan karena ulah anak gila kalian." kata Allen penuh emosi, dia bahkan berani menyebut Dean gila.


"Tenang kan diri kamu nak, biarkan papa dan tuan Aditama yang menyelesaikan masalah ini." kata Dexter saat melihat Gibran hendak berucap karena tidak terima dengan penghinaan Allen.


"Tolong maafkan ketidak sopanan dari anak saya, jadi tindakan apa yang akan anda lakukan pada putra bungsu anda. Karena yang saya tahu, Aldean Shanon Aditama menderita depresi dan sempat mendapat perawatan dari dokter kejiwaan. Bukankah seharusnya anda tidak membiarkan putra anda berkeliaran di luar tanpa pengawasan." Dexter merendahkan suaranya terdengar begitu mengintimidasi.


"Apa kalian menghina mental anak saya, karena jika ya saya tidak bisa menerimanya?." kata Gibran yang menatap tajam pada Dexter.


"Sebaiknya anda jangan salah paham, karena saya memiliki banyak bukti mengenai kejahatan yang sudah anak anda lalukan. Dan juga bukti fisik yang ada di tubuh Mika, jadi saya minta anda untuk lebih menjaga anak anda agar tidak berbuat seenaknya. Apalagi pada keluarga saya, tuan Aditama." kata Dexter.


"Jika kedatangan kalian hanya untuk menyudutkan anak bungsu saya, lebih baik kalian pergi dari rumah ini sekarang juga. Karena saya tidak yakin bisa menahan emosi saya." ancam Gibran.


"Baiklah kalau begitu, lagi pula urusan ini mungkin tidak akan bisa di selesaikan dengan mudah." kata Dexter yang bangun dari duduknya diikuti kedua anak kembarnya.


"Dan satu lagi tuan Aditama, mengenai kematian anak bernama Anzel. Saya tahu Anzel adalah penyebab gangguan mental anak bungsu anda, saya menemukan hal menarik dari penyebab kematiannya. Saya harap anda tahu situasi karena saya bukanlah orang yang sembarangan." ujar Dexter yang menghentikan langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2