
Mika membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retinanya. Dilihatnya ruangan serba putih dengan aroma khas yang langsung ia tahu, dirinya pasti ada di rumah sakit.
Ia mengedarkan pandangannya, ruangan yang ia tempati begitu kosong hanya ada ia sendiri.
Mika menghela nafasnya, ia seharusnya tidak terlalu berharap ada seseorang disampingnya saat ia sakit. Karena ia selalu sendiri setelah di tinggalkan sang nenek untuk selamanya.
Ceklek
Pintu kamarnya terbuka, mika yang mendengar suara pintu yang terbuka langsung menoleh.
"Lo udah sadar.?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut Gallen.
"Belom, gw masih pingsan kak." jawab Mika datar.
"Hehehe, syukur deh kalau udah bangun. Lo bikin kita semua khawatir tahu, kenapa tiba-tiba pingsan kaya tadi sih?" Gallen duduk diatas brangkar Mika, ia mengelus rambut Mika.
Rambut Mika terasa begitu lembut ditangan Gallen, entah kenapa ia merasa lega melihat anak dihadapannya sudah sadar dari pingsannya.
Untuk sesaat Mika diam, ia merasakan usapan lembut yang membuat perasaannya menjadi tenang. Namun saat melihat Allen muncul dari balik pintu kamar, Mika langsung menepis tangan Gallen.
"Apaan sih kak, main pegang rambut orang aja." ucap Mika ketus, membuat Gallen tersenyum kikuk.
"Hehe, iya maaf." Gallen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tanpa berkata apa-apa, Allen langsung mendudukkan dirinya di sofa yang ada diruangan tersebut. Gallen menatap jengah sang adik yang selalu bersikap dingin dan cuek itu.
"Jean mana kak, dia baik-baik aja kan?" kata Mika yang merasa khawatir pada anak bungsu Lavande itu.
"Baby pulang dulu sama Brian untuk ganti baju, sebenarnya baby gak mau. Tapi Brian bilang kalau baby tetep di sini, Lo gak akan bangun. Eh dia langsung narik tangan si Brian, gw sampai aneh sama baby yang sekarang." ucap Gallen sambil menampilkan ekspresi herannya.
"Mika hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Gallen. Dimatanya Gallen mungkin lebih ramah di bandingkan Allen yang seperti balok es menurut Mika.
"Mika minta maaf ya udah ngerepotin kalian, maaf juga udah bikin khawatir." Mika menunduk, ia merasa tidak enak hati.
"Iya gak papa. Oh ya gw juga mau minta maaf nih atas nama Allen karena dia udah ngatain Lo yang nggak-nggak." Allen menatap tajam sang adik, bisa-bisanya Gallen membawa namanya.
"Gak papa kak, Mika ngerti kok. Kalian cuma khawatir sama Jean kan, kalian gak mau dia dalam bahaya." kata Mika.
Mika kembali membaringkan tubuhnya,ia masih merasa lemas, emosinya tadi siang cukup menguras tenaganya.
__ADS_1
"Mika mau tidur sebentar ya kak, abis itu mau langsung pulang." Mika menarik selimutnya hingga sebatas dada.
"Ya udah, istirahat lagi sana." Gallen bangkit dari duduknya lalu menghampiri Allen dan duduk disampingnya.
Sedangkan diatas brangkar, Mika sudah kembali terlelap di dunia mimpinya.
Tidak lama kemudian, Jean bersama Diana datang. Jean yang merasa sangat khawatir langsung mendekati tubuh Mika, ia hendak menangis namun tidak jadi setelah mendengar perkataan Allen.
"Dia hanya tidur, tadi dia sudah sadar." kata Allen yang duduk disofa.
Jean merasa tenang, apa lagi melihat wajah damai Mika saat tertidur. Akhirnya Jean hanya mengusap-usap punggung tangan Mika yang bebas dari jarum infus.
Mika kembali membuka mata, tapi kali ini bukan ruang sepi yang tadi ia lihat melainkan wajah Jean. Mika tersenyum, entah mengapa ia merasa senang melihat Jean dihadapannya. Jean membalas senyuman Mika.
"Abang udah bangun, perlu sesuatu atau ada yang sakit bang." tanya Jean.
"Haus Je, bisa bantu ambilin minum?" Mika mendudukkan, ia merasa sangat haus saat bangun dari tidurnya.
Jean menyerahkan gelas berisi air yang ada diatas nakas, ia juga membantu Mika minum.
"Makasih, gw udah gak papa. Bisa minta dokter buat ijinin gw pulang sekarang gak?" pinta Mika dengan wajah memelas.
"Bang Mika pasti lapar, makan dulu ya.?" Mika mengangguk, Diana menyiapkan makanan untuk mika setelah mendengar ucapan anak bungsunya.
"Gw bisa sendiri Jean." kata Mika saat melihat Jean hendak menyuapinya.
"Gak papa bang, pas Jean sakit kan bang Mika suapin Jean, jadi sekarang gantian ya Jean yang suapan bang Mika." ucap Jean membuat hawa di kamar tersebut terasa jadi lebih dingin.
Mika tahu, Abang Jean yang berada di ruangan yang sama dengan sedang menatapnya tidak suka. Mika berinisiatif untuk mengambil mangkok bubuk yang Jean pegang.
"Gw udah gak papa, tangan gw masih berfungsi dengan baik kok, jadi gw makan sendiri ya." kata Mika yang langsung memasukkan sendok berisi bubur kedalam mulutnya.
Jean mengerucutkan bibirnya, tapi melihat Mika tersenyum kepadanya ia langsung memasang wajah berseri dan tentu saja terlihat menggemaskan oleh abangnya.
Mika menghabiskan buburnya meskipun mulutnya masih terasa pahit, lapar di perutnya tidak bisa di kompromi.
Hingga malam menjadi sangat larut, mika melihat Jean menguapkan mulutnya berkali-kali. Ia tahu, bocah didekatnya pasti sudah merasa ngantuk.
"Jean mending pulang geh, sudah malam besok kan harus sekolah." kata Mika pada Jean yang sedang menggosok matanya.
__ADS_1
" Jean masih mau disini, temenin bang Mika." ucap Jean.
"Baby pulang ya, Mika pasti pengen istirahat sayang." Diana mencoba membujuk Jean, namun anak bungsunya itu masih tetap kekeh ingin menemani abangnya.
"Jean udah ngantuk kan, sekarang pulang ya?" kini Mika mengelus rambut Jean, dengan enggan ia mengangguk mengiyakan permintaan abangnya.
Kini Mika kembali sendirian setelah Jean dan yang lainnya pulang, ia bangun membawa tiang infusnya lalu duduk di dekat jendela kamarnya.
Mika menatap kosong pada rembulan, pikirannya melayang. Entah kenapa akhir-akhir ini ia sering mengalami mimpi buruk, saat ia menjadi Anzel yang tersiksa oleh dirham dan Anzel yang memiliki sifat jahat saat menjadi anak angkat Gibran.
Tidak lama kemudian ponsel miliknya berbunyi, Mika berjalan mengambil ponsel di atas nakas nya.
Ia langsung menatap malas saat melihat nama dari orang yang menelponnya, lalu mematikan panggilan tersebut.
Tapi sepertinya orang yang menelponnya tidak menyerah, ponsel Mika kembali berbunyi meskipun masih diabaikan oleh Mika.
Setelah berdering hampir 10 menit, apalagi di selingi puluhan pesan masuk akhirnya Mika mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Halo baby, kenapa lama sekali.?" suara bariton terdengar dari ponsel Mika.
"Jangan panggil gw babi, gw manusia." ketus Mika.
"Jangan galak begitu dong sayang, ah apa tidurmu nyenyak karena aku tahu kasur dirumah sakit pasti lebih nyaman dari kasur lipat di kontrakanmu?" kata lawan bicara Mika.
"Cih, jangan sok akrab deh kakek tua. Lo ngikutin gw lagi ya?" Mika terlihat sedikit jengah meladeni orang yang ia sebagai kakek tua.
"Hahahaha,, kamu memang selalu membuatku senang saat mendengar umpatan yang keluar dari mulut manismu sayang." terdengar tawa yang membuat Mika semakin menekuk wajahnya.
"Gak usah banyak basa basi, cepet katakan. Ada perlu apa, sampai tuan Reinhard yang agung menelpon saya?" kata Mika.
"Kau memang tidak pernah ingin berlama-lama berbicara denganku, baiklah langsung saja. Aku akan kembali kembali ke Indonesia, dan mungkin aku akan memberi sedikit kejutan untukmu sayang."katanya santai.
"Kapan kau datang kakek tua.?" pekik Mika yang terkejut dengan ucapan kakek tua itu.
"Itu rahasia, tunggu saja kejutan dari kakek tua ini sayang." ucapnya lalu mematikan panggilannya.
Mika melempar ponselnya keatas kasur, ia mengusap kasar wajahnya. Mika sangat tidak ingin bertemu dengan salah satu iblis dalam hidupnya, kakek tua yang selalu mengaku-ngaku sebagai kakeknya. Padahal Mika tidak pernah mengenal dia sebelumnya yang masuk secara tiba-tiba dalam hidupnya.
Mika merasa sedikit kesal, ia bahkan tidak menyadari seseorang menguping pembicaraan dari balik pintu kamar rawatnya.
__ADS_1