Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
hubungan antara Xaniel dengan reinhard


__ADS_3

Mika mencabuti rumput liar diatas tempat peristirahatan nenek angkatnya, Renata Aileen. Ia menaburkan bunga diatas makam sang nenek yang sudah mengurusnya sedari bayi, setelahnya Mika juga menuangkan air mawar yang dibeli sebelumnya.


"Deo datang nek, maafin Deo ya karena baru bisa jenguk nenek lagi?" kata Mika sambil mengusap batu nisan sang nenek.


Deo adalah panggilan Mika yang biasa di gunakan oleh Renata dan keluarganya, sedangkan panggilan Mika baru ia gunakan setelah di usir oleh Wira karena ia di anggap sebagai penyebab kematian Renata.


Padahal penyebab kematian sang nenek adalah kecelakaan mobil yang dialaminya, dan sialnya Mika berada satu mobil dengan Renata saat itu. Mika selamat dan hanya mendapatkan luka ringan di tubuhnya, sedangkan Renata mendapatkan luka berat akibat tergencet bagian kemudi yang menabrak pembatas jalan.


Mobil sang nenek menabrak pembatas jalan dengan kerasa, karena rem mobil Renata blong saat di jalanan menurun. Tidak ada yang tahu penyebab rem mobil tersebut tidak berfungsi, tapi Xaniel yang meminta bantuan Reinhard untuk menyelidiki penyebab kematian sang nenek menemukan fakta jika rem mobil tersebut blong karena ulah salah satu musuh Renata.


"Nenek gak usah khawatir ya karena sekarang Deo sudah punya keluarga yang mau menerima Deo, memberi Deo banyak kasih sayang dan perhatian. Sekarang Deo sangat bahagi nek." lanjut Mika sambil tersenyum menatap gundukan tanah di hadapannya.


"Oh ya nek, Deo gak sendirian ke sininya. Deo bawa keluarga baru Deo, ada Jean dan kak Allen." kata Mika sambil melihat kearah Jean yang berjongkok disampingnya lalu Allen yang berdiri dihadapan Mika.


"Halo nek, kenalin nama aku Jean. Sekarang bang Mika udah jadi abangnya Jean. Nenek gak usah khawatir ya karena Jean janji selalu ada di samping bang Mika." kata Jean.


Mika kembali tersenyum saat melihat Jean yang menoleh kepadanya, ia sangat berterimakasih pada bocah tersebut. Kalau bukan karenanya mungkin Mika tidak akan di perbolehkan mengunjungi makam sang nenek. Keluarga Lavande melarangnya untuk keluar mansion sampai waktu yang belum di tentukan, alasannya adalah keselamatan. Mereka khawatir Dean dan keluarga Aditama berbuat jahat pada Mika.


Mika yang tiba-tiba menerima perlakuan protektif dari keluarga angkatnya itu jelas tidak setuju, apalagi larangan keluar mansion terlalu berlebihan untuknya.


Bagi Mika, jika ia harus bertemu dengan Dean dan keluarganya tidak perlu di hindari. Mika ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Dean, karena ia tidak ingin Dean tenggelam lebih dalam dalam lubang kegelapan dihatinya.


Mika masih memiliki sedikit rasa kepedulian pada Dean dan keluarganya, bagaimanapun Mika pernah merasakan perhatian dan kasih sayang dari keluarganya angkatnya di kehidupan lamanya.


Mika atau Anzel tahu, Gibran bukanlah orang yang bijaksana. Dia hanya sosok orang tua yang berusaha menuruti keinginan anak-anaknya, meskipun dengan jalan yang salah.


Mika menundukkan wajahnya, air matanya mulai menetes. Mika merindukan sosok sang nenek yang hanya ada didalam ingatan milik Mika asli, Mika juga merindukan orang-orang yang pernah ada disampingnya saat masih hidup sebagai Anzel.


Jiwa asli Mika memberinya ingatan tentang kebaikan sang nenek, sentuhan lembut dan senyuman yang selalu bisa membuat Mika tersenyum di saat ia sedang bersedih.


Mika mengusap air matanya saat Jean merangkul tubuhnya, Jean menepuk-nepukkan tangannya membuat Mika sedikit lebih tenang.


"Makasih ya Je." lirih Mika pelan yang di balas anggukan oleh Jean.


"Pulang sekarang yuk Ka, mendung soalnya takut keburu ujan." kata Allen sambil melihat kearah langit yang mulai dihiasi awan gelap.


"Deo pulang dulu ya nek, nanti Deo datang lagi kesini. Nenek tenang ya di sana, Deo pamit pulang." kata Mika yang kemudian berdiri.


"Yuk bang." ajak Jean dengan semangat.


"Iya hayu pulang."


Mika mengusak rambut Jean sampai berantakan, sementara Jean tetap diam karena menikmati sentuhan dari abang angkatnya itu.


Mika sudah resmi menjadi anggota keluarga Lavande karena Dexter dan Lina sudah mendapatkan hak asuh Mika secara sah dan legal.


Secara hukum Mika sudah menjadi anak bungsu dari Dexter dan Lina, Mika pada akhirnya hanya bisa menerima keputusan tersebut karena kedua orang tua si kembar itu tidak pernah meminta pendapatnya dulu sebelum mengambil keputusan mengenai hak asuhnya.

__ADS_1


Dan semalam Mika menerima surat yang di berikan oleh Allen di kamarnya, surat tersebut menyatakan jika Mikadeo secara hukum adalah anak dari Dexter dan Carolina.


Sepertinya mereka tahu jika hak asuh Mika oleh neneknya telah di hapus oleh Wiratama sebelum dia dan keluarganya pergi menetap diluar negeri, jadi mereka bisa dengan mudah mengambil hak asuh Mika yang masih berusia 16 tahun itu.


• • •


Allen menjalankan mobilnya pada kecepatan sedang, hingga Mika dan Jean bisa menikmati pemandangan pantai dan lautan saat perjalanan pulang dari makam Renata.


Nenek Renata memang di makamkan di samping makam suaminya, Jonathan Rhys Majendra di pemakaman khusus keluarganya yang berada di atas bukit yang langsung menghadap ke lautan. Lalu apa hubungan Reinhard dengan sang nenek, bisa di bilang Renata itu adalah cinta pertama Reinhard saat SMA. Karena saat itu Reinhard harus pindah ke Rusia, jadi ia hanya bisa memendam perasaan tanpa pernah mengutarakan niatnya pada Renata.


Lalu bagaimana Mika bisa mengenal sosok Reinhard, itu karena Mika yang tubuhnya sedang di kendalikan oleh Xaniel secara kebetulan menolong Reinhard yang terluka dan di kejar oleh musuh-musuh.


Flashback


Malam terasa begitu dingin saat disirami rintikan air mata, gelap dan begitu sepi. Segelap tatapan mata dengan iris biru kelam, seringaian juga menghiasi wajah kecilnya saat berhasil membuat wajah pria di hadapannya berlumuran darah.


Padahal tubuhnya begitu kecil, tapi tidak ada yang menyangka jika anak tersebut berhasil menjatuhkan tiga remaja dan satu pria dewasa hanya dengan mengunakan potongan kaca yang masih ia genggam di tangan kanannya.


Anak tersebut adalah Mika, atau lebih tepatnya Xaniel. Xaniel merasa muak saat jiwa lemah di tubuh yang sama dengannya selalu diam dan menunduk takut, bahkan saat tubuhnya dipukul,  Mika hanya menangis.


Xaniel akhirnya muncul disaat Mika kehilangan kesadarannya dan mulai melakukan serangan pada remaja dan pria tersebut.


Mereka berempat ketakutan saat melihat Mika menggenggam bilah pecahan kaca yang lumayan besar, mereka memundurkan tubuhnya.


Xaniel mulai mengejar dan menghajar mereka secara bersamaan, membuat mereka harus bekerja sama melawan bocah berusia 13 tahun itu.


Mika atau Xaniel membuang asal bilah kaca tersebut, saat itu pula darah segar keluar dari dari telapak tangannya. Xaniel melanjutkan langkahnya dengan tatapan datar, ia bahkan tidak meringis sedikitpun padahal tangannya juga terluka.


Namun saat ia berjalan di lorong gang sempit, Xaniel tidak sengaja bertabrakan dengan pria dewasa yang berjalan sambil memegang perutnya.


"To,,long." ucap pria tua, suara begitu lemah. Xaniel bahkan hampir tidak bisa mendengarnya.


Xaniel menahan tubuh besar pria tersebut dengan punggungnya, lalu membawanya kedalam sebuah bangunan kosong terbengkalai.


Xaniel yang memiliki feeling tajam bisa tahu jika pria tua tersebut sedang melarikan diri dari sesuatu, dan melihat luka di tubuhnya Xaniel langsung tahu jika orang di dekatnya itu bukanlah dari kalangan biasa.


"Hei kakek tua, apa kau baik-baik saja?" tanya Xaniel sambil menatap remeh pada Reinhard.


"Hahaha,, lucu sekali mendengar bocah sepertimu berbicara kasar pada orang tua seperti aku." Reinhard tertawa sambil menahan nyeri di perutnya.


"Cih, padahal saya baru saja menyelamatkan nyawamu. Bisa-bisanya kau menatapku dengan tatapan sombong seperti itu." lanjut Xaniel.


Ia berjalan dan bersembunyi di balik jendela, melihat keluar untuk memastikan situasinya aman. Xaniel melihat beberapa orang bertubuh besar dan berpakaian serba hitam seperti sedang mencari sesuatu, Xaniel langsung menyadarinya lalu melirik kearah reinhard sambil tersenyum sinis.


"Sepertinya mereka masih mencarimu, ada masalah apa sampai mereka enggan melepaskan kakek tua sepertimu?" tanya Xaniel yang berjalan mendekati tubuh Reinhard.


Xaniel berjongkok dihadapan pria tua tersebut, ia menatap lekat wajah Reinhard lalu kembali tersenyum sinis.

__ADS_1


"Ah,, sepertinya kau adalah musuh mereka. Pasti masalah sangat besar sampai mereka enggan melepaskan dirimu kakek tua." lanjut Xaniel.


"Sepertinya kamu adalah anak yang sangat cerdas, beritahu aku siapa namamu?" ucap Reinhard yang berusaha mempertahankan kesadarannya.


Reinhard memang mengalami luka parah akibat terkena tembakan salah satu ajudan musuhnya di bagian perut kirinya.


"Terimakasih untuk pujiannya kakek tua. Namaku adalah Mikadeo Aileen" kata Xaniel.


Reinhard langsung terkejut mendengar nama keluarga dari bocah di hadapannya, Kakek tua itu teringat pada seseorang yang pernah mengisi relung hatinya.


"Aileen ya, apa kau mengenal seseorang bernama Renata Aileen?" Reinhard penasaran, jadi ia memberanikan diri untuk bertanya.


"Dia adalah nenekku."


Reinhard terdiam, entah apa yang sedang dipikirkannya . pria tersebut melihat Xaniel seperti mengawasi sesuatu, ia kembali berjongkok dihadapan Reinhard.


"Saya akan membawamu keluar dari sini, lukamu pasti sudah mengeluarkan banyak darah dan itu sangat berbahaya." ucap Xaniel.


Reinhard tidak bisa mendengar dengan jelas perkataan Mika karena kesadaran yang terus memburam, hingga akhirnya kegelapan menyelimuti segalanya.


"Euughhh," Reinhard membuka matanya perlahan.


Ia melihat kearah sofa di kamar rawatnya, Reinhard melihat anak yang menolongnya tertidur tanpa selimut yang menghangatkan tubuhnya.


Reinhard melihat Mika yang duduk sambil mengucek matanya, ia tersenyum saat melihat Reinhard yang sudah sadar.


"Kakek sudah bangun, syukurlah." ucap sambil berjalan lalu duduk di samping brangkarnya.


"Apa kau yang membawaku kemari?" tanya Reinhard yang di angguki oleh Mika.


Reinhard merasa ada yang berbeda dengan bocah didepannya, karena tatapan anak yang sudah menolongnya jauh lebih dingin dan kejam bukanlah teduh dan menghangatkan bagi orang lain.


"Iya, semalam Mika melihat kakek tidak sadarkan diri di gedung kosong yang aku lewati. Untung aja langsung di tangani kalau gak kakek pasti udah ko'it."


Reinhard mengernyitkan dahinya, kenapa perkataan anak di depannya itu terasa aneh. Bukankah dia bertemu dengan Mika karena tidak sengaja bertabrakan di lorong gang kecil.


"Kalau gitu Mika pulang dulu ya kek, soalnya harus berangkat sekolah. Kakek gak papa kan kalau aku tinggal?" ucap Mika.


"Aku sudah baikan, jadi kamu bisa pergi. Tidak perlu mencemaskan kakek lagi." balas Reinhard yang di angguki oleh Mika.


Tidak lama kemudian, David datang. Wajah tersirat rasa khawatir, ia sangat ketakutan saat menerima laporan ayahnya telah di jebak oleh musuh bisnis keluarganya.


"Ayah, apa kau baik-baik saja.?" ucap David memburu.


"Aku baik-baik saja boy, tidak perlu merasa cemas seperti itu. Lalu dari mana kamu tahu jika aku ada disini?" lanjut Reinhard.


"Aku bertemu dengan salah satu anak buah ayah yang berhasil selamat dari penyerangan, dia mengatakan jika ayah terluka dan di kejar oleh mereka. Setelah menemukan lokasi ayah, aku dan beberapa anak buah mendatangi tempat tersebut. Dan alangkah terkejutnya saat aku melihat anak kecil diantara tubuh musuh-musuh ayah." ujar David yang berhasil membuat Reinhard penasaran pada sosok anak yang menolongnya.

__ADS_1


.


__ADS_2