Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
Di tolong Randi


__ADS_3

Mika berjalan gontai melewati jalan yang sepi dan gelap, pikirannya kosong. Ia masih memikirkan apa yang baru saja terjadi kepadanya, hatinya bahkan terasa perih seperti teriris pisau.


Mengingat kembali saat Dean menatapnya dengan penuh ambisi, seperti tatapan predator yang sedang menerkam mangsanya.


Lelah berjalan, Mika memutuskan untuk duduk di sebuah kursi yang ada di dekat sebuah toko. Ia melihat ponselnya yang mati karena kehabisan baterai, dan sialnya dia juga tidak membawa dompetnya saat berangkat sekolah.


"Xaniel, Lo bisa denger gw kan? Kasih tahu gw, sekarang gw harus gimana? Dean gak seperti dulu, dia bukan lagi anak polos yang baik hati. Dean sekarang tampak menyeramkan di mata gw, apa yang sebenarnya terjadi sama dia?" monolog Mika, berharap Xaniel menjawab pertanyaannya.


Hening, Xaniel tidak memberikan respon. Membuat Mika semakin kalut, padahal saat ia berada di kamar Dean, Xaniel terus berbicara kepadanya.


"Nenek tolongin Mika, Mika takut sendirian. Kenapa nenek ninggalin Mika sendirian?" lirih Mika, karena walaupun jiwanya adalah Anzel, ia memiliki semua ingatan Mika asli jadi hati kecilnya juga merindukan sosok perempuan yang sudah merawat tubuhnya sedari kecil.


Air mata Mika akhirnya lolos, ia terisak sendirian. Entah kenapa Mika menjadi lemah, ketegarannya terkoyak setelah pertemuannya dengan Dean. Mika merasakan kesedihan yang sudah ia lupakan, padahal baru saja Mika merasakan kebahagiaan.


"Tapi Lo gak boleh lemah kaya gini ka, karena Lo itu kuat ka, Lo bukan lagi Anzel tapi sekarang Lo adalah Mika. Dan Lo harus hidup bahagia di kesempatan kedua hidup Lo." ucap Mika, menyemangati diri sendiri.


Mika mengusap kasar air mata diwajahnya, tubuhnya bangkit. Ia harus meneruskan langkahnya, ia harus pulang kerumahnya yang sekarang, mansion keluarga Lavande.


Baru saja beberapa langkah berjalan, sebuah mobil berwarna merah ceri berhenti di sampingnya. Mika merasa was-was, ia takut Dean menyusulnya.


Mika langsung berjalan cepat meninggalkan mobil tersebut, namun langkah terhenti saat tangannya di cekal seseorang. Mika terperanjat, ia ketakutan. Bayangan Dean yang mencengkram bahunya kembali muncul, Mika memejamkan matanya sambil bergumam tidak jelas.


"Gw bukan Anzel, gw bukan Anzel, gw Mika." gumam Mika yang tidak terdengar jelas oleh orang yang mencekalnya.


Tiba-tiba saja Mika di peluk orang tersebut, dia bahkan mengelus punggung Mika yang terus bergetar.


"Tenang Mika, ini aku Randi. Kamu kenapa bisa ada disini lalu apa yang sudah terjadi sama kamu." ucap orang tersebut yang ternyata adalah Randi.


Randi baru saja pulang dari sekolah, saat ia mengendarai mobilnya Randi melihat Mika yang berjalan sendirian. Dia lalu memutar balik mobilnya untuk menghampiri Mika.


Randi melihat Mika seperti ketakutan saat memegang tangan adik kelasnya itu, apalagi Mika juga bergumam tidak jelas. Membuatnya refleks langsung memeluk tubuh Mika, Randi mengelus punggung kecil yang terus bergetar itu.


Mika mendongak keatas, menatap wajah Randi. Entah kenapa ia merasa lega, Mika kembali memeluk tubuh tegap tersebut melepaskan semua ketakutannya.


"Kamu kenapa nangis ka?" tanya Randi karena mendengar isakkan dari bocah tersebut.


Mika tidak menjawab pertanyaan Randi, ia malah semakin memasukkan wajahnya pada dada bidang Randi.


Setelah membiarkan Mika menangis dala pelukannya, Randi akhirnya bisa menatap wajah seseorang yang sudah dianggap adik olehnya itu.

__ADS_1


"Kakak antar kamu pulang ya?" tanya Randi dengan lembut yang hanya di jawab anggukan oleh Mika.


Randi akhirnya memapah tubuh Mika yang sudah tenang menuju kursi depan mobilnya, lalu ia masuk kedalam mobilnya. Menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobil tersebut.


Randi melirik kearah Mika yang masih terdiam, pemuda itu menghela nafasnya. Sedangkan Mika terlihat merapikan wajahnya, menghapus sisa air mata dan juga pakaiannya yang terlihat berantakan.


"Makasih ya kak, sumpah tadi panik banget mikirin gimana caranya buat pulang ke mansion. Hehehe." Mika tertawa garing, berharap Randi percaya dengan ucapannya.


Mika jelas berbohong, ia menangis bukan karena memikirkan cara untuk pulang. Sedangkan Randi bisa melihat dengan jelas pemuda disampingnya itu sedang berbohong, namun memilih untuk diam.


"Lalu kenapa kamu bisa ada disini, bukankah arah mansion keluarga Brian itu ada di arah yang berbeda?" tanya Randi yang tetap fokus mengemudi.


"Tadi gw habis nganter temen sekelas gw pulang, karena takut ngerepotin jadi gw mutusin pulang sendiri. Pas di perjalanan, gw baru ngeh kalau gak kenal daerah sini. mana hp gw lowbat jadi gak bisa nelpon orang rumah, jadinya gw bingung sendiri mana lupa bawa dompet lagi." kata Mika sambil menampilkan cengirannya.


Randi hanya tersenyum saat menanggapi perkataan Mika, walaupun ia tahu itu hanya alasan yang di buat oleh Mika.


"Tapi sekarang sudah tenang kan, kamu mau langsung pulang atau mampir dulu untuk makan?".


"Langsung pulang aja deh kak, gw takut Jean khawatir. Apalagi dia kayak sedih gitu pas gw bilang mau anterin temen gw tadi, oh ya kak Randi kok bisa ketempat tadi sih?" tanya Mika yang merasa penasaran.


"Rumah kakak kebetulan lewat jalan tadi, makanya pas kakak liat kamu jalan sendirian langsung putar balik." ujar Randi.


"Oh, iya deh. Makasih ya kak, tadi lega banget pas tahu kakak yang datang walaupun tadi sempat mikir kalau kakak itu orang yang nyulik gw. " kata Mika yang diangguki oleh Randi.


Mobil merah milik Randi memasuki gerbang mansion setelah Mika meminta satpam untuk membukakan pintu gerbang, Randi memarkirkan mobilnya tepat didepan pintu utama mansion.


"Kak Randi mampir dulu ya, nanti Mika minta maid buatin minum buat kakak?" tawar Mika.


"Boleh, kalau tidak merepotkan." angguk Randi.


Mika turun dari mobil di ikuti oleh Randi, lalu menekan bel di dekat pintu. Tidak lama kemudian seorang maid membukakan pintu untuk Mika, ia masuk bersama dengan Randi.


"Tuan Mika akhirnya pulang juga, dari tadi tuan muda Jean terus menangis karena memikirkan tuan Mika." ucap maid yang membuat Mika menghentikan langkahnya.


"Terus Jean sekarang di mana, apa dia masih menangis?" ucap Mika dengan nada khawatir.


"Iya tuan Mika, tuan muda Jean masih menangis di kamarnya walaupun sudah coba di tenangkan oleh nyonya Diana, nyonya Carolina dan tuan muda yang lain.


"Oh ya bi, tolong buatin minum buat kak Randi ya." kata Mika pada maid.

__ADS_1


"Kak Randi duduk dulu ya, Mika mau ke kamar Jean dulu sebentar." lanjut Mika.


"Sepertinya kamu sibuk, lebih baik kakak langsung pulang saja." tolak Randi.


"Tapi kak,,,"


"Udah gak papa, kamu juga lebih baik istirahat. Kakak pulang dulu ya." pamit Randi, Mika mengangguk walaupun ia merasa tidak enak.


Selepas mengantar Randi ke mobilnya, Mika langsung berlari menaiki tangga menuju lantai 3 mansion. Ia bahkan lupa jika mansion tersebut memiliki lift, saat sampai didepan kamar Jean Mika berpapasan dengan Allen yang baru saja keluar dari kamar adik sepupunya itu.


"Lo dari mana aja ka, gara-gara Lo lebih mentingin tuh anak stress sekarang baby demam. Baby terus menangis sampai sesak nafas dan sekarang demam." ucap Allen dingin, membuat Mika sangat terkejut.


Mika membuka pintu kamar Jean dengan kasar, ia melihat bocah itu sedang menangis dalam pelukan mommynya. Di dekatnya juga ada Lina, Gallen, Brian dan Aksan, sedang Axio dan Dexter masih berada di kantor.


"Je,,an." panggil Mika pelan.


Jean langsung melepaskan pelukan Diana, bocah itu melihat kearah Mika yang masih berdiri didekat pintu. Diana dan yang lainnya juga langsung mengalihkan atensinya pada Mika.


Mika terkejut, saat melihat wajah pucat Jean. Ia merasa sedih sekaligus merasa bersalah pada bocah manja yang selalu membuatnya nyaman akhir-akhir ini.


Mika langsung berlari menghampiri Jean saat bocah itu terlihat hendak menangis kembali, Mika langsung memeluknya dengan erat. Mengelus rambut dan punggungnya, saat Jean menangis dalam pelukannya.


"Maafin Mika ya Je, Mika bener-bener minta maaf udah buat Lo jadi kaya gini. Mika nyesel udah buat Jean sedih, Jean jadi sakit kaya gini maafin Mika ya." ucap Mika yang ikut menangis.


Mika melonggarkan pelukannya, Jean mengangguk mendengar perkataan Mika. Yang terpenting baginya saat ini adalah Mika yang berada di sisinya, karena Jean begitu menyayanginya.


"Jean gak papa kok bang, tapi abang harus janji gak akan ninggalin Jean. Abang akan selalu ada di sisi Jean, seperti janji Jean yang akan selalu ada di sisi abang." lirih Jean yang di angguki oleh Mika.


Mereka kembali berpelukan, Diana dan yang lainnya menatap haru pada kedekatan mereka berdua. Mereka semua tersenyum, merasa lega karena anak bungsu kesayangannya sudah bertemu dengan sumber kebahagiaan.


"Ka, pundak Lo kenapa bisa berdarah.?" tanya Gallen.


Seketika semua orang dibuat terkejut oleh perkataan si kembar, bahkan Jean juga langsung melepaskan pelukannya.


Bagian pundak kemeja putih Mika berwarna merah sebagian membuat Jean langsung terlihat panik.


Sementara Mika benar-benar lupa dengan luka yang ditinggalkan oleh cengkraman Dean saat itu, karena jujur saja ia tidak merasakan sakit setelah duduk di pinggir jalan sebelum bertemu dengan Randi.


Sepertinya keberadaan Xaniel di tubuhnya yang membuat Mika tidak merasakan sakit di lukanya.

__ADS_1


"Siapa yang buat abang terluka kaya gini, jangan-jangan Dean. Apa yang udah di lakuin Dean sama Abang?" kata Jean cemas.


Sedangkan Diana dan Lina terlihat bingung, karena mereka berdua memang tidak tahu apa-apa tentang Dean.


__ADS_2