Hidup Kedua Anzel

Hidup Kedua Anzel
14. Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Malam ini suasana di kediaman keluarga Lavande terasa begitu ramai karena kedatangan keluarga besar Axio dari Amerika.


Semua sedang berkumpul diruang keluarga, mereka asik mengobrol santai menceritakan pengalaman hidup mereka.


"Jadi kakak sudah memutuskan untuk menetap di sini untuk setahun kedepan?" ucap Diana pada Carolina perempuan yang merupakan kakak dari suaminya Axio.


"Iya, ada bisnis yang harus di urus disini jadi kami putuskan untuk tinggal disini, kalian tidak keberatan kan?" jawab Dexter Ighnatus Lavande suami Carolina.


"Oh, kalau begitu Allen dan Gallen juga akan ikut menetap dan bersekolah dengan baby dong." Diana terlihat senang setelah dua putra kembar Carolina mengangguk.


"Mommy dan daddy bagaimana, apa juga akan menetap disini?" kini Axio yang buka suara pada kedua orangtuanya sekaligus opa dan Oma anak-anaknya.


"Kami hanya akan tinggal beberapa hari disini, setelah itu akan terbang ke Jepang untuk mengurus bisnisku disana." Matias menyeruput kopinya sambil berkata dengan dingin.


"Oh ya, mana cucu kesayangan Oma, apa mereka belum pulang dari sekolah?" Desi, Oma dari Jean itu menyadari ketidak adaan cuci kesayangannya.


"Iya mom, baby dan Brian belum kembali dari sekolah, mungkin sebentar lagi mereka pulang." jawab Diana, melihat kearah jam tangannya.


"Kami sudah tidak sabar untuk bermain dengan baby, apa dia masih suka membangkang dan berbuat onar seperti biasanya?" tanya Gallen yang memiliki sifat lebih ekspresif dibandingkan saudara kembarnya Allen yang cenderung pendiam dan cuek.


"Kalian nanti bisa lihat sendiri seperti apa baby kalian." Diana tersenyum kearah kedua ponakan kembarnya itu.


Tidak lama kemudian, mobil milik Brian terdengar masuk kedalam garasi. Bodyguard membukakan pintu untuk tuan mudanya, Jean masuk kedalam mansion dengan wajah ditekuk, nampak jelas ia sedang merasa kesal.


Jean duduk di dekat Diana, mengedarkan pandangannya pada laki-laki dan wanita yang merupakan opa, Oma, paman dan bibinya serta kedua anaknya.


Wajah masih cemberut, namun terlihat cukup menggemaskan bagi mereka.


"Ada apa baby, kenapa pulang sekolah kesal begitu?" Diana mengelus surai lembut sang bungsu.


"Jean kesel sama abang Vian, gara-gara bang Vian abang Mika jadi marah sama Jean." sambil memukul-mukul sofa yang ia duduki Jean mulai mengadu pada mommy nya.


"Lah kok Mika bisa sampai marah bang?" Diana bertanya pada Brian yang baru saja sampai diruang keluarga.


"Salah paham mom, lagian Mika gak marah kok sama baby. Dasar baby-nya aja yang baper, dia cemburu karena Mika bawa Revan ke UKS." jelas Brian, membuat semua orang yang berada disana menatapnya bingung.


Jean memeluk Diana, menduselkan wajahnya pada perut mommy nya. Sementara yang lain menatap Brian penuh tanya, meminta penjelasan lebih tentang apa yang terjadi pada baby mereka.


"Ekhemm" deheman dari pria berumur yang masih terlihat gagah mencair suasana.


"Jelaskan, siapa itu Mika dan apa hubungan dengan baby cucuku?" ucap pria tersebut Matias.


"Mika itu anak yang menolong baby saat kabur sebulan yang lalu, baby ingin dia menjadi abang angkatnya tapi Mika menolak dan hanya menerima tawaran untuk bersekolah disekolah baby. Anaknya cukup baik dan baby sangat manja sama dia dad." jelas Axio.


"Mommy harus bantuin Jean supaya bang Mika deket lagi sama Jean." bocah itu menengadahkan kepalanya sambil menampilkan puppy eyes andalannya.


"Iya, baby. Nanti mommy bilang sama Mika ya supaya lebih perhatiin kamu. Sekarang jangan ngambek lagi, memangnya baby gak kangen sama opa Oma, mama papa dan abang kembar." Diana melepas pelukannya sambil menatap keluarga besar yang datang dari luar negeri itu.


Jean bangun lalu menghampiri mereka sambil mengecup pipi mereka satu persatu, Jean tersenyum manis membuat Desi yang terakhir dicium oleh Jean langsung memeluk cucu kesayangannya itu.

__ADS_1


"Baby kangen sama Oma?" tanya Desi yang diangguki oleh Jean.


"Kalau begitu kamu malam ini tidur dengan Oma ya." lanjut Desi.


Setelah mengangguki ucapan Oma, Jean menghampiri Axio lalu duduk dipangkuannya. Ia bergelayut manja pada sang Daddy, dan Axio tahu itu adalah kebiasaan bungsunya jika hendak meminta sesuatu padanya.


"Daddy, boleh Jean minta sesuatu?" kata Jean, pikiran Axio terbukti.


"Ingin apa hem?" tanya balik Axio.


"Jean minta di beliin sepeda, Jean mau minta abang Mika ajarin Jean naik sepeda biar bisa sepedahan bareng." ucap Jean dengan nada manja.


"Tidak boleh, itu terlalu berbahaya baby." bukan Axio yang menjawab namun Dexter yang menatap tidak suka dengan keinginan ponakannya itu.


"Jean bukan ijin sama papa tapi sama daddy, boleh ya dad Jean mohon." Jean kembali merayu Daddy.


"Baiklah kalau begitu." kata Axio pasrah, toh jika tidak diijinkan baby-nya pasti akan merajuk padanya.


"Yee, makasih Daddy." ucapnya girang lalu menghadiahi Axio dengan ciuman diwajahnya.


"Tapi dad bener kata papa itu terlalu berbahaya untuk baby." kata Allen yang menatap khawatir pada Jean.


"Kalian tenang saja, setelah melihat seperti apa Mika kalian pasti akan percaya kepadanya. Dia anak yang sangat baik dan aku juga sudah percaya kepadanya." kata Axio kepada seluruh keluarganya.


Jean seperti melupakan kekesalannya tadi, kini ia kembali terlihat ceria. Ia bahkan seperti melupakan keberadaan abang kembar, karena biasanya Jean akan langsung meminta mereka menemani.


"Apa yang terjadi disekolah Brian?" kata Matias pada cucunya.


"Jean tidak sengaja menabrak Revan, Alvian yang marah langsung menampar dan memukul Revan. Saat itu Mika datang untuk menghentikan Vian, mereka sedikit adu mulut. Saat Vian hendak memukul Mika, baby mencoba menghentikannya."jelas Brian.


"Alvian yang kamu maksud apa anak sulung keluarga Jevandra." ucap Matias yang diangguki oleh Brian.


"Baby berhasil menenangkan keadaan, saat itu Mika meminta ijin pada Jean untuk membawa Revan ke UKS." lanjut Brian.


"Lalu apa yang membuat baby sampai kesal begitu?." Carolina menatap bingung pada keponakannya.


"Saat jam istirahat Mika menghilangkan dikelasnya, saat di telpon Mika menolak ajakan makan siang dari baby dengan alasan sedang belajar di perpustakaan. Baby mengira Mika marah padanya karena gara-gara dirinya Mika hampir di hajar oleh Vian, padahal aslinya tidak sepertinya baby hanya salah paham saja." lanjut Brian.


"Apa Mika sering menghindar dari baby saat disekolah?" tanya Axio yang diangguki oleh Brian.


Axio menghela nafasnya, seperti yang ia duga Mika tidak seperti tidak ingin terlalu dekat dengan anaknya.


"Mika sering menolak istirahat bersama dengan berbagai alasan, ia juga selalu menyuruh baby kekelas saat baby menemuinya di jam pelajaran. Aku sendiri tidak tahu apa alasan Mika melakukan semua itu dad." jawab Brian.


"Dia anak yang sulit di tebak, namun aku merasa dia bukanlah orang yang jahat. Tetap perhatikan Mika di sekolah, jika ada sesuatu yang mencurigakan beritahukan Daddy segera." lagi-lagi perkataan Axio hanya dijawab anggukan oleh anak tengahnya.


° ° °


Udara begitu dingin saat Mika mengayuh sepedanya, saat ini jam menunjukkan pukul setengah 11 malam. Mika baru saja pulang dari distro tempatnya bekerja setelah hujan berhenti mengguyur bumi.

__ADS_1


Matanya menangkap sosok perempuan tengah duduk di kursi sebuah halte yang sering ia lewati saat perjalanan pulang bekerja.


Ia sedikit bergidik ngeri, karena mengira sosok itu adalah sosok tak kasat mata. Namun ia langsung menepis pikiran itu dan terus melanjutkan perjalanannya.


"Loh kakak yang waktu itu numpahin jus sama Jean kan ?" ucap Mika saat berada dekat seorang gadis yang duduk di kursi halte.


Mika masih mengingat wajah kakak kelas yang membully Jean beberapa waktu lalu, ia terlihat menggigil kedinginan. Pakaiannya nampak basah akibat hujan, bisa masuk angin pikir Mika. Gadis itu menyadari ada yang menyapanya langsung menatap Mika.


"Kakak lagi ngapain disini, kok bajunya basah kuyup kaya gitu?" tanya Mika.


"Gw lagi nungguin taksi, mau pulang. Lo juga ngapain disini udah malam juga." jawab ketus Dea.


"Gw baru pulang kerja kak, kalau nunggu taksi disini Jam segini biasanya gak akan ada yang lewat kak kecuali taksi online. Nih pake dulu, kakak pasti kedinginan kan." Mika menyerahkan sweaternya, gadis itu malah menatapnya penuh curiga.


"Hape gw lowbat makanya gak bisa pesen taksi online atau hubungi orang buat jemput gw." jawab Dea yang masih menatap sweater ditangan Mika.


"Pake dulu kak, nanti masuk angin loh. Kalau gitu Mika pesenin taksi online nya gimana, kakak juga pasti pengen cepet-cepet pulang kan." Mika duduk di kursi halte setelah Dea menerima sweater milik Mika.


Dea memakai sweater itu, terasa lebih hangat dibandingkan saat hanya memakai pakaiannya yang basah karena hujan.


"Lo mau pesen gw taksi, kalau gitu makasih ya." Dea sedang malu saat mengucapkan terima kasih pada Mika, namun bocah dihadapannya hanya membalas dengan senyuman.


Mika terlihat menekan aplikasi grab di ponsel, setelah itu ia bangun menuju sepedanya. Ia juga mengambil sebuah kotak susu coklat dari kantong belanjaan yang tergantung di sepedanya


"Minum dulu kak, biar gak dingin perutnya." Mika menyodorkan kotak susu uht rasa coklat itu pada Dea.


"Makasih." Dea menerima susu tersebut lalu langsung meminumnya.


"Gw temenin sampai taksinya datang ya kak, mungkin sebentar lagi." kata Mika yang kembali duduk menyisakan jarak dua kursi dari Dea.


"Lo emang gak penasaran terus gak mau nanya kenapa gw ada disini?" Dea terlihat menatap kosong pada jalan dihadapannya yang terlihat sangat sepi dari lalu lalang kendaraan.


"Penasaran sih, tapi gw gak mau ikut campur urusan orang lain kak." ucap Mika sambil meminum jus kemasan yang ia beli saat pulang bekerja.


Kalau gitu bagus deh, gw jadi gak perlu ceritain kejadian yang menyakitkan yang baru aja gw alamin tadi." lirih Dea, terdengar kesedihan ditelinga Mika.


Namun Mika memilih untuk diam, ia hanya ingin tidak ikut campur lagi untuk urusan orang lain. Sudah cukup kejadian disekolah menjadi pelajaran untuknya.


Hingga beberapa menit kemudian, taksi online yang Mika pesan tiba. Dea langsung masuk kedalam taksi tersebut, gadis itu membuka kaca mobil saat ia sudah duduk didalam mobil.


"Sekali lagi terimakasih ya, nanti gw bales deh semua kebaikan Lo." kata Dea dari dalam taksi.


"Gak usah dipikirin kak, gw ikhlas kok bantuin Lo." ujar Mika sambil tersenyum kearah Dea.


Mobil taksi pun melaju meninggalkan halte serta Mika yang berdiri menatap kepergian Dea.


Setelah memastikan Dea pulang dengan aman, Mika kembali melanjutkan perjalanan pulang dengan kembali mengayuh sepedanya.


Ia merasa sedikit hawa dingin menusuk tubuhnya, mungkin karena habis turun hujan dan ia juga hanya memakai kaos lengan pendek setelah memberikan sweater nya pada Dea.

__ADS_1


__ADS_2