Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
22. Pura-pura


__ADS_3

Dua hari berlalu sejak Mika mendonorkan darahnya dan membuat kondisinya menurun, saat ini Mika merasa sudah jauh lebih baik.


Mika keluar dari lift, berjalan menuju meja resepsionis rumah sakit yang berada di lantai 1. Ia ingin segera menuntaskan rasa penasaran dan khawatirnya dengan segera mengetahui kondisi Dean.


"Permisi suster, saya mau tanya tentang pasien atas nama Aldean Shanon Aditama kira-kira dirawat dikamar berapa ya?" tanya Mika pada seorang perempuan yang duduk di meja resepsionis.


"Tunggu sebentar ya saya cek dulu." ucap resepsionis dengan name tag bertuliskan Rani.


"Kamu yang pingsan waktu donor darah waktu itu kan?" seorang suster menepuk pundak Mika yang refleks langsung menoleh kearahnya.


"Eh, iya suster." Mika menggaruk belakang telinganya karena merasa malu.


"Kamu ada perlu apa disini, kamu harusnya banyak istirahat jangan malah keluyuran kaya sekarang." cerocos suster bername tag Melati.


"Atas nama Aldean Shanon Aditama dirawat dikamar VIV di lantai 3, nanti kamu tinggal tanya saja sama yang jaga dilantai 3 atau bisa cari namanya di pintu." sela Rani yang membuat Melati menatap heran bocah didepannya.


"Kamu nyariin pasien yang kamu tolong kemarin?" tanya Melati yang diangguki oleh Mika.


"Cuma penasaran aja kondisinya sekarang kaya gimana?" lirih Mika.


"Keadaan baik kok, pasien sudah melewati masa kritisnya berkat darah yang kamu kasih nak. Tapi Masi belum sadar, prediksi dokter mungkin besok atau lusa pasien akan sadar." jelas Melati yang lagi-lagi ditanggapi dengan anggukan oleh Mika.


"Kalau gitu terimakasih ya infonya sus, saya pergi pamit dulu. Permisi." Mika pergi menuju lantai 3 untuk menemui Dean,


Mika hanya ingin memastikan kondisinya baik-baik saja setelah itu ia berencana akan segera pergi dan tidak akan pernah menemui Dean lagi.


Mika sampai dilantai 3, ia matanya mencari kamar VIV yang di maksud oleh suster. Hingga ia sampai didepan sebuah kamar yang bertuliskan nama seseorang yang sangat ia rindukan.


Mika hanya berdiri, sambil melihat kedalam dari celah kaca yang terdapat di pintu. Hatinya bergetar saat melihat Dean berbaring di ranjang pesakitan dengan alat bantu rumah sakit, ia juga melihat Gibran yang duduk disamping dengan dengan memegang tangan anaknya sambil mengelus rambut Dean.


Mika memegang dadanya yang terasa sesak, ia tidak menyangka akan melihat keluarganya dalam keadaan seperti ini. Meskipun ia sedikit bertanya-tanya, kenapa keluarga angkatnya itu ada di sini karena yang Mika tahu mereka itu tinggal di Inggris bukan di Indonesia.


Mengenyampingkan masalah itu, Mika kembali menatap khawatir saat melihat keadaan Dean. Dan lagi kenapa saudara angkat yang pernah ia rebut kasih sayangnya sampai melakukan tindakan nekat mengakhiri hidupnya.


Terlalu terbawa rasa khawatirnya, Mika bahkan tidak menyadari sepasang mata tengah memperhatikannya dari jarak yang sedikit jauh. Orang itu bahkan terlihat keheranan saat melihat Mika seperti menghapus air matanya.


Mika menghapus air matanya, ia tak kuasa menahan kerinduan pada keluarga angkatnya itu. Ingin sekali ia memeluk papa Gibran, lalu meminta maaf pada Dean atau segala perlakuannya dulu.


Mika langsung menghapus air matanya saat merasa diperhatikan oleh seseorang, ia melihat ke tempat orang tersebut namun tidak menemukan sosok tersebut.


Mika langsung memutuskan pergi dari tempatnya berdiri sambil membawa tiang infusnya.


Sosok tersebut, Rezka bersembunyi dibalik tembok saat merasakan pemuda yang berdiri didepan kamar rawat adiknya seperti menyadari perhatiannya. Rezka bisa merasakan kerinduan pemuda tersebut, dan bertanya-tanya siapa pemuda tersebut.

__ADS_1


"Lah mas, kenapa berdiri disini. Gak masuk ke kamar rawat adik mas?" tanya suster Melati saat mendapati Rezka berdiri sambil termenung.


"Maaf suster, saya boleh tanya. Suster kenal sama anak yang lagi jalan disana tidak?" Rezka menunjuk punggung Mika yang berjalan menjauh dari depan kamar rawat adiknya.


Suster Melati melihat kearah yang ditunjuk oleh Rezka, matanya langsung menangkap sosok yang ia kenal.


"Oh, itu loh mas dia yang mendonorkan darah buat adik mas. Anaknya baik banget deh, padahal dia sendiri lagi sakit tapi dia maksa untuk donorin darahnya." wajah suster Melati nampak bersemu saat mengatakan kebaikan Mika.


Rezka mengernyitkan dahinya, sedikit penasaran pada pemuda yang sudah menyelamatkan nyawa adiknya.


"Suster tahu dia dirawat di kamar berapa?" tanya Rezka.


"Kalau itu saya tidak tahu mas, tapi kalau gak salah namanya Mikadeo. Mas coba Tan saja sama bagian resepsionis dimana kamarnya." saran suster Melati yang diangguki oleh Rezka.


"Kalau gitu saya permisi dulu mas." Rezka menyingkir, memberi jalan pada suster tersebut.


"Mikadeo." gumam Rezka yang kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar rawat adiknya.


Sesampainya didalam kamar Dean, Rezka melihat Gibran yang sedang mengelus rambut adiknya itu. Gibran juga terus menggenggam tangan Dean sambil sesekali mencium punggung tangan anak bungsunya itu.


"Gimana keadaan adek pah?" tanya Rezka sambil menghampiri brangkar adiknya.


"Dokter bilang kondisinya semakin membaik, mungkin esok atau lusa adek baru sadar." jelas Gibran yang diangguki oleh anak sulungnya itu.


"Oh ya, mengenai orang yang sudah mendonorkan darahnya pada adek, apa kamu sudah mencari tahu identitasnya?" Rezka sedikit terkejut, papanya penasaran pada penyelamat anaknya.


"Cepet bangun ya dek, jangan buat Abang dan papa semakin merasa bersalah sama kamu." Rezka mengelus rambut adiknya yang masih setia menutup matanya.


• • •


Mika duduk dikursi panjang yang berada di lorong rumah sakit, ia menyandarkan tubuhnya dengan kepala yang menyentuh tembok.


Ia menarik nafas panjang, dadanya terasa sesak dan kepalanya terus berdenyut sakit semenjak ia pergi dari kamar tempat Dean dirawat.


Mika merasa sangat lelah, kenapa saat ini ia harus bertemu dengan sosok yang sudah membuatnya mati dalam penyesalan.


"Lo lagi ngapain disini?"


Mika terkejut saat mendengar seseorang berbicara padanya, ia langsung melihat kearah sosok yang menatapnya dengan tatapan dingin.


"Mika cape kak, terus Mika juga lupa kamar mika dimana." ujar Mika yang membuat Allen, sosok yang mengejutkannya menatapnya heran.


"Lo tahu, gara-gara Lo gak ada dikamar semua orang panik karena Jean langsung nangis takut Lo kenapa-kenapa. Dan lagi, kenapa Lo gak bawa hp kalau mau kemana-mana?" suara Allen terdengar kesal, namun Mika terlalu lelah untuk menanggapinya.

__ADS_1


"Maafin gw kak kalau udah nyusahin kalian semua." lirih Mika.


"Sekarang ayo balik kekamar." Allen membalikkan tubuhnya, namun merasa Mika tidak beranjak dari duduknya ia kembali melihat kearah Mika yang masih terlihat duduk.


"Kenapa masuk duduk, Lo mau buat baby nangis terus." lanjut Allen.


"Kepala gw sakit kak, dada gw juga sesek. Gw mau istirahat dulu disini, kak Allen kasih tahu sama Jean kalau gw baik-baik aja kok." Mika terlihat menekan dada kirinya, rasa sesak yang sedari tadi ia tahan kini semakin menjadi-jadi.


Melihat Mika yang kesakitan, Allen langsung menghampiri tubuh Mika. Allen berjongkok dihadapan Mika yang terlihat semakin sulit mengatur nafasnya.


"Lo kenapa, dada Lo sesek." Allen terlihat panik, sedangkan Mika hanya mengangguk pelan.


Mika mengatur nafasnya, ia mencoba menarik nafas secara perlahan. Mika tidak ingin di kuasai rasa sakitnya, ia juga tidak ingin menyusahkan orang lain lagi.


"Gw gak papa kok kak, sekarang udah mendingan." ucap Mika setelah merasa sakit di dada berkurang.


"Lo harus kembali kekamar sekarang, gak baik tetep disini. Nanti gw panggil dokter buat periksa Lo." kata Allen yang lalu berjongkok membelakangi Mika.


Mika menatap heran pada Allen, sedikit menaikkan sebelah alisnya.


"Naik, gw gendong Lo sampai kamar." titah Allen.


"Gak usah kak, gw bisa jalan sendiri." Mika bangun dari duduknya, namun ia kembali merasakan sakit di dada dan kepalanya.


"Gak usah ngerasa gak enak, cepetan naik !" Allen menahan tubuh Mika yang hampir jatuh saat hendak berdiri.


Dengan ragu, Mika menaiki punggung kakak kembar Jean. Allen dengan mudahnya menggendong Mika, seolah-olah tubuh anak itu terasa ringan. Pemuda itu mulai berjalan sambil menggendong Mika dan membawa tiang infus milik Mika menuju kamar rawatnya.


° ° °


Keesokan harinya, saat membuka mata ia melihat Aksan sedang duduk disamping brangkarnya dengan laptop dipangkuannya.


Menyadari anak didepannya membuka mata, Aksan menutup laptopnya. Melihat Mika yang hendak duduk, Aksan segera membantu anak itu dengan menyandarkan tubuhnya pada bantal.


"Makasih kak. Kak Aksan udah lama disini?" ucap Mika.


"Lumayan, dari jam 7." singkat Aksan.


Mika melihat kearah jam yang ada di dinding kamarnya, sudah pukul 10 jadi Aksan sudah menjaganya selama 3 jam.


"Kak Aksan gak perlu jagain Mika kok kalau lagi sibuk, Mika udah gak papa kok." ucap Mika pelan, ia merasa sedikit gugup saat bersama dengan kakak sulung bocah manja temannya itu.


"Baby bilang kemarin kamu pergi dari kamar dan kembali dengan digendong oleh Allen, saya hanya ingin memastikan kamu tidak keluyuran saat bangun dan kembali dengan kondisi drop lagi." kata Aksan membuat Mika menunduk karena merasa bersalah.

__ADS_1


"Maafin Mika karena sudah menyusahkan kalian, Mika janji akan bayar semua kerugian kalian." lirih Mika.


Sedangkan Aksan yang tetap diam semakin membuat Mika merasa bersalah. Mika sedikit bingung dengan kondisi tubuhnya yang sering menurun akhir-akhir ini, ia sering merasa sakit kepala dan lemas di badan secara tiba-tiba. Dan lagi mimpi buruk yang selalu datang di setiap tidurnya membuatnya merasakan firasat aneh yang sepertinya akan datang kepadanya.


__ADS_2