
Axio berjalan cepat saat sampai di mansion, ia langsung menunjukkan ruang kerjanya. Disana telah berkumpul istrinya, Diana lalu Carolina beserta suaminya dan Matias bersama istrinya Desi.
"Apa yang akan kau katakan pada kami kak?" tanya Carolina pada Axio yang terus menampilkan wajah seriusnya.
"Ini mengenai pria brengsek yang sudah mengambil salah satu anak kembarmu Lina, dia kembali untuk menghancurkan kebahagiaan keluarga kita lagi." kata Axio.
Carolina yang langsung mengingat kembali peristiwa yang dialami keluarganya 17 tahun yang lalu, saat ia yang baru saja melahirkan 3 putra kembarnya dan harus kehilangan salah satunya karena penculikan yang dilakukan oleh musuh keluarganya.
Carolina tak sanggup menahan air matanya, Dexter yang melihat istrinya kembali terguncang langsung menariknya dalam pelukannya.
"Berani-beraninya bajingan itu muncul kembali, sepertinya dia sudah bosan hidup." Matias menampilkan senyum evil nya, namun Axio malah menunduk sedih.
"Dan lagi, dia mengatakan anak yang diculiknya sudah tiada karena disiksa olehnya. Maaf kan aku Lina, seharusnya kita tidak pernah melepaskannya dari dulu. Seharusnya kita bisa menyelamatkan Khallen dari bajingan itu." geram Axio saat mengingat bungsu adiknya harus mati ditangan musuhnya.
Tangis Lina pecah, begitupun dengan Diana. Mereka merasakan kesedihan yang amat mendalam, namun juga kebencian pada bajingan tersebut.
"Dia akan kembali untuk menyakiti anak-anak kita, kita harus segera bertindak. Kalau tidak, mereka akan dalam bahaya." Axio kembali mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Biar papa yang mengurus bajingan itu, kalian perintah para bodyguard dan orang-orang yang berpengalaman untuk menjaga anak-anak." titah Matias yang diangguki oleh semuanya.
° ° °
Mika mengikuti diam-diam orang yang dikenalnya, ia merasa penasaran sekaligus khawatir pada siapa yang sedang berada didalam ruang UGD didepannya.
Sedikit tidak habis pikir, Mika bertanya-tanya kenapa kakak angkatnya (Anzel) bisa berada di kota ini. Karena yang dia ingat, keluarga Gibran itu tinggal Inggris bukan di Indonesia.
Tidak lama kemudian, ia melihat seorang dokter keluar dari ruang UGD, ekspresi menampilkan raut wajah tegang. Dokter tersebut terlihat berbicara dengan Rezka, kakak dari Dean keluarga yang dulu mengangkatnya menjadi anak saat masih hidup sebagai Anzel.
"Bagaimana keadaan adik saya dok?" kata Rezka khawatir.
"Kondisinya kritis, pasien mengeluarkan banyak darah. Jadi kita butuh transfusi darah secepatnya, namun sayangnya stok darah dengan golongan darah yang sama dengan pasien sedang kosong, jadi kita butuh pendonor secepatnya." jelas dokter, Rezka terlihat memegang kepalanya bingung.
Mika yang mendengar pembicaraan Rezka dan dokter langsung terkejut, siapa yang ada didalam ruang UGD lalu kenapa sampai kehabisan darah. Apa lukanya parah, dan lagi stok darah yang golongan darahnya sama dengan adik Rezka juga kosong membuat hatinya semakin bergejolak.
"Saya harus bagaimana dok, tolong selamatkan adik saya, tolong selamatkan Dean dok." Rezka terlihat tidak berdaya, ia sampai bersujud pada dokter tersebut.
"Satu-satunya cara untuk menyelamatkan adik anda adalah dengan mendapatkan pendonor sesegera mungkin, kalau begitu saya permisi dulu." Dokter terlihat pergi meninggalkan Rezka yang terduduk sedih.
__ADS_1
Tubuh Mika luruh saat mendengar perkataan dokter tersebut, Dean yang ada didalam ruang UGD, tapi kenapa? Mika harus mencari tahu kebenarannya, ia langsung bangun memberhentikan seorang suster yang juga keluar dari ruang UGD tidak lama setelah kepergian dokter.
"Maaf sus, kalau boleh saya tahu pasien yang ada di dalam ruang UGD kenapa ya?" Mika menghapus air matanya, saat mencegah suster tersebut.
"Oh pasien atas nama Aldean Shanon Aditama." kata suster yang di angguki oleh Mika.
"Pasien melakukan percobaan bunuh diri dengan memotong pembuluh darah di pergelangan tangannya, saat ini kondisinya kritis karena pasien kekurangan banyak darah." jelas suster.
"kalau tidak ada yang lain saya permisi dulu ya nak." lanjut suster tersebut.
"Tunggu dulu sus, saya mau jadi pendonor untuk pasien itu, bisa kan?" tanpa pikir panjang Mika langsung mengambil keputusan untuk mendonorkan darahnya.
"Bisa, tapi saya cek dulu keadaan kamu. Soalnya kamu juga pasien di rumah sakit ini kan?" kata suster yang melihat Mika masih mengenakan baju pasien rumah sakit.
"Iya sih, tapi saya bener-bener pengen menolong pasien itu sus." ucap Mika yang diangguki oleh suster tersebut.
"Baiklah, kalau begitu kamu ikut saya dulu. Biar saya cek dan kalau semuanya baik kamu bisa mendonorkan darah kamu." lanjut suster.
Mika mengikuti suster tersebut, namun ia sempat melihat kearah Rezka terlihat terlihat frustasi. Nampak jelas rasa khawatirnya, namun yang menjadi pertanyaan di benak mika adalah alasan kenapa Dean melakukan percobaan bunuh diri. Bukankah seharusnya Dean hidup bahagia setelah kepergiannya, tapi apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Gibran setelah kematiannya.
Akhirnya Mika menjadi pendonor untuk Dean, dan hasilnya ia pingsan setelah selesai mendonorkan 2 kantong darah untuk Dean.
Brian bersama dengan Jean dan si kembar Allen Gallen datang untuk menjenguk Mika setelah pulang sekolah. Mereka terkejut melihat kondisi Mika yang sepertinya memburuk, ia bahkan bernafas di bantu masker oksigen.
Brian lain bertanya pada dokter yang baru selesai memeriksa keadaan Mika.
"Apa yang terjadi pada Mika dok, bukankah tadi malam kondisinya sudah membaik?"
"Pasien memaksa untuk menjadi pendonor pada seorang pasien, jadi kondisinya langsung drop. Padahal suster sudah melarangnya karena tekanan darahnya yang masih rendah, tapi dia tetap memaksa dan jadinya seperti ini." jelas dokter yang langsung pamit keluar.
"Bang Mika kenapa bang?" Jean menghampiri brangkar Mika, ia menatap khawatir pada Mika yang terlihat sedikit kesulitan bernapas.
"Kondisinya drop lagi, mika baru saja melakukan hal bodoh dengan mendonorkan darah pada seorang pasien lain." Brian mengusap punggung adiknya yang sudah menangis sambil memegang tangan Mika.
"Euughhh," Mika membuka matanya perlahan, penglihatannya terlihat sedikit kabur, tubuhnya juga terasa sangat lemas.
"Bang Mika udah bangun, apa yang sakit bang?" Jean langsung mengusap air matanya saat melihat Mika sadar.
__ADS_1
"Gw gak kenapa-kenapa kok, Jean jangan sedih gitu." Mika menepuk kepala Jean dengan tangan yang tadi di pegang oleh Jean.
Jean selalu menikmati perlakuan abang kesayangannya itu, ia langsung tersenyum sambil menatap Mika yang terlihat mengalihkan pandangannya pada Brian dan si kembar.
"Dokter bilang Lo baru aja donorin darah, Lo udah bosen hidup ya sampai-sampai ngelakuin hal berbahaya kaya gitu?" kata Gallen yang di balas senyuman oleh Mika.
"Gak kok kak, gw masih sayang sama nyawa gw." Mika sedikit terkekeh.
"Bodoh." umpat Brian membuat Mika menghela nafasnya.
"Terus kenapa abang Mika donorin darah padahal kan Abang juga masih sakit?" Jean bertanya dengan wajah polosnya, membuat Mika terus mengusap rambut lembut Jean.
"Cuma rasa kemanusiaan aja Je, gw kasihan liat kakaknya yang khawatir banget. Lagian gw gak papa kan?" Mika kembali tersenyum, Jean merasa bangga pada Mika yang selalu peduli pada orang lain.
"Bagus kalau Lo baik-baik aja, kalo mati?" ketus Allen yang membuat Jean menatapnya tajam.
"Yah kalau mati berarti itu takdir gw kak, paling gak gw gak menyesal karena sudah mencoba menyelamatkan pasien itu." ucap Mika yang tersenyum kecut.
Allen langsung terdiam dengan ucapan Mika, ia tidak habis pikir dengan sikap Mika. Sedangkan Brian dan Gallen memilih untuk diam dan menjadi mendengar saja, jangan lupakan Jean yang semakin merajuk pada salah satu Abang kembarnya itu.
"Udah Je, jangan manyunin kak Allen terus. Ucapan kak Allen emang ada benernya juga, maaf ya udah buat Jean khawatir lagi." kata Mika untuk mencairkan suasana tegang disekitarnya.
"Pokoknya Jean gak mau ngomong lagi sama bang Allen sebelum abang minta maaf sama bang Mika, titik." Jean melipat kedua tangannya didepan dada, sambil mengalihkan pandangannya.
Mika hanya tersenyum melihat tingkah Jean, namun jauh dalam hatinya ia masih khawatir dengan kondisi Dean. Ia berdoa semoga darah yang ia berikan bisa menyelamatkan nyawanya, ia juga terus bertanya dalam hati tentang alasan Dean mencoba mengakhiri hidupnya.
Gallen bisa melihat Mika yang sedang memikirkan sesuatu, meskipun Mika tersenyum. Hatinya terenyuh mendengar setiap kata yang keluar dari mulut anak yang usianya 2 tahun dibawahnya, namun memiliki pemikiran yang cukup dewasa untuknya. Sedangkan Brian hanya menatap interaksi antara Mika dan adiknya Jean yang terlihat semakin dekat, ia tidak merasakan perasaan cemburu sedikitpun yang ada justru perasaan tenang.
Namun jauh dari mereka, di sebuah bangunan tua yang sudah ditinggalkan pengurusnya seorang pria tengah melakukan pertemuan rahasia dengan seseorang yang akan merusak kebahagiaan mereka semua.
"Aku punya rencana bagus untuk mengejutkan mereka." ucap pria yang mengenakan kemeja navi sambil menunjukkan senyum evilnya.
"Lakukan sesukamu, tapi ingat aku mengharapkan hasil yang baik dari rencana yang kau buat REKAN." kata pria satunya yang duduk disebuah kursi dengan satu kaki kanan ditumpangkan diatas kaki kirinya.
"Tenang saja, kau hanya perlu menyaksikan pesta kejutan yang akan membuat mereka hancur secepatnya. Hahahaha...."
Tawa keduanya menggema didalam gedung tersebut, memikirkan apa yang akan terjadi pada lawannya nanti.
__ADS_1