
Dua hari berlalu, pagi ini salah satu kamar VIV di sebuah rumah sakit di hebohkan dengan tangis seorang anak yang tak lain adalah Jean.
"Hiks,, mommy mana abang Mika, dia baik-baik aja kan. Jean mau ketemu bang Mika, huwaaa...." hanya kalimat itu yang terus di lontarkan Jean semenjak ia sadar kemarin.
"Baby tenang dulu ya." Diana memeluk tubuh anak bungsunya sambil terus mengelus punggungnya.
"Tapi Jean mau bang Mika mom, hiks,, hiks."
Diana merasa bingung, ia tidak bisa menghentikan tangis bocah kesayangannya itu. Sementara beberapa orang yang juga ada di dalam kamar tersebut hanya bisa menutup kedua telinga karena mulai tidak tahan dengan suara tangis Jean.
Tidak lama kemudian, Axio masuk di ikuti oleh Aksan. Ia langsung menghampiri si bungsu yang mata dan hidungnya memerah karena terlalu lama menangis.
"Baby ingin bertemu dengan Mika, hemm?" tanya Axio dengan lembut yang di balas anggukan pelan oleh Jean.
"Apa Mika sudah boleh dijenguk sayang?" tanya Diana.
"Dokter mengatakan kondisinya sudah stabil, jadi kita bisa menjenguknya." jelas Axio yang mendapat tatapan semangat dari Jean.
"Tapi ingat, jangan sampai mengganggu istirahat Mika ya nak!" ujar Axio saat melihat anak bungsunya turun dari brangkarnya.
Tubuh Jean memang sudah pulih, luka-luka ditubuhnya juga sudah mendapatkan perawatan dan tinggal menunggu lebamnya menghilangkan.
Jean terlihat mendekati Axio, dia merentangkan kedua tangannya. Axio yang paham langsung menaikan tubuh baby-nya dalam gendongannya dan berjalan menuju kamar ICU tempat Mika dirawat.
"Ingat, kamu harus kuat ya nak. Jangan menangis disamping Mika karena itu pasti akan membuatnya sedih." Jean mengangguk saat mendengarkan perkataan mommynya.
Didepan kamar ICU hanya ada di kembar Allen dan Gallen, sedangkan yang lain tadi ada di kamar Jean. Lalu di mana Reinhard, ia bersama anaknya sedang membereskan sisa-sisa pembantainya karena tidak ingin kejadian beberapa hari yang lalu di ketahui pihak kepolisian. Karena apapun alasannya, menghilang nyawa orang lain tetaplah kesalahan yang harus mendapatkan hukuman bagi kepolisian. Jadi mereka menitipkan Mika pada keluarga Lavande untuk sementara.
Jean membuka pintu kamar ICU di ikuti oleh Diana di belakangnya, perempuan itu hanya khawatir membiarkan anaknya sendiri menemui Mika.
Mata Jean kembali berkaca-kaca saat melihat abang kesayangannya itu terbaring lemah dengan masker oksigen beserta alat lainnya, matanya juga terpejam rapat.
Jean langsung duduk di kursi yang ada di samping brangkar, lalu menggenggam lembut tangan Mika yang bebas dari infusan.
"Maafin Jean ya bang, ini semua gara-gara Jean. Abang cepat bangun, Jean janji gak akan cengeng lagi, Jean juga gak akan nyusahin abang lagi."Jean kembali berurai air mata, Diana mengelus pundak anaknya untuk menenangkannya.
Sementara di alam bawah sadar Mika,
__ADS_1
"Ini di mana, kenapa semua serba putih sih.?" tanya Mika entah pada siapa.
Mika yang lelah mencari jalan keluar karena semua cuma hamparan putih yang tidak berujung memutuskan untuk duduk bersila di tempatnya berdiri.
"Duduk bentar ah, dari tadi jalan cuma putih aja yang gw liat kan cape." gumam Mika.
Tidak lama kemudian, sebuah cahaya muncul di hadapan Mika. Cahaya tersebut berubah menjadi sosok dengan wajah yang sangat ia kenal, yaitu Mika.
"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya sosok itu.
"Apa Lo itu jiwa Mika yang asli?" Mika/Anzel berdiri menghampiri sosok tersebut.
"Ya, saya adalah Mika dan kau adalah Anzel. Maaf karena saya tidak pernah muncul untuk menjelaskan segalanya." kata Mika yang sebenarnya adalah Xaniel.
Sosok itu adalah Xaniel yang berpura-pura menjadi Mika, lalu di mana jiwa Mika yang asli, jiwanya sudah mati saat mencoba bunuh diri dengan melompat dari jembatan air.
Saat itu Xaniel, alter ego miliknya mengambil alih tubuh Mika. Xaniel yang murka akhirnya melahap seluruh jiwa Mika dan kebetulan hari itu juga menjadi hari kematian Anzel, meskipun tempat mereka berjauhan ia bisa mendengar suara jiwa Anzel yang tidak ingin mati dan ingin memperbaiki semua kesalahannya. Dan karena alasan itu, Xaniel menarik jiwa Anzel untuk mengganti Mika yang asli.
Kenapa bukan Xaniel saja yang menggantikan Mika, itu karena dia hanya sebuah kepribadian yang lahir akibat trauma yang dialami Mika di masa lalu ( nanti bakal aunty buat chapter mengenai masa lalu Mika).
"Apa kau menikmati dan menjalani hidupmu dengan baik saat menggantikan saya,?" tanya Xaniel.
"Walaupun gw tetep gak bisa perbaiki kesalahan di masa lalu gw." lirih Anzel yang menunduk.
Mika mendekat, menepuk pundak anak didepannya. Anzel mengangkat wajahnya, ia dapat melihat senyuman di wajah yang selama 6 bulan ini dimilikinya.
"Jangan terus menerus melihat ke belakang An, jalan hidup yang akan kau lalui masih sangat panjang. Tidak ada yang tahu apa yang akan kau hadapi nanti. Saya menyukai sifat optimis dan juga Sikap lembutmu, saya yakin pasti akan ada kesempatan untuk kau memperbaiki semuanya, meskipun harus menggunakan tubuh Mika." Kata Xaniel yang di angguki oleh Anzel.
"Pergilah, ada seseorang yang sangat menunggumu juga orang-orang yang sudah membuka hatinya untuk menerimamu." kata Xaniel.
"Terus Lo gimana, bukannya maksud pertemuan kita untuk mengambil tubuh Lo kembali?" Xaniel menggelengkan kepalanya saat mendengar perkataan Anzel, ia kembali tersenyum tulus.
"Tidak, tubuh ini sepenuhnya adalah milikmu. Karena saya juga hanyalah jiwa asing bagi tubuh ini." jelas Xaniel, entah kenapa Anzel seperti melihat sebuah penyesalan di iris biru kelam miliknya.
"Maksud Lo?" Mika meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Anzel.
"Berhentilah bertanya, dan cepatlah pergi. Apa kau tidak ingin menemui bocah itu?." Xaniel menjentikkan jari bersamaan dengan itu muncullah sebuah lorong.
__ADS_1
"Apa kita akan bertemu lagi?" Anzel menghentikan langkahnya saat hendak masuk kedalam lorong tersebut.
"Tentu saja, karena saya akan selalu ada di sampingmu." ucap Xaniel dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya.
Anzel mengangguk lalu mulai memasuki lorong tersebut, hingga sampai diujung lorong sebuah cahaya menyilaukan masuk kedalam matanya.
"Euughhh"
Jean terkejut saat melihat Mika yang menggerakkan jari tangan yang sedang ia genggam, ia langsung melihat wajah Mika.
Bulu lentik yang menghiasi mata Mika bergerak pelan, mata itu terbuka menampilkan iris hitam pekat yang selalu menenangkan orang di sekitarnya.
"Abang Mika, syukurlah. Syukurlah abang udah bangun, mommy lihat abang udah bangun." air mata Jean kembali mengalir diiringi rasa lega di hatinya.
"Mommy panggilkan dokter dulu ya sayang." ucap Diana yang di angguki Jean dan langsung keluar dari kamar ICU.
"Jean seneng banget abang akhirnya bangun, abang jangan sampai terluka lagi ya. Jean janji kedepannya pasti akan lindungi abang."Jean mengelus kepala Mika yang masih di perban.
Mika yang melihat Jean menangis, mencoba mengangkat tangannya yang sangat sulit ia gerakkan. Namun ia tidak menyerah, akhirnya tangan milik bisa ia letakkan di kepala Jean. Mika mengusap rambut Jean.
"Ja,,ngan na,,ngis.." lirih Mika terbata dengan suara serak.
Jean mengambil tangan Mika, kembali menggenggamnya. Ia mencium punggung tangan Mika yang lemah itu.
"Iya Jean, gak nangis lagi bang. Ini air mata bahagia karena abang sudah membuka matanya." Jean menghapus air matanya, lalu menampilkan senyuman diwajahnya.
Mika mengusap sudut bibir Jean dengan lembut, ia selalu menikmati setelah sentuhan lembut dari Mika.
Tidak lama kemudian seorang dokter masuk untuk memeriksa keadaan Mika, setelah selesai ia mengatakan jika Mika bisa di pindahkan keruang rawat biasa tapi tetap harus banyak istirahat.
° ° °
"Apa kita tidak akan menjenguknya sebelum kembali ke Rusia, ayah?" ucap David pada ayahnya Reinhard, ia baru saja kembali setelah mengurus beberapa dokumen sebelum akhirnya mendapatkan informasi jika Mika baru saja sadar.
"Tidak perlu,boy. Kita tidak akan menemuinya, kau ingat yang di katakan Xaniel bukan. Kita semua sepakat untuk membuat peristiwa di tengah hutan itu seolah tidak pernah terjadi, dan jika kita muncul sama saja dengan kita mengungkapkan Xaniel yang mengendalikan tubuhnya untuk membunuh seseorang dan hal itu sangat tidak di inginkan oleh Xaniel." ujar Reinhard yang akhirnya di angguki oleh David.
"Paling tidak masih ada Randi yang akan selalu menjaga Mika di kota ini, aku sudah memintanya untuk menemukan cara apapun agar bisa semakin dekat dengan Mika." lanjut Reinhard yang lalu meninggalkan David didalam kamar hotelnya.
__ADS_1
"Hemm,, kalau itu yang ayah inginkan. Bagaimanapun kita tidak bisa memaksa anak itu untuk masuk kedalam keluarga kita, karena kita bukanlah siapa-siapa baginya." lirih David sambil menatap punggung sang ayah.