Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
Transmigrasi? apa Dean percaya?


__ADS_3

Mika menghela nafasnya untuk kesekian kalinya, ia melirik Dean yang tersenyum bahagia disampingnya. Mika merasa menyesal, bisa-bisanya ia mengatakan jika dirinya adalah Anzel.


Entah Dean mengetahui tentang transmigrasi jiwanya atau hanya perasaan Dean saja, Mika harus segera menyelidikinya karena ia sungguh tidak ingin terjebak dengan Dean.


Hidupnya sudah bahagia, jadi untuk apa dia mengharapkan masa lalunya. Toh sekarang ia hidup di raga milik Mika, bukan di tubuh lamanya dan jiwa asli Mika juga selalu ada didalam hatinya.


Fyi: Mika/Anzel itu menganggap Xaniel itu adalah jiwa Mika asli.


Dan kenapa Mika bisa sampai duduk satu mobil dengan Dean, itu karena dia terus merengek kepadanya. Mika juga ingin mencari tahu seperti apa dirinya saat masih hidup dulu, itu karena ia melupakan wajahnya sendiri saat terbangun di tubuh Mika. Aneh, tapi nyatanya itu terjadi kepada Mika yang mengingat semua kenangan hidup lamanya tapi malah melupakan wajahnya sendiri.


Itu kenapa saat Dean memintanya untuk menemani pulang, Mika langsung mengiyakannya. Meskipun saat ini Mika malah merasa sedikit menyesal, apalagi saat mengingat seperti apa wajah kecewa Jean dan Allen saat ia meminta ijin untuk menemani Dean pulang kerumahnya.


Larut dalam lamunannya, Mika terkejut saat pintu mobil di buka oleh supir Dean. Mika langsung saja turun dari mobil di ikuti oleh Dean, sejenak ia memandangi rumah mewah bercat putih dengan ornamen biru pada pintu dan jendelanya.


"Masuk yuk dek." ucap Dean yang berjalan lebih dulu.


Mika melihat seorang maid membukakan pintu rumah untuk Dean, maid itu bernama Laela. Mika sangat mengenal maid yang selalu bersikap ramah kepadanya dulu dan tidak pernah melaporkan rencana jahatnya pada Dean kepada tuanya.


"Aden sudah pulang, mau bibi siapkan air hangat untuk mandi atau mau langsung makan?" tanya Laela dengan lembut, Dean menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan bi Laela.


"Eh Aden bawa temen toh, mari masuk. Nama Aden ini siapa ya?" tanya Laela saat menyadari keberadaan Mika.


"Iya bi, saya temennya Dean. Nama saya Mika." ucap Mika sambil tersenyum, walaupun ia tadi sempat terkejut.


"Dirumah ada siapa bi?" tanya Dean sambil memasuki rumahnya.


"Tidak ada siapa-siapa den, tapi mungkin sebentar lagi den Reyhan pulang kuliah kalau den Rezka dan tuan mungkin nanti malam pulangnya." jelas bi Laela meminggirkan badannya,memberi jalan untuk tuan mudanya.


"Kalau gitu bibi bawain minuman sama cemilan kekamar Dean, terus siapin makan malam yang spesial ya soalnya Mika bakal makan bareng sama Dean." kata Dean dengan girang, sementara bi Laela tersenyum melihat tuan muda kembali ceria.


"Tapi bang, gw gak bisa lama-lama disini. Gak enak sama keluarga Jean soalnya gw belum ijin sama mereka." kata Mika yang terdengar keberatan.


"Tapi kan tadi udah minta ijin sama Jean." lirih Dean yang terlihat sedih.


"Iya, tapi tetep aja gak enak. Sekarang kan gw tinggal di mansionnya keluarga Jean, jadi gak enak aja kalau pergi sendirian kaya gini tanpa seijin mereka semua." kata Mika, ia hanya berasalan karena sebenarnya ingin segera pergi dari rumah Dean.


Entah mengapa Mika merasakan firasat buruk, entah apa yang akan terjadi kepadanya.

__ADS_1


Dean membuka pintu kamarnya yang berada dilantai dua rumahnya, Mika masuk kedalam kamar bernuansa biru langit itu. Mika melihat Dean meletakkan tasnya di atas meja belajarnya, lalu duduk diatas kasurnya.


Mika memilih duduk di kursi belajarĀ  yang terletak sedikit jauh dari Dean, ia melihat apa yang ada diatas meja belajarnya. Mata Mika langsung tertuju pada sebuah foto, ia mengambil bingkai foto berukuran sedang itu.


Ia melihat foto seorang pemuda, mungkin berusia lebih tua darinya. Dean menyadari fokus mata Mika tersenyum, lalu menghampiri Mika.


"Itu foto kamu dek, kamu ingetkan itu diambil di taman mansion kita yang dulu.?" kata Dean sambil terus tersenyum.


Mika menatap lekat kembali foto di bingkai tersebut, jadi ini adalah dirinya yang dulu. Foto dirinya saat hidup sebagai Anzel, tapi kenapa ia bisa melupakan wajah tersebut.


"Kok Lo bisa bilang gw ini Anzel, padahal dilihat dari manapun gw sama dia itu beda. Anzel itu kelihatan lebih tua dari gw, bahkan dari Lo juga." kata Mika, namun ia kembali melihat foto tersebut.


Entah kenapa wajah Anzel itu mirip dengan seseorang yang ia kenal, Mika terlihat seperti berpikir keras.


"Dean tahu kalau wajah emang gak mirip, tapi Dean bisa merasakan kalau kamu itu Anzel. Dean yakin dengan apa yang hati Dean rasakan." kata Dean, yang sebenarnya tidak terlalu didengarkan oleh Mika.


Pemuda itu masih mencoba mengingat wajah yang nampak mirip dengan foto tersebut, kemudian ia tersadar. Wajah difoto tersebut memiliki kemiripan dengan Carolina, meskipun hanya bagian bibir dan matanya saja. Namun Mika langsung menepis pikiran sesaatnya itu, mana mungkin ia memiliki hubungan dengan keluarga Lavande. karena yang ia tahu, Dirham adalah ayah yang mengurusnya sejak kecil . Walaupun ia mengetahui kenyataan Anzel hanyalah anak angkat Dirham.


"Kenapa dek, apa kamu sudah sadar dan mau mengakui jika kamu adalah Anzel. Dean pernah cari tahu dari internet tentang transmigrasi jiwa, apa kamu benar-benar mengalaminya Zel?" Dean memegang pundak Mika dengan kedua tangannya.


Mika merasa tersentak, pikirannya menjadi sedikit kacau. Bagaimana bisa Dean begitu meyakini dirinya adalah Anzel, dia bahkan mencari tahu tentang transmigrasi jiwa. Apa Dean memang tidak bisa merelakan kematiannya dulu, Mika juga mengingat kembali seperti apa pertemuan pertamanya. Dean melakukan percobaan bunuh diri, apa itu juga karenanya.


"Pendirianmu goyah hanya karena ucapan bocah tersebut, hahahaha. Kau terlalu lemah Anzel jika kau kembali pada keluarga lamamu. Ingat wajahmu saat ini tidak seperti dulu, apa kau yakin mereka akan menerimamu kembali." lanjut xaniel


Mika hanya diam setelah mendengar perkataan Xaniel didalam kepalanya, hatinya berkecamuk.


"Jangan mengambil pilihan yang salah Anzel, karena belum tentu kamu akan bahagia hidup bersama dengan keluarga bocah itu."


Xaniel terus berbicara kepadanya, sedangkan Dean terus menatap penuh harap. Mika menarik nafas dalam-dalam, ia perlu menenangkan dirinya.


"Kalau kau sampai kembali kepada keluarga lamamu, mungkin lebih baik saya mengambil alih kembali tubuhmu sekarang. Ah, bukankah kau penasaran kenapa wajahmu dulu mirip dengan salah satu anggota keluarga Lavande. Kalau kau ingin tahu kenapa, sebaiknya kau jauhi bocah di hadapanmu itu."


Mika kembali terkejut mendengar perkataan Xaniel didalam kepalanya, Dean memandang heran karena perubahan ekspresi wajah Mika. Mika merasa Xaniel menyembunyikan terlalu banyak hal darinya, Mika juga berpikir jika Xaniel lah yang membuatnya melupakan wajah lamanya.


"Lo udah salah Dean, gw bukan Anzel. Harus berapa kali gw ngomong sama lo, gw itu bukan Anzel dan Anzel itu bukan gw. Kita berbeda, alam kita juga beda. Anzel itu sudah tiada dan seharusnya Lo merelakan kematiannya, bukannya memaksakan keyakinan Lo sama gw." ucap Mika setenang mungkin.


Mika harus tenang, ia harus bisa bersikap setenang mungkin. Masih banyak hal yang harus ia ketahui lebih dahulu, karena itu Mika harus berpura-pura jika dirinya bukanlah Anzel. Mika harus bisa meyakinkan Dean, bukan karena ancaman dari Xaniel tapi karena Mika sendiri belum yakin dengan keputusannya saat ini.

__ADS_1


"Tapi gw yakin Lo itu Anzel. Lo Anzel dan selama akan tetap jadi Anzel, saudara angkat gw dan tadi saat di UKS kamu sudah mengakui jika kamu adalah Anzel." Dean mengguncang tubuh Mika.


"Itu karena gw gak tega ngeliat Lo sedih, aw.." pekik Mika.


Mika meringis saat kedua tangan Dean mencengkram kuat pundaknya, pemuda itu juga mengguncangkan tubuhnya dengan kuat.


" Sa,, sakit." ringis Mika.


Namun Dean sama sekali tidak mengendurkan cengkramannya, Mika merasa ada yang tidak beres dengan pemuda di hadapannya. Dean, terlihat menyeramkan dimatanya.


"Dean, lepas. Sakit, gw mohon lepasin pundak gw." pinta Mika, namun Dean sama sekali tidak bergeming.


Mika memberontak, pundaknya terasa sangat ngilu. Ia bahkan merasakan kuku-kuku jari tangan Dean menusuk kulitnya.


"Lepasin gw brengsek." teriak Mika


Bugh..


Sekuat tenaga Mika menendang perut Dean hingga tubuhnya terdorong menjauh, cengkraman Dean akhirnya terlepas.


Mika memegang pundaknya yang terasa sangat sakit bahkan terlihat noda merah di seragam putihnya, ia menatap Dean dengan tatapan tidak percaya. Sedangkan Dean yang masih dalam posisi jatuh terlihat meringis sambil memegang perutnya, matanya mulai berkaca-kaca.


"Anzel jahat, kenapa Anzel sakiti Dean lagi. Padahal Dean cuma pengen kita jadi saudara seperti dulu, Dean jadi abangnya Anzel lagi. Hiks,, hiks." tangisan Dean terdengar di sela tangisannya.


"Aden kenapa bisa jatuh begini, terus kenapa nangis.?" Laela yang baru saja datang kekamar Dean sontak terkejut.


Ia meletakkan nampan berisi minuman dan kue diatas meja belajar Dean, lalu menghampiri tubuh tuan mudanya.


"Anzel nendang perut Dean,bi. Anzel jahatin Dean lagi ni, padahal Dean cuma pengen Anzel kumpul lagi sama kita." ucap Dean.


Bi Laela terlihat kembali terkejut setelah mendengar perkataan anak majikan, ia merasa bingung karena Laela tahu perihal kematian Anzel.


"Aden ya sabar ya, bibi mohon. Tolong ikhlas kepergian den Anzel, kasihan kalau Aden kayak gini terus." bi Laela mengusap lembut rambut Dean, lalu menatap Mika yang juga nampak terkejut.


Mika berlari meninggalkan kamar Dean, tanpa memperdulikan teriakan Dean yang terus memanggilnya. Tanpa sadar cairan bening membasahi pipinya.


Saat Mika menuruni tangga, ia berpapasan dengan Reyhan. Mika sempat beradu pandang, namun Rey berlalu karena mendengar teriakkan adiknya. Mika sempat menoleh kebelakang, namun ia memilih melanjutkan langkahnya sambil mengusap kasar pipinya.

__ADS_1


Mika harus segera pergi dari Dean, hanya itu yang terpikirkan olehnya. Perlakuan kasar yang baru saja ia terima sudah cukup membuatnya yakin untuk melupakan segalanya, semuanya tentang kehidupan lamanya.


Dean sudah gila, dia bukan lagi orang yang Mika/Anzel kenal. Jika obsesinya bisa membuatnya bersikap kasar,maka tidak mungkin jika nanti Dean melakukan hal yang lebih mengerikan seperti tadi.


__ADS_2